Rabu, 03 April 2013

Bumi Bintang



"Kamu menyukainya?" Ku jawab iya.
"Kamu sangat menyukainya?" Aku kembali mengangguk.
"Apa sudah bisa dibilang kamu mencintainya?" Aku tersenyum dan mengangguk lebih mantap.
"Apa kamu berpikir untuk memilikinya?"
Pertanyaan ini yang membuatku terdiam. Aku bungkam sejenak. Sebelum akhirnya tersenyum dan kali ini menggeleng. Membuat kerutan di dahi si penanya.
Ada apa? Salah? Aneh? Haha. Memang begitu yang ku rasakan.
Aku sangat sangat mencintainya. Semua orang juga tahu itu. Ya, harus diakui aku sering berkhayal bisa memilikinya. Tapi sejujurnya, aku tak pernah berharap khayalan itu terwujud. Aku tak pernah membayangkan bagaimana kalau aku benar-benar memilikinya. Aku... tidak mau.
Kenapa?
Jawabannya simpel.
Aku tak mau ia dimiliki gadis sepertiku. Dia, harus dicintai dan mencintai gadis yang lebih baik dariku. Itu yang selalu ku doakan.
Orangtuaku, sering melarangku memujanya karena kami berbeda keyakinan. Orangtuaku berpikir, aku akan terpengaruh akan kepercayaannya hingga menjadi seorang murtad. Haha. Aku sering tertawa pedih. Orangtuaku terlalu berlebihan. Memangnya mereka pikir aku ingin menghabiskan hidup dengannya? Tidak.
Aku menjadikan dia sebagai pemilik hatiku. Sebagai moodboosterku. Sebagai penyemangatku. Sebagai motivasiku. Percayalah. Hanya itu.
Ya, ya. Banyak orang berpendapat aku terlalu berlebihan padanya. Sampai mereka mengatakan mungkin aku mau menukarkan nyawa hanya untuknya. Sebenarnya itu tidak pasti juga. Karena cintaku ini hanya seperti perasaan bumi pada sang bintang.
Bumi tak punya tangan, kan? Bumi hanya bisa diam. Berputar di poros yang sama terus-menerus sambil menatap ke arah bintang. Hanya itu yang ia lakukan. Hanya menatap sinar sang bintang. Bumi tak bisa menangkap bintang. Bumi tak bisa mendapatkan bintang. Dan aku mengerti itu.
Percayalah. Sejak awal, aku sudah menyiapkan diri. Aku selalu berkata pada diri sendiri, 'Jangan menghayal terlalu tinggi!'. Karena itu, aku tak ingin berharap padanya. Karena aku tahu, aku tak bisa melakukan apapun.
Jadi... saat ditanya apakah aku mencintainya, akan ku jawab ya. Tapi kalau ditanya apakah aku ingin memilikinya, jawabannya berbanding terbalik.
Eh, tapi... sebenarnya bukan tidak ingin sih. Hanya saja tidak bisa. Kitakan harus mengutamakan hal yang kita bisa daripada hal yang kita inginkan. Ya, kan?




2 komentar:

  1. Kak Aleee ;) bagus loh, keren banget sumpah. Post yang ini tuh sama lah kayak cerita aku tapi agak beda dikit hoho. Kunjungin blog aku juga yaaa ;) di jihannurpratiwi.blogspot.com

    BalasHapus