Tampilkan postingan dengan label cerbung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerbung. Tampilkan semua postingan

Rabu, 24 Juni 2015

Persahabatan Musuh Bebuyutan Part 33



Part 33: Euphoria Perdamaian Yang Hanya Sesaat

Shilla merenggut dan mendelik sebal. Ia menghela nafas keras, sekali lagi. Entah sudah yang keberapa kali. Ia memicingkan mata menatap tajam pemuda oriental yang duduk di sebelahnya, yang kini asyik melihat hasil poto dari kameranya. Acara penyerahan mendali sebagai simbol kelulusan baru saja selesai. Kini acara bebas sedang berlangsung. Ada sebuah band yang menyanyikan lagu selow di atas panggung, sementara di depannya para siswa dan siswi melakukan dansa pertama mereka, menandakan kelulusan dari putih abu-abu.
Kecuali Shilla.
Dan pemuda membosankan di sampingnya ini.
“Potonya belum abis ya?” sindir Shilla tak tahan, membuat Alvin yang masih menunduk pada layar kameranya, menolehkan kepala.
“Hm?” gumam Alvin mengangkat alis, tenang.
Shilla mendecak, “kalau masih mau liat poto, aku pulang duluan,” katanya hilang sabar sambil berdiri. Namun lengannya segera ditarik Alvin kembali duduk membuat Shilla makin menunjukkan wajah sebal.
“Kenapa?”
‘KENAPA?!’
Shilla menarik nafas, mencoba menahan untuk tidak berteriak di dalam ballroom hotel ini saat ini juga. Ia memperbaiki letak jas formal pemuda itu yang sedari tadi ia pakai di pundaknya.
Shilla mengalihkan pandangan. Matanya jatuh pada Gabriel dan Sivia yang sedang berdansa pelan sambil tertawa-tawa. Shilla menggerakkan mata, kini melihat Acha yang dibawa Ozy malam ini juga sedang berdansa riang.
“Aku nggak bisa dansa.”
Shilla terkesiap. Gadis cantik itu menolehkan kepala. Alvin kini kembali sibuk dengan kameranya dengan wajah tenang.
“Nanti malah malu-maluin,” sambung Alvin belum mengalihkan pandangan.
Mata Shilla meredup sejenak, kemudian menghela nafas sambil menyandarkan punggung pada kursinya. “Hampir semua murid di sini nggak bisa dansa...” katanya melirih, membuat Alvin agak melirik. “Tapi karena ini momen penting, mereka mau ngelakuin itu. Dengan senang hati.” Shilla menegaskan kalimat akhir, membuat Alvin hanya menipiskan bibir.
Shilla diam sejenak, lalu membuang muka dari Alvin. Suaranya merendah dan serak, “Kamu tahu nggak sih... katanya kalau kita dansa di hari akhir sekolah sama orang yang kita suka selama sekolah, kita bakal tetap ketemu dia walau sudah lulus...”
Alvin mengangkat wajah, menoleh seutuhnya pada gadisnya yang sedang membuang muka darinya itu. Ia diam lama, sebelum terkekeh geli. Shilla jadi mendelik dan menoleh.
“Waktu itu tentang gelang ajaib, sekarang mitos nggak jelas. Kamu tuh emang suka banget baca dongeng ya?” kata Alvin menatap Shilla, membuat gadis itu tersentak dan terdiam.
“Aku udah bilang berapa kali sih kalau aku-”
“Nggak suka puitis,” potong Shilla membuat Alvin tak melanjutkan kalimat, “nggak suka romantis. Nggak suka drama,” suara Shilla mulai menajam, membuat Alvin agak menarik diri. “Tapi sialnya, lo pacaran sama cewek yang suka hal-hal itu.”
Garis wajah Alvin perlahan menegang. Membalas tatapan gadis di depannya yang mulai berkilat marah, walau samar mulai ada bening hangat yang membuatnya matanya berkaca-kaca.
“Ini tuh hari penting, Vin...”
Alvin tertegun. Membatu mendengar nada bergetar tertahan tersebut. Apalagi raut wajah kecewa dan terluka dari gadis cantik di sampingnya ini.
Shilla meneguk ludah, mencoba menguasai diri. Ia menarik nafas dalam, lalu menghembuskannya keras. “Sekarang gue bener-bener heran kenapa kita bisa pacaran,” tegasnya tajam, lalu berdiri melepas jas yang tersampir di pundaknya dan beranjak pergi begitu saja. Membuat Alvin yang terhenyak atas kalimat itu tak sempat menahannya.
Alvin segera menguasai diri. Pemuda itu menaruh asal kamera di atas meja di samping mendali emasnya dan segera berjalan cepat menyusul gadis bergaun merah marun itu yang menuju pintu utama.
Pintu besar itu tiba-tiba terbuka, membuat Shilla yang hampir sampai ke pintu, terkejut dan hampir saja menjerit. Gadis itu yang berusaha menahan isak, tertegun dengan mata melebar melihat sosok pemuda jangkung tampan yang baru saja menunjukkan diri. Kedatangannya membuat para murid Smanra menolehkan kepala. Alvin yang baru saja sampai di belakang Shilla, juga terdiam.
“Selamat datang Smanhar!”
Shilla tersentak, ketika vokalis band dari sekolahnya yang sedang ada di atas panggung mengucapkan kalimat itu. Ia menoleh kembali pada pemuda jangkung di depannya, yang di belakangnya banyak remaja memakai jas dan gaun bermunculan.
Alvin tersadar. Ia menarik Shilla menjauh dan meminggirkan tubuh, mempersilahkan.
Pemuda jangkung itu tersenyum kikuk menyapa Shilla dan Alvin, murid Smanra pertama yang ia temui. Ia lalu mulai melangkah masuk. Di belakangnya para murid Smanhar mengikuti.
Bagas, ketua osis Smanra saat ini, melangkah maju dan tersenyum bersahabat. Para murid Smanra tanpa sadar bertepuk tangan menyambut kedatangan -mantan- musuh bebuyutan mereka itu.
“Woi!”
Alvin dan Shilla terkejut dan menoleh. Rio tersenyum mendekat, sambil menggandeng Keke yang mengenakan dress selutut bercorak batik putih hitam.
“Mau kemana? Nggak nunggu gue dulu?” canda Rio belagak ngambek.
Alvin dan Shilla tersentak dan segera menguasai diri. Shilla dengan tak kentara menarik lengannya yang masih digenggam Alvin dan bergerak rikuh. Alvin juga berdehem kecil dan mencoba menguasai air muka. Walau itu membuat Rio mengangkat alis, merasakan sesuatu asing.
“Acha dimana kak?” tanya Keke yang tak mengerti keadaan.
“Lagi dans...” Kalimat Shilla terhenti sejenak, lalu mencoba tersenyum walau pahit. “Lagi dansa sama Ozy di depan.”
Rio mengangkat alis, lalu melolongkan kepala ingin melihat. “Tu anak nggak macem-macem, kan?” tanyanya curiga.
“Ya nggaklah, Yo,” jawab Alvin menyahut.
“Kak, dansa juga yuk!” ajak Keke menarik-narik lengan Rio bersemangat, membuat Alvin dan Shilla melebarkan mata. Alvin agak melirik Shilla, namun gadis itu membuang muka.
Rio diam sejenak, lalu menatap Keke. “Gue nggak bisa dansa,” jawab Rio membuat Shilla menoleh. “Lagian emang wajib dansa segala?”
Alvin berdehem kecil. Shilla agak mendelik karena seperti disindir. ‘Dasar kembar,’ gerutu Shilla dalam hati. Pikiran dan sikapnya selalu sama.
Keke memajukan bibir bawah sesaat. “Yaudah sebentar aja deh. Walau ini bukan acara perpisahanku, tapi aku udah nyiapin sesempurna mungkin loh. Masa’ kakak nggak mau ngehargain?” rengek Keke menggoyangkan lengan Rio.
Alvin yang mendengar itu tertegun. Melirik sedikit Shilla yang masih memasang ekspresi datar.
Rio mencibir kecil, “kamu tuh makin lama makin mirip Acha, ya,” ledeknya menepuk pelan kepala Keke. Ia lalu menoleh pada Alvin dan Shilla, “gue tinggal dulu, ya. Kalian jangan pulang. Kata bunda kita harus poto bareng,” pamitnya sambil memperingatkan, menepuk lengan Alvin sejenak, lalu menarik Keke pergi.
Shilla menghela nafas keras, tapi tanpa berkata berbalik dan melangkah kembali ke mejanya membuat Alvin melihat itu menipiskan bibir. Jadi... Ini tentang dihargai?

***

Alvin meneguk minumannya sekali lagi. Ia memandang Ozy, Acha, Deva, dan Ray yang kini sudah akrab dan tertawa bersama sambil berpoto ria. Alvin mengerjap, lalu menoleh pada Sivia yang setia di samping Gabriel bersenang-senang menikmati performance band yang kini menampilkan lagu dengan beat cepat membuat para murid melompat-lompat menikmati. Mata Alvin bergerak sedikit, melihat di depan panggung kini Shilla tertawa riang bersama Angel dan Zahra, menyanyi-nyanyi riang mengikuti vokalis band seperti sedang berada di konser musik. Tak peduli dengan gaun dan make up mereka, para gadis itu hanya ingin bergembira malam ini.
Seseorang tiba-tiba duduk di samping Alvin, membuat Alvin terkejut dan menoleh. Pemuda itu lalu mendesah panjang, melihat sahabatnya itu kini dengan santai duduk di sampingnya.
“Lo napa kesepian banget sih,” komentar Rio memandang Alvin yang lesu. “Lagi berantem ya?” tebak Rio setengah menggoda.
Alvin mencibir kecil, “ngambek gara-gara gua nggak mau dansa,” ucapnya memutar mata ke arah Shilla.
Rio terkekeh geli, melirik ke arah Keke yang baru saja datang sudah diminta memoto Ozy dan yang lain. Rio mendesah, “kadang cewek itu ngeselin ya,” ucapnya melirih.
“Bukan kadang, tapi selalu,” sahut Alvin membuat Rio terkekeh kembali. “Apalagi cewek gua,” sambungnya lalu menghembuskan nafas keras.
Rio memandangi Alvin dari samping, “Tapi bukan berarti kita nggak pernah ngeselin juga...”
Alvin tersentak, kemudian menoleh seutuhnya memandang Rio.
Rio tersenyum samar, “lo pernah nggak sih coba untuk liat dari sudut pandang dia?” tanyanya tenang, namun mampu membuat Alvin terdiam. Rio mendesah, lalu menepuk pundak Alvin, “gua peringatin, cewek lo tuh cantik. Banget. Banyak yang ngejar dia. Jadi lo jangan jadi cowok yang selalu ngeselin. Beda sama cowok yang nggak gampang nyerah dan terus berjuang, cewek justru lebih lemah dan pasrah kalau soal cinta.”
Mata sipit Alvin melebar, memandang Rio dengan ekspresi tertegun. Rio menarik salah satu ujung bibirnya, kemudian kembali menatap ke arah Keke yang masih sibuk memoto Acha, Ozy, Deva, dan Ray yang makin heboh bergaya.
“Lebih baik kalah dari dia daripada kalah dari cowok lain yang bakal ngerebut dia,” ucap Rio membuat Alvin makin terdiam.
“Vin!”
Alvin terkejut dan mengangkat wajah, menoleh pada Ozy yang tiba-tiba memanggilnya. Ozy tak berkata, hanya menggerakkan dagu ke arah depan panggung. Alvin mengangkat alis, mengikuti arah pandangnya.
Pemuda tampan itu mengernyitkan kening, kemudian menajamkan pandangan. Melihat kini seorang pemuda jangkung yang tadi ia temui membuka pintu memimpin SMA Harapan memasuki ballroom ini sudah berdiri di samping Shilla sambil tersenyum ramah. Keduanya mengobrol, nampak akrab. Angel dan Zahra juga terkadang ikut bicara, walau masih asyik menikmati lagu yang ada. Membuat Shilla dan pemuda itu lebih intens berdua.
“Itu Kak Reza, mantan ketos Smanhar,” kata Acha seakan membaca ekspresi keruh Alvin.
“Ganteng, Vin,” komentar Ray memanasi. 
“Tuh, kan. Baru aja gue bilangin,” bisik Rio membuat Alvin mengangkat sebelah alis.
Alvin menghembuskan nafas panjang, tapi kemudian berdiri meraih jas dan memakainya kembali. Semua yang ada di meja itu mengangkat wajah menatap Alvin dengan penuh antisipasi ingin tahu apa yang ingin pemuda itu lakukan. Namun nyatanya pemuda itu malah beranjak dan melangkah ke arah berlawanan, pada pintu keluar membuat mereka tersentak.
“Tu anak cueknya ampun-ampunan deh,” komentar Ozy geleng-geleng kecil.
Rio mendengus, menoleh pada Keke, “aku keluar dulu, sama Acha aja di sini,” pamitnya pada Keke yang menjawab dengan anggukan. Rio lalu menoleh pada Ozy, “jagain adek gue,” ucapnya dengan mata mengancam.
“Iye, iye,” jawab Ozy menipiskan bibir.
“Gue bakal jaga cewek lo,” celetuk Ray, namun langsung diam kala mendapat tatapan nyalang dari Rio yang dingin. Ray langsung meringis mohon ampun.
Rio mendengus saja, kemudian berlari kecil menyusul Alvin keluar dari ball room.
Sementara di tempatnya berdiri, Shilla masih asyik mengobrol dengan Reza, pemuda jangkung karismatik yang ramah itu. Gadis itu tertawa beberapa kali menanggapi Reza yang menurutnya teman yang asyik itu. Apalagi ternyata dulu mereka satu SMP, tapi keduanya tak saling kenal. Atau tepatnya Reza mengetahui nama Shilla yang memang sudah terkenal sejak SMP. Berbeda dengan Reza yang sebenarnya murid cerdas tak populer.
Shilla mencoba melirik ke meja Ozy dan yang lain. Garis wajah gadis itu berubah. Melihat tak ada pemudanya di sana. Hati gadis itu terasa dingin seketika. Wajahnya jadi mendung.
“Shil.”
Shilla mengerjap dan menolehkan kepala kembali pada Reza yang memanggilnya.
“Lo capek? Duduk aja yuk,” ajak Reza ramah.
Shilla menatap pemuda manis itu. Hatinya agak ragu. Ia melirik lagi meja Ozy. Gadis itu menggigit bibir, kemudian menoleh pada Reza. “Hm, yuk,” jawabnya sambil tersenyum manis.

***

Alvin menghela nafas panjang dan keras. Di sampingnya Rio berdiri tenang dengan tiupan angin malam di balkon lantai satu itu. Mereka diam lama. Hanya ada suara kendaraan dan klakson di jalan besar di depan hotel acara itu berlangsung.
“Lo mau jadi apa setelah lulus?”
Rio terkesiap, terkejut sahabatnya itu bertanya tiba-tiba begini.
“Waktu kecil lo mau jadi tentara. Tapi gue nggak yakin bocah yang suka tawuran kayak lo bakal diterima,” kata Alvin menoleh sekilas, lalu kembali memandang ke arah jalanan dengan kedua tangan menumpu di pagar balkon.
Rio bergumam, menyandarkan punggung ke pagar berdiri di samping Alvin. “Gue mau nerusian usaha Ayah. Sebagai anak pertama dan anak cowok satu-satunya, cuma itu pilihan gue,” jawab Rio memandang Alvin dari samping.
Alvin mengangguk-angguk kecil, lalu menoleh. “Kita kuliah bareng ya,” ucapnya membuat Rio mengangkat alis, “lagian gue juga mau nerusin perusahaan Papa....” Alvin diam, menoleh kembali ke arah depan. Matanya meredup menatap jauh jalanan jauh di depan hotel. “Gue mau fokus kali ini...”
Rio terkesiap. Garis wajahnya berubah. Ia langsung mengerti maksud kalimat itu.
“Selama sekolah gue selalu buat onar. Padahal gue anak tunggal,” Alvin menghela nafas, “gue mau berubah. Gue mau fokus...”
Rio mendengus kecil, “kenapa gue ngerasa ini cuma alasan biar lo ngindarin Shilla?” ucapnya menembak telak, membuat Alvin terdiam. Rio menipiskan bibir, kemudian membalik badan ikut menaruh kedua tangan di atas pagar balkon. “Lo kenapa sih?” tanyanya peduli.
Alvin diam, tak langsung menjawab. Ia kini merunduk, memandang grandfloor tempat parkiran mobil berada di bawahnya dengan tatapan melamun. Mata sipitnya makin meredup sendu. Dengan garis wajah mengendor layu.

“Sekarang gue bener-bener heran kenapa kita bisa pacaran.”

Alvin meneguk ludah. Mengingat ucapan tajam itu sekali lagi. Ia menarik nafas dalam, mencoba menenangkan dadanya yang terasa sesak dan hancur lebur.
“Vin!” panggilan Rio ditambah tepukan dipundak membuat Alvin tersentak dan menoleh. Rio menggerakkan dagu ke arah bawah, membuat Alvin mengernyit dan ikut menggerakkan kepala ke arah sana.
Terlihat parkiran mobil di grandfloor di bawah mereka. Yang langsung jadi fokus mereka ada empat orang memakai jas formal sedang berkumpul di sudut grandfloor. Alvin menajamkan mata, bisa melihat sosok Sion dan Dayat. Sementara dua orang di depannya Alvin tak pernah kenal, mungkin murid Smanhar.
“Mereka nggak lagi berantem, kan?” ucap Rio mulai was-was. Karena ia tahu, yang berhadapan dengan dua murid Smanra itu adalah Christo dan Marvel, dua ‘anak buah’nya yang kerap kali maju di barisan depan tawuran siswa.
Alvin tak menjawab, makin mefokuskan pandangan. Keningnya berkerut, melihat Sion yang di depan Marvel menyodorkan sesuatu. Samar, itu adalah bungkus rokok.
Alvin mendesah, “cuma bagi rokok,” katanya tenang.
Rio di sampingnya manggut-manggut, walau masih curiga dan tetap memerhatikan empat orang itu. Matanya melebar perlahan, melihat Marvel kini gantian memberikan sebungkus plastik hitam kecil yang diterima Dayat.
Tiba-tiba ada suara peluit dan senter menyala, diiringi orang-orang berpakaian seragam hitam berlarian ke arah empat pemuda itu, membuat Rio dan Alvin ikut terkejut. Keempat murid berpakaian jas formal tersebut nampak terkejut dan mencoba berlari kabur, namun para sekuriti dengan sigap menangkap mereka dan menimbulkan suara gaduh.
“Yo,” tegur Alvin menepuk lengan Rio.
Rio mengerti. Ia mengangguk dan berbalik, berlari pergi bersama Alvin. Mereka berlari cepat menuruni tangga dan langsung keluar, menyusul para sekuriti itu. Tapi yang ada Dayat yang mencoba berlari ke arahnya tertabrak Rio membuat mereka terkejut.
“Berhenti di sana!” teriak seorang sekuriti membuat Rio sigap menarik lengan Dayat dan menahannya.
“Lo ngapain?!” bentak Rio mencengkeram lengan Dayat yang mencoba meronta. Alvin di sampingnya juga menahan.
Tak lama, gerombolan para murid berlarian dari arah ball room mendengar kegaduhan yang ada.
Sion yang melihat itu mengepalkan tangan, seakan mengerti. Ia langsung menoleh pada Christo di sampingnya. “Sialan lo!” umpatnya menonjok pemuda itu, “lo pasti jebak gue, kan!?” tuduhnya menarik ujung kemeja Christo.
“Lo yang jebak gue,” kata Christo ditambah umpatan kasar dan langsung balas memukul Sion. Para murid mendesah kaget dan merapat satu sama lain.
Para sekuriti segera berlari datang melerai. Gabriel menyeruak dari kerumunan, berlari mendekat dan menarik Sion menjauh dengan susah payah.
Melihat perkelahian itu, para murid Smanra dan Smanhar jadi heboh dan berkasak-kusuk.
“Gue juga bilang, kan, Smanra tuh nggak bisa diajak temenan!” kata Dea emosi, membuat Shilla yang berdiri tak jauh darinya menoleh.
“Lo kalau belum tahu masalahnya nggak usah ngebacot deh!” sahut Shilla langsung terpancing dan maju.
Dea menoleh dan mendelik, “udah jelas ini tempat acara Smanra. Pasti kalian udah rencanain macam-macam!” tuduh Dea ikut maju.
Shilla mengumpat kasar, langsung maju menyerang. Dea tak diam, kedua tangannya juga terjulur dan mencakar-cakar wajah cantik Shilla. Yang lain langsung jadi heboh satu sama lain. Beberapa murid jadi saling caci dan mengumpat satu sama lain.
Ozy meneguk ludah melihat itu, ia langsung menarik tangan Acha di sampingnya dan memundurkan diri, menjauhi pertikaian. Sivia yang berdiri di sampingnya menarik Keke ke belakangnya, melindungi gadis itu yang sudah gemetar ketakutan. 
Cakka ingin maju, emosinya terpancing mendengar makian dari Smanhar pada sekolahnya. Namun seseorang menarik lengan pemuda itu menahan, membuat Cakka menoleh.
“Nggak usah ikutan!” ancam Oik melotot kecil, membuat Cakka jadi ciut dan diam, walau ingin sekali maju membalas.
Ray nampak kebingungan. Ia ingin maju, ikut bertarung karena tak tahan. Tapi ingin mundur, melindungi Keke dan Acha yang memang dipesani Rio. Tapi juga ingin berlari ke arah Gabriel mencari tahu apa yang terjadi.
“Ini ada apa sih?” tanya Rio menarik Dayat ke arah tiga orang yang sejak awal di sana, bersama enam orang sekuriti juga Gabriel yang menahan Sion.
Seorang sekuriti maju, menarik paksa Christo membuat pemuda itu mendecak dan menepis kasar sekuriti. Pria tegap itu meraba jas formal Christo, lalu merogoh sesuatu di kantongnya. Ia mengeluarkannya membuat murid Smanra dan Smanhar yang tadi heboh jadi diam dan menoleh ingin tahu.
Sekuriti itu membuka plastik hitam tersebut, yang langsung dapat sambutan desahan kaget dan terkejut tak percaya. Rio bahkan membelalak maksimal. Melihat sebungkus penuh pil bulat berwarna kuning dengan jumlah sangat banyak.
“Kami dapat laporan terjadi transaksi narkorba di acara wisuda ini,” tegas seorang sekuriti membuat yang lain makin terkejut.
“Liat, kan! Itu punya sekolah lo!” kata Shilla menunjuk Dea sengit membuat Dea ingin maju membalas.
Reza yang awalnya sibuk melerai, menyeruak maju dengan segera. Ia menatap Christo serius. “Ini punya lo?” tanyanya menunjuk plastik hitam itu.
Christo diam. Pemuda kurus itu nampak salah tingkah. Ia memutar mata pada Rio yang juga menatapnya serius dan tajam. Christo meneguk ludah, lalu melirik Gabriel yang berdiri di samping Sion. Christo mengepalkan tangan, teringat alasan ia membawa barang haram itu ke acara ini.
“Gue dikasih dia,” jawab Christo menunjuk Gabriel tepat, membuat Gabriel terkejut tak menyangka.
“Lo ngomong yang bener! Ini punya lo, bangsat,” umpat Sion maju emosi, tapi Gabriel segera menariknya dan menahan.
Dea mendengus pada Shilla, “sekolah lo emang sampah,” tudingnya sengit membuat Shilla kembali tak tahan dan langsung menarik sanggul kecil Dea dengan keras membuat semua terlonjak.
Kali ini Ray langsung gesit melesat dan melerai dua gadis itu. Ify juga maju menarik Dea menjauh bersama Zeva dan Deva. Sementara Sivia yang awalnya menjaga Keke jadi ikut melesat memisahkan Shilla dan Dea yang makin beringas.
“Gue juga dikasih ini,” kata Marvel mengacungkan dua bungkus rokok, membuat semua menoleh. “Dari dia,” Marvel menunjuk Sion sengit, “dan dia,” sambungnya kini mengacungkan telunjuk pada Alvin di samping Rio.
“Gue?” kata Alvin berwajah bego menunjuk dirinya sendiri.
Rio yang melihat itu mendengus, lalu maju selangkah, “Maksud lo apa sih, ha?” tanyanya menatap Marvel dingin. “Kalau kalian mau jual beli di mall sana! Kenapa di acara prom dua sekolah?! Lo bikin nama sekolah jatoh tahu nggak!” marah Rio meninggikan suara.
Marvel mendengus, lalu mengumpat. “Bukannya lo yang bikin nama sekolah kita diinjak-injak, hanya karena SAHABAT KECIL lo, dan PACAR ADEK lo,” balasnya sengit, menegaskan kata yang dicapslock besar.
Rio langsung terdiam mendengar itu. Dayat di sampingnya mengangkat alis, dalam hati agak geli. Namun ia malah maju.
“Bukannya lo dapat barang-barang ini dari ketua lo?” ucap Dayat membuat Marvel serta Rio tersentak dan menoleh. Dayat mendengus kecil, kemudian memasukkan tangan ke saku jas Rio membuat Rio tak sempat menghindar.
Para murid Smanhar dan Smanra kembali dibuat kaget melihat Dayat mengeluarkan sebungkus plastik hitam kecil dari dalam kantong jas Rio. Dayat mengacungkannya, lalu melemparkan pada seorang sekuriti yang segera menangkap, lalu membuka dan memeriksanya.
Mulut Acha terbuka maksimal melihat puluhan pil kuning serta serbuk dalam plastik kecil berjumlah banyak dalam plastik hitam itu. Gadis itu langsung kalap. Menepis tangan Ozy yang menahannya dan berlari ke depan membuat Ozy dan Keke terkejut.
“Ini nggak mungkin punya Kak Rio!” tegas Acha berdiri di depan Rio, membela.
Reza yang melihat itu menghela nafas frustasi dan berdiri di tengah, “oke, kita bicara baik-baik. Ini awalnya ada apa,” katanya lebih serius dan dewasa.
“Kami ditelpon bahwa di acara dua sekolah ini, ada murid yang melakukan transaksi narkoba dari dua sekolah,” jawab seorang sekuriti dengan tegas, membuat Reza terkesiap dan terdiam.
Sion mendengus keras, “mereka yang ngajak gue sama Dayat ke sini,” katanya menunjuk Christo dengan sengit. “Mereka yang nawarin kita lebih dulu.”
Marvel mendengus, “bukannya lo juga ngasih gue ya?” ucapnya mengacungkan bungkus rokok di tangannya. Ia menyerahkan pada seorang sekuriti, yang segera dibuka dan diperiksa.
Gabriel melebarkan mata, melihat beberapa batang rokok serta plastik berisi serbuk putih di sana. Ia menoleh pada Sion tak percaya. Sion kali ini membeku, tak bersuara dan jadi tak berkutik.
“Dan juga...” Marvel diam sejenak, lalu melirik Alvin tajam membuat Alvin mengangkat alis. “Dia,” Marvel menunjuk Alvin, lalu beralih menunjuk Gabriel. “Dan dia, yang ngasih kita barang lainnya,” tudingnya membuat yang lain terkejut. “Periksa aja, pak.”
Shilla yang masih bertarung dengan Dea mendengar itu dan langsung mendorong Dea menjauh membuat Dea menjerit terjatuh tapi segera ditahan Ify dan Deva. Shilla yang sudah berantakan, menoleh pada Alvin dan Gabriel dengan wajah membeku. Sivia di belakang Shilla juga terdiam dengan mata melebar.
Dua orang sekuriti maju, menggeledah jas formal Alvin dan Gabriel. Alvin melengos pasrah, dengan wajah malas dan tak melawan. Gabriel juga nampak tenang. Tapi dua orang itu langsung membeku di saat yang sama. Ketika sekuriti mengeluarkan sebungkus plastik bening berisi bungkus rokok dari saku Alvin dan sebuah kapsul bening berisi pil bulat kuning dari saku Gabriel.
“I-itu bukan punya saya,” elak Alvin tak percaya sendiri dengan apa yang ia lihat.
Acha yang tenganga tak percaya, segera menguasai diri. “Pak, ini pasti ada kesalahan. Dua kakak saya ini ngerokok aja nggak mau. Apalagi pake’ ginian,” bela Acha makin merapat pada Alvin dan Rio, melindungi.
Seorang sekuriti menghela nafas keras. “Acara ini dibubarkan!” tegasnya lantang, lalu memandang orang-orang di dekatnya. “Kalian, ikut kami ke pos sekarang.”
Murid Smanra dan Smanhar jadi heboh kembali. Tapi kali ini Shilla tak ikut-ikutan. Gadis itu yang rambutnya sudah kacau dengan riasan hancur, membeku memandang Alvin yang ditarik seorang sekuriti dengan paksa. Acha mencoba menahan tapi gadis itu jadi tak bisa berbuat apa-apa. Reza maju dan menenangkan Acha yang histeris tak ingin melepas Rio dan Alvin.
Ozy menarik Keke membuat Keke yang terdiam tak percaya terkejut. Mereka mendekat pada Acha. Ozy juga mencoba menenangkan gadisnya itu yang terus memerotes dan nekat ingin ikut Rio dan Alvin tapi tak diperbolehkan.
Rio menatap sekilas Keke yang masih membeku dan memucat. Rio meneguk ludah, tapi lalu dengan pasrah melangkah menunduk mengikuti para sekuriti.

xxxxx


HAI I’M BACK YA AMPUN APA KALIAN MERINDUKANKU HAAAAA
Ehm
Oke.
Saya memang harus menjelaskan banyak hal. Jadi memang saat itu rumah kemalingan, laptop salah satu barang yang dicuri berserta data-data. Jadi Alenya down banget tiada tanding deh. Semua cerita dari awal karir(?) pas SMP sampai sekarang hilang gitu aja.
Nah suatu hari, Ale bongkar barang lama kan. Nah ketemu sebuah kotak ajaib! Kotak ajaib yang isinya buku2 catatan coretan kerangka cerita atau apapunlah ya. Nah di sana ternyata dapat kartu memory card hape. Terus gue ingat. Waktu itu pindahan dari laptop lama ke laptop baru pake memory card itu karena fd rusak. Nah Ale coba deh ke laptop baru kakak. EH TERNYATA MASIH SELAMAT ADA ISINYA HUHU ALHAMDULILLAH.
Nah kemudian Ale malah sibuk menuntaskan cerita di fanbase lain *ehm*. Karena ada cerita baru dan banyak part baru yang hilang. Karena jalan ceritanya masih fresh di otak, jadi Ale ngejer banget ngebayar part2 yang baru itu.
Lalu kemudian.
Bigbang comeback.
Setelah tiga tahun.
Euphoria fans heboh banget.
Dan tiba-tiba....
‘PMB perlu tiga tahun juga nggak ya buat comeback biar rame gitu’
HAHAHAHA pikiran macam apa itu.
Tapi lalu Ale jadi tersentuh(?). Buka folder PMB, baca ulang. Random sendiri, heboh sendiri, greget sendiri(?). Eh jadinya Ale malah bikin cerita baru PMB. Jadi kayak PMB versi baru (PMB banyak banget versinya ya maaf authornya emang miskin tema cerita). Tapi pas buka part ending.... kok kayaknya endingnya gitu doang flat amat (jadi endingnya mereka prom terus perdamaian. The end.) Apalagi pas Ale buka blog ternyata masih ada yang komen PMB :’’’’))) trus komen yang ngeluh kok endingnya flat. Nah jadi ide langsung bermekaran. Nah karena nonton MV Bigbang (lagi-lagi comeback Bigbang) malah jadi terinspirasi bikin konflik dan tokoh baru. Iya, kalau kalian nonton MV nya sama sekali nggak nyambung sama PMB tapi namanya ide mah ya datang darimana aja maavkeun. Nah yaudah deh jadi gini hahahahahahahaha
Pertama Ale sangat ucapkan terima kasih pad ALders yang setia menunggu. Maafin Alenya suka ngilang nggak tahu diri seenaknya. Maaf.
Sekarang Ale mau fokus ke wordpress karena lebih gampang. Ayo follow wp Ale, dan kalian bisa komen bebas loh nggak perlu daftar :D
Ale akan post seluruh part PMB di sana (tapi nyicil satu satu dulu ya). Btw Ale udah jualan novel lagi yeaaayyy!!! Karena harga percetakan naik, jadi sorry dorry morry harga Against Dear juga naik dari jadi 52ribu. Tapi kalian juga bisa beli ebooknya loh! Dari awal 28.000 sekarang ebook PMB cuma 22.000! Kalau beli via pulsa 25.000! More info nanti dishare di twitter ya~
Sebenarnya masih mau ngebacot banyak tapi kita berjumpa di wordpress aja ya wkwkwk

Sincerely,
Jodoh Gabriel Yang Tertunda (walau sekarang hanya part time)

Jumat, 24 Oktober 2014

Hello Sunset Part 6


Bel istirahat berbunyi. Keke dan Acha sama-sama menaruh peralatan belajar ke dalam tas masing-masing. Acha lalu merogoh sebuah kotak bekal berwarna biru pink ke atas meja.

"Ke! Gue buat sushi loh!" kata Acha bangga. "Mau?"

Keke mengangkat alis, "ya maulah! Eh tapi, makannya di samping perpus yuk. Gue sekalian mau ngembaliin buku. Dan juga, kan biar bisa sekalian beli minum di koperasi," ajak Keke sembari berdiri dan membawa sebuah buku.Acha menurut dan mengikuti.

Mereka melangkah beriringan menuju perpustakaan. Setelah itu mereka membeli minuman botol di koperasi yang ada di samping perpus. Dan lalu duduk di meja taman yang berada di samping perpus. Di samping perpus memang ada taman sekolah yang terdapat beberapa bangku taman dan meja-meja. Ada satu meja yang kosong. Keke dan Acha segera duduk di sana. Acha membuka kotak bekalnya, lalu menyodorkan pada Keke.

"Wih. Enak nih," kata Keke senang.

Tapi baru saja tangannya ingin mengambil satu buah sushi, ada tangan lain yang ikut mengambil tanpa ijin. Membuat Acha dan Keke tersentak.

"Eh, apaan si-" kalimat Acha yang baru saja ingin memerotes segera terhenti. Ia terpana melihat siapa yang berdiri di sampingnya dan kini dengan santai mengunyah sushi miliknya. Pemuda itu mengunyah tenang, lalu menoleh ke arah Acha dan Keke yang melongo.

"Sushi buatan siapa nih? Enak kayaknya."

Keke terkejut, dan menoleh. Mendapati kursi di sampingnya sudah diduduki seorang pemuda. Dan ia baru sadar. Meja mereka sudah dipenuhi empat pemuda pemegang sekolah!

Pemuda yang tadi mengambil santai sushi Acha, mengambil salah satu kursi di meja di dekatnya, lalu dengan tenang menaruh kursi di antara Acha dan Keke, membuat Acha dan Keke terpaksa menjauh. Keke mendelik ke arah pemuda itu, sementara Acha menunduk menahan kesal.

Keke melihat sekelilingnya, lalu mendecak sebal. Di samping kanannya, ada Rio, lalu Cakka, dan setelah itu Alvin. Dan pemuda yang duduk di sisi kirinya, yang tadi memaksa datang, siapa lagi kalau bukan Gabriel.

"Sushinya banyak tuh. Bisa dong bagi?" tanya Cakka mengerling.

Keke dan Acha saling pandang. Acha menghela nafas, tapi lalu mencoba tersenyum dan mendorong kotak bekal itu ke tengah meja. Sontak, keempat preman sekolah itu dengan santai mengambil satu sushi dan melahapnya. Acha tenganga sejenak, tapi lalu mengatupkan mulutnya. Mendadak, ia tak mood makan.

"Ck kak! Aku sama Acha mau makan. Kenapa diganggu sih?" tanya Keke tak bisa menahan kesalnya.

"Oh. Lo mau makan? Nih," Gabriel dengan santai menyodorkan sushi ke mulut Keke, membuat Keke terlonjak dan sontak memundurkan wajah menghindar dan menepis pelan tangan Gabriel.

"Kenapa sewot sih, Ke? Temen lo aja nggak papa kok," kata Alvin santai sambil melahap sushinya.

Keke menggeram sebal, sambil memutar mata ke arah Acha. Terlihat sekali wajah Acha menahan kesal. Gadis itu memang pernah mengaku, kurang menyukai sikap FourG yang sok penguasa. Keke tahu pasti, sekarang di hati Acha, Acha berusaha mati-matian menahan diri untuk tidak melawan.

"Eh, makan kali. Inikan punya lo," ucap Cakka bernada manis sambil menyodorkan kotak bekal ke arah Acha.

Acha tersenyum masam, tapi lalu menurut saja dan mengambil satu sushi, lalu memakannya.Walau perasaannya sedikit tak nyaman. Karena kini banyak sepasang mata memerhatikan meja itu.

"Nih."

Keke terkejut, saat melihat sebuah sushi tersodor ke depannya. Keke menoleh, mendapati Rio sedang memasang wajah tanpa ekspresi dengan sushi di tangannya. Keke mengangkat alis, tapi entah mengapa menerima sushi itu.

Istirahat kali itu, keenam orang tersebut memakan bekal milik Acha bersama. Walau yang bercuap sedaritadi hanyalah Gabriel, Cakka, dan juga Alvin saja. Rio hanya diam saja seperti biasa. Acha dan Keke masih merasa jengah, apalagi kini mereka seperti menjadi tontonan saja. Karena ya... sejak kapan sih FourG mendatangi perempuan? Adanya mereka yang dikelilingi wanita. Lalu kini, ada dua cewek yang duduk semeja dengan mereka, ditambah makan bekal bersama, itu adalah kejadian langka.

"Ke, siapa nama temen lo ini?" tanya Cakka.

"Acha," jawab Keke malas-malasan.

"Oh... Acha..." ucap Cakka dan Alvin serempak, membuat Acha menunduk.

"Teh Jepang," kata Cakka memainkan alis ke arah Alvin.

“Itu Ocha, bego,” kata Alvin geleng-geleng kecil.

“A….. Chalon masa depan aku,” goda Cakka membuat Alvin sontak tertawa ngakak. Keke mendelik, Rio dan Gabriel geleng-geleng saja, sementara Acha yang digoda hanya tersenyum masam sekilas.

Gabriel memutar bola mata ke arah gadis di sisi kirinya itu, lalu diam-diam memerhatikan Acha lekat. Acha yang sadar diperhatikan Gabriel mulai merasa jengah dan salah tingkah. Tapi seakan tak mengerti Acha salah tingkah, Gabriel makin menatap gadis itu. Aneh. Gadis-gadis lain pasti senang dan mendekat, walau ada yang malu-malu atau agresif sekalipun, jika Gabriel berada di dekat mereka. Namun gadis ini berbeda. Gabriel dapat merasakan. Acha menjauhkan kursinya dari Gabriel dan seperti risih dengan keberadaan preman sekolah itu. Acha melirik takut, dan refleks segera menunduk lagi. Gabriel masih memerhatikannya. Gabriel bisa melihat bibir gadis itu mencuat, mungkin ia sedang menggerutu dalam hati.  Kening Gabriel makin berkerut. Padahal biasanya kalau ia memandangi seorang gadis, gadis itu akan merona dan tersipu. Sementara gadis ini jelas-jelas memberikan aura penolakan yang kentara. Membuat Gabriel sedikit tersinggung.

Keke menghela nafas, tak tahan lagi. Ia pun berdiri, membuat semua sedikit tersentak dan menoleh.

"Aku sama Acha mau balik ke kelas. Yuk, Cha!" Keke segera menarik tangan Acha, dan mengambil kotak bekal Acha serta tutupnya.

Acha sempat tersentak, tapi segera menurut mengikuti langkah panjang Keke menjauhi meja itu.

"Yah... dia pergi..." ucap Cakka menatap kepergian Keke. "Ngambek tuh kayaknya."

"Lama-lama dia jadi kayak adek kita ya," kata Rio membuat semua menoleh ke arahnya, tapi lalu mengangguk-angguk setuju.

"Makin lama ketahuan deh aslinya. Awalnya kayaknya pendiem gitu, kalem. Eh tapi, ternyata berani juga, man! Nekat!" komentar Alvin disambut anggukan cepat Cakka.

"Yang buat gue nggak nyangka, dia berani ngelindungi elo!" kata Cakka memandang Gabriel. Gabriel hanya mengangkat alis saja.

Keempat pemuda itu lalu hening. Di pikiran mereka ada satu nama gadis yang sama. Keke. Gadis itu menarik juga. Padahal awal jumpa ia terlihat cengeng, penurut, dan diam. Namun tak lama, tanpa diduga bahkan gadis itu nekat melawan musuh sendiri hanya dengan setongkat kayu di tangannya. Lalu juga ia mulai berani memerotes para pemuda ini. Sebenarnya mungkin dari awal gadis itu memang sudah ingin melawan, tapi tak enak hati karena FourG sudah menawarkan diri untuk melindunginya. Gadis satu itu... menarik.

***

Pak Jo sudah mengemasi barang bawaannya, walau bel pergantian jam belum berbunyi. Ia pamit keluar karena ada suatu kepentingan. Para murid 10B menahan diri untuk tidak bersorak senang karena Pak Jo masih ada di depan kelas.

"Kenasha  Mentari," panggil Pak Jo membuat Keke menoleh. "Tolong kumpulkan PR teman-teman kamu yang kemarin, dan taruh di meja saya," perintah Pak Jo pada Keke.

Keke mengangguk menurut, lalu berdiri. Ia mengumpulkan buku-buku para murid 10B, dan setelah itu mengekori Pak Jo keluar dari kelas.

Saat melewati lapangan olahraga yang berada di tengah sekolah, Keke tanpa sengaja memandang ke arah lapangan yang kini tak kosong itu. Ada beberapa siswa berseragam olahraga bermain bola di sana. Keke mengangkat alis, melihat ada sosok Alvin dan Rio di antara orang-orang itu. Keke mengedarkan pandangan, dan kini melihat sosok Cakka sedang duduk di pinggir lapangan sambil memainkan hapenya. Keke sedikit mengerutkan kening, tak melihat adanya Gabriel.

Sesuai perintah, Keke menaruh tumpukan buku tulis ke meja Pak Jo, lalu pamit dan keluar. Namun gadis itu tak memilih jalan pulang dengan koridor yang sama. Ia berbelok, memilih lewat koridor depan saja, agar tak melewati lapangan olahraga. Karena ingin sekalian ke toilet yang berada di depan lapangan upacara itu.

Tapi saat berbelok, langkah Keke sontak terhenti. Karena sekitar sepuluh meter darinya, duduk seorang pemuda dengan sebuah gitar di pangkuannya. Pemuda itu nampak asik memetik gitar sembari bersenandung pelan. Keke melebarkan mata, namun tak bergerak. Terpaku melihat permandangan itu. Ia mefokuskan pandangan, memandang wajah tegas itu dari samping. Ia baru menyadari. Pantas saja ribuan wanita tak bisa menahan diri untuk tidak meleleh melihat pemuda itu. Pantas saja saat itu Oik memekik histeris menceritakan tentang dirinya. Pantas saja para siswi mengidolakannya. Karena dia... dia sungguh tampan. Apalagi kini matanya sedikit menerawang ke depan, membuatnya makin rupawan. Seakan bersinar, ia memiliki cahaya sendiri.

Keke makin tertegun. Kala mendengar nyanyian pemuda itu. Suara pemuda itu ternyata bagus. Serak seperti vokalis band. Namun juga menggetarkan hati pendengarnya. Berarti tambah lagi kelebihan pemuda itu.

Pemuda itu tiba-tiba menghentikan nyanyian dan permainan gitarnya, membuat Keke tersadar. Keke lalu segera berbalik, mengurungkan niat melewati koridor itu.

"Sini lo."

Langkah Keke terhenti.Tubuhnya membeku.

"Nggak usah kabur. Gue udah liat daritadi."

Keke merutuk diri dalam hati. Lalu dengan enggan ia menoleh. Pemuda itu, Gabriel, masih tak menoleh ke arahnya. Kini ia belaga sibuk dengan gitarnya. Keke menghembuskan nafas dan membalikkan tubuh, tapi diam saja.

Gabriel mendecak pelan, dan akhirnya menoleh, "tadi kan gue bilang sini. Lo nggak denger?" tanya Gabriel ketus, membuat Keke mencuatkan bibir kecil.

Keke akhirnya menurut dan melangkah mendekat. Ia lalu dengan hati-hati duduk di samping Gabriel. Sementara pemuda itu kembali sibuk mengganti-ganti kunci gitar.

"Lain kali, nggak usah ngintip. Datang aja langsung, duduk samping gue," kata Gabriel datar tanpa menoleh.

Keke mendelik sedikit, lalu mengerucutkan bibir. "Ngintipin kakak? Tadi aku nggak sengaja lewat sini kok," sergah Keke.

Gabriel hanya memiringkan bibirnya, tapi tak berkata dan kembali memetik gitar perlahan. Kini Keke memerhatikannya, dan mulai kagum pada sosok Gabriel. Namun tak lama Gabriel tiba-tiba menoleh ke arah Keke, membuat Keke sedikit terkejut. Tatapan mereka beradu beberapa saat, sebelum Gabriel melengos kasar dan membuang muka.

"Muka lo kenapa ngeselin banget sih?" tanya Gabriel ketus, membuat Keke menganga geram.

'Ngaca dong! Yang ngeselin itu siapa?' geram Keke dalam hati. Namun ia berusaha menahan diri.

Gabriel menghembuskan nafas, lalu mendongakkan kepala, menatap langit terik siang itu. "Kadang... gue kesel liat muka lo. Tapi kadang gue juga malah seneng sama muka lo," racau Gabriel membuat kening Keke berkerut keras.

"Maksud kakak?" tanya Keke tak mengerti.

Gabriel mendesah kembali, "muka lo ngingetin gue sama seseorang."

Jawaban dari Gabriel itu membuat alis Keke terangkat tinggi. Tapi lanjutan dari kalimat itu, membuat jantung Keke seakan terhenti seketika.

"Elo mirip sama adek gue..." kata Gabriel menjadi sedikit lirih. Ia lalu mendesah, dan menoleh perlahan ke arah Keke yang tertegun. "Adek gue yang nyebelin, tapi juga sangat gue sayang," sambung Gabriel.

Keke membatu. Mata tajam Gabriel perlahan berubah kelam. Ada kehangatan dari sorot matanya yang tak pernah Keke lihat sebelumnya. Ribuan emosi menyerbu hati Keke. Ada suatu firasat dalam dirinya.

"Kakak... punya adik?" tanya Keke perlahan.

Gabriel mengangguk, lalu kembali mengalihkan pandangan, "mungkin sekarang dia udah segede elo. Dan mungkin karena itu juga, gue mati-matian mau ngelindungin elo."

Keke merasakan tungkainya melemas. Ada yang bergerak dahsyat dalam dadanya. Dan perlahan, sebuah kesimpulan muncul. Kesimpulan yang sebelumnya tak masuk akal bagi Keke. Bukan kesimpulan sih, tepatnya perkiraan. Namun... apa benar firasatnya ini?

***

Semenjak mendengar ucapan Gabriel itu, Keke terus saja tak fokus. Ia mencoba membangun balok-balok perkiraan sebelumnya. Bahwa memang sedari awal ada dua kemungkinan. Gabriel, atau Rio. Dan kini, Gabriel membawakan suatu petunjuk besar. Gabriel memiliki seorang adik. Dan adiknya itu sebaya dengan Keke. Dan yang lebih mengagetkan, wajah adiknya itu mirip dengan Keke!

Padahal tadi Keke ingin bertanya lanjut, namun Gabriel malah kembali seperti Gabriel yang biasa. Gabriel yang kasar dan selalu bernada tak bersahabat. Tatapan hangatnya yang sebelumnya dilihat Kekepun pudar. Ia malah mengomel dan menyuruh Keke tak usah bertanya lagi. Membuat Keke kecewa. Karena... kalau saja Gabriel mengucap satu atau dua petunjuk lagi, mungkin saja... Keke sudah sampai pada titik tujuannya di SMA Bintang ini.

Saat keluar dari kelas karena bel sudah berbunyi, Keke masih saja memikirkan hal itu.

Pantas saja. Kala pertama kali Keke memperlihatkan seluruh wajah di depan Gabriel, tepatnya setelah ia dilindungi dan dibawa ke kelas itu, Gabriel sempat terdiam sesaat. Dan raut wajahnya berubah kala menatap Keke. Namun hanya sejenak. Ternyata saat itu Gabriel teringat pada adiknya.

"Siapa yang suruh elo keluar padahal belum dijemput?"

Sebuah suara bariton membuat Keke sedikit terkejut dan mendongak. Ia melebarkan mata melihat Rio sudah berdiri di depannya.

Rio menghela nafas, tapi lalu berbalik, "ayo," pimpinnya melangkah. Keke hanya diam menurut, karena pikirannya belum juga teralihkan dari sosok Gabriel.

"Hari ini gue yang nganter elo. Yang lain harus duluan ke kafe," kata Rio melangkah menuju parkiran.

Alis Keke berkerut, dan akhirnya pun tak lagi merenungkan tentang Gabriel. "Kafe apa sih kak? Kok kayaknya aku sering denger kalian ngomong itu," tanya Keke mengikuti Rio melangkah menuju sebuah motor besar hitam yang menunggu.

"Loh? Emang lo nggak tahu?" tanya Rio berhenti di depan motor itu, dan berbalik menatap Keke yang mengerutkan kening. "Oh ya. Kita nggak pernah bawa lo kesana ya?" tanya Rio seakan tersadar. Ia lalu meraih helm dan jaket, lalu mengangsurkan pada Keke. Keke menerimanya, masih dengan alis berkerut.

"Besok aja deh gue bawa lo kesana. Sekarang gue harus nganter lo pulang, karena Om Rendy hari ini ada di kafe," kata Rio lalu memakai helm dan jaketnya.

"Om Rendy?" tanya Keke penasaran sambil menatap Rio yang mengeluarkan motornya.

Sebelum menjawab, Rio menyalakan mesin dulu, lalu menyuruh Keke naik. Keke menurut, duduk di belakang Rio. Kalau bersama Gabriel, ia pasti memegang besi pegangan di belakang. Namun kala bersama Rio, entah mengapa tanpa sadar kedua tangan Keke memegangi ujung jaket Rio.

"Om Rendy itu bokapnya Gabriel," kata Rio menjawab pertanyaan Keke tadi.

Keke sontak terkejut setengah mati.Semua perkiraannya tadi langsung meluntur. Mengetahui hal itu. Gabriel ternyata memiliki seorang ayah. Keke diam-diam menelan kecewa. Karena ternyata ia salah menduga.

"Tapi bukan bokap kandungnya sih," lanjut Rio membuat Keke lagi-lagi tersentak.

Hatinya makin gundah. Ketidakpastian ini membuatnya benar-benar gelisah. Keke benar-benar jadi sangat resah.

"Om Rendy juga udah kayak bokap kita berempat. Tapi dia tinggal di Singapur. Kalau dia pulang, dia pasti pengen kita berempat ngumpul di kafe buat nyambut dia gitu. Om Rendy memang suka ngada-ngada," cerita Rio sepanjang jalan.

Keke tertegun sesaat. Menyadari bahwa tadi, adalah kalimat terpanjang Rio yang pertama ia dengar. Keke mulai penasaran. Siapa sih Om Rendy yang dimaksud itu?

"Kakak... deket banget ya sama si Om Rendy itu?" tanya Keke tak bisa menahan diri.

Rio tersenyum, sambil terus menarik gasnya. "Gue udah kenal dari dulu.Dari saat gue masih tinggal di Tangerang."

Keke sontak kembali terkaget. Tangerang? Itukan tempat tinggalnya. Jadi dulu... Rio pernah tinggal di sana?

Tanpa sadar, ternyata mereka sudah sampai. Rio mengerem motornya, lalu menurunkan kaki memberhentikan motor. Keke mengerjap, segera tersadar. Ia lalu turun dari motor, dan lalu mengangsurkan helm dan jaket yang tadi Rio beri.

Tapi kala memberikan helm itu, mata Keke tanpa sengaja tertuju pada gantungan kunci yang menggantung di kunci motor hitam Rio. Ia terpaku. Menatap gantungan kunci berbentuk tali berwarna hijau, kuning, biru, dan merah yang dikepang cantik. Di ujungnya terikat sebuah bandul berbentuk bunga matahari. Mata Keke melebar, tak memercayai pandangannya.

"Ke."

Suara panggilan Rio membuat Keke terkejut dan menoleh. Rio sudah memasukkan jaket milik Gabriel yang tadi di pakai Keke dalam tasnya, dan menaruh helm di pegangan motor.

"Kak!" ucap Keke sebelum Rio membuka mulut ingin pamit. Keke ragu sejenak, tapi lalu akhirnya bertanya. Dengan suara selirih angin. "Kakak... tinggal di Tangerang umur berapa?"

Rio mengangkat alis sejenak, "gue lahir di sana. Dan saat SMP pindah.Kenapa?"

Keke merasakan tubuhnya membeku seketika. Mulutnya sedikit terbuka tak percaya.Ada suatu kenyataan datang, membuat dadanya terhenyak.

Rio... adalah kakaknya?