Tampilkan postingan dengan label Ashilla. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ashilla. Tampilkan semua postingan

Rabu, 24 Juni 2015

Persahabatan Musuh Bebuyutan Part 33



Part 33: Euphoria Perdamaian Yang Hanya Sesaat

Shilla merenggut dan mendelik sebal. Ia menghela nafas keras, sekali lagi. Entah sudah yang keberapa kali. Ia memicingkan mata menatap tajam pemuda oriental yang duduk di sebelahnya, yang kini asyik melihat hasil poto dari kameranya. Acara penyerahan mendali sebagai simbol kelulusan baru saja selesai. Kini acara bebas sedang berlangsung. Ada sebuah band yang menyanyikan lagu selow di atas panggung, sementara di depannya para siswa dan siswi melakukan dansa pertama mereka, menandakan kelulusan dari putih abu-abu.
Kecuali Shilla.
Dan pemuda membosankan di sampingnya ini.
“Potonya belum abis ya?” sindir Shilla tak tahan, membuat Alvin yang masih menunduk pada layar kameranya, menolehkan kepala.
“Hm?” gumam Alvin mengangkat alis, tenang.
Shilla mendecak, “kalau masih mau liat poto, aku pulang duluan,” katanya hilang sabar sambil berdiri. Namun lengannya segera ditarik Alvin kembali duduk membuat Shilla makin menunjukkan wajah sebal.
“Kenapa?”
‘KENAPA?!’
Shilla menarik nafas, mencoba menahan untuk tidak berteriak di dalam ballroom hotel ini saat ini juga. Ia memperbaiki letak jas formal pemuda itu yang sedari tadi ia pakai di pundaknya.
Shilla mengalihkan pandangan. Matanya jatuh pada Gabriel dan Sivia yang sedang berdansa pelan sambil tertawa-tawa. Shilla menggerakkan mata, kini melihat Acha yang dibawa Ozy malam ini juga sedang berdansa riang.
“Aku nggak bisa dansa.”
Shilla terkesiap. Gadis cantik itu menolehkan kepala. Alvin kini kembali sibuk dengan kameranya dengan wajah tenang.
“Nanti malah malu-maluin,” sambung Alvin belum mengalihkan pandangan.
Mata Shilla meredup sejenak, kemudian menghela nafas sambil menyandarkan punggung pada kursinya. “Hampir semua murid di sini nggak bisa dansa...” katanya melirih, membuat Alvin agak melirik. “Tapi karena ini momen penting, mereka mau ngelakuin itu. Dengan senang hati.” Shilla menegaskan kalimat akhir, membuat Alvin hanya menipiskan bibir.
Shilla diam sejenak, lalu membuang muka dari Alvin. Suaranya merendah dan serak, “Kamu tahu nggak sih... katanya kalau kita dansa di hari akhir sekolah sama orang yang kita suka selama sekolah, kita bakal tetap ketemu dia walau sudah lulus...”
Alvin mengangkat wajah, menoleh seutuhnya pada gadisnya yang sedang membuang muka darinya itu. Ia diam lama, sebelum terkekeh geli. Shilla jadi mendelik dan menoleh.
“Waktu itu tentang gelang ajaib, sekarang mitos nggak jelas. Kamu tuh emang suka banget baca dongeng ya?” kata Alvin menatap Shilla, membuat gadis itu tersentak dan terdiam.
“Aku udah bilang berapa kali sih kalau aku-”
“Nggak suka puitis,” potong Shilla membuat Alvin tak melanjutkan kalimat, “nggak suka romantis. Nggak suka drama,” suara Shilla mulai menajam, membuat Alvin agak menarik diri. “Tapi sialnya, lo pacaran sama cewek yang suka hal-hal itu.”
Garis wajah Alvin perlahan menegang. Membalas tatapan gadis di depannya yang mulai berkilat marah, walau samar mulai ada bening hangat yang membuatnya matanya berkaca-kaca.
“Ini tuh hari penting, Vin...”
Alvin tertegun. Membatu mendengar nada bergetar tertahan tersebut. Apalagi raut wajah kecewa dan terluka dari gadis cantik di sampingnya ini.
Shilla meneguk ludah, mencoba menguasai diri. Ia menarik nafas dalam, lalu menghembuskannya keras. “Sekarang gue bener-bener heran kenapa kita bisa pacaran,” tegasnya tajam, lalu berdiri melepas jas yang tersampir di pundaknya dan beranjak pergi begitu saja. Membuat Alvin yang terhenyak atas kalimat itu tak sempat menahannya.
Alvin segera menguasai diri. Pemuda itu menaruh asal kamera di atas meja di samping mendali emasnya dan segera berjalan cepat menyusul gadis bergaun merah marun itu yang menuju pintu utama.
Pintu besar itu tiba-tiba terbuka, membuat Shilla yang hampir sampai ke pintu, terkejut dan hampir saja menjerit. Gadis itu yang berusaha menahan isak, tertegun dengan mata melebar melihat sosok pemuda jangkung tampan yang baru saja menunjukkan diri. Kedatangannya membuat para murid Smanra menolehkan kepala. Alvin yang baru saja sampai di belakang Shilla, juga terdiam.
“Selamat datang Smanhar!”
Shilla tersentak, ketika vokalis band dari sekolahnya yang sedang ada di atas panggung mengucapkan kalimat itu. Ia menoleh kembali pada pemuda jangkung di depannya, yang di belakangnya banyak remaja memakai jas dan gaun bermunculan.
Alvin tersadar. Ia menarik Shilla menjauh dan meminggirkan tubuh, mempersilahkan.
Pemuda jangkung itu tersenyum kikuk menyapa Shilla dan Alvin, murid Smanra pertama yang ia temui. Ia lalu mulai melangkah masuk. Di belakangnya para murid Smanhar mengikuti.
Bagas, ketua osis Smanra saat ini, melangkah maju dan tersenyum bersahabat. Para murid Smanra tanpa sadar bertepuk tangan menyambut kedatangan -mantan- musuh bebuyutan mereka itu.
“Woi!”
Alvin dan Shilla terkejut dan menoleh. Rio tersenyum mendekat, sambil menggandeng Keke yang mengenakan dress selutut bercorak batik putih hitam.
“Mau kemana? Nggak nunggu gue dulu?” canda Rio belagak ngambek.
Alvin dan Shilla tersentak dan segera menguasai diri. Shilla dengan tak kentara menarik lengannya yang masih digenggam Alvin dan bergerak rikuh. Alvin juga berdehem kecil dan mencoba menguasai air muka. Walau itu membuat Rio mengangkat alis, merasakan sesuatu asing.
“Acha dimana kak?” tanya Keke yang tak mengerti keadaan.
“Lagi dans...” Kalimat Shilla terhenti sejenak, lalu mencoba tersenyum walau pahit. “Lagi dansa sama Ozy di depan.”
Rio mengangkat alis, lalu melolongkan kepala ingin melihat. “Tu anak nggak macem-macem, kan?” tanyanya curiga.
“Ya nggaklah, Yo,” jawab Alvin menyahut.
“Kak, dansa juga yuk!” ajak Keke menarik-narik lengan Rio bersemangat, membuat Alvin dan Shilla melebarkan mata. Alvin agak melirik Shilla, namun gadis itu membuang muka.
Rio diam sejenak, lalu menatap Keke. “Gue nggak bisa dansa,” jawab Rio membuat Shilla menoleh. “Lagian emang wajib dansa segala?”
Alvin berdehem kecil. Shilla agak mendelik karena seperti disindir. ‘Dasar kembar,’ gerutu Shilla dalam hati. Pikiran dan sikapnya selalu sama.
Keke memajukan bibir bawah sesaat. “Yaudah sebentar aja deh. Walau ini bukan acara perpisahanku, tapi aku udah nyiapin sesempurna mungkin loh. Masa’ kakak nggak mau ngehargain?” rengek Keke menggoyangkan lengan Rio.
Alvin yang mendengar itu tertegun. Melirik sedikit Shilla yang masih memasang ekspresi datar.
Rio mencibir kecil, “kamu tuh makin lama makin mirip Acha, ya,” ledeknya menepuk pelan kepala Keke. Ia lalu menoleh pada Alvin dan Shilla, “gue tinggal dulu, ya. Kalian jangan pulang. Kata bunda kita harus poto bareng,” pamitnya sambil memperingatkan, menepuk lengan Alvin sejenak, lalu menarik Keke pergi.
Shilla menghela nafas keras, tapi tanpa berkata berbalik dan melangkah kembali ke mejanya membuat Alvin melihat itu menipiskan bibir. Jadi... Ini tentang dihargai?

***

Alvin meneguk minumannya sekali lagi. Ia memandang Ozy, Acha, Deva, dan Ray yang kini sudah akrab dan tertawa bersama sambil berpoto ria. Alvin mengerjap, lalu menoleh pada Sivia yang setia di samping Gabriel bersenang-senang menikmati performance band yang kini menampilkan lagu dengan beat cepat membuat para murid melompat-lompat menikmati. Mata Alvin bergerak sedikit, melihat di depan panggung kini Shilla tertawa riang bersama Angel dan Zahra, menyanyi-nyanyi riang mengikuti vokalis band seperti sedang berada di konser musik. Tak peduli dengan gaun dan make up mereka, para gadis itu hanya ingin bergembira malam ini.
Seseorang tiba-tiba duduk di samping Alvin, membuat Alvin terkejut dan menoleh. Pemuda itu lalu mendesah panjang, melihat sahabatnya itu kini dengan santai duduk di sampingnya.
“Lo napa kesepian banget sih,” komentar Rio memandang Alvin yang lesu. “Lagi berantem ya?” tebak Rio setengah menggoda.
Alvin mencibir kecil, “ngambek gara-gara gua nggak mau dansa,” ucapnya memutar mata ke arah Shilla.
Rio terkekeh geli, melirik ke arah Keke yang baru saja datang sudah diminta memoto Ozy dan yang lain. Rio mendesah, “kadang cewek itu ngeselin ya,” ucapnya melirih.
“Bukan kadang, tapi selalu,” sahut Alvin membuat Rio terkekeh kembali. “Apalagi cewek gua,” sambungnya lalu menghembuskan nafas keras.
Rio memandangi Alvin dari samping, “Tapi bukan berarti kita nggak pernah ngeselin juga...”
Alvin tersentak, kemudian menoleh seutuhnya memandang Rio.
Rio tersenyum samar, “lo pernah nggak sih coba untuk liat dari sudut pandang dia?” tanyanya tenang, namun mampu membuat Alvin terdiam. Rio mendesah, lalu menepuk pundak Alvin, “gua peringatin, cewek lo tuh cantik. Banget. Banyak yang ngejar dia. Jadi lo jangan jadi cowok yang selalu ngeselin. Beda sama cowok yang nggak gampang nyerah dan terus berjuang, cewek justru lebih lemah dan pasrah kalau soal cinta.”
Mata sipit Alvin melebar, memandang Rio dengan ekspresi tertegun. Rio menarik salah satu ujung bibirnya, kemudian kembali menatap ke arah Keke yang masih sibuk memoto Acha, Ozy, Deva, dan Ray yang makin heboh bergaya.
“Lebih baik kalah dari dia daripada kalah dari cowok lain yang bakal ngerebut dia,” ucap Rio membuat Alvin makin terdiam.
“Vin!”
Alvin terkejut dan mengangkat wajah, menoleh pada Ozy yang tiba-tiba memanggilnya. Ozy tak berkata, hanya menggerakkan dagu ke arah depan panggung. Alvin mengangkat alis, mengikuti arah pandangnya.
Pemuda tampan itu mengernyitkan kening, kemudian menajamkan pandangan. Melihat kini seorang pemuda jangkung yang tadi ia temui membuka pintu memimpin SMA Harapan memasuki ballroom ini sudah berdiri di samping Shilla sambil tersenyum ramah. Keduanya mengobrol, nampak akrab. Angel dan Zahra juga terkadang ikut bicara, walau masih asyik menikmati lagu yang ada. Membuat Shilla dan pemuda itu lebih intens berdua.
“Itu Kak Reza, mantan ketos Smanhar,” kata Acha seakan membaca ekspresi keruh Alvin.
“Ganteng, Vin,” komentar Ray memanasi. 
“Tuh, kan. Baru aja gue bilangin,” bisik Rio membuat Alvin mengangkat sebelah alis.
Alvin menghembuskan nafas panjang, tapi kemudian berdiri meraih jas dan memakainya kembali. Semua yang ada di meja itu mengangkat wajah menatap Alvin dengan penuh antisipasi ingin tahu apa yang ingin pemuda itu lakukan. Namun nyatanya pemuda itu malah beranjak dan melangkah ke arah berlawanan, pada pintu keluar membuat mereka tersentak.
“Tu anak cueknya ampun-ampunan deh,” komentar Ozy geleng-geleng kecil.
Rio mendengus, menoleh pada Keke, “aku keluar dulu, sama Acha aja di sini,” pamitnya pada Keke yang menjawab dengan anggukan. Rio lalu menoleh pada Ozy, “jagain adek gue,” ucapnya dengan mata mengancam.
“Iye, iye,” jawab Ozy menipiskan bibir.
“Gue bakal jaga cewek lo,” celetuk Ray, namun langsung diam kala mendapat tatapan nyalang dari Rio yang dingin. Ray langsung meringis mohon ampun.
Rio mendengus saja, kemudian berlari kecil menyusul Alvin keluar dari ball room.
Sementara di tempatnya berdiri, Shilla masih asyik mengobrol dengan Reza, pemuda jangkung karismatik yang ramah itu. Gadis itu tertawa beberapa kali menanggapi Reza yang menurutnya teman yang asyik itu. Apalagi ternyata dulu mereka satu SMP, tapi keduanya tak saling kenal. Atau tepatnya Reza mengetahui nama Shilla yang memang sudah terkenal sejak SMP. Berbeda dengan Reza yang sebenarnya murid cerdas tak populer.
Shilla mencoba melirik ke meja Ozy dan yang lain. Garis wajah gadis itu berubah. Melihat tak ada pemudanya di sana. Hati gadis itu terasa dingin seketika. Wajahnya jadi mendung.
“Shil.”
Shilla mengerjap dan menolehkan kepala kembali pada Reza yang memanggilnya.
“Lo capek? Duduk aja yuk,” ajak Reza ramah.
Shilla menatap pemuda manis itu. Hatinya agak ragu. Ia melirik lagi meja Ozy. Gadis itu menggigit bibir, kemudian menoleh pada Reza. “Hm, yuk,” jawabnya sambil tersenyum manis.

***

Alvin menghela nafas panjang dan keras. Di sampingnya Rio berdiri tenang dengan tiupan angin malam di balkon lantai satu itu. Mereka diam lama. Hanya ada suara kendaraan dan klakson di jalan besar di depan hotel acara itu berlangsung.
“Lo mau jadi apa setelah lulus?”
Rio terkesiap, terkejut sahabatnya itu bertanya tiba-tiba begini.
“Waktu kecil lo mau jadi tentara. Tapi gue nggak yakin bocah yang suka tawuran kayak lo bakal diterima,” kata Alvin menoleh sekilas, lalu kembali memandang ke arah jalanan dengan kedua tangan menumpu di pagar balkon.
Rio bergumam, menyandarkan punggung ke pagar berdiri di samping Alvin. “Gue mau nerusian usaha Ayah. Sebagai anak pertama dan anak cowok satu-satunya, cuma itu pilihan gue,” jawab Rio memandang Alvin dari samping.
Alvin mengangguk-angguk kecil, lalu menoleh. “Kita kuliah bareng ya,” ucapnya membuat Rio mengangkat alis, “lagian gue juga mau nerusin perusahaan Papa....” Alvin diam, menoleh kembali ke arah depan. Matanya meredup menatap jauh jalanan jauh di depan hotel. “Gue mau fokus kali ini...”
Rio terkesiap. Garis wajahnya berubah. Ia langsung mengerti maksud kalimat itu.
“Selama sekolah gue selalu buat onar. Padahal gue anak tunggal,” Alvin menghela nafas, “gue mau berubah. Gue mau fokus...”
Rio mendengus kecil, “kenapa gue ngerasa ini cuma alasan biar lo ngindarin Shilla?” ucapnya menembak telak, membuat Alvin terdiam. Rio menipiskan bibir, kemudian membalik badan ikut menaruh kedua tangan di atas pagar balkon. “Lo kenapa sih?” tanyanya peduli.
Alvin diam, tak langsung menjawab. Ia kini merunduk, memandang grandfloor tempat parkiran mobil berada di bawahnya dengan tatapan melamun. Mata sipitnya makin meredup sendu. Dengan garis wajah mengendor layu.

“Sekarang gue bener-bener heran kenapa kita bisa pacaran.”

Alvin meneguk ludah. Mengingat ucapan tajam itu sekali lagi. Ia menarik nafas dalam, mencoba menenangkan dadanya yang terasa sesak dan hancur lebur.
“Vin!” panggilan Rio ditambah tepukan dipundak membuat Alvin tersentak dan menoleh. Rio menggerakkan dagu ke arah bawah, membuat Alvin mengernyit dan ikut menggerakkan kepala ke arah sana.
Terlihat parkiran mobil di grandfloor di bawah mereka. Yang langsung jadi fokus mereka ada empat orang memakai jas formal sedang berkumpul di sudut grandfloor. Alvin menajamkan mata, bisa melihat sosok Sion dan Dayat. Sementara dua orang di depannya Alvin tak pernah kenal, mungkin murid Smanhar.
“Mereka nggak lagi berantem, kan?” ucap Rio mulai was-was. Karena ia tahu, yang berhadapan dengan dua murid Smanra itu adalah Christo dan Marvel, dua ‘anak buah’nya yang kerap kali maju di barisan depan tawuran siswa.
Alvin tak menjawab, makin mefokuskan pandangan. Keningnya berkerut, melihat Sion yang di depan Marvel menyodorkan sesuatu. Samar, itu adalah bungkus rokok.
Alvin mendesah, “cuma bagi rokok,” katanya tenang.
Rio di sampingnya manggut-manggut, walau masih curiga dan tetap memerhatikan empat orang itu. Matanya melebar perlahan, melihat Marvel kini gantian memberikan sebungkus plastik hitam kecil yang diterima Dayat.
Tiba-tiba ada suara peluit dan senter menyala, diiringi orang-orang berpakaian seragam hitam berlarian ke arah empat pemuda itu, membuat Rio dan Alvin ikut terkejut. Keempat murid berpakaian jas formal tersebut nampak terkejut dan mencoba berlari kabur, namun para sekuriti dengan sigap menangkap mereka dan menimbulkan suara gaduh.
“Yo,” tegur Alvin menepuk lengan Rio.
Rio mengerti. Ia mengangguk dan berbalik, berlari pergi bersama Alvin. Mereka berlari cepat menuruni tangga dan langsung keluar, menyusul para sekuriti itu. Tapi yang ada Dayat yang mencoba berlari ke arahnya tertabrak Rio membuat mereka terkejut.
“Berhenti di sana!” teriak seorang sekuriti membuat Rio sigap menarik lengan Dayat dan menahannya.
“Lo ngapain?!” bentak Rio mencengkeram lengan Dayat yang mencoba meronta. Alvin di sampingnya juga menahan.
Tak lama, gerombolan para murid berlarian dari arah ball room mendengar kegaduhan yang ada.
Sion yang melihat itu mengepalkan tangan, seakan mengerti. Ia langsung menoleh pada Christo di sampingnya. “Sialan lo!” umpatnya menonjok pemuda itu, “lo pasti jebak gue, kan!?” tuduhnya menarik ujung kemeja Christo.
“Lo yang jebak gue,” kata Christo ditambah umpatan kasar dan langsung balas memukul Sion. Para murid mendesah kaget dan merapat satu sama lain.
Para sekuriti segera berlari datang melerai. Gabriel menyeruak dari kerumunan, berlari mendekat dan menarik Sion menjauh dengan susah payah.
Melihat perkelahian itu, para murid Smanra dan Smanhar jadi heboh dan berkasak-kusuk.
“Gue juga bilang, kan, Smanra tuh nggak bisa diajak temenan!” kata Dea emosi, membuat Shilla yang berdiri tak jauh darinya menoleh.
“Lo kalau belum tahu masalahnya nggak usah ngebacot deh!” sahut Shilla langsung terpancing dan maju.
Dea menoleh dan mendelik, “udah jelas ini tempat acara Smanra. Pasti kalian udah rencanain macam-macam!” tuduh Dea ikut maju.
Shilla mengumpat kasar, langsung maju menyerang. Dea tak diam, kedua tangannya juga terjulur dan mencakar-cakar wajah cantik Shilla. Yang lain langsung jadi heboh satu sama lain. Beberapa murid jadi saling caci dan mengumpat satu sama lain.
Ozy meneguk ludah melihat itu, ia langsung menarik tangan Acha di sampingnya dan memundurkan diri, menjauhi pertikaian. Sivia yang berdiri di sampingnya menarik Keke ke belakangnya, melindungi gadis itu yang sudah gemetar ketakutan. 
Cakka ingin maju, emosinya terpancing mendengar makian dari Smanhar pada sekolahnya. Namun seseorang menarik lengan pemuda itu menahan, membuat Cakka menoleh.
“Nggak usah ikutan!” ancam Oik melotot kecil, membuat Cakka jadi ciut dan diam, walau ingin sekali maju membalas.
Ray nampak kebingungan. Ia ingin maju, ikut bertarung karena tak tahan. Tapi ingin mundur, melindungi Keke dan Acha yang memang dipesani Rio. Tapi juga ingin berlari ke arah Gabriel mencari tahu apa yang terjadi.
“Ini ada apa sih?” tanya Rio menarik Dayat ke arah tiga orang yang sejak awal di sana, bersama enam orang sekuriti juga Gabriel yang menahan Sion.
Seorang sekuriti maju, menarik paksa Christo membuat pemuda itu mendecak dan menepis kasar sekuriti. Pria tegap itu meraba jas formal Christo, lalu merogoh sesuatu di kantongnya. Ia mengeluarkannya membuat murid Smanra dan Smanhar yang tadi heboh jadi diam dan menoleh ingin tahu.
Sekuriti itu membuka plastik hitam tersebut, yang langsung dapat sambutan desahan kaget dan terkejut tak percaya. Rio bahkan membelalak maksimal. Melihat sebungkus penuh pil bulat berwarna kuning dengan jumlah sangat banyak.
“Kami dapat laporan terjadi transaksi narkorba di acara wisuda ini,” tegas seorang sekuriti membuat yang lain makin terkejut.
“Liat, kan! Itu punya sekolah lo!” kata Shilla menunjuk Dea sengit membuat Dea ingin maju membalas.
Reza yang awalnya sibuk melerai, menyeruak maju dengan segera. Ia menatap Christo serius. “Ini punya lo?” tanyanya menunjuk plastik hitam itu.
Christo diam. Pemuda kurus itu nampak salah tingkah. Ia memutar mata pada Rio yang juga menatapnya serius dan tajam. Christo meneguk ludah, lalu melirik Gabriel yang berdiri di samping Sion. Christo mengepalkan tangan, teringat alasan ia membawa barang haram itu ke acara ini.
“Gue dikasih dia,” jawab Christo menunjuk Gabriel tepat, membuat Gabriel terkejut tak menyangka.
“Lo ngomong yang bener! Ini punya lo, bangsat,” umpat Sion maju emosi, tapi Gabriel segera menariknya dan menahan.
Dea mendengus pada Shilla, “sekolah lo emang sampah,” tudingnya sengit membuat Shilla kembali tak tahan dan langsung menarik sanggul kecil Dea dengan keras membuat semua terlonjak.
Kali ini Ray langsung gesit melesat dan melerai dua gadis itu. Ify juga maju menarik Dea menjauh bersama Zeva dan Deva. Sementara Sivia yang awalnya menjaga Keke jadi ikut melesat memisahkan Shilla dan Dea yang makin beringas.
“Gue juga dikasih ini,” kata Marvel mengacungkan dua bungkus rokok, membuat semua menoleh. “Dari dia,” Marvel menunjuk Sion sengit, “dan dia,” sambungnya kini mengacungkan telunjuk pada Alvin di samping Rio.
“Gue?” kata Alvin berwajah bego menunjuk dirinya sendiri.
Rio yang melihat itu mendengus, lalu maju selangkah, “Maksud lo apa sih, ha?” tanyanya menatap Marvel dingin. “Kalau kalian mau jual beli di mall sana! Kenapa di acara prom dua sekolah?! Lo bikin nama sekolah jatoh tahu nggak!” marah Rio meninggikan suara.
Marvel mendengus, lalu mengumpat. “Bukannya lo yang bikin nama sekolah kita diinjak-injak, hanya karena SAHABAT KECIL lo, dan PACAR ADEK lo,” balasnya sengit, menegaskan kata yang dicapslock besar.
Rio langsung terdiam mendengar itu. Dayat di sampingnya mengangkat alis, dalam hati agak geli. Namun ia malah maju.
“Bukannya lo dapat barang-barang ini dari ketua lo?” ucap Dayat membuat Marvel serta Rio tersentak dan menoleh. Dayat mendengus kecil, kemudian memasukkan tangan ke saku jas Rio membuat Rio tak sempat menghindar.
Para murid Smanhar dan Smanra kembali dibuat kaget melihat Dayat mengeluarkan sebungkus plastik hitam kecil dari dalam kantong jas Rio. Dayat mengacungkannya, lalu melemparkan pada seorang sekuriti yang segera menangkap, lalu membuka dan memeriksanya.
Mulut Acha terbuka maksimal melihat puluhan pil kuning serta serbuk dalam plastik kecil berjumlah banyak dalam plastik hitam itu. Gadis itu langsung kalap. Menepis tangan Ozy yang menahannya dan berlari ke depan membuat Ozy dan Keke terkejut.
“Ini nggak mungkin punya Kak Rio!” tegas Acha berdiri di depan Rio, membela.
Reza yang melihat itu menghela nafas frustasi dan berdiri di tengah, “oke, kita bicara baik-baik. Ini awalnya ada apa,” katanya lebih serius dan dewasa.
“Kami ditelpon bahwa di acara dua sekolah ini, ada murid yang melakukan transaksi narkoba dari dua sekolah,” jawab seorang sekuriti dengan tegas, membuat Reza terkesiap dan terdiam.
Sion mendengus keras, “mereka yang ngajak gue sama Dayat ke sini,” katanya menunjuk Christo dengan sengit. “Mereka yang nawarin kita lebih dulu.”
Marvel mendengus, “bukannya lo juga ngasih gue ya?” ucapnya mengacungkan bungkus rokok di tangannya. Ia menyerahkan pada seorang sekuriti, yang segera dibuka dan diperiksa.
Gabriel melebarkan mata, melihat beberapa batang rokok serta plastik berisi serbuk putih di sana. Ia menoleh pada Sion tak percaya. Sion kali ini membeku, tak bersuara dan jadi tak berkutik.
“Dan juga...” Marvel diam sejenak, lalu melirik Alvin tajam membuat Alvin mengangkat alis. “Dia,” Marvel menunjuk Alvin, lalu beralih menunjuk Gabriel. “Dan dia, yang ngasih kita barang lainnya,” tudingnya membuat yang lain terkejut. “Periksa aja, pak.”
Shilla yang masih bertarung dengan Dea mendengar itu dan langsung mendorong Dea menjauh membuat Dea menjerit terjatuh tapi segera ditahan Ify dan Deva. Shilla yang sudah berantakan, menoleh pada Alvin dan Gabriel dengan wajah membeku. Sivia di belakang Shilla juga terdiam dengan mata melebar.
Dua orang sekuriti maju, menggeledah jas formal Alvin dan Gabriel. Alvin melengos pasrah, dengan wajah malas dan tak melawan. Gabriel juga nampak tenang. Tapi dua orang itu langsung membeku di saat yang sama. Ketika sekuriti mengeluarkan sebungkus plastik bening berisi bungkus rokok dari saku Alvin dan sebuah kapsul bening berisi pil bulat kuning dari saku Gabriel.
“I-itu bukan punya saya,” elak Alvin tak percaya sendiri dengan apa yang ia lihat.
Acha yang tenganga tak percaya, segera menguasai diri. “Pak, ini pasti ada kesalahan. Dua kakak saya ini ngerokok aja nggak mau. Apalagi pake’ ginian,” bela Acha makin merapat pada Alvin dan Rio, melindungi.
Seorang sekuriti menghela nafas keras. “Acara ini dibubarkan!” tegasnya lantang, lalu memandang orang-orang di dekatnya. “Kalian, ikut kami ke pos sekarang.”
Murid Smanra dan Smanhar jadi heboh kembali. Tapi kali ini Shilla tak ikut-ikutan. Gadis itu yang rambutnya sudah kacau dengan riasan hancur, membeku memandang Alvin yang ditarik seorang sekuriti dengan paksa. Acha mencoba menahan tapi gadis itu jadi tak bisa berbuat apa-apa. Reza maju dan menenangkan Acha yang histeris tak ingin melepas Rio dan Alvin.
Ozy menarik Keke membuat Keke yang terdiam tak percaya terkejut. Mereka mendekat pada Acha. Ozy juga mencoba menenangkan gadisnya itu yang terus memerotes dan nekat ingin ikut Rio dan Alvin tapi tak diperbolehkan.
Rio menatap sekilas Keke yang masih membeku dan memucat. Rio meneguk ludah, tapi lalu dengan pasrah melangkah menunduk mengikuti para sekuriti.

xxxxx


HAI I’M BACK YA AMPUN APA KALIAN MERINDUKANKU HAAAAA
Ehm
Oke.
Saya memang harus menjelaskan banyak hal. Jadi memang saat itu rumah kemalingan, laptop salah satu barang yang dicuri berserta data-data. Jadi Alenya down banget tiada tanding deh. Semua cerita dari awal karir(?) pas SMP sampai sekarang hilang gitu aja.
Nah suatu hari, Ale bongkar barang lama kan. Nah ketemu sebuah kotak ajaib! Kotak ajaib yang isinya buku2 catatan coretan kerangka cerita atau apapunlah ya. Nah di sana ternyata dapat kartu memory card hape. Terus gue ingat. Waktu itu pindahan dari laptop lama ke laptop baru pake memory card itu karena fd rusak. Nah Ale coba deh ke laptop baru kakak. EH TERNYATA MASIH SELAMAT ADA ISINYA HUHU ALHAMDULILLAH.
Nah kemudian Ale malah sibuk menuntaskan cerita di fanbase lain *ehm*. Karena ada cerita baru dan banyak part baru yang hilang. Karena jalan ceritanya masih fresh di otak, jadi Ale ngejer banget ngebayar part2 yang baru itu.
Lalu kemudian.
Bigbang comeback.
Setelah tiga tahun.
Euphoria fans heboh banget.
Dan tiba-tiba....
‘PMB perlu tiga tahun juga nggak ya buat comeback biar rame gitu’
HAHAHAHA pikiran macam apa itu.
Tapi lalu Ale jadi tersentuh(?). Buka folder PMB, baca ulang. Random sendiri, heboh sendiri, greget sendiri(?). Eh jadinya Ale malah bikin cerita baru PMB. Jadi kayak PMB versi baru (PMB banyak banget versinya ya maaf authornya emang miskin tema cerita). Tapi pas buka part ending.... kok kayaknya endingnya gitu doang flat amat (jadi endingnya mereka prom terus perdamaian. The end.) Apalagi pas Ale buka blog ternyata masih ada yang komen PMB :’’’’))) trus komen yang ngeluh kok endingnya flat. Nah jadi ide langsung bermekaran. Nah karena nonton MV Bigbang (lagi-lagi comeback Bigbang) malah jadi terinspirasi bikin konflik dan tokoh baru. Iya, kalau kalian nonton MV nya sama sekali nggak nyambung sama PMB tapi namanya ide mah ya datang darimana aja maavkeun. Nah yaudah deh jadi gini hahahahahahahaha
Pertama Ale sangat ucapkan terima kasih pad ALders yang setia menunggu. Maafin Alenya suka ngilang nggak tahu diri seenaknya. Maaf.
Sekarang Ale mau fokus ke wordpress karena lebih gampang. Ayo follow wp Ale, dan kalian bisa komen bebas loh nggak perlu daftar :D
Ale akan post seluruh part PMB di sana (tapi nyicil satu satu dulu ya). Btw Ale udah jualan novel lagi yeaaayyy!!! Karena harga percetakan naik, jadi sorry dorry morry harga Against Dear juga naik dari jadi 52ribu. Tapi kalian juga bisa beli ebooknya loh! Dari awal 28.000 sekarang ebook PMB cuma 22.000! Kalau beli via pulsa 25.000! More info nanti dishare di twitter ya~
Sebenarnya masih mau ngebacot banyak tapi kita berjumpa di wordpress aja ya wkwkwk

Sincerely,
Jodoh Gabriel Yang Tertunda (walau sekarang hanya part time)

Minggu, 10 Agustus 2014

Persahabatan Musuh Bebuyutan Part 32



Part 32. Prom?

“Sekolah kita kenapa aneh-aneh banget sih,” kata Alvin membaca selebaran Prom Night nanti.
Shilla yang mengerjakan tugas akhir dari Pak Dave menoleh bertanya. “Apaan?”
“Prom di stadion basket? Ini kita mau pesta atau mau tanding?” tanya Alvin sarkatis sambil menaruh kembali selebaran itu di atas meja Angel yang ia duduki.
“Ketos kitakan keren,” kata Shilla ikut sarkatis sambil kembali melanjutkan tugasnya.
“Keren?” Alvin mendelik, “ganteng juga nggak?” tanyanya menyindir.
Shilla mendongak, langsung mendelik sebal dan memukul lengan Alvin membuat pemuda itu merintih sakit. “Nggak usah mulai deh. Mau masuk rumah sakit lagi?” tanya Shilla sebal.
Alvin hanya mencibir sambil mengusap lengannya yang perih. Ia lupa kalau pacarnya ini adalah jelmaan nenek lampir. Yang akan siap mengamuk kapan saja.
“ASSALAMMUALAIKUM!!!”
Semua yang ada di kelas 12 IPS 3 menoleh kaget. Suara yang sengaja dicemprengkan itu datang dari pemuda kecil yang tersenyum lebar sambil melangkah riang memasuki kelas. Mereka langsung melengos kompak melihat kurcaci stress itu yang datang.
“Balasin kek salam gue,” gerutu Ozy ke arah kelas. Beberapa membalas malas-malasan dan beberapa hanya cuek dan kembali ke aktifitas masing-masing.
“Eh si nenek dapat hadiah ya?” goda Ozy mendekat ke meja Shilla membuat gadis itu mendelik kesal. “Makanya Shil, sekolah tuh yang rajin. Semua udah santai-santai selesai ujian lo masih aja ngurusin tugas yang bolong. Kasian.”
“Berisik lo. Pergi sana!” sewot Shilla melotot marah.
Ozy agak menciut, tapi matanya jatuh pada selebaran di depan Alvin. Ia meraihnya, dan mengangkat alis tinggi. “Kok di smanra nggak diumumin lengkap ya? Padahal di tempat Acha semua lagi heboh,” komentar Ozy membuat Alvin dan Shilla mengangkat wajah sambil mengerutkan kening.
Ozy menurunkan kertas di depannya, kemudian menatap Alvin dan Shilla bergantian. Ia mengangkat sebelah alis. “Loh? Kalian emangnya nggak tau? Tadi malam Acha yang ngasih tahu gue. Gue pikir anak smanra pada tahu semua. Wah, ketos kita kayaknya mau sok buat kejutan nih,” kata Ozy geleng-geleng membuat bukan hanya Alvin dan Shilla, tapi seluruh siswa kelas jadi penasaran.
“Apaan sih Zy?” tanya Shilla ingin tahu.
Ozy diam sejenak, lalu tersenyum lebar. “Prom Night Smanra bakal gabung sama Smanhar.”
“…………”
Hening.
Setidaknya selama tiga detik. Karena berikutnya dengan kompak seluruh kelas………
“HA?!?!!!!”

^^^
Gabriel mengusap kedua telapak tangannya yang sudah basah keringat. Ia kembali mengubah posisi duduk. Merasa gelisah sedari tadi. Membuat Ozy, Ray, Acha, Alvin, dan Shilla memandang itu dengan bosan.
“Masih lama, Yel?” tanya Ray dengan nada malas.
Gabriel mendecak. “Gue harus ngapain?”
“Ya telpon kak!” seru Acha segera dengan gemas. “Tuh dari tadi hape di depan kakak nggak disentuh sama sekali. Kita udah nungguin dari tadi!” ucap Acha menunjuk hape yang sedari tadi tergeletak di atas meja ruang tamunya. Hari ini mereka berkumpul di sana karena rumah Alvin tidak mungkin jadi pilihan atas masalah hari ini.
“Kita bahkan udah nyusun skenario lo harus ngomong gimana. Udah cepet buruan!” desak Ozy juga tak sabar.
Gabriel menggaruk belakang telinganya yang tak gatal. “Eung… kalau gue ditolak?”
“Yaelah!” kata Shilla gemas. “Gue heran deh sama cowok jaman sekarang. Ciut amat sama cewek.”
“Gue nggak!” kata Alvin segera membuat Shilla mendesis sinis.
“Kalau gue nggak mancing, lo juga nggak bakal nembak gua!” kata Shilla sewot membuat Alvin langsung menciut diam. Acha terkikik mendengar itu.
“Cewek lo kayaknya minggu ini lagi bendera Jepang, Vin,” bisik Ozy di samping Alvin.
Alvin melengos, “nggak bendera Jepang aja dia udah mengerikan, apalagi kalau lagi-“
“Ngomongin apa?!” ketus Shilla membuat Alvin segera menutup mulut dan menegakkan tubuh kembali.
Alvin memasang wajah datar sambil menggeleng, “nggak papa.”
Shilla melotot mengancam, kemudian kembali menatap Gabriel yang geleng-geleng geli melihat pasangan itu. “Jadi gimana, Yel? Elo peka dikit kek jadi cowok. Sivia udah bela-belain manjangin liburannya sampai ujian nasional karena elo!”
“Karena gue?” tanya Gabriel segera sambil menunjuk dirinya sendiri.
“Yaiyalah!” kata Acha, Ray, Ozy, Alvin, dan Shilla serempak.
“Kak, Sivia datang kesini kan karena mau damaikan Koko sama Kak Rio. Sekarang jangankan Kak Rio sama Koko, Smanra sama Smanhar aja udah adem ayem. Apalagi yang buat Sivia betah di Jakarta kalau bukan nunggu Kak Gabriel!” argumen Acha disambut anggukan yang lain.
“Nunggu apa?” tanya Gabriel bego.
Ray langsung menggeram sebal, “jangan bilang ilmu keplayboyan lo selama bertahun-tahun hilang gitu aja karena cewek pembalap F1 itu,” kata Ray tak percaya.  
“Yap. Itulah kekuatan cinta,” kata Ozy lebay dengan mata berkedip-kedip membuat Shilla tak bisa menahan untuk tidak melemparnya bantal sofa.
“Yel, gue percaya sekarang lo nggak bakal sengaja nyakitin sepupu gua. Tapi kalau lo gini terus, gue bakal suruh dia pulang saat ini juga tanpa harus ngomong apapun lagi sama lo,” ancam Alvin serius membuat Gabriel sampai meneguk ludah.
Gabriel mengigigiti bibir, kemudian merengek seperti anak kecil dengan frustasi. “Tapi gue bener-bener takut dia nggak mau…” kata Gabriel mengeluarkan sisi yang tak pernah orang lain lihat. Kekanakan.
Ray sampai menjauhkan diri dengan mata mengerjap-ngerjap. “Gue heran kenapa cowok kayak gini jadi ketua preman di sekolah gue,” katanya menatap Gabriel ngeri.
“Sivia emang hebat banget…” kata Acha kagum sambil geleng-geleng kepala.
Gabriel melengos panjang sambil menyandarkan diri ke sofa dengan wajah memelas putus asa. Shilla malah jadi tertawa geli karena sekian lama mengenal Gabriel ia sangat tahu pemuda itu bila di depan orangtuanya sering manja jika sedang sangat menginginkan sesuatu. Hal haram bagi seorang premannya sekolah. Apalagi ketua preman. Namun kali ini karena seorang perempuan, Gabriel mengeluarkan sisi itu di depan teman-temannya.
Suara mobil datang membuat mereka menoleh. Tak lama Manda datang dengan Rio membawa beberapa kantong belanjaan di belakangnya.
“Rame banget nih,” kata Manda ramah tersenyum menyapa semua yang mengangguk sopan.
Alvin segera berdiri menghampiri Rio sambil mengambil alih sebagian belanjaan. “Maaf ya, Bun. Ini teman-temannya Apin, tapi malah ngumpulnya di sini,” kata Alvin meringis.
“Ya nggak papalah. Inikan rumah kamu juga,” kata Manda santai, lalu menoleh pada Shilla. “Lagian juga ada Shilla. Tante seneng banget ketemu kamu lagi.”
Shilla tersenyum manis dengan malu-malu. Membuat Ozy, Ray, dan Alvin menyipitkan mata ke arah gadis itu. Bagaimana bisa ya gadis yang baru beberapa detik lalu melotot sambil bicara ketus kini jadi manis sekali? Cih. Dasar ular. Batin Ozy, Ray, dan Alvin melihat tingkah Shilla.
“Yuk masuk aja. Mbok Ipah pasti udah selesai masak. Lagian di ruang tengah situ lebih luas loh,” ajak Manda ramah.
Semua saling menoleh, menunggu satu sama lain berdiri. Tapi Acha kemudian tersenyum dan memimpin pergi, diikuti Alvin dan Rio yang membawa belanjaan. Mau tak mau yang lain mengekor. Manda merangkul lembut Shilla dan mengajak mengobrol akrab.
“Sivianya mana? Kok nggak ikutan?” tanya Rio setelah menaruh belanjaan di atas meja makan. Sementara yang lain duduk di ruang tengah depan dapur. Acha dengan dibantu Ozy baru saja menarik sebuah meja di sudut ke tengah ruangan, dengan Gabriel dan yang lain duduk mengitarinya.
“Ini kita lagi mikirin dia,” jawab Shilla membuat Rio mengerutkan kening.
“Sebenarnya sih Gabriel yang mikirin,” sergah Ray membuat Gabriel melotot kecil. “Mau ngajakin ke prom.”
Rio mengangkat sebelah alis, lalu mendekat dan duduk di samping Alvin. “Lo ngajakin cewek ke prom aja nggak bisa?” tanya Rio merendahkan membuat Gabriel melemparkan tatapan kesal.
“Yo…” panggil Alvin membuat Rio menoleh ke arahnya, “lo mau gue beliin kaca apa gimana? Kemaren juga lo ngajakin Keke harus konsultasi ke semua orang dulu,” ejek Alvin membuat garis wajah Rio langsung berubah.
Rio mendelik dan mendesis geram menyuruh Alvin diam tentang hal itu. Sementara Gabriel malah terkikik kemenangan.
“Hm… kalau diperhatiin sih, Kak Rio sama Kak Gabriel punya kesamaan kalau berhadapan sama cewek…” kata Acha mengelus dagu.
Shilla mengangguk-angguk setuju, “cowok yang garang dan dingin, ternyata bakal jadi super ciut dan bego di depan cewek yang dia suka.”
“Elo walau udah jadian tapi tetap ciut di depan Keke, Yo?” tanya Ozy setengah mengejek membuat Rio melemparkan tatapan dinginnya ke arah Ozy. Membuat Ozy langsung mengkerut dan meringis salah tingkah. “Ampun, kak… canda aja kak, canda…” kata Ozy tertawa kaku membuat Acha yang duduk di sampingnya menepuk kening sendiri dan menunduk geleng-geleng.
Mbok Ipah datang, menaruh masakan di atas meja. Shilla mengangkat alis melihat itu. Tapi kemudian segera berdiri membantu Mbok Ipah menyediakan makanan. Alvin tersenyum kecil melihat itu, lalu mencolek Rio membuat Rio menoleh.
“Pacar gue tuh,” kata Alvin bangga menunjuk Shilla.
Rio langsung mendengus geli, “lo bilang nenek lampir. Gimana sih,” kata Rio menyindir curhatan Alvin tentang Shilla beberapa hari lalu. Alvin langsung meringis saja.
“Tante nggak ikut makan?” tanya Shilla sopan pada Manda yang ingin melangkah ke taman belakang.
“Nggak usah, kalian aja dulu. Tante ada kerjaan,” tolak Manda tersenyum, lalu menekan tombol hape dan keluar ke taman belakang.
“Mentang-mentang calon mertua, manis amat lo kayak martabak,” ledek Ray ketika Shilla kembali duduk.
Shilla memicingkan mata ke arah Ray, “berisik lo. Jangan sampai gue guyur ya,” ancam Shilla menunjuk kuah sop ayam di atas meja pendek itu. Ray langsung nyengir ampun.
Gabriel melengos keras setelah sekian lama diam, “kalian bisa fokus nggak sih? Kita kesinikan buat bantuin gue, napa jadi acara piknik gini,” kata Gabriel belum mengambil piring dengan wajah tak bersemangat.
“Makan dulu kali, Yel. Siapa tahu otak jadi encer,” kata Ozy disambut anggukan Acha. “Lagian lo nggak bisa bedain makan lesehan sama piknik ya? Piknik itu di alam luar, tanpa meja. Otak lo bener-bener dirusakin Sivia ya,” ejek Ozy geleng-geleng. Gabriel segera menjitaknya geram membuat Ozy bersungut.
“Piknik itu juga enaknya sambil main gitar. Aduh, gue jadi pengen gitaran,” kata Ray sebelum melahap sesendok nasi kemulutnya.
“Nggak nyambung Ray,” kata Shilla dengan nada malas. Ray hanya mengedikkan bahu acuh.
Rio mengangkat alis tinggi. Seperti ada bohlam di atas kepalanya. “Vin…” panggilnya membuat Alvin menoleh. “Gitar…” kata Rio menatap Alvin penuh arti. “Lo pernah cerita, bukannya awal dekat itu…………”
Alvin melebarkan mata, ikut tersadar. Dengan kompak keduanya menoleh pada Gabriel, membuat Gabriel mengernyit tak mengerti sama sekali.
“Iya juga ya…” ucap Alvin mengangguk-angguk kecil sambil menatap Gabriel membuat Gabriel melongo tak mengerti.
“Ide gue hebat kan?” ucap Rio bangga dan juga tak mengalihkan pandangan dari Gabriel. Semua ikut bengong tak tahu menahu maksud dua orang itu.
“Ckckck. Walau pisah bertahun-tahun tapi cinta kalian masih kuat ya,” kata Ozy kagum tapi juga mengejek, “tanpa banyak kata aja kalian udah ngerti satu sama lain dengan pikiran sama. Kayak punya radar.”
Alvin nyengir sekilas, “cepetan makannya. Setelah ini kita harus latihan. Elo juga, Yel. Makan! Abis ini gue kasih tahu rencana kita berdua,” kata Alvin antusias.
Gabriel mengernyit. Tapi menyadari itu tentang misinya hari ini, ia menurut saja. Sementara yang lain penasaran ingin tahu.

^^^
Sivia yang duduk gelisah di ranjangnya terkejut ketika pintu kamar dibuka. Sang Oma tersenyum mendekat.
“Kamu kenapa? Seharian di kamar mulu. Galau?” tanya Oma menggoda.
Sivia tersenyum masam. “bentar lagi Via harus pulang, Oma… Padahal di sini Via udah punya banyak temen, bahkan bisa dibilang sahabat. Rasanya berat…”
Oma tersenyum sambil duduk di samping cucu terdekatnya itu. “Yaudah kamu pindah aja kesini, tinggal sama Oma. Nanti sekolahnya sama Alvin,” bujuk Oma membuat Sivia langsung mendesah.
“Nggak bisalah, Oma. Papa pasti nggak ijinin. Katanya pas Via kuliah aja,” jawab Sivia memajukan bibir bawah. “Awalnya Via pengen sebentar aja disini. Jenguk Oma sama Alvin karena Via liburan. Tapi sekarang malah jadi keterusan. Sivia udah betah…”
Oma diam sejenak, memandangi gadis itu yang menunjukkan wajah sendu. “Betah karena disini udah punya pacar ya?” goda Oma membuat Sivia tersentak dan melebarkan mata. “Oma sama Om juga udah tahu kok. Diakan sering main kesini. Temen deket Alvin toh? Alvin juga pernah bilang dia teman pertama Alvin di Jakarta juga teman sebangkunya. Bagus lah. Dengan begitukan dia segan kalau mau nyelingkuhin atau nyakitin kamu.”
Sivia langsung salah tingkah. Pipinya memerah dengan raut wajah panik. “Oma lagi ngomongin siapa sih? Via nggak pacaran kok,” kata Sivia gugup.
Oma menaikkan alis mendengar itu, kemudian mengangguk-angguk mengerti. “Owalah… pantes kamu ngundur kepulangan terus. Ada yang ditungguin toh,” kata Oma tersenyum menggoda membuat Sivia makin salah tingkah. “Jadi Gabriel belum ngajakin pacaran?”
“Omaaa!!!” rengek Sivia malu sambil menutup wajah dengan bantal membuat Oma tertawa geli.
Tapi tiba-tiba terdengar suara gitar mengalun membuat Sivia dan Oma terkejut. Mereka saling tatap, menajamkan telinga dan menyadari itu suara dari depan rumah mereka.
“Di perumahan sini pengamen boleh masuk ya Oma?” tanya Sivia polos.
“Seingat Oma sih nggak…” jawab Oma bingung. Keduanya jadi saling tatap dengan kening berkerut.
“Hei kau gadis cantik yang disana…”
Sivia terkejut. Garis wajahnya langsung menegang. Gadis itu terpaku sesaat. Langsung mengenali lirik lagu itu. Seperti tersengat, Sivia langsung melompat membuat Oma kaget. Ia segera membuka korden dan jendela kamar. Gadis itu terpana, melihat Ray dan Ozy ada di halaman rumah Alvin yang tepat berada di bawah jendela kamar Sivia. Ray membawa sebuah gitar dengan Ozy disampingnya nyengir lebar. Walau sejujurnya dalam hati Ozy merasa lega hanya Sivia yang membuka jendela, bukan tetangga lain karena tadi ia harus meninggikan suara (atau bisa dibilang berteriak) agar nyanyiannya terdengar sampai kamar Sivia. Ozy nyengir lebar, dan kembali melanjutkan nyanyiannya sambil mendongak memandang Sivia yang  terdiam di jendela kamar lantai dua.

"Hei kau gadis cantik yang di sana
apa yang membuatmu jadi sangat menawan
Ku tak tahu apa yang terjadi
tapi kaki ini melangkah menghampirimu…"

Oma mendekat dan berdiri di samping Sivia, mengernyit melihat dua teman Alvin di bawah sana bernyanyi-nyanyi riang. Sivia juga terpaku walau masih tak mengerti. Namun lagu itu… Lagu yang tiba-tiba dinyanyikan seseorang ditelpon pertamanya kala itu. Lagu yang membuat hati Sivia luluh seketika.

"Maaf ku telah mengganggumu
dan merusak hari indahmu
Tapi izinkanlah kali ini
ku senandungkan lagu cinta untukmu,"

Sivia meraba pergelangan tangan kirinya, memegang gelang silver di sana. Gelang ‘spesial’ pemberian dari dia. Entah kenapa hatinya perlahan melambung. Untuk apa Ozy dan Ray menyanyikan lagu itu? Apakah… ini dari ketua mereka?

"Hei gadis manis yang di sana
bantu aku tuk pahami
jelaskan apa yang telah terjadi
kenapa aku jadi begini..."

Tiba-tiba dari arah dalam rumah yang tak terlihat Sivia, ada Alvin, Shilla, Acha, Rio, dan juga Cakka (yang setengah dipaksa harus ikut serta dalam misi mereka itu) bernyanyi mengikuti Ozy sambil membawa sebuah karton di tangan masing-masing. Mereka berdiri berjajar di belakang Ozy dan Ray, lalu dengan kompak mereka mengangkat tangan menunjukkan karton yang diangkat menghadap atas. Milik Rio adalah P, Alvin R, Shilla O, Acha M, dan Cakka adalah tanda tanya.
PROM?
Oma yang ada di sebelah Sivia justru bersorak gembira membuat Sivia agak terkejut dan tersadar dan keterkesimaannya. Oma langsung berbalik dan melangkah keluar, ingin mengetahui lebih dekat dengan cara turun ke bawah. Namun Sivia tetap di tempat. Entah kenapa pipi Sivia bersemu. Walau masih tak mengerti dengan semua ini.
Ketujuh orang itu berhenti bernyanyi. Lalu dengan serempak mereka mengangkat pergelangan tangan kanan mereka dengan kepalan tangan seperti pendukung capres. Tapi mata Sivia langsung menangkap maksud mereka. Di tiap tangan itu, ada gelang spesial….
Sivia menutup bibir dengan telapak tangan, tertegun. Pipi gadis itu makin merona. Ya Tuhan… Jangan-jangan benar dia….
“Sivia?”
Sivia terkejut setengah mati. Ia berbalik, dan makin membeku melihat seorang pemuda jangkung karismatik berdiri di ambang pintu kamarnya, Memegang sebuket bunga mawar merah dengan canggung dan wajah tegang. Ia perlahan mendekat, lalu dengan agak kikuk menyodorkan bunga itu ke hadapan gadis yang sudah berkeringat dingin ditambah jantung bertalu tak karuan.
“Prom with me?” tanya Gabriel tersenyum grogi.
Sivia terdiam. Ia mengalihkan pandangan gugup dan tersipu. Gadis itu menggigit bibir bawah gelisah. “Eung… aku…”
Gabriel menelan ludah. ‘Gue udah insyaf kok…’ batin Gabriel menatap gadis itu hopeless. ‘Gue udah berubah, gue nggak bakal mainin cewek lagi. Bahkan sekarang gue nggak mau natap cewek lain selain lo. Elo ngubah gue. Please percaya sama gue. Gue tahu awal ketemuan kita benar-benar berantakan dan kacau. Gue kurang ajar sama lo. Tapi kali ini gue bener-bener serius kalau gue berubah. Please… jangan tolak gue…’
Kalimat itu berkomat-komat dalam hati Gabriel. Namun bibirnya malah terkatup rapat. Untuk pertama kalinya, ia tak bisa dengan santai mengutarakan isi hati dengan penuh kata cinta di hadapan seorang gadis. Dan untuk pertama kalinya juga, Gabriel takut ditolak seorang perempuan. Kali ini, Gabriel benar-benar ‘kalah telak’.
Sementara di bawah, Rio dan yang lain saling pandang. Alvin melengos, tapi kemudian memberikan kode kepada yang lain. Detik berikutnya, mereka membuat keheningan di antara Gabriel dan Sivia terpecah dan menoleh ke bawah. 

"Hei gadis manis yang di sana
bantu aku tuk pahami
jelaskan apa yang telah terjadi
kenapa aku jadi begini..."

Mereka kembali bernyanyi. Kini lebih nyaring dan riang. Bahkan Oma tiba-tiba datang menyeruak sambil mengacungkan dua jempol dan tersenyum lebar mengangguk pada Sivia. Alvin diam-diam menutup wajah melihat tingkah neneknya yang sudah berusia melebihi setengah abad itu.
“Prom?” tanya Oma semangat sambil menggerakkan tubuh meragakan dansa pesta. Membuat yang lain tertawa. Suasana kaku Sivia dan Gabriel menjadi cair, tertawa geli.
Tapi Alvin justru mendekat ke arah Rio dan bersembunyi di balik punggung sahabatnya itu. Rio malah tertawa dan kembali bernyanyi riang dengan kini ditambah Oma. Tanpa sadar Rio melepas topeng dinginnya. Ia malah tertawa sambil menarik Alvin agar menemani sang Oma yang antusias ikut membantu Gabriel. Alvin segera menarik diri kembali dan menggeleng cepat dengan mata melotot, membuat Rio makin tertawa geli.
Shilla mengomando yang lain mengitari Oma, -Alvin juga ditarik paksa walau sudah malas-malasan tak bersemangat-. Lalu dengan serempak mereka kembali mengangkat kepalan tangan mereka tinggi, menunjukkan gelang ‘spesial’ di tangan masing-masing.
“Prom?” tanya mereka kompak membuat Sivia tersenyum tertahan dengan malu. Gabriel meringis salah tingkah, walau sangat berterima kasih karena setidaknya kepercayaan dirinya kembali datang.
Sivia tersenyum tertahan dengan pipi membara, lalu menatap malu-malu Gabriel yang masih memegang sebuket bunga mawar merah. Sivia dengan perlahan mengangkat pergelangan tangan kirinya, menunjukkan gelang silver disana.
“Prom.” Ucap Sivia tersenyum kecil sambil mengangguk.
Mata Gabriel melebar, tapi sorakan heboh di bawah membuatnya bahkan tak sempat untuk tertegun. Shilla dan Oma justru sudah beriang gembira sambil berdansa bersama. Ozy dan Ray juga ikut bersorak heboh tak mau kalah. Cakka dan Acha hanya kebagian tertawa walau juga ikut bergembira  dengan berisik.
Rio tertawa, walau bingung juga kenapa ia harus membantu Gabriel, musuh bebuyutannya dari SMP. Tapi entah kenapa ada kegembiraan aneh ketika melihat Gabriel berhasil mengajak Sivia ke Prom.
Alvin melengos panjang, memandangi dua wanita di depannya yang sudah berdansa-dansa gembira menyambut keberhasilan misi mereka (walau sebenarnya Oma tak ikut-ikutan di awal). Alvin geleng-geleng saja. Dalam hati, pemuda itu membatin. Bagaimana bisa ia sangat mencintai dua wanita seperti ini?