Tampilkan postingan dengan label Cerpen FFIC. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen FFIC. Tampilkan semua postingan

Kamis, 07 Agustus 2014

Persahabatan Musuh Bebuyutan Part 31



Part 31. Akhir Yang Diharapkan

Aku benci sinetron yang ditonton Mama tadi.

Kenapa?

Salah satu peran utamanya meninggal. Mama sampai menangis di depan tivi. Aku tidak suka melihat Mama menangis.

Aku juga. Aku selalu benci akhir yang menyedihkan. Tapi kata Bunda, di kehidupan nyata juga ada akhir sedih dan bahagia. Aku ingin punya akhir bahagia.

Semua orang pasti mengharapkan yang sama. Tapi aku tak peduli. Apapun akhirnya, asal aku di kelilingi orang yang ku sayang, aku pasti bahagia.

Haha dasar. Itu sama saja dengan akhir bahagia!

xxxxx

Rio segera berlari di koridor rumah sakit sore itu. Beberapa hari ini ia memang sangat sibuk mengejar tugas dan bimbel sekolah. Ia tak pernah sempat menanyakan kabar Alvin. Pemuda itu harus pulang malam dan ketika sampai rumah Acha sudah terlelap, tak sempat memberi tahukan bagaimana perkembangan Alvin. Karena itu, ketika hari ini guru tambahan belajar tak datang, Rio segera cabut dari sekolah. Masih dengan seragam putih abu-abunya.
Rio menuju kamar inap Alvin. Tapi pemuda itu terdiam di ambang pintu yang baru saja ia buka. Pemuda itu membeku. Ruangan itu sepi. Kosong. Seingat Rio, saat terakhir kali ia kesini, pertama kalinya Alvin dipindah ruang, memang inilah nomor kamarnya.
Rio mengernyit dan kebingungan. Ia berbalik. Kembali menoleh kanan kiri sambil berjalan cepat. Hampir empat hari tak mengetahui perkembangan Alvin membuat Rio benar-benar khawatir.
Rio menghentikan langkah, memegangi dinding rumah sakit sambil terengah-engah. Dari sekolah ke parkiran ia sudah berlari, lalu melajukan kencang mobilnya. Dan dari parkiran rumah sakit ke lantai tiga begini ia juga berlari. Belum ada saat dimana Rio benar-benar istirahat. Pemuda itu ngos-ngosan. Walau perasaannya belum tenang dan cemas.
"Umur lo berapa sih? Baru lari gitu doang udah capek."
Tubuh jangkung Rio mendadak tersengat. Ia menegak dengan mata melebar. Jantungnya seakan mencelos mendengar suara serak itu. Rio diam sejenak, kemudian berbalik.
Alvin dengan jaket baseball berwarna biru dongker sedang berdiri menatapnya dengan senyum samar. "Kenapa? Nyari gue?" tanya Alvin enteng, sama sekali tak merasa bersalah.
Rio mengangkat alis tinggi, memandangi pemuda oriental itu dalam keterkesimaan. Wajah putih Alvin masih membiru dan bengkak di sana-sini. Mereka saling tatap beberapa saat. Sebelum Alvin menarik kedua ujung bibirnya ke atas.
"Elo nggak mimpi, Yo. Gue baik-baik aja. Dan udah dibolehin pulang," jelas Alvin membaca tatapan terkejut Rio.
Rio tersentak, tapi kemudian menghembuskan nafas lega. Seakan ada yang keluar dari tenggorokkannya. Sesuatu yang amat menyesakkan. Detik berikutnya Rio berlari, langsung merentangkan tangan menarik Alvin dalam dekapan.
Alvin merintih sedikit, lalu tertawa. "Yo, gue takut Shilla liat. Lagian gue tuh setia," canda Alvin menepuk punggung Rio. "Perih juga, Yo."
Rio segera melepaskan pelukannya. Alvin melemparkan senyum tipis. Mulut Rio terbuka, seakan ingin mengucapkan sesuatu. Namun pemuda itu masih tak tahu harus berkata apa. Ia menatap Alvin dari ujung kaki ke ujung kepala, memastikan Alvin benar baik-baik saja.
"Io... Apin sudah pulang," kata Alvin lirih, namun tersenyum penuh arti.
Rio tak mengerti lagi perasaan apa yang menghinggapi dadanya. Ia kembali merangkul Alvin erat, bahkan tak mendengar lagi-lagi Alvin agak merintih karen tubuhnya masih lebam. Kepanikannya yang tadi menghantui telah melebur begitu saja. Rio benar-benar takut akan hal buruk terjadi pada Alvin.
"Beuh so sweet banget sih peluk-pelukan di rumah sakit." Sebuah suara menggoda membuat Rio melepaskan dekapannya kembali dan menoleh. Seorang gadis cantik tersenyum lebar sambil membawa beberapa tas yang isinya perlengkapan Alvin selama di rumah sakit. Ia melangkah mendekat.
"Yo, gue yang pacarnya aja jarang meluk. Lah elo baru datang udah meluk-meluk aja," keluh Shilla memajukan bibir bawah, belaga ngambek.
Rio mengangkat alis, lalu saling tatap pada Alvin. Rio sontak menjauh. "Astaga! Gue barusan meluk lo? Di sini?" panik Rio baru sadar sambil menoleh kanan kiri. Koridor sedang sepi, untung saja.
Alvin mendelik, "elo aja yang nyosor," sahutnya santai, lalu ganti merangkul Shilla dan menoleh pada gadisnya itu. "Tadi aku udah bilang aku setia, dia aja yang masih godain."
Shilla tertawa mendengarnya, sementara Rio hanya mencibir, walau tersenyum.
"Sorry baru datang," kata Rio memohon maaf.
Alvin menoleh, lalu tersenyum lagi. Ia ganti menggenggam jemari Shilla, dan tangan satu lagi menarik Rio merangkul pundak pemuda itu. "Yang penting sekarang lo di sini," kata Alvin sarat bahagia.
Rio tertawa, membalas rangkulan itu dan mulai melangkah bersama Alvin di koridor rumah sakit. Shilla menggenggam jemari Alvin sambil memandangi dua sahabat itu. Bibirnya mencair, tersenyum haru.
"Acha mana, Yo?" tanya Alvin sambil melangkah.
"Ke bandara," jawab Rio singkat, "Ada yang harus dijemput. Mungkin sekarang mereka udah di bawah.”
"Siapa?" tanya Alvin dan Shilla hampir bersamaan.
Rio menatap ke depan sambil terus merangkul Alvin, tapi hanya menjawab dengan senyuman misterius. Alvin mengernyit sambil saling tatap dengan Shilla. Tapi ketika sampai di parkiran, mereka tersentak.
Alvin sontak menghentikan langkah. Shilla jadi ikut berhenti walau dengan alis terangkat. Dalam jarak sekitar lima meter dari mereka, terlihat Anton, Oma, dan Sivia yang memang lebih dulu ke parkiran dan menunggu. Di depan mereka ada tiga orang lain. Shilla tahu salah satunya, Acha. Karena gadis itu berdiri di samping Sivia. Sementara dua orang lain adalah seperti pasangan suami istri. Seorang pria dewasa mengobrol akrab di samping Anton, dengan seorang wanita berdiri di depan mereka, membelakangi Shilla, Alvin, dan Rio.
Alvin membeku. Ditatapnya punggung itu dengan mata menghangat perlahan. Hatinya seakan meluruh. Tak perlu melihat wajah, ia sudah bisa menduga siapa wanita itu. Dengan lemas dilepaskannya pegangan pada jemari Shilla, membuat Shilla menatap Alvin bingung. Alvin juga melepaskan rangkulannya. Rio mengerti dan juga agak menjauh, mempersilahkan Alvin. Perlahan Alvin melangkah, mendekati wanita yang bersama keluarganya itu.
Anton dan Oma menyadari kedatangan Alvin, namun belum berniat memberi tahu wanita di depan mereka. Sivia dan Acha juga menoleh.
Alvin menghentikan langkah tepat di belakang punggung itu. Mata hangatnya sudah berkaca. Dengan agak bergetar, tangan kanannya terangkat. Menyentuh pundak itu lembut, dengan sebuah panggilan rindu.
"Bunda..."
Wanita itu agak tersentak, dan berbalik ke belakang, menatap Alvin. Garis wajahnya berubah seketika.
"Bunda..." ulang Alvin makin bergetar. Wajah cantik wanita itu yang makin menua namun tetap sama seperti sepuluh tahun lalu, membuatnya merasa terlempar kembali ke masa kecil.
Manda tercengang. Ia menatap pemuda oriental itu tak percaya. Ditatapnya dari atas ke bawah, lalu ke atas lagi. Seakan meneliti. Hatinya agak ngilu melihat wajah lebam dan memar itu. Tangan Manda terjulur perlahan, meraba pipi yang diperban itu. Kedua matanya mulai menghangat, dengan bibir yang bergetar.
"Apin..." ucapnya tercekat dan terbata.
Alvin tersenyum, walau jelas sekali matanya makin berkaca. "Iya, Bun. Ini Apin."
Tangan Manda naik, mengusap kepala Alvin penuh sayang. Dipegangi pemuda itu layaknya patung yang indah. Diusapnya pundak tegap Alvin. Pemuda kecil yang dulunya cengeng dan imut itu, beranjak menjadi sosok pemuda tampan yang karismatik. Lengan mungilnya kini agak berotot, menandakan ia senang berolahraga. Mata sipitnya masih sama. Wajahnya agak menirus, tak setembem dulu. Tubuhnya jangkung, sama seperti Rio.
"Gimana? Udah baikan?" tanya Manda mencoba menarik kembali bulir hangat yang ingin menetes dari matanya.
Alvin mengangguk pelan, "Apin udah baikan," jawabnya pelan.
Manda diam sejenak, tapi kemudian merentangkan tangan memeluk pemuda oriental itu. Alvin agak merunduk, membalas erat pelukan bunda keduanya itu. Ia menundukkan kepala rapat ke pundak Manda, menangis tanpa suara di sana. Pelukan ini. Pelukan seorang ibu yang sangat ia rindukan. Pelukan hangat pengganti Mamanya yang telah meninggal sepuluh tahun lalu. Pelukan yang menenangkannya saat kepergian sang mama. Pelukan yang sangat ia rindukan.
Semua yang menatap kejadian itu menjadi haru. Rio diam sejenak, tapi kemudian meraih lengan Shilla, menariknya mendekat, membuat Shilla agak tersentak tapi menurut saja.
Manda melepaskan pelukannya, lalu menatap Alvin dengan mata yang sudah basah. Alvin menunduk, mengusap kedua matanya yang juga basah. Alvin lalu menoleh pada pria tegap yang rambutnya sudah mulai memutih. Pria itu tersenyum, lalu merentangkan tangan, ikut memeluk Alvin. Ia adalah Papa Rio. Walau jarang bertemu dulu, namun Papa Rio tetap dianggap orang tua keduanya bagi Alvin.
"Bun, Yah," panggil Rio membuat Manda menoleh. "Namanya Shilla," kata Rio menoleh pada Shilla, memperkenalkan gadis itu.
Shilla tersenyum manis dan sopan sambil mengangguk kecil. Lalu meraih tangan kanan Manda dan menciumnya. "Shilla, tante." Ia lalu menoleh pada Papa Rio dan juga mencium tangannya sopan.
Manda tersenyum, lalu menatap Alvin. Sebuah dugaan menyelinap di otaknya. Alvin tersenyum agak malu, dan mengangguk mengerti.
"Dia pacar Apin," kata Alvin menarik Shilla mendekat ke sampingnya. Alvin menoleh pada Rio, garis wajahnya langsung berubah dan mendecakkan lidah. "Kok elo yang ngenalin sih?" keluhnya tak suka.
"Kenapa? Daripada dia bengong di sono tadi, gue tarik ke sini," kata Rio mengangkat alis dengan wajah dingin, menantang.
"Narik? Lo megang-megang dia?" tanya Alvin sinis. Shilla agak mendelik, karena mengerti akting dua pemuda itu.
"Berantem aja lagi, tonjok-tonjokkan. Kan mumpung masih area rumah sakit nih," sindir Sivia meninggikan suara, ikut mengikuti canda dua orang itu. Alvin dan Rio menoleh, lalu tak lama saling pandang.
"Nggak ah, capek berantem," kata Alvin yang disambut anggukan Rio. "Tapi gue bakal tetap nonjok lo kalau lo masih buat Acha sedih," ancamnya menyipitkan matanya yang sudah sipit.
Rio diam sejenak, tapi ikut menyipitkan mata ke arah Alvin. "Gue juga bakal nonjok lo kalau nanti lo pergi lagi," ucapnya santai, yang membuat Alvin agak tersentak mendengarnya. Namun tak lama Rio tersenyum, yang langsung dibalas Alvin.
Manda berdiri di antara keduanya, menatap kedua pemuda itu bergantian. Tapi lalu kedua tangannya terangkat. Mengelus kedua kepala jangkung itu, membuat Rio dan Alvin menoleh. Manda tersenyum tipis, haru dan bahagia.
"Harus akur, atau bunda kutuk jadi batu," canda Manda membuat Rio dan Alvin tertawa. Kedua pemuda itu dengan serempak merangkul Manda dan memeluk bunda mereka tersebut. Manda membalas kedua pelukan itu dengan perasaan bergejolak. Diam-diam Acha mengusap pipinya yang dibasahi air mata melihat permandangan itu.
Ya. Ini akhir yang mereka harapkan.

xxxxx

Karena saya baik hati dan berjiwa lembut (?) nih kan dikasih happy ending :’’’)))))) HAHAHA nggak ding. Mungkin karena aku benci akhir yang menyedihkan kali ya. Hehehe
Eit, tapi masa ada beberapa part lagi loh. Bisa besok dipostnya atau kapanpun sih heuehehe. Saya tunggu komennya ya. Dan jangan lupa promo cerbungnya jadi banyak yg tau udah dipost hehehe.
Dan don’t forget datang ke web baru saya. Kalau mau tau buka aja twitternya ALders ya hahaha. Sekarang ayo rame2(?) baca Mario’s yokkk belajar move on dari PMB yg zuper drama wkwkwk

Sincerely, (masih) Jodoh Gabriel Yang Tertunda
@aleastri

P.s. : Btw, Minal Aidzin Wal Faidzin yaw <3

Senin, 04 Maret 2013

Aku, Kamu, dan Hujan [CERPEN]


Ini cerpen sebenarnya untuk lomba. Tapi karena udah kelewat deadline, jadi gagal deh. Hehehe. Sorry kalau agak bingung. Pokoknya kalau hurufnya miring, itu berarti flashback ya. Kalau hurufnya tegak itu waktu sekarang. Ya gitu deh.
Happy reading, guys! ^^

Aku, Kamu, dan Hujan
- @aleastri -

Tahun 2013
Ku julurkan tangan keluar jendela kamar. Rintik airnya membasahi telapakku, mengantarkan dingin hingga sampai ke nadi. Hujan lagi.
Aku mendongak, menatap langit gelap yang terus menumpahkan ribuan butiran bening itu. Hari ini hujan lagi. Kamu dimana? Bukannya kamu sangat suka hujan? Apa kamu di sana, bersama hujan?
Dan karenamu, aku juga menyukai hujan. Saat kita masih berusia sepuluh tahun. Saat kita baru empat tahun saling mengenal. Saat kamu masih selalu ada di sampingku.

*****
Tahun 2006
"Rafli!" teriakku di tengah gemuruh hujan, memanggilmu yang kini asyik bermain bola bersama teman-temanmu yang lain. Payung putihku melindungiku dari derasnya hujan sore itu.
Kamu menoleh, lalu melemparkan cengiran lebar.
"Ayo pulang!" ucapku dengan nada lantang agar kamu mendengarnya.
Kamu terlihat mendecak tak setuju. Tapi kemudian berlari menghampiriku. "Sha, main hujan aja yuk!" ajakmu menarik tanganku, yang tentu saja segera ku tahan.
"Kalau sakit gimana?" tanyaku ragu.
Kamu tertawa, "hujan itu asyik, Sha! Sakit atau nggak tergantung pertahanan tubuhmu. Ayo, main sama yang lain!" ajakmu senang.
"Kamu tuh emang ya. Dari dulu seneng banget main hujan. Nggak ah! Aku disuruh mama kamu manggil kamu pulang, tahu!" omelku kini gantian menarik tanganmu pergi.
"Marsha!" tahanmu malah jadi menarik tanganku lagi. Aku melotot dan mencoba menarikmu. Tapi ya karena aku perempuan dan kamu laki-laki (walau kita sama-sama berusia sepuluh tahun saat itu) tenagamu lebih besar. Hingga membuatku terjatuh, untung saja tubuhmu segera menopang. Tapi yang terjatuh justru payung di peganganku, membuatku mau tak mau malah jadi basah juga.
"Yee Marsha basah!" girangmu tertawa riang. Lalu detik kemudian kamu sudah menarikku memasuki lapangan perumahan kita. Yang lain menyambutku dengan senang.
Kamu tertawa-tawa sambil melepaskan genggamanmu di tanganku dan bergabung bersama yang lain. Aku berdiri di tempat sambil menatapmu. Bodoh. Kenapa selalu ekspresi itu yang ku temukan kalau kamu ada di bawah hujan? Tertawa riang. Apa sebegitu sukanya kah kamu pada hujan?
Ini pertama kalinya aku mandi hujan. Bersamamu. Bersama teman lainnya. Jujur, sebenarnya aku kurang suka hujan. Tapi entah mengapa mulai saat itu, aku juga ikut menyukai hujan.

***

Kamu yang membuatku menyukai hujan. Kamu selalu mengajakku keluar kalau hujan turun. Tapi kalau guntur dan petir ada, kamu justru melarang keras aku berada di luar rumah. Aku sering tertawa mengenang itu. Bukannya kamu ya yang sangat suka main hujan? Harusnya aku yang memberimu larangan. Bodoh.
Kamu ingat hari itu? Kala patah hati pertamaku. Aku menangis sendu dan mengadu padamu. Hujan turun. Kamu menarikku keluar untuk melepaskan sesak di dadaku. Aku sempat mengomel. Bukankah kita sudah SMP? Kenapa masih harus bermain hujan?

*****
Tahun 2009
"Hujannya deras banget," ucapku mendongak. Kamu yang baru saja akan berlari lagi, menoleh ke arahku. Aku balas menatapmu. "Sama kayak sakit hati yang aku rasa," lanjutku lirih.
Kamu mendesah, kemudian mendekat. "Setelah hujan bakal ada pelangi kok. Yuk, kita cari pelangi!" ajakmu riang sambil menarik tanganku, berlari di bawah hujan.
"Rafli, hujannya masih deras. Mana ada pelangi!" protesku tapi tetap pasrah mengikutimu.
Kamu tertawa, dan lalu membawaku ke sebuah taman komplek. "Kalau hujannya reda, kita bisa liat pelangi dari sini. Aku sering liat loh! Mejikuhibiniu! Ya... walau yang keliatan kadang cuma merah sama ungu doang, ujung-ujungnya aja!" ceritamu antusias.
Aku mengangkat alis mendengarnya. Tapi kemudian tertawa. Dasar. Ekspresimu itu kenapa selalu begitu sih? Membuatku geli melihatnya.
Kamu diam sejenak, lalu tersenyum lebar. "Hujannya belum berenti, tapi kok udah ada pelangi?" tanyamu membuatku mendelik heran. Kamu menunjuk wajahku, "pelangi itukan indah. Kayak senyum itu tuh."
Pipiku langsung memanas. Kamu malah makin tertawa. Kemudian kamu menggenggam jemariku dan membawaku mengitari taman di tengah guyuran hujan yang masih setia menemani kita berdua.
"Kamu tahu apa baiknya hujan?" tanyamu.
"Em... dia selalu bisa buat kamu senyum?" jawabku agak asal, yang membuatmu lagi-lagi tertawa.
Kamu menoleh padaku, dan tepat menatap kedua bola mataku. "Hujan bisa menghapus dan membawa pergi sesuatu. Kayak air mata," ucapmu menunjuk ujung mataku, "atau juga kesedihan. Aku selalu bahagia di bawah hujan. Karena entah kenapa, hujan buat pikiranku dingin, jadi tenang."
Aku manggut-manggut, tapi kemudian tersenyum. "Hujan juga bawa pelangi. Kalau ada pelangi, harus ada hujan. Ya, kan?"
Kamu mengangguk, "kayak perumpamaan. Untuk dapat liat pelangi, harus ada hujan dulu. Jadi kalau mau bahagia, ya seenggaknya harus ada kesedihan dulu." Kamu kembali menatapku, "Jadi, hari ini kamu boleh sedih bahkan sampai nangis. Tapi besok, lupain semua dan kamu harus senyum! Oke?"
Aku tertawa, lalu mengangguk menyanggupi. Makin bertambah kesukaanku pada hujan. Seperti rasa yang entah mengapa mendadak muncul. Rasa suka aku padamu.

***

Itu adalah hari awal dimana aku mulai merasakan kagum padamu. Mungkin karena telah bersahabat sejak kelas satu SD, aku tak pernah benar-benar memerhatikan. Bahwa kamu itu... manis. Dan beberapa saat terlihat keren. Aku menyukaimu. Aku senang berada di sampingmu. Dan ada hal yang memaksaku untuk terus ingin ada di sampingmu. Sampai kita mulai beranjak SMA, aku makin sadar bahwa rasa ini memang lebih dari sekedar persahabatan semata.
Tapi kenapa saat aku mulai rasakan hal ini, kamu malah pergi?

******
24 November 2012

Aku masih ingat. Ingat jelas. Siang itu hujan lebat. Bahkan pagi sempat ada angin deras dan badai. Bukankah aku sudah melarangmu untuk pergi? Tapi kenapa kamu masih saja keras kepala sih? Kamu pergi ke apotik hanya karena aku mengeluh pusing padamu. Kamu lebay, Rafli! Apa kamu tahu akibatnya apa karena tindakan nekatmu ini?
Dering telpon rumah yang segera diangkat ibuku entah mengapa membuatku merasa tak nyaman. Ibu langsung menoleh padaku dengan mata nanar. Dan dengan bergetar ibu berkata.
Kamu kecelakaan.
Aku dan ibu datang ke UGD. Tapi kamu tak ada. Keluargamu satupun tak ada. Tubuhku sudah melemas. Dan ucapan suster yang memberitahu kami, membuat jantungku benar-benar mencelos.
Kamu ada di ruang mayat.
Apa maksudnya? Kenapa kamu ada di sana? Bukankah kamu masih harus dirawat dulu? Apa dokter tak bisa merawatmu lagi?! Kenapa kamu ada di sana?
Entah kekuatan darimana, aku berdiri menatapmu. Yang sedang terbaring kaku di salah satu tempat tidur. Bodoh. Kepalaku hanya pusing, kenapa kamu berlebihan sampai harus ke apotik? Untuk apa? Untukku? Lalu kamu pergi begini, untuk siapa juga? Bodoh! Kamu selalu bertingkah seperti itu. Sesukamu, keras kepala, dan bodoh!
Apa begitu sukanya kamu pada hujan hingga kamu ikut menyatu dengannya di langit sana?
Lalu aku bagaimana? Siapa yang akan menemani hariku lagi? Siapa yang akan mencarikan pelangi untukku? Dan siapa yang akan menemaniku bermain hujan lagi? Siapa?!
Kenapa kamu pergi mendadak seperti ini? Kamu terlalu jahat, Rafli. Aku bahkan belum sempat mengatakan apapun. Selamat tinggalpun tidak kamu beri kesempatan. Padahal aku belum mengatakannya. Aku belum sempat menunjukkannya.
Aku mulai menyukaimu, Rafli.

***

Aku berjalan keluar rumah. Berdiri diguyur hujan. Tangisku tumpah. Langit menemaniku, ikut menangis bersama alam. Hujan bisa membawa sesuatu pergi, katamu. Tapi kenapa rasa sesak ini belum pergi juga? Hujan tidak selalu menghapus dan membawa pergi sesuatu. Seperti segala kenanganku bersamamu dengan hujan. Hujan selalu membawa kenangan itu. Membuat rasa kehilangan dan rindu makin menyeruak menyiksa batinku.
Rafli... bolehkah aku menyusulmu? Ikut menyatu bersama hujan di langit sana. Bolehkah? Aku ingin ada di sampingmu. Selalu ada di sampingmu. Sekarang, dengan siapa aku berbagi? Dengan siapa ku cari pelangi setelah hujan? Dengan siapa Rafli?
Aku membentangkan kedua tangan, dan mendongakkan kepala. Membiarkan tetesan itu membasahi wajah dan tubuhku. Kamu bilang hatimu selalu tenang bila bermain hujan. Tapi kenapa aku tidak?
"Marsha!"
Aku agak terkejut. Lalu menoleh, melihat siapa yang berlari dari dalam rumah sambil membawa payung.
"Ayo masuk, nanti kamu sakit!" omel Mama menatapku.
Aku terdiam. Menatap wanita tua cantik ini.
"Sudah sayang, jangan diingat lagi," kata Mama lembut, seakan membaca pikiranku. Diusapnya pipiku yang sudah basah. Wajahku basah kuyup. Tapi dia tahu bahwa aku menangis.
"Kamu selalu punya mama kok," katanya mengusap puncak kepalaku lembut.
Tangisku kembali tumpah. Apakah ini jawabanmu Rafli? Apakah dengan wanita ini aku bisa temukan pelangi?
Mama tersenyum, lalu mendekapku. Payungnya dilepas begitu saja, ikut basah menemaniku. Aku menangis di pelukannya.
Ya, aku tahu. Memang dengan wanita inilah aku bisa temukan pelangi. Aku takkan menyiakannya. Dan aku akan membuatnya bahagia. Suatu hal yang belum aku lakukan padamu dulu.
Dan hujan... aku mohon, jaga sahabatku di-sana. Beri ia pelangi jika mendung datang pada wajahnya. Kumohon, jangan membuatnya sedih. Walaupun itu hanya sedetik. Dan katakan pada Tuhan. Tempatkan dia di tempat yang terbaik untuknya.

xxxxx

Hehehe. Ya begitulah ya. Mau mellow, tapi kayaknya saya gagal. Huhu :'s
Ya semoga pesennya nyampe ya. Dari awal nama tokohnya emang Rafli dan Marsha, hohoho.
Jangan lupa follow @_ALders ya teman-teman. Yang silent readers juga kudu loh. Buat non ICL juga harus :p
Ini cerpen sebagai bayaran karena udah ngaret lama banget untuk cerbung2 yang lain. I'm so sorry guys. Tapi janji deh ga ngaret lagi hehehe.
Komennya loh ditungguin di mention saya. Fb juga boleh deh ^^

see you di cerita lainnya yaw!
@aleastri