Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Jumat, 03 Mei 2013

CERPEN: Jatuh Cinta Di bawah Hujan



Tittle: Jatuh Cinta Di Bawah Hujan
Main cast: Angel, Gilang
Author: Aleastri

Hujan. Sialan.
Aku mengumpat super sebal. Oke, apa hari ini adalah hari tersialku? Oh salah. Mungkin bulan tersialku. Apa memang hidupku akan dipenuhi kesialan dimulai dari minggu ini? Oh, no.
Apalagi yang kurang? Aku terdampar di suatu daerah pedalaman yang bahkan aku sama sekali tak pernah datang kemari apalagi tahu namanya sebelumnya! Kemudian hari pertamaku di sekolah baru sungguh membosankan, dan warga sekolahnya mempunyai cara pandang sangat berbeda denganku! Dan lagi, kini aku disuruh ibu membeli sesuatu di pasar. Tapi di tengah jalan malah turun hujan deras dan aku harus berteduh sementara di toko tutup yang ada di pinggir jalan.
Lengkap sudah!
Pedalaman ini, adakah yang tahu? Ah, aku tak yakin. Ini Batu Sopang, atau kata ibuku orang-orang lebih menyebutnya Batu Kajang. Orang-orang mana nih bu? Pedalaman sini? Huft. Ini adalah kota -ops, desa maksudku- tambang di Penajam, Kalimantan Timur. Aku orang asli Balikpapan, harus pindah ke desa kecil ini karena kerja ayahku. Kami semua jadi ikut pindah kemari, meninggalkan Balikpapan yang sudah membesarkanku selama 15 tahun lebih.
Bayangkan. Balikpapan yang sudah super lengkap, semua tersedia. Aku bahkan tak perlu repot-repot keluar rumah untuk beli makan. Cukup pesan delivery, semua selesai. Aku juga tak perlu susah-susah naik motor, hanya naik ke mobil dan dibawa supir pergi, tak repot. Tapi ini? Uh shit. Apa ayahku sengaja ya agar anak-anaknya tak usah dimanjakan terus dan ikut merasakan hidup susah begini? Atau malah, jangan-jangan ayah turun pangkat lagi? OH NO. Jangan alasan terakhir. Jangan.
Tiba-tiba aku mendengar tawa kecil tak jauh di kiriku. Tubuhku sontak menegang. Dengan perlahan ku lirik. Samar, aku melihat seorang pemuda jangkung berdiri tak jauh dari tempatku, menatapku sambil tertawa. Aku mendelik. Kenapa dia?
"Kamu kenapa geleng-geleng sendiri? Pusing?" tanyanya geli membuatku agak tersentak.
Aku menoleh kanan dan kiri. Em, oke. Hanya ada aku dan dia. Jadi dia bicara padaku?
Em... wait. Apa tadi dia bilang? Geleng-geleng sendiri? Ah Angel bodoh. Apa yang tadi kamu lakukan? Apa karena lamunan kesal tentang kepindahan itu membuatmu stres? Argh!
"Kesel ya hujannya belum reda?"
Aku terkejut. Apalagi saat menoleh dia sudah datang menghampiriku. Aku segera membuang muka. Aduh. Aku belum tahu watak warga sini. Apa dia orang jahat? Apa di sini juga ada penculikan, perampokan, atau bahkan... pemerkosaan? KYAAA jangan yang terakhir Tuhan, jangan.
"Aku bukan orang jahat," ucapnya kalem, seakan membaca pikiranku.
Ku delikkan mata ke arahnya. Tapi diam saja.
"Kamu murid baru di SMA, kan?"
Aku mengangkat alis. SMA di sini memang hanya satu. Jadi dia tak perlu repot-repot menyebut SMA mana yang dimaksud. Aku hanya mengangguk pelan menjawab. Sekolah kecil begitu, ya tentu saja berita tentang anak baru cepat menyebar. Anak baru dari kota pula!
"Siapa namamu?"
Suara serak itu agak mengganggu. Please deh. Nggak usah bersikap sok kenal gitu.
"Angel," jawabku singat dan datar.
Dia seperti manggut-manggut. "Kelas X-2, kan?"
Aku mengangguk. Ku lihat hujan sepertinya mulai agak mereda. Baguslah. Aku tak suka berlama-lama mengobrol dengan orang asing tak dikenal. Apalagi orang desa seperti ini. Selama aku di sekolah baru, tak ada satupun orang ku temui punya jalan pikiran sama sepertiku. Orang desa dan orang kota memang jauh berbeda.
"Dari Balikpapan, kan?"
Aku kembali mengangguk. Bagus, langit gelap mulai terlihat cerah.
"Aku juga dari sana loh."
Dan kalimat itu membuatku langsung menoleh seketika. Mataku melebar. Sementara ia tersenyum dan mengangguk. Baru ku sadari setelah benar-benar memandangnya. Dia manis. Dengan lesung pipi di kanan. Laki-laki di sini biasanya berkulit gelap karena berada di daerah panas dengan tambang. Tapi pemuda ini kulitnya putih. Membuatku jadi tergeitik untuk bertanya.
"Siapa namamu?"
"Gilang," dia menjawab singkat, lalu tak lama menyambung. "Kelasku di sampingmu, X-3."
Aku membulatkan bibir.
"Aku pindah ke sini waktu kelas dua SMP. Mungkin alasan kita sama. Bapakku pindah tugas ke sini," jelasnya tersenyum.
Awalnya aku merasa pemuda ini sok akrab. Tapi ternyata senyumannya itu ramah dan bersahabat. Dia tak seburuk awal pikiranku tentangnya.
"Em, hujannya udah reda. Aku harus cepet pulang," pamitnya saat sadar hujan telah berhenti. "Bye Angel!" pamitnya ramah, kemudian berjalan menuju motornya yang tak jauh berada di samping motorku.
Aku memandangi kepergian pemuda itu. Sepertinya aku tak benar-benar sial.

***

Aku bingung kenapa semua orang berlari keluar kelas saat gerimis mulai turun. Tapi aku tersadar saat teman sebangkuku berkata bahwa mereka mengambil helm di parkiran. Ya, parkiran sekolahku tak beratap. Aku tersentak dan tersadar bahwa helmku ada di atas motor. Aku jadi ikut berlari keluar kelas menuju ke parkiran.
Setelah mengambil helm merahku, gerimis malah mulai deras. Aku berlari lagi. Tapi karena terburu, tanpa sengaja pundakku terbentur dengan pundak seseorang yang juga berlari mengambil helm. Tanah parkiran yang becek, membuatku terpeleset. Tapi refleks si penabrak itu menarik lenganku membuatku pasrah saat tubuhku tertompang pada tubuhnya. Membuat tubuh kami menempel. Dan kedua pasang mata kami bertemu.
Gilang...
Ini bukan adegan sinetron atau film. Sungguh. Ini kisah nyata, dengan saksi gerimis yang mulai berganti menjadi hujan seutuhnya.
Gilang tampak tersentak dan menyadari itu. Suara rintik makin ramai. Ia tanpa permisi -atau mungkin tanpa sadar- menarik pergelangan tanganku dan membawaku berlari. Aku hanya bisa pasrah sambil melindungi kepala dengan helmku. Ia menuju pos satpam tak jauh dari tempat kami tadi. Kami berteduh di sana dengan pakaian yang sudah setengah basah.
Ia nampak terengah-engah berlari sambil melepaskan genggamannya dan mendecak kecil melihat banyak bulatan basah di seragamnya.
Aku tanpa sadar memerhatikan pemuda putih ini. Ini pertemuan kedua kami. Juga karena hujan. Tapi ada sesuatu yang berbeda. Jantungku berdebar kini. Rambut basahnya jatuh mengenai dahinya yang juga basah. Yang entah mengapa membuatnya terlihat bersinar. Ia mengacak-acak rambutnya, mencoba mengeringkan. Tapi gerakkan itu malah terlihat keren di mataku.
Oke, ini memang lebay. Aku bahkan baru pertama kali melihat laki-laki sampai seperti ini. Tapi kenapa dengan dia... berbeda?
Dia tiba-tiba menoleh padaku, membuatku agak tergagap dan dengan gugup segera membuang muka. Ku lirik, ada senyuman kecil di bibirnya.
"Kita ketemu lagi karena hujan," ucapnya memasukkan tangan di saku celana abu-abunya.
Aku mengangguk pelan dan menunduk. Tapi aku baru sadar. Sepatu kets oranye kesayanganku sudah kotor dengan lumpur menghiasinya. Oh no.
"Iyuh," gumamku mengangkat kaki. Oh God... jadi apa sepatuku ini?! Aku seperti pulang dari sawah.
Ku dengar Gilang tertawa, membuatku menoleh dan mendelik.
"Ya ampun, Ngel. Di sini tuh emang udah biasa kali. Makanya, nggak usah pake sepatu bagus-bagus deh. Kalau hujan ya pasti becek," katanya santai.
Aku merenggut, lalu mundur dan duduk di bangku yang ada di pos satpam yang kosong ini -em nanti dulu, aku baru sadar. Memangnya ini pos satpam ya? Bukannya sekolah ini tak punya satpam? Eng... Ah sudahlah-.
Aku melepaskan sepatu kananku, dan memasang wajah super jijik melihat sepatu yang sudah benar-benar tak layak itu. Kalau aku datang ke sekolahku yang ada di Balikpapan, pasti aku sudah ditendang karena tak pantas memakai sepatu begini. Iyuh.
"Sepatukan bisa dicuci, segitu amat sih," komentar Gilang duduk di sampingku.
Aku melengos kasar, "apalagi nih keburukkan dari tempat ini? Kalau siang super panas, kalau malam super dingin. Nggak ada mal, nggak ada delivery. Es krim aja nggak ada! Dan tanah becek, selanjutnya apa?!" protesku panjang lebar, kesal beribu kesal. Tapi aku juga heran. Kenapa aku bisa mengutarakan kekesalan pada pemuda ini? Padahal biasanya aku selalu diam seribu bahasa bersama orang-orang di sini.
Tapi diluar dugaan, Gilang malah tertawa.
"Awalnya aku juga kesel sama tempat ini. Sumpek banget. Tapi ya karena adaptasi, aku nyaman ada di sini," katanya diakhiri senyum.
"Kenapa kamu bisa betah sih?" tanyaku sambil memakai kembali sepatu zuper -karena melebihi super, jadi zuper- menjijikan itu.
Dia tersenyum, sambil bersandar di dinding bangku. "Di sini orang-orangnya nyenengin, Ngel."
"Apanya?" selaku tak setuju, "cara berpikir dan bahasanya tuh beda banget!"
Dia mengangguk, seakan mengerti. "Itu karena kamu sudah nolak keberadaan orang-orang di sini. Coba deh kamu membuka diri, pasti bakal tahu," ucapnya menoleh, kemudian tersenyum lagi. "Mereka itu masih apa adanya. Nggak kayak orang kota, yang sekarang hampir semuanya cuma pake topeng."
Aku terdiam.
"Mereka bilang apa yang mereka rasa, nggak munafik. Mereka juga sederhana, selalu terima apapun yang mereka dapat. Kalau orang kota, macet dikit aja ngomelnya udah panjang lebar. Di sini juga orang-orangnya bersahabat dan saling peduli. Sedangkan di kota, kalau nggak kenal ya udah nggak kenal. Mau orang itu jatoh, kecopetan atau apapun, ya itu urusan dia. Beda sama orang sini," jelasnya panjang lebar. "Di sini juga nyenengin kok! Ada bendungan, ada air terjun, ada puncak! Semuanya lebih alami daripada di kota. Yang alami itukan lebih asyik. Ya nggak?" tanyanya memainkan alis.
Tanpa sadar aku tersenyum.
"Dulu aku juga sama kayak kamu. Diem aja. Tapi karena berbaur dengan mereka, aku ikut jadi pribadi yang terbuka dan mau bergaul sama siapapun. Mereka juga banyak ngasih aku pengalaman dan pengetahuan baru, yang nggak pernah aku dapat di kota!"
Aku mendekat, menunjukkan aku tertarik dengan pembicaraan ini. Tak peduli pada hujan yang semakin deras. Ataupun pelajaran yang sedang berlangsung di kelas. Aku seperti tak mau pergi. Ingin selalu mendengarkan ceritanya.
"Ya emang sih, tambang buat tempat ini jadi panas. Bahkan banyak yang putih malah jadi hitam. Kamu hati-hati tuh," tegurnya menggerakkan dagu ke arahku.
Aku tertawa kecil. Kamu juga hati-hati Gilang, kamukan putih. Batinku dalam hati.
"Tapi Ngel, kita tuh harus bersyukur sekolah di sini. Karena aku dengar sih, lulusan sekolah sini bakal lebih diutamakan kalau ngelamar kerja tambang nanti!" ceritanya antusias, "kerja tambang itukan gajinya lumayan tinggi. Why not kita kerja di sini aja?"
Kerja di sini? Dengan tambang? Nggak deh...
"Kamu mau jadi apa sih nanti?" tanyanya seakan membaca pikiranku lagi.
Aku agak ragu menjawab, "penulis."
Jawaban singkat itu membuatnya terlihat agak terkejut, tapi lalu tersenyum. "Bagus tuh. Gimana kalau kamu tulis tentang kepindahanmu ke sini? Tentang keluhanmu tentang kota ini."
"Desa maksudmu?" ucapku meralat. Dia tertawa.
"Iya, desa Batu Kajang maksudku," katanya membenarkan.
"Em.... oke deh. Kayaknya seru," katanya jadi semangat karena mendapat ide tulisan. Aku menatapnya, dan mencoba tersenyum manis. "Thanks ya."
"Untuk?" tanyanya terlihat tak mengerti.
"Udah kasih aku bahan tulisan," jawabku ringan, "dan juga udah nyadarin aku bahwa aku harus membuka diri di kehidupan baru ini."
Dia mengangguk dan tersenyum. Dia memang senang tersenyum. Dan aku suka.
Eh?
Aku... suka?
Aku terdiam sendiri. Menatap pemuda manis yang masih tersenyum padaku ini. Aku pernah berkata pada ibu bahwa aku tak level dekat-dekat dengan lelaki di sini. Tapi pemuda ini... sepertinya telah bisa membuatku jatuh cinta.
Ternyata benar ya kata orang. Di balik kesialan itu terkadang ada keberuntungan. Dan mungkin itu yang ku rasakan sekarang. Tapi hari selanjutnya aku akan mencoba berbaur di desa tambang ini. Lagipula kita tak pernah tahu kelebihan dan kekurangan sesuatu saat kita belum benar-benar mengenalnya. Seperti Gilang. Aku tak pernah tahu bahwa pemuda ini mampu mencuri hatiku hanya dengan dua kali pertemuan. Dengan hujan sebagai saksinya.

*******

Hahaha. Maap ye kaga greget. Ini LAGI-LAGI atas request Arief yang minta cerpennya double. Ya udah aku tambahin ini. Awalnya tokohnya bukan anak IC, tapi jadi ku ganti karena kalian pasti protes klo tau siapa nama tokoh awalnya. Hihihi.
*liatkanankiri* semoga ga ada anak sekolahku yg baca ya. wkwkwk. Karena tokoh 'Gilang' di sini bisa dibilang setengah real (?) Dan tokoh Angel itu emang real. Iya ya ya ya ya. Awalnya emang sengak songong sombong belagu dan sebagainya. Tapi nggak lama dia sadar kok kalau dia harus membuka diri di lingkungan baru #inicurcol
Dan cerpen ini juga ngasih pesan ye! Untuk membuka diri sama lingkungan baru, dan jangan judge sesuatu sebelum tahu lebih lanjut! Jangan kayak penulisnya nih, yg jadi sempet dimusuhin satu sekolah gara2 ga mau bergaul (?) tapi ya alhamdulillah setelah kenaikkan kelas dan bertemu 'Gilang' akhirnya bisa berbaur bahkan kini punya banyak sahabat dan jadi diri sendiri di sekolah o:)
Cerpen ini special untuk seorang kakak kelas yang sekarang udah nggak deket lagi sama aku. Hehehe. Makasih atas nasihatnya saat itu. Lain kali pulang bareng yuk ke Balikpapan! Hehehe.
Juga untuk anak2 SMA N 1 Batu Sopang, khususnya XI IPA 1 yang udah buat aku jadi diri sendiri lagi! Jadi Ale yg gila dan heboh! Bukan Ale yg diem kalem ga banyak omong kayak awal pindah! Hehehe. Makasih! Muchlove banget karena tanpa kalian aku pasti udah frustasi terdampar di tempat yg sama sekali ga ku kenal. Terima kasiiiihhhhhh
Oke, ada request baru lagi? Oh ya. Yg Badai-Rasha-Gilangel disave dulu ya, aku usahain buat deh! Kalau selesai nanti aku post. Yg lain mau ikut mesen cerpen? Bisa :p

cheers!
@aleastri


Senin, 04 Maret 2013

Aku, Kamu, dan Hujan [CERPEN]


Ini cerpen sebenarnya untuk lomba. Tapi karena udah kelewat deadline, jadi gagal deh. Hehehe. Sorry kalau agak bingung. Pokoknya kalau hurufnya miring, itu berarti flashback ya. Kalau hurufnya tegak itu waktu sekarang. Ya gitu deh.
Happy reading, guys! ^^

Aku, Kamu, dan Hujan
- @aleastri -

Tahun 2013
Ku julurkan tangan keluar jendela kamar. Rintik airnya membasahi telapakku, mengantarkan dingin hingga sampai ke nadi. Hujan lagi.
Aku mendongak, menatap langit gelap yang terus menumpahkan ribuan butiran bening itu. Hari ini hujan lagi. Kamu dimana? Bukannya kamu sangat suka hujan? Apa kamu di sana, bersama hujan?
Dan karenamu, aku juga menyukai hujan. Saat kita masih berusia sepuluh tahun. Saat kita baru empat tahun saling mengenal. Saat kamu masih selalu ada di sampingku.

*****
Tahun 2006
"Rafli!" teriakku di tengah gemuruh hujan, memanggilmu yang kini asyik bermain bola bersama teman-temanmu yang lain. Payung putihku melindungiku dari derasnya hujan sore itu.
Kamu menoleh, lalu melemparkan cengiran lebar.
"Ayo pulang!" ucapku dengan nada lantang agar kamu mendengarnya.
Kamu terlihat mendecak tak setuju. Tapi kemudian berlari menghampiriku. "Sha, main hujan aja yuk!" ajakmu menarik tanganku, yang tentu saja segera ku tahan.
"Kalau sakit gimana?" tanyaku ragu.
Kamu tertawa, "hujan itu asyik, Sha! Sakit atau nggak tergantung pertahanan tubuhmu. Ayo, main sama yang lain!" ajakmu senang.
"Kamu tuh emang ya. Dari dulu seneng banget main hujan. Nggak ah! Aku disuruh mama kamu manggil kamu pulang, tahu!" omelku kini gantian menarik tanganmu pergi.
"Marsha!" tahanmu malah jadi menarik tanganku lagi. Aku melotot dan mencoba menarikmu. Tapi ya karena aku perempuan dan kamu laki-laki (walau kita sama-sama berusia sepuluh tahun saat itu) tenagamu lebih besar. Hingga membuatku terjatuh, untung saja tubuhmu segera menopang. Tapi yang terjatuh justru payung di peganganku, membuatku mau tak mau malah jadi basah juga.
"Yee Marsha basah!" girangmu tertawa riang. Lalu detik kemudian kamu sudah menarikku memasuki lapangan perumahan kita. Yang lain menyambutku dengan senang.
Kamu tertawa-tawa sambil melepaskan genggamanmu di tanganku dan bergabung bersama yang lain. Aku berdiri di tempat sambil menatapmu. Bodoh. Kenapa selalu ekspresi itu yang ku temukan kalau kamu ada di bawah hujan? Tertawa riang. Apa sebegitu sukanya kah kamu pada hujan?
Ini pertama kalinya aku mandi hujan. Bersamamu. Bersama teman lainnya. Jujur, sebenarnya aku kurang suka hujan. Tapi entah mengapa mulai saat itu, aku juga ikut menyukai hujan.

***

Kamu yang membuatku menyukai hujan. Kamu selalu mengajakku keluar kalau hujan turun. Tapi kalau guntur dan petir ada, kamu justru melarang keras aku berada di luar rumah. Aku sering tertawa mengenang itu. Bukannya kamu ya yang sangat suka main hujan? Harusnya aku yang memberimu larangan. Bodoh.
Kamu ingat hari itu? Kala patah hati pertamaku. Aku menangis sendu dan mengadu padamu. Hujan turun. Kamu menarikku keluar untuk melepaskan sesak di dadaku. Aku sempat mengomel. Bukankah kita sudah SMP? Kenapa masih harus bermain hujan?

*****
Tahun 2009
"Hujannya deras banget," ucapku mendongak. Kamu yang baru saja akan berlari lagi, menoleh ke arahku. Aku balas menatapmu. "Sama kayak sakit hati yang aku rasa," lanjutku lirih.
Kamu mendesah, kemudian mendekat. "Setelah hujan bakal ada pelangi kok. Yuk, kita cari pelangi!" ajakmu riang sambil menarik tanganku, berlari di bawah hujan.
"Rafli, hujannya masih deras. Mana ada pelangi!" protesku tapi tetap pasrah mengikutimu.
Kamu tertawa, dan lalu membawaku ke sebuah taman komplek. "Kalau hujannya reda, kita bisa liat pelangi dari sini. Aku sering liat loh! Mejikuhibiniu! Ya... walau yang keliatan kadang cuma merah sama ungu doang, ujung-ujungnya aja!" ceritamu antusias.
Aku mengangkat alis mendengarnya. Tapi kemudian tertawa. Dasar. Ekspresimu itu kenapa selalu begitu sih? Membuatku geli melihatnya.
Kamu diam sejenak, lalu tersenyum lebar. "Hujannya belum berenti, tapi kok udah ada pelangi?" tanyamu membuatku mendelik heran. Kamu menunjuk wajahku, "pelangi itukan indah. Kayak senyum itu tuh."
Pipiku langsung memanas. Kamu malah makin tertawa. Kemudian kamu menggenggam jemariku dan membawaku mengitari taman di tengah guyuran hujan yang masih setia menemani kita berdua.
"Kamu tahu apa baiknya hujan?" tanyamu.
"Em... dia selalu bisa buat kamu senyum?" jawabku agak asal, yang membuatmu lagi-lagi tertawa.
Kamu menoleh padaku, dan tepat menatap kedua bola mataku. "Hujan bisa menghapus dan membawa pergi sesuatu. Kayak air mata," ucapmu menunjuk ujung mataku, "atau juga kesedihan. Aku selalu bahagia di bawah hujan. Karena entah kenapa, hujan buat pikiranku dingin, jadi tenang."
Aku manggut-manggut, tapi kemudian tersenyum. "Hujan juga bawa pelangi. Kalau ada pelangi, harus ada hujan. Ya, kan?"
Kamu mengangguk, "kayak perumpamaan. Untuk dapat liat pelangi, harus ada hujan dulu. Jadi kalau mau bahagia, ya seenggaknya harus ada kesedihan dulu." Kamu kembali menatapku, "Jadi, hari ini kamu boleh sedih bahkan sampai nangis. Tapi besok, lupain semua dan kamu harus senyum! Oke?"
Aku tertawa, lalu mengangguk menyanggupi. Makin bertambah kesukaanku pada hujan. Seperti rasa yang entah mengapa mendadak muncul. Rasa suka aku padamu.

***

Itu adalah hari awal dimana aku mulai merasakan kagum padamu. Mungkin karena telah bersahabat sejak kelas satu SD, aku tak pernah benar-benar memerhatikan. Bahwa kamu itu... manis. Dan beberapa saat terlihat keren. Aku menyukaimu. Aku senang berada di sampingmu. Dan ada hal yang memaksaku untuk terus ingin ada di sampingmu. Sampai kita mulai beranjak SMA, aku makin sadar bahwa rasa ini memang lebih dari sekedar persahabatan semata.
Tapi kenapa saat aku mulai rasakan hal ini, kamu malah pergi?

******
24 November 2012

Aku masih ingat. Ingat jelas. Siang itu hujan lebat. Bahkan pagi sempat ada angin deras dan badai. Bukankah aku sudah melarangmu untuk pergi? Tapi kenapa kamu masih saja keras kepala sih? Kamu pergi ke apotik hanya karena aku mengeluh pusing padamu. Kamu lebay, Rafli! Apa kamu tahu akibatnya apa karena tindakan nekatmu ini?
Dering telpon rumah yang segera diangkat ibuku entah mengapa membuatku merasa tak nyaman. Ibu langsung menoleh padaku dengan mata nanar. Dan dengan bergetar ibu berkata.
Kamu kecelakaan.
Aku dan ibu datang ke UGD. Tapi kamu tak ada. Keluargamu satupun tak ada. Tubuhku sudah melemas. Dan ucapan suster yang memberitahu kami, membuat jantungku benar-benar mencelos.
Kamu ada di ruang mayat.
Apa maksudnya? Kenapa kamu ada di sana? Bukankah kamu masih harus dirawat dulu? Apa dokter tak bisa merawatmu lagi?! Kenapa kamu ada di sana?
Entah kekuatan darimana, aku berdiri menatapmu. Yang sedang terbaring kaku di salah satu tempat tidur. Bodoh. Kepalaku hanya pusing, kenapa kamu berlebihan sampai harus ke apotik? Untuk apa? Untukku? Lalu kamu pergi begini, untuk siapa juga? Bodoh! Kamu selalu bertingkah seperti itu. Sesukamu, keras kepala, dan bodoh!
Apa begitu sukanya kamu pada hujan hingga kamu ikut menyatu dengannya di langit sana?
Lalu aku bagaimana? Siapa yang akan menemani hariku lagi? Siapa yang akan mencarikan pelangi untukku? Dan siapa yang akan menemaniku bermain hujan lagi? Siapa?!
Kenapa kamu pergi mendadak seperti ini? Kamu terlalu jahat, Rafli. Aku bahkan belum sempat mengatakan apapun. Selamat tinggalpun tidak kamu beri kesempatan. Padahal aku belum mengatakannya. Aku belum sempat menunjukkannya.
Aku mulai menyukaimu, Rafli.

***

Aku berjalan keluar rumah. Berdiri diguyur hujan. Tangisku tumpah. Langit menemaniku, ikut menangis bersama alam. Hujan bisa membawa sesuatu pergi, katamu. Tapi kenapa rasa sesak ini belum pergi juga? Hujan tidak selalu menghapus dan membawa pergi sesuatu. Seperti segala kenanganku bersamamu dengan hujan. Hujan selalu membawa kenangan itu. Membuat rasa kehilangan dan rindu makin menyeruak menyiksa batinku.
Rafli... bolehkah aku menyusulmu? Ikut menyatu bersama hujan di langit sana. Bolehkah? Aku ingin ada di sampingmu. Selalu ada di sampingmu. Sekarang, dengan siapa aku berbagi? Dengan siapa ku cari pelangi setelah hujan? Dengan siapa Rafli?
Aku membentangkan kedua tangan, dan mendongakkan kepala. Membiarkan tetesan itu membasahi wajah dan tubuhku. Kamu bilang hatimu selalu tenang bila bermain hujan. Tapi kenapa aku tidak?
"Marsha!"
Aku agak terkejut. Lalu menoleh, melihat siapa yang berlari dari dalam rumah sambil membawa payung.
"Ayo masuk, nanti kamu sakit!" omel Mama menatapku.
Aku terdiam. Menatap wanita tua cantik ini.
"Sudah sayang, jangan diingat lagi," kata Mama lembut, seakan membaca pikiranku. Diusapnya pipiku yang sudah basah. Wajahku basah kuyup. Tapi dia tahu bahwa aku menangis.
"Kamu selalu punya mama kok," katanya mengusap puncak kepalaku lembut.
Tangisku kembali tumpah. Apakah ini jawabanmu Rafli? Apakah dengan wanita ini aku bisa temukan pelangi?
Mama tersenyum, lalu mendekapku. Payungnya dilepas begitu saja, ikut basah menemaniku. Aku menangis di pelukannya.
Ya, aku tahu. Memang dengan wanita inilah aku bisa temukan pelangi. Aku takkan menyiakannya. Dan aku akan membuatnya bahagia. Suatu hal yang belum aku lakukan padamu dulu.
Dan hujan... aku mohon, jaga sahabatku di-sana. Beri ia pelangi jika mendung datang pada wajahnya. Kumohon, jangan membuatnya sedih. Walaupun itu hanya sedetik. Dan katakan pada Tuhan. Tempatkan dia di tempat yang terbaik untuknya.

xxxxx

Hehehe. Ya begitulah ya. Mau mellow, tapi kayaknya saya gagal. Huhu :'s
Ya semoga pesennya nyampe ya. Dari awal nama tokohnya emang Rafli dan Marsha, hohoho.
Jangan lupa follow @_ALders ya teman-teman. Yang silent readers juga kudu loh. Buat non ICL juga harus :p
Ini cerpen sebagai bayaran karena udah ngaret lama banget untuk cerbung2 yang lain. I'm so sorry guys. Tapi janji deh ga ngaret lagi hehehe.
Komennya loh ditungguin di mention saya. Fb juga boleh deh ^^

see you di cerita lainnya yaw!
@aleastri