Tampilkan postingan dengan label OKe. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label OKe. Tampilkan semua postingan

Kamis, 18 September 2014

Hello Sunset! Part 1

Hello Sunset! : Part 1

Semenjak peristiwa di hari pertama MOS itu, para peserta MOS -khususnya perempuan- terus membicarakan tentang kedatangan FourG yang sungguh keren layaknya drama televisi. Mereka tapi mengeluh karena kelas duabelas harus berada di lantai dua, sejajar dengan beberapa kelas sebelas. Membuat mereka jadi tak bisa melihat keempat pemuda tampan itu.

Entah takdir atau memang kebetulan semata, Keke dan Acha satu kelas. Mereka berada di kelas 10-B, dan semeja. MOS berjalan seperti biasa. Menakutkan tentu saja. Namun sepanjang hari Keke terus saja gelisah.

Sampai saat malam seperti ini. Keke duduk di depan meja belajarnya, sambil melamun. Kejadian tadi pagi itu masih menyantol di pikirannya. Tidak tidak. Bukan karena ia sama seperti siswi lain, yang sepertinya sangat memuja empat pemuda tampan itu. Keke tak munafik kalau ia juga terpesona. Namun... ada alasan lain. Yang membuat Keke terus memikirkan dua pemuda itu. Ya. Dua pemuda itu. Bukan keempatnya. Dua orang itu adalah dua orang yang berada di Mercy hitam tadi pagi. Dari awal saja, kala melihat datangnya Mercy hitam itu, Keke sudah merasakan sesuatu. Dan kala melihat siapa penumpangnya, benar-benar membuat Keke kepikiran terus menerus.

Keke menghela nafas. Lalu menoleh ke pojok meja belajar. Tangannya terjulur perlahan, meraih sebuah bingkai poto berukuran 5R. Keke menatap poto di sana, dan tersenyum samar. Di dalam poto itu, ada seorang anak perempuan mungil yang saat itu duduk di bangku kelas dua SD, memakai dress ungu muda sambil tersenyum lebar. Di sampingnya ada seorang anak laki-laki yang saat itu kelas empat SD, duduk di samping anak perempuan tadi sambil tertawa riang. Anak perempuan di poto itu, Keke. Dan anak laki-laki itu.... seseorang yang sangat berarti di hidupnya.

"Kak... kamu dimana?" bisik Keke lirih, mengarah pada laki-laki di poto itu.

Entah kapan datangnya, setetes bening hangat meluncur dari mata bulat Keke. Keke menghela nafas panjang, lalu mendekap pigura kecil itu dalam peluknya. Ia harus mencari tahu. Siapa keempat pemuda tadi pagi, yang bernama FourG itu. Khususnya dua orang yang berada di Mercy hitam tersebut. Karena dua orang itu... sama-sama mengingatkannya, pada anak laki-laki sawo matang yang ada dalam pigura ini. Perawakan mereka memang hampir sama. Bahkan sekilas terlihat seperti kembar. Keduanya memiliki tinggi yang sama. Rambut yang sama, dan warna kulit sama. Tadi saja mereka sama-sama tak memakai dasi di kerah. Walau yang satu memasukkan seragam dan yang satu lagi tidak. Tadi pagi juga, gaya mereka sama. Mereka berjalan cool tak peduli dengan santainya. Tapi... di antara dua orang itu, apakah benar salah satunya adalah orang yang Keke cari?


***

Acha dan Keke pagi ini mengobrol akrab. Keadaan kelas mulai bersahabat. Setelah satu minggu bersama, dengan tiga hari masa MOS, mereka mulai mengenal satu sama lain.

"PAGI!!!"

Acha dan Keke yang sedang berbincang terlonjak dan menoleh. Para penghuni kelas pun ikut menoleh kaget. Tapi lalu mendesah. Tak heran juga. Gadis itu ternyata. Gadis bemata sedikit sipit, dengan pipi bulat dan kulit putih itu tersenyum lebar, lalu melangkah riang menuju meja depan Keke dan Acha. Di sana sudah berkumpul beberapa anak perempuan kelas ini.

"Eh, elo elo elo, tahu nggak? Gue dapat inpo baru!!!" pekik gadis itu melapor dengan girang.

"Apaan sih Oik?" tanya Nova yang berada di depan Acha. Yang lain mengangguk dengan kening berkerut.

Oik tersenyum lebar, lalu melompat ke meja Nova, yang berada di tengah barisan itu. Ia lalu melempar pelan tasnya ke meja di samping Acha yang memang sebagai tempat duduknya. Ia lalu membenarkan duduk di atas meja Nova. Beberapa siswi, seperti Nadya, Misel, dan juga Zeze ikut membenarkan posisi duduk menghadap Oik, merasa tertarik. Acha dan Keke saling pandang, namun lalu juga ikut menatap Oik.

Oik berdehem beberapa kali, "ini tentang.... FourG!!!" pekik Oik senang, membuat yang lain segera melebarkan mata dan merasa tertarik.

Acha juga memajukan tubuh, mulai penasaran. Kekepun menajamkan telinga, karena diam-diam ia juga penasaran.

"FourG itu, ternyata ada artinya! Empat G!"

"Yeee itu mah anak SD juga tahu!" sahut Zeze sewot.

"Eh tapi, elo nggak tahukan arti G itu apa?" ucap Oik membuat Zeze diam dan menggeleng. "G itu artinya Ganteng! Jadi, FourG itu Empat Ganteng!"

Acha menganga, "he? Siapa tuh yang buat nama?"

"Katanya sih, itu emang julukan buat mereka. Karena mereka tuh nggak pernah namain geng mereka. Nah, dulu waktu MOS, empat orang itu udah deket. Dan kakak kelas MOS manggilnya empat ganteng!" cerita Oik menjelaskan, "dari situ, orang-orang manggilnya empat ganteng. Tapi sepanjang waktu, jadi panggilannya FourG!"

Zeze, Nova, Nadya, Misel, Acha, dan juga Keke ber-o panjang dengan kompak.

"Oke, sekarang kita mulai darimana nih? Kak Cakka, Kak Gabriel, Kak Alvin, atau Kak Rio?" tanya Oik menyebutkan nama pemuda tampan itu satu persatu. Membuat Keke terkejut mendengar salah satu nama.

"Em... nanti dulu nanti dulu. Kak Alvin yang mana, terus... Kak... Gabriel, sama.... Kak..." kalimat Acha terputus-putus, sambil mencoba mengingat nama yang disebut Oik.

"Cakka, Alvin, Rio, Gabriel," ucap Oik menyebutkan dengan tegas, "ehem. Kalian ingat kan muka mereka di hari pertama MOS itu? Yang bawa Jazz itu Kak Alvin, yang mukanya oriental ituloh. Nah yang pake' kacamata kemarin itu, Kak Cakka. Terus yang bawa Mercy, namanya Kak Gabriel. Sedangkan yang sama dia itu namanya Kak Rio," jelas Oik membuat Acha ber-o panjang.

Keke terdiam. Garis wajahnya menegang. Detak jantungnya bertalu tak karuan. Sebuah firasat muncul perlahan, walau meragu. Entah mengapa hatinya sedikit bergerak. Gabriel?

"Nah, Kak Cakka itu ya. Katanya playboy! Dia itu sering banget ngegombalin cewek. Tapi dia juga paling ramah dan supel, katanya juga, anaknya asik gitu!" cerita Oik menggebu-gebu, "kalau Kak Alvin, dia itu kapten futsal. Katanya, dia yang paling kalem di antara yang lain. Anaknya nggak neko-neko. Kak Alvin itu yang paling beda. Karena ya, dia itu punya hobi baca buku!"

"Oh...." para siswi yang mendengarkan ber-o kompak.

"Nah, kalau Kak Rio, dia itu cool abis. Beda banget deh sama Kak Cakka. Kak Rio itu jarang ngomong gitu, terus anaknya cuek. Tapi anehnya ya. Walau Kak Rio nggak peduli gitu, banyak cewek yang ngejar-ngejar dia terang-terangan! Bahkan hampir tiap hari Kak Rio dapat cokelat lah, bekal lah, apalah. Beuuuhhh," Oik bercerita dengan semangat empat lima, membuat para temannya mendesah kagum.

"Dan yang terakhir... Kak Gabriel," Oik mengucap perlahan-lahan nama Gabriel, membuat semua terasa dramatis.

Keke mengangkat alis, dan tanpa sadar memajukan badannya lagi. Telinganya menajam otomatis.

"Kak Gabriel itu pentolannya sekolah ini! Dia itu ketua preman di sini!"

"Hah?!"

Oik mengangguk-angguk, "oh ya. Tadi gue lupa ngomong ya. FourG itukan kelompok gengstar gitu deh. Mereka termasuk anak-anak yang sering berantem sama sekolah lain. Dan... Kak Gabriel itu yang mimpin!"

"Wah...."

"Kak Gabriel itu yang paling sangar! Katanya juga, kalau lagi emosi, Kak Gabriel udah lupa diri kayak orang kerasukan gitu! Ihhh," Oik bergidik, "Pokoknya, Kak Gabriel tuh bahaya banget! Eh tapi, walau gitu ya. Kak Gabriel itu disebut-sebut Pangeran Sekolah. Dia itu perfect!" pekik Oik girang, "Udah kaya, ganteng, terus juga pentolan sekolah! Beuuhh beruntung banget deh yang jadi pacarnya."

"Emang dia udah punya pacar?" tanya Zeze mewakilkan pertanyaan dari yang lain.

"Nah ini nih yang paling keren," Oik mengubah posisi duduknya, "walaupun di samping Kak Gabriel sering banget ada cewek nempel, tapi sebenarnya Kak Gabriel itu nggak pernah pacaran!"

"Ha? Serius?!"

Oik mengangguk-angguk cepat. "Hampir sama kayak Kak Rio gitu. Tapi sih katanya, dulu Kak Rio pernah punya cewek. Nah kalau Kak Gabriel, dari dulu tuh nggak pernah pacaran!"

"Tahu dari mana lo kalau itu gosip atau fakta?" tanya Nova tak percaya.

"Menurut sumber yang gue dapet sih, Kak Gabriel itu sahabatan sama Kak Rio dari SMP. Nah, Kak Rio dulu pernah ngomong kalau Kak Gabriel itu sampai saat ini belum pernah pacaran!"

"Owh..." Lagi-lagi para siswi yang berkumpul itu ber-o panjang. Walau masih tak menyangka.

"Oh ya. Kak Gabriel itu yang paling bebal di antara yang lain!  Guru-guru aja sampai capek ngadepin dia!" cerita Oik lagi kini sambil geleng-geleng kepala kecil. "Dan juga ya, Kak Rio sama Kak Gabriel itu udah kayak kembar gitu!"

Nadya mengangguk-angguk cepat, "iya, Bel. Mereka ajakan udah hampir mirip gitu. Tingginya sama, mukanya juga hampir mirip. Walau... lebih ganteng Kak Gabriel sih. Eh tapi, Kak Rio itu manis. Tapi intinya, sekilas mereka itu mirip! Kalau dari belakang aja mungkin nggak bisa dibedain!"

Yang lain mengangguk-angguk mengiyakan.

"Selain itu juga, mereka itu punya nama hampir sama!" ucap Oik menggebu-gebu. "Ternyata ya, namanya Kak Rio itu, Mario Nataniel! Jadi kalau manggil Iyel dua-duanya bisa noleh bareng!"

"Serius lo?!" pekik Misel. Yang lain juga melotot tak percaya.

"Iya! Gue udah dapet info dari sumber terpercaya kok!" kata Oik yakin, "mereka juga sahabatan dari SMP. Banyak banget deh persamaannya!"

Misel, Nova, Nadya, Acha, dan juga Zeze saling pandang sambil berbisik-bisik. Sementara Keke kembali terdiam. Mereka punya nama yang hampir sama? Argh. Dari awal Keke sudah menaruh curiga pada dua orang itu. Dan kini, mereka punya nama yang hampir sama?

"Nah, intinya ya. FourG itu, selain jadi most wanted, juga adalah premannya sekolah! Mantap nggak tuh?" tanya Oik berbinar.

"KYAAA KEREEENN!!!"

Keke dan Acha yang tak ikut-ikutan memekik senang seperti yang lain sempat terkejut, lalu menggelengkan kepala melihat tingkah teman-temannya itu.

"Keren? Keren apanya tuh? Gue malah ilfil!" kata Acha membuat semua hening dan menoleh ke arahnya dengan mata membelalak. "Bayangin deh. Mereka tuh preman sekolah. Dan tadi elo juga bilang Bel, kalau Gabriel itu sangar. Nah! Itu tuh bahaya banget. Ih nggak banget deh," kata Acha bergidik ngeri.

"Wah, otak lo salah deh kayaknya, Cha," kata Nadya dengan wajah serius, "itu tuh keren banget Acha! Bayangin deh, udah jadi idola sekolah, terus jadi pemegang sekolah! Itu kerennya udah kuadrat banget!"

"Bukan kuadrat lagi, tapi pangkat seribu!" sahut Nova.

Acha mendesis, lalu geleng-geleng kepala, "terserah deh. Gue sih emang seneng liat mereka yang emang ganteng bin keren. Tapi saat tahu gitu... ilfil!"

"Tapi emang, kalau misalnya elo ditaksir salah satu dari mereka, apa reaksi lo?" tanya Misel membuat Acha diam, "pasti elo nggak bakal nolak juga, kan?"

Acha diam, dan memutar-mutar bola matanya berpikir. Sementara yang lain menunggunya.

"Nggak deh kayaknya. Gue nggak bisa bayangin kalau gue jadi cewek salah satu dari mereka. Ihhh," Acha bergidik, membuat yang lain menganga tak percaya. "Apalagi ya, menurut gue. Si Gabriel itu tuh, kayaknya yang paling sangar deh. Matanya aja kayak mata elang gitu."

"Acha, mata elangnya itu justru yang buat cewek-cewek meleleh!" sahut Nova sewot, dibantu anggukan lain.

"Idih Nova apa deh. Tadi juga Oik udah ceritakan, Gabriel itu yang paling sangar! Dia juga yang paling bebal. Terus, ketua preman pula! Cowok nakal begitu mah nggak pantes diidolain," argumen Acha yang langsung dapat mata melotot dari yang lain.

"Acha please deh! Gabriel itu ganteng!!!" geram Oik kesal.

"Bukannya orang ganteng itu udah biasa ya?" tanya Acha santai.

"Tapi Cha, yang ini tuh beda. Bahkan ya, anak boyband, model iklan, dan pangeran negeri dongengpun kalah tahu sama dia! Gabriel itu punya karisma yang kuat banget. Yang buat cewek-cewek pasti luluh sama dia!" kata Nadya antusias dan lebay.

"Tapi gue nggak tuh," sahut Acha tenang.

Dan setelah itu, tentu saja Acha segera mendapat serangan bertubi-tubi dari Oik, Zeze, Misel, Nadya, dan juga Nova yang tak setuju. Keke yang melihat hanya tertawa kecil. Walau diam-diam ia mulai penasaran dengan Gabriel dan Rio.

*****

Hallo bantu share dan promote cerbung baru ini ya. Akan cepat dipost kalau mention atau komen sudah jebol (?) hehehe.
Luv, Aleastri


Hello Sunset! -New Fanfiction-


Judul             : Hello Sunset!

Author          : Aleastri

Cast               : Keke, Gabriel, Rio, Acha, Oik, Alvin, Cakka, etc

Sipnosis:  Pesan terakhir sang ayah membawa Keke menjadi murid di SMA Bintang untuk mengembalikan seseorang yang telah lama pergi dari hidupnya. Tapi SMA Bintang adalah sekolahnya para preman yang suka tawuran. Membuat di awal kehidupan SMA Keke sudah tak aman. Ia terjebak dalam tawuran sekolah dan tanpa sengaja diselamatkan oleh Gabriel dan Rio, dua pentolan sekolah yang merupakan most wanted juga. Namun karena itu hidup Keke justru tiap harinya akan dipenuhi FourG, geng Gabriel dkk. Belum selesai mencari seseorang yang hilang itu, Keke malah harus dihadapkan dengan kasarnya Gabriel, cueknya Rio, garingnya Alvin, atau centilnya Cakka.  Tidak, tidak. Ia sama sekali tidak merasa dijaga. Justru merasa tersiksa!




*****


Hello Sunset!

Keke menatap papan nama sekolah yang mulai terlihat. Sekolah barunya. SMA Bintang. Keke diam-diam tersenyum samar, menyadari selangkah lagi ia akan bisa bertemu dengan orang yang sangat ia rindukan. Walaupun sekolah ini jauh dari rumahnya. Walaupun tak ada teman SMPnya dulu yang masuk sini. Walaupun sekolah ini terkenal sering berperang dengan sekolah lain. Keke tak peduli. Yang ia tahu, sekolah inilah. Tempatnya bisa bertemu dengan seseorang di masa lalunya.



"Ke."



Sebuah panggilan membuat Keke menoleh. Tantenya, Rina, sudah menginjak rem tepat di depan gerbang sekolah. Keke tersenyum sambil memperbaiki posisi tas di pundaknya. Ia melepaskan safety belt, lalu mencium tangan tantenya.



"Hati-hati di sekolah ya, Ke. Baik-baik," pesan Rina. Keke tersenyum dan mengangguk. Rina diam sejenak, lalu tersenyum tipis, "kamu... ingat pesan orangtua kamu, kan?"



Keke mengangkat alis, lalu tersenyum dan mengangguk. "Pasti tante. Keke bakal bawa dia kembali kok," ucapnya meyakinkan.



Rina tersenyum, "tapi bukankah kamu lupa mukanya Ke?"



Keke diam sejenak, lalu mendesah pelan. "Entahlah, tan. Kan dulu itu aku masih kecil. Tapi tante tenang aja. Aku pasti berusaha cari dia."



Rina tersenyum, walau matanya sudah berkaca-kaca. Ia merengkuh keponakan kesayangannya itu beberapa saat. Lalu tersenyum dan melepaskan pelukan sambil membelai rambut ikal Keke. "Bawa dia pulang ya Ke. Mama kamu menunggu," pesan Rina, terdengar seperti memohon.



Keke mengangguk dan tersenyum. "Aku pergi ya tante," pamitnya, lalu membuka pintu mobil, dan melangkah keluar.



Keke melangkah memasuki SMA Bintang yang sudah ramai orang-orang yang juga berdandan sama dengannya. Rambut siswi diikat kecil-kecil dengan ikat warna-warni, kaus kaki berbeda warna kanan-kiri, tali sepatu bertali rafia, papan nama dari kardus, serta mahkota dari dedaunan. Ya. Itulah peraturan MOS sekolah ini. Para calon siswa hanya bisa pasrah menerimanya.



Sabtu kemarin, para murid baru itu memang sudah masuk. Tapi hanya diberitahu syarat MOS, perlengkapan MOS, dan jadwal MOS. Dan hari ini, Senin, dimulainya MOS pertama. Dan juga dimana semua murid sekolah ini hadir, menonton jalannya MOS.



"Aduh, permisi," ucap seseorang membentur pundak Keke pelan membuat gadis itu menoleh. Seorang anak perempuan berambut panjang gelombang sedang kesusahan memakai sepatu ketsnya. Sepertinya tali rafia di sepatunya longgar dan terlepas, membuat sepatunya yang sepertinya mudah dilepas itu terlepas dari kakinya. Perempuan itu berjalan sambil memakai sepatunya kembali, lalu membenarkan mahkota daunnya yang bergeser, dan segera berlari kecil memasuki lapangan, mengikuti para peserta MOS lain yang berada di sana.



Keke mengangkat salah satu alis memandang gadis itu, tapi lalu mengikuti memasuki lapangan yang sudah mulai disesaki para calon siswa. Keke memilih berdiri di samping perempuan tadi yang belum bisa diam mencari tempat. Tapi...



"Huaaahh," pekik gadis itu, dan...



BUK



"Aduh," rintih Keke sambil mengusap belakangnya yang sudah menghantam tanah. Karena lagi-lagi gadis itu menabraknya dan sampai menimpa tubuh Keke. Gadis itu membelalakkan mata, lalu segera duduk tegak.



"Maaf, maaf. Gue nggak sengaja. Maaf," ucap gadis itu panik sambil menunduk berkali-kali.



Keke mengangkat alis, tapi lalu mengangguk dan ikut terduduk di depan gadis itu.



"Aduh, ini mahkotamu," kata perempuan itu cemas sambil mengambil mahkota Keke yang jatuh, "hhh... syukur deh nggak rusak," ucapnya lega.



Keke tersenyum tipis sambil menerimanya. Lalu perempuan itu berdiri, dan membantu Keke berdiri juga.



"Maaf ya. Tadi gue nggak sengaja," ucap perempuan itu benar-benar merasa bersalah.



Keke tersenyum, "mungkin lo harus ikat tali sepatu lo dulu, biar nanti nggak jatuh lagi," saran Keke sambil menunjuk sepatu anak itu.



Perempuan itu refleks menunduk, memandang tali sepatunya yang tak terikat. Ia lalu mendongak, menatap Keke malu sambil meringis. Keke hanya tersenyum geli melihat kecerobohan gadis itu. Perempuan itupun berjongkok, lalu mengikat tali rafia di sepatunya dengan erat. Setelah itu ia berdiri kembali.



"Keke," Keke tersenyum dan menjulurkan tangan, menyebutkan namanya.



Perempuan di depan Keke itu mengangkat alis, tapi lalu membalas uluran tangan Keke sambil tersenyum lebar, "Acha!"



"SEMUA PESERTA MOS DI HARAPKAN SEGERA BERKUMPUL DI LAPANGAN UPACARA," suara dari speaker sekolah membuat semua calon siswa tersentak, tapi lalu menurut.



Lapangan lalu mulai ramai dan gaduh. Para calon siswa berbaris tak karuan di lapangan. Keke memilih tetap berdiri di samping Acha.



"Em... Keke," panggil Acha membuat Keke menoleh, "lapangan upacara dimana?"



Keke sedikit melotot kecil, lalu menatap Acha tak percaya. Acha balas tatapannya dengan sepasang mata polos yang tidah tahu apa-apa.



Keke terkikik geli sambil menutup mulut dengan telapak tangannya, "ini lapangan upacaranya! Makanya, semua pada ngumpul di sini. Tuh liat deh, ada tiang bendera kan?" ucap Keke menujuk tiang bendera di depan lapangan.



Acha manggut-manggut. Sementara Keke geleng-geleng kepala sambil tersenyum kecil. Gadis satu ini bener-bener deh.



Seorang guru dari dalam kantor yang terdapat di depan lapangan upacara, melangkah keluar. Ia lalu berdiri di atas podium kecil di depan lapangan, samping tiang bendera. Guru itu, Pak Duta, selaku guru kepengurusan siswa SMA Bintang. Ia lalu memimpin para pasukan peserta MOS. Barisan para siswa MOS mulai teratur. Pak Duta mulai membuka acara MOS dengan rentetan kalimat-kalimat panjangnya.



Keke mengedarkan pandangan, melihat sekitar lapangan. Keke melihat ke arah bangunan sekolah di depannya. Ke arah lantai dua, di mana mulai terlihat beberapa murid berseragam SMA memerhatikan para calon adik kelas mereka. Keke memerhatikan wajah-wajah itu, berharap menemukan yang ia cari. Namun gadis itu mendesah pelan, lalu kembali mengedarkan pandangan, mengabaikan suara Pak Duta yang masih terdengar. Keke melihat ke samping lapangan upacara, di mana adanya parkiran yang luas dan di ujung sana ada gerbang sekolah yang menjulang tinggi. Parkiran itu memanjang, sampai ke belokan di ujung bangunan sekolah. Sekolah ini berbentuk kotak. Di depannya adalah parkiran yang panjang sampai ujung bangunan. Dan di sisi baratnya adalah lapangan upacara, tempat mereka berbaris.



Suara mesin mobil melaju membuat para siswa menoleh. Bahkan Pak Duta juga ikut menoleh. Para murid yang berada di balkon lantai dua juga mengalihkan perhatian menuju gerbang sekolah. Dan para siswi wajahnya langsung merekah.



Dari gerbang sekolah, sebuah Mercy hitam dan Jazz merah mulai menampakkan diri. Mereka mengarah ke lapangan parkir, namun karena sudah penuh, mereka memilih memarkirkan mobilnya di depan, menyebabkan mereka berada di samping lapangan upacara tepat. Semua mata memandang ke arah dua mobil itu. Pak Duta mengangkat alis, lalu tak bisa menahan wajah geramnya melihat dua mobil yang merusak suasana hening. Keke terus memusatkan perhatian pada Mercy hitam itu. Entahlah. Ada yang bergerak di dadanya kala melihat mobil mengkilat itu.



Dengan kompak, pintu mobil terbuka. Pintu pengemudi dan juga pintu penumpang di sampingnya. Para peserta MOS dan seluruh siswa memandang mereka tanpa berkedip. Dari sepatu-sepatu kets yang berwarna, dan naik perlahan ke seragam SMA masing-masing dan wajah mereka. Layaknya drama televisi, angin seakan berhembus membuat keempat pemuda jangkung itu terlihat rupawan.



"Waw..." desah para peserta MOS kagum. Acha bahkan sambil tenganga takjub. Keke ikut terpaku.



"Akhirnya... FourG muncul juga," pekik seorang siswi pelan yang berada di samping Keke, membuat Keke sedikit melirik dengan kening berkerut.



Si pengemudi Mercy hitam tadi menutup pintu mobil dan melangkah ke depan bersama siswa yang semobil dengannya. Si pengemudi Jazz merah tadi ikut menutup pintu dan menyusul, dan yang berada di kursi samping pengemudi Jazz merah itu melepas kacamata hitam yang tadi bertengger di hidung mancungnya, membuat para peserta MOS, khususnya siswi, menatapnya dengan mata berbinar. Mereka melangkah mengikuti dua temannya yang lebih dulu.



Dari kanan, anak yang tadi melepas kacamata hitamnya itu, berpakaian seragam SMA yang di keluarkan tak rapi. Dasinya dilonggarkan, dengan wajahnya yang memang tampan. Ia terus saja menebarkan pesona ke arah para peserta MOS. Namanya Cakka.



Lalu di sampingnya, yang tadi duduk di samping pengemudi Mercy hitam. Wajah tampan dengan kulit sawo matangnya. Seragamnya dimasukkan, tapi tidak ada dasi di kerah seragamnya. Berbanding terbalik dengan Cakka, ia berjalan cuek dan tidak peduli dengan tatapan-tatapan kagum para siswa. Yang itu bernama Mario, atau biasa dipanggil Rio.



Kemudian si pengemudi Honda Jazz merah tadi. Ia terlihat paling berbeda. Seragamnya masih rapi dan dimasukkan. Dasinya juga ada di kerah seragamnya terpasang dengan rapi. Rambutnya sedikit panjang lurus dengan wajah orientalnya yang membuatnya terlihat sangat keren. Kulitnya putih, dengan sepasang mata agak sipitnya. Alvin, kapten futsal sekolah.



Dan terakhir, laki-laki pengemudi Mercy hitam tersebut. Seragamnya juga dikeluarkan tanpa dasi menggantung di kerah. Hari ini rambutnya yang sedikit ikal dijadikan jigrak, membuatnya sungguh terlihat memesona. Ia berjalan cool selangkah lebih depan dari tiga lainnya, seakan menjadi pemimpin. Pemuda tampan itu, Gabriel.



Mereka F4nya SMA Bintang, FourG. Itu bukanlah nama geng atau apalah. Tapi memang julukan yang didapat dari para murid di sini. Empat cowok tampan nan keren yang bersahabat dekat. Mereka melangkah acuh menuju tangga di ujung koridor, tanpa memedulikan tatapan-tatapan yang terus tertuju pada mereka. Walaupun Cakka sempat melemparkan senyuman manis ke arah para peserta MOS yang menatapnya, membuat para siswi melting tak karuan.



Para calon siswa berbisik-bisik kecil. Para calon siswi tak sedikit yang mencicit-cicit kecil senang. Keke terus memerhatikan bayang keempat itu sampai menghilang. Ia menggigit bibir, seperti ada yang berbisik di hatinya, menyebutkan bahwa salah satu dari mereka itu adalah yang Keke cari. Tapi... apa mungkin?




*****


Kemarin bilang bakal post ulang bccb, kok malah post cerbung baru?
Katanya mau fokus selesaiin Mario’s, kok post cerbung baru?
PMB belum bener-bener tamat, kok ngepost cerbung baru?
KOK NGEPOST CERBUNG BARU?
HM… OKE. Jadi gini, aku udah nanya sana-sini enaknya post ulang bccb atau post cerbung baru. Dan banyak yang bilang post cerbung baru aja. Why? Karena BCCB udah pernah dipost, kalian bisa baca ulang walau tulisan dan gaya penulisannya alay. Aku emang udah ada new bccb, tapi aku belum ngerasa bener-bener srek. Aku pengan benerin lagi jadi kalau mau baca lagi mending baca ulang di note fb.
Apa link fbnya? Monggo cek twitter ALders aja biar enak.
Kenapa peran utamanya Keke lagi? Lah begimana ya udah sreknya sama Keke nggak bisa move on. Tapi please baca ini karena cerita, bukan hanya tokoh semata.
Kapan next part? Dua hari lagi inshaa Allah. Tapi ya monggo atuh dibantu promote gitu tengkyu.
Btw ini dipost di blog dan fb. Sok atuh ayo dikomen

Sincerely, Jodoh Gabriel Yang Tertunda
Aleastri