Tampilkan postingan dengan label Oik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Oik. Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 Oktober 2014

Hello Sunset! Part 5

Bel pulang berbunyi.

Keke mengemasi barangnya, lalu menyampirkan ransel ke pundaknya dan berdiri. Acha ikut melangkah di sampingnya menuju pintu kelas. Namun keduanya tersentak, kala melihat seorang pemuda tampan sedang berdiri dan tersenyum ramah di ambang pintu. Para murid yang juga ingin keluar ikut membeku. Apalagi melihat senyuman manis itu, membuat para siswi terdiam melting.

"Yuk!" ajak pemuda itu, Cakka, sambil mengulurkan tangan ke arah Keke.

Keke tenganga sesaat, lalu saling pandang dengan Acha. Acha menggerakkan bola mata ke arah tangan Cakka, menyuruh Keke menurut saja. Keke menghela nafas, tapi lalu akhirnya mengalah dan menyambut tangan Cakka, membuat nafas para siswi tercekat. Oik bahkan dalam hati memekik iri. Tadi sudah dengan Rio, sekarang dengan Cakka!!!

Cakka tersenyum, lalu dengan lembut menggenggam tangan Keke dan menariknya pergi. Keke hanya menunduk dan melangkah pasrah mengikuti Cakka. Sepanjang jalan semua menatap ke arahnya. Keke terus saja menunduk dan menggigit bibir. Tapi beberapa orang tak heran. Karena yang menggandeng adalah Cakka. Si playboy sekolah yang seringkali berganti pasangan. Mungkin gadis itu korban barunya.

Cakka menuntun Keke menuju kantin sekolah. Keke melirik sedikit, dan menunduk lagi kala melihat Gabriel, Alvin, dan Rio sudah menunggu di sana dengan minuman masing-masing.

"Nih bos," kata Cakka berhenti melangkah, lalu melepaskan genggamannya dan duduk di samping Rio.

Keke masih berdiri di samping meja itu sambil menunduk. 'Mati gue', batinnya merutuk.

Gabriel menghela nafas. "Ngapain tadi lo?" tanyanya memulai interogasi.

"Disuruh Pak Deni fotokopi kak. Di koperasi lagi rusak," jawab Keke seadanya, walau sedikit takut-takut.

Gabriel mencibir, lalu berdiri, dan melangkah ke depan Keke yang sedikit mundur takut. "Nggak seharusnya tadi lo ngelindungin gue. Gue bisa ngelawan kok. Elo bahaya banget tadi!" omel Gabriel. Keke mengerti maksudnya, kala tadi ia memukul salah satu anak Pangeran.

"Aku refleks kak..." jawab Keke menunduk dan memain-mainkan jari-jarinya.

Cakka mendecak-decak dan geleng-geleng kepala, "hebat bener deh lo. Andai aja tadi gue liat. Seorang cewek kelas sepuluh SMA, ngelawan preman sekolah dari pihak musuh," kata Cakka kagum lalu menepuk-nepuk tangannya. Entah tulus memuji atau mengejek.

Keke hanya mencuatkan bibir dan terus menunduk.

Gabriel menghela nafas, sambil memasukkan kembali kedua tangan di saku celananya. "Lain kali, elo nggak perlu ngelakuin itu. Harusnya gue yang ngelindungin elo, bukan elo yang ngelindungin gue. Ngerti?" ucap Gabriel dengan nadanya yang biasa. Penguasa sekolah yang memerintah.

Keke sedikit mengembungkan pipinya. Dasar pemuda satu ini. Sudah diselamatkan tapi kok nggak berterima kasih sih? Malah mengomel. Tak tahukah dia tadi Keke harus menjual nyawa dan berbekal kenekatan saja?

"Udah deh, Yel. Elo lama-lama kayak emak-emak tahu nggak sih. Ngomel mulu," ucap Cakka membela, "anter dia pulang gih. Katanya mau ke kafe," ingat Cakka sambil melihat jam tangannya.

Gabriel mendecak, tapi lalu menurut dan mengambil tasnya. Ia lalu melempar asal jaketnya ke arah Keke, membuat Keke terkejut tapi segera sigap menangkapnya.

"Pake tuh!" perintah Gabriel, lalu mulai melangkah memimpin. Alvin dan Cakka segera mengikuti.

Keke melengos, lalu menggeram sebal ke arah punggung Gabriel.

"Udah deh nggak usah ngelawan. Yuk!" ucap Rio tiba-tiba yang sudah menarik tangan Keke, membuat Keke tersadar tapi hanya menurut pasrah.

***

Keke menghela nafas sambil mengubah posisi tidurnya. Tapi tetap saja. Matanya masih terbuka lebar. Ia menghembuskan nafas, lalu duduk di ranjangnya sambil bersandar. Gadis itu gundah sekali. Kejadian yang terjadi dua hari berturut-turut ini benar-benar menghantuinya.

Argh. Benar-benar neraka deh SMA Bintang itu. Pantas saja teman-teman SMP Keke tak ada yang mau masuk kesana. SMA Bintang memang cukup terkenal sering tawuran dengan SMA Pangeran, musuh bebuyutannya. Setengah laki-laki di sekolah itu adalah preman! Mereka sering bertarung melawan musuh, bebal dengan omelan para guru. Dan kini, Keke masuk dalam kehidupan para preman itu! Parahnya, Keke berhubungan langsung dengan sang ketua yang super galak dan tak bersahabat itu, Gabriel! Argh. Bisa gila Keke lama-lama.

Keke menghembuskan nafas keras, lalu memukul-mukul bantalnya dengan kesal. Merasa sebal sekali mengingat perlakuan Gabriel padanya. Katanya mau melindungi, mau menjaga, tapi kalau dibentak terus, dihardik berkali-kali, diperintah ini-itu, apanya yang melindungi?!

Tiba-tiba hape Keke yang berada di atas meja samping ranjangnya berdering, membuat Keke menoleh, lalu meraihnya. Keke mengangkat alis, mendapat sebuah sms dari salah satu sahabatnya di SMP dulu, Ify.


From: Ify
Gimana Ke di sana? Elo gada kabarnya nih skrg :(
lain kali main ke tangerang dong! Hehehe
O ya. Elo udah ketemu yang lo cari?


Awalnya Keke tersenyum membaca pesan singkat Ify itu. Namun kala membaca kalimat terakhir, senyum Keke meluntur perlahan. Ia tiba-tiba tersadar dan teringat. Tujuannya pergi jauh dari rumah dan rela masuk SMA Bintang yang bak neraka itu. Karena ia harus mencari.

Keke mendesah, menyadari ia belum bertemu seseorang yang harus ia cari itu. Yaitu kakaknya. Kakak kandungnya yang telah pergi dari rumah saat ia baru lulus SD dulu.

Mama kandung mereka meninggal saat Keke duduk di kelas dua SD, dan kakaknya itu kelas empat SD. Setelah itu Keke dipindahkan ke rumah neneknya, karena papanya sibuk bekerja sehingga tak ada yang mengurus. Kakak laki-lakinya itu tak mau ikut, entah karena alasan apa ia ingin tetap tinggal di rumahnya dan tetap bersekolah di sekolah yang memang tak jauh dari rumah. Sampai tak lama, saat kakak Keke itu baru saja lulus SD, Papa mereka ingin menikah lagi, dengan Linda, seketarisnya di kantor. Kakak Keke itu tak terima, apalagi saat itu ia sedang sangat labil karena sedang ada dalam masa puber. Setelah bertengkar hebat dengan sang ayah, kakaknya itu kabur dari rumah dan tak pernah kembali. Bahkan sampai sekarang. Sampai Papa Keke sudah menghembuskan nafas terakhirnya.

Keke menarik nafas dalam, menahan agar tak ada setetes beningan hangat meluncur dari matanya. Karena setiap mengenang memori itu, selalu saja ada butiran bening mengalir deras dari sepasang mata bulat Keke. Tapi kali ini Keke tak mau lagi menangis. Sudah terlalu banyak air mata ia tumpahkan. Karena kerinduan amat dalam pada sang kakak.

Saat itu Linda mendapat kabar, kalau ada yang mirip dengan anak tirinya itu di SMA Bintang. Linda bertanya siapa namanya, dan ternyata benar. Itu adalah anak tirinya dari Surya, ayah Keke. Karena itu, saat Keke harus mendaftar SMA, Linda menyuruh Keke masuk ke SMA Bintang, untuk mencari dan membawa pulang sang kakak. Permintaan terakhir mendiang Surya, agar anak tunggalnya itu pulang ke rumah.

Sampai saat ini, tak ada lagi info yang Keke dapat dari kakaknya. Yang ia tahu kakaknya siswa kelas duabelas, di SMA Bintang. Tapi Keke masih tak tahu.

Namun... ada suatu firasat dalam dadanya. Bahwa sebenarnya sang kakak sudah mulai dekat. Apalagi, ada dua orang yang wajahnya hampir sama seperti sang kakak saat SD dulu. Yaitu, Gabriel dan Rio. Gabriel yang kasar dan Rio yang sangat cuek. Keduanya berbeda sekali dengan sosok kakak Keke yang periang dan bertanggung jawab. Kakak Keke yang juga berani dan selalu melindungi Keke. Apa mungkin bentuk dewasanya adalah Gabriel ataupun Rio? Kenapa rasanya... cukup mustahil ya?

Memang, Keke sudah lama sekali berpisah dengan sang kakak. Terakhir bertemu, kala seratus harian kematian mendiang mamanya dulu, saat Keke masih duduk di kelas dua SD. Dan yang Keke tahu, nama kakaknya adalah... Kak Iyel. Karena itu, saat mendengar bahwa dua orang yang ada dalam Mercy hitam kala MOS saat itu, yang membuatnya merasa penasaran dan ada sebuah firasat bahwa kakaknya ada di antara mereka, bernama Gabriel dan Nataniel, Keke tertegun. Walau Nataniel adalah nama belakang Rio, bisa sajakan, saat kecil dulu Rio dipanggil Iyel? 

Walau selama ini Keke kerap kali menemukan Iyel-Iyel  yang lain. Nama panggilan yang sering dijumpai. Namun kali ini berbeda. Baik Gabriel ataupun Rio, Keke dapat merasakan ada sesuatu pada keduanya. Tapi ia masih tak tahu apakah ini nyata atau salah. Bahkan ia masih tak tahu Gabriel atau Rio kah 'Kak Iyel’  yang ia cari.

Keke menarik nafas dalam, lalu menghembuskannya mantap. Ada suatu keyakinan dalam dirinya. Bahwa mulai besok, ia sudah harus bergerak. Mencari sang kakak yang telah lama hilang. Dimulai dari Gabriel dan Rio.

***

Paginya Keke baru saja keluar dari pintu rumah, dan langsung tepana melihat tiga pemuda itu lagi-lagi ada di depan rumahnya. Kini Alvin membawa Honda Jazz merahnya, sementara dua lain membawa motor besar seperti kemarin. Keke menipiskan bibir sejenak, lalu mendekat dan membuka pagar. Namun ia mengerutkan kening, tak melihat sosok Rio.

"Hari ini lo sama Alvin, biar lebih aman naik mobil," kata Gabriel sambil menaikkan standar motor kembali dan menyalakan mesin.

"Kak Rio mana?" tanya Keke sambil melangkah menuju pintu mobil Alvin.

"Dia ada urusan. Jadi nanti juga datang ke sekolah rada siang gitu," jawab Alvin yang sudah membuka pintu mobil.

Alis Keke terangkat, "urusan apa?"

"Kenapa elo harus kepo?" sahut Gabriel ketus, membuat Keke mendelik kecil. "Udah deh lo masuk, nggak usah banyak tanya soal Rio."

Cakka tertawa kecil melihat Gabriel, "ya elo nggak usah jealous sampe segitunya kali, Yel," ejeknya membuat Gabriel segera melotot tajam.

Keke juga ikut mendelik ke arah Cakka. Cakka segera nyengir dan mengacungkan telunjuk dan jari tengahnya. Keke hanya mencibir kecil, tapi lalu masuk ke dalam mobil Alvin. Dan dengan iringan dua motor besar, mereka mulai menuju ke SMA Bintang.


Minggu, 21 September 2014

Hello Sunset! Part 4



Keke melangkahkan kaki menuju sekolahnya, karena tadi baru saja dari toko fotokopi. Ia mendapat tugas dari Pak Deni untuk memfotokopi kumpulan soal yang memang disiapkan. Tapi mesin fotokopi di koperasi sekolah sedang rusak, dan Keke disuruh menuju toko yang tak jauh dari sekolahnya. Tadi Keke melangkah dari kamar mandi sendiri, dan tak sengaja bertemu Pak Deni. Pak Deni yang memang akan mengajar di kelas Keke, menyuruh Keke tanpa ditemani siapapun. Keke hanya bisa menurut, walau sebenarnya sedikit mengeluh karena biasanya ia pergi bersama Acha.

Tiba-tiba terdengar suara gemuruh orang-orang berlari. Keke sontak balik badan, dan terpana. Segerombolan besar siswa SMA Pangeran kembali datang menyerang. Beberapa membawa tongkat kayu, dan beberapa membawa plastik hitam yang sudah pasti isinya batu.

Oh no. Jangan lagi.

Keke segera bersembunyi di pohon peneduh jalan yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Bersamaan dengan itu dari dalam sekolahnya segerombol siswa mulai maju, menyadari kedatangan lawan satu jam sebelum bel pulang sekolah berbunyi. Mungkin mereka memang sudah saling menentukan waktu.

Keke mengedarkan pandangan, mulai panik. Musuh sekolanya sudah mulai dekat, sementara para murid sekolahnya sudah menyebar ke barisan depan. Keke menerka-nerka. Kalau ia kabur sekarang dan berlari memasuki sekolah, kemungkinan ia akan selamat.

Kekepun tak mau kehilangan kesempatan itu. Ia keluar dari persembunyian. Namun sial beribu sial. Saat ia sudah mulai berlari, lengannya tiba-tiba dicekal seseorang. Dengan nafas tercekat Keke menoleh, dan membelalak melihat seorang siswa dengan seragam SMA Pangeran dan sebuah kayu di tangan kanannya tersenyum miring menakutkan.

"Elo cewek yang kemarin, kan? Yang diselamatin Rio sama Gabriel?" tanya siswa itu, membuat tubuh Keke kaku seketika.

BUK

Satu tinjuan itu, bersamaan dengan lengan Keke satu lagi yang ditarik segera, membuat Keke terkejut. Gabriel tiba-tiba sudah berdiri di depannya, melindungi gadis itu. Siswa Pangeran yang tadi terkena tinjuan Gabriel segera membalas. Tapi Gabriel segera menendang pemuda itu, membuat pemuda itu tersungkur. Gabriel lalu segera berbalik, menatap Keke yang gemetaran.

"Lo emang bandel ya! Ngapain lagi sih elo!?" marah Gabriel membuat Keke bergidik takut.

Keke melotot kala melihat seseorang dari pihak musuhnya berdiri tak jauh di belakang Gabriel, dengan mengacungkan tongkat kayu tinggi-tinggi.

"Kak, awas!" pekik Keke mendorong tubuh Gabriel menjauh sampai Gabriel terjatuh. Keke lalu menunduk, menghindari pukulan dari siswa itu yang melesat. Keke lalu dengan sekuat tenaga menendang perut pemuda itu, membuatnya terkaget dan melepaskan tongkatnya. Dengan segera Keke mengambil tongkat kayu itu, lalu tanpa segan memukulkan tongkat itu keras-keras ke arah pemuda tadi. Keke sudah tak peduli dan membuang jauh-jauh rasa teganya. Dengan membabi buta ia memukul musuh sekolahnya itu dengan kasar, membuat pemuda itu tersungkur dan merintih sakit.

Keke belum mau berhenti, sampai sebuah tangan menahan lengannya, lalu menarik tangan Keke turun kembali. Keke menoleh dan terdiam.

"Elo gila ya?! Ngapain elo ikut berantem?!" bentak Gabriel, lalu mengambil alih tongkat di tangan Keke.

Beberapa siswa dari musuhnya datang menghampiri Gabriel saat tahu pentolan sekolah lawannya sudah berada di area pertarungan. Gabriel segera berdiri di depan Keke, lalu seperti kerasukan, ia memukuli para lawannya itu dengan tongkat di tangannya dan juga beberapa tendangan. Keke sempat memekik berkali-kali dan sering menunduk takut, menghindari serangan yang bisa saja mengenainya. Sampai sebuah tangan tiba-tiba menarik Keke, membuat Keke berteriak histeris dan Gabriel segera menoleh.

"Dia sama gue!" teriak orang itu, Rio, lalu segera menarik tangan Keke berlari menjauh. Gabriel tak peduli lanjut, ia kembali melawani para musuhnya itu.

Rio terus berlari sambil menggandeng tangan Keke, dan juga berusaha melindungi Keke dari lemparan batuan yang datang dari segala arah itu. Keke seakan-akan terbang, karena kecepatan lari Rio yang sudah sangat cepat.

Saat melihat satu batu sedikit besar melayang menuju arahnya, Rio sontak memeluk Keke, membuat Keke memekik. Rio lalu melindungi gadis itu, membuat punggungnya terkena lemparan batu tersebut. Rio sempat merintih, tapi lalu tak terlalu memikirkan dan kembali menarik Keke karena gerbang sekolah sudah dekat. Keke menurut, walau ia menatap Rio cemas.

Mereka segera masuk ke dalam sekolah yang sudah ramai para siswa dari kelas sepuluh sampai dua belas, ikut membela sekolah mereka.

Rio membawa Keke masuk ke koridor sekolah. Ia lalu mulai memelankah langkahnya. Kekepun juga ikut memelankan langkah sambil mengatur nafasnya yang terengah-engah. Tangan mereka masih saling menggenggam satu sama lain.

"Kak, kakak nggak papa?" tanya Keke cemas dan panik, memandang Rio yang nafasnya masih ngos-ngosan.

"Nggak papa kok," jawab Rio segera. Ia lalu membawa Keke ke kelasnya. "Elo, tetep di kelas lo. Jangan kemana-mana, gue bakal pergi lagi," pesan Rio menegaskan dalam-dalam ucapannya.

"Kakak mau kemana lagi?" tanya Keke cemas.

"Ya mau ngelawan merekalah! Lo pikir gue bakal diam aja sedangkan teman-teman gue lagi bertarung?" tanya Rio sarkatis, membuat Keke terdiam. Mereka sudah sampai di ambang kelas Keke.

Kelas yang semula ribut karena kecemasan tentang sekolah mereka, mendadak hening. Pak Deni yang harusnya mengajar tidak hadir di tempat. Mungkin juga memikirkan taruhan siswanya itu. Walaupun para guru tak pernah bisa bertindak lanjut.

Para mata langsung tersorot pada dua tokoh di pintu itu. Dan mereka membelalak kala melihat tangan Rio yang menggenggam jemari Keke.

"Ingat ya, elo jangan kemana-mana," pesan Rio membuat Keke menoleh.

Keke mengangguk, "hati-hati ya kak," ucapnya. Rio hanya tersenyum tipis, lalu beranjak dan berlari pergi menuju gerbang sekolah kembali.

Keke menghela nafas pelan. Melafalkan doa dalam hati semoga Gabriel dan Rio baik-baik saja.

"Ke!"

Keke menoleh, lalu dengan gusar melangkah mendekat. Para murid di dalam kelasnya mulai mendekati Keke.

"Kenapa Ke?" tanya Acha cemas.

Keke menghela nafas sambil duduk di kursinya. Ia hanya menjawab dengan ekspresi lelah dan masih sedikit shock.

"Ke! Gimana rasanya?" tanya Oik duduk di depan Keke.

Keke mengangkat alis tinggi, "maksudnya?"

"Gimana rasanya digandeng sama Rio? Kyaaa bahagia banget ya, Ke?" tanya Oik menggebu-gebu, membuat semua menganga.

"Oik! Keke tuh tadi lagi terancam! Kok malah nanya itu sih," protes Acha sebal. Oik hanya nyengir kuda. Acha kembali menoleh pada Keke. "Elo nggak kenapa-kenapa kan, Ke? Tadi kedapetan anak Pangeran?" tanyanya khawatir.

Keke menarik nafas, lalu mengangguk sambil menghembuskannya. Membuat semua membelalak dan mulai prihatin.

"Terus gimana?" tanya Patton penasaran.

"Tadi untung aja ada Kak Gabriel. Dan tadi, gue ditarik Kak Rio ngejauh dari sana," cerita Keke yang disambut mulut 'o' lebar dari teman-temannya.

"Wih... beruntung banget elo, Ke," ucap Oik dengan nada envy.

"Oik!!!" kini bukan hanya Acha. Nova, Nadya, dan beberapa teman lain juga ikut gemas melihat Oik yang masih saja memikirkan cowok-cowok ganteng itu.

Oik menyeringai, "ya kan hampir semua cewek tuh berangan untuk bisa deket sama FourG! Makanya.... em... Keke beruntung.... Hihihi."

Acha menggeram dan melemparkan tinju kecil ke arah Oik, lalu menoleh lagi ke arah Keke. Kini wajahnya serius. "Ke, elo harus hati-hati. Ini udah yang kedua kalinya. Mulai sekarang, jangan jauh-jauh dari sekolah ini ataupun FourG, kalau elo masih pakai seragam sekolah ini. Ngerti lo?"

Keke mengangkat alis, tapi lalu mengangguk menurut. Walau heran juga. Tumben sekali Acha cerdas. Biasanya gadis satu ini selalu bertingkah ceroboh dan telmi.

"Eh, oh ya Ke. Mana tugas dari Pak Deni? Tadi kita disuruh ngerjain itu, karena Pak Deni harus ke kantor," kata Lintar, selaku ketua kelas, mengingatkan.

Keke melebarkan mata, lalu menepuk keningnya sendiri. "Astaga! Kayaknya tadi jatuh atau ketinggalan gitu deh. Gue panik sih! Tadi gue juga mukul anak Pangeran."

"HA?!"

Keke menarik diri sejenak, mendengar pekikan dari teman-temannya itu.

"Apa Ke? Elo... mukul anak Pangeran?" tanya Nova tak percaya dengan mata melotot.

Keke meneguk ludah, "ya habis... tadi Kak Gabriel itu hampir dipukul dari belakang! Gue nggak bisa diam aja dong! Ya makanya... gue... eum... ya... gitu," jelas Keke terpotong-potong sambil memain-mainkan jari-jarinya.

"Gila lo, Ke! Elo cari mati apa ya?" tanya Nadya tak percaya. Keke menipiskan bibirnya dan menunduk.

"Ckckck. Demi Kak Gabriel, elo nekat ngelawan musuh?" tanya Lintar membuat Keke mendongak dan mendelik. Para murid juga mulai tersadar dengan ucapan itu, dan menatap Keke dengan mata melebar.

"Ih apa sih lo! Bukan itu juga maksudnya!" elak Keke, "sekarang gini deh. Kalau tadi Kak Gabriel kenapa-kenapa, nanti yang bakal ngelindungin gue siapa dong? Kak Rio kan datangnya tadi belakangan. Gue juga mikirin diri sendiri kali!"

Para murid manggut-manggut percaya. Sementara Keke mencuatkan bibirnya. Alasan itu sebenarnya baru beberapa detik lalu ia dapat. Karena ia juga baru sadar. Tadi, karena tak ingin Gabriel terkena pukulan, Keke nekat mendorong Gabriel dan menendang lawannya itu. Astaga bodohnya. Bagaimana kalau preman sekolah yang tadi Keke pukul itu membalas Keke dengan kejam? Bisa habis Keke!

Sabtu, 20 September 2014

Hello Sunset! Part 3



Keke memakan sarapannya dengan gelisah. Ia tak juga tenang di meja makan. Pikirannya melayang-layang. Mengingat ucapan Rio kemarin. Rina menatap Keke heran. Keke memang tinggal bersama keluarga dari adik Mamanya sejak menjadi murid SMA Bintang. Karena lebih dekat dari sekolah. Sementara rumahnya dulu jauh dari sekolahnya, membutuhkan waktu lama. Rina juga tak keberatan. Karena selama ini ia sendiri di rumah. Suaminya bekerja di luar kota, sementara anak sulungnya kuliah dan asrama. Jadi kehadiran Keke membuat rumah ini berisi kembali. Tak sepi terus menerus.

Suara deru motor dari depan rumah membuat Keke tersentak. Mendadak, tubuhnya membeku. Tapi lalu ia merutuk dalam hati.

"Eum... tante... Keke pergi dulu ya," pamit Keke mengambil ranselnya.

Rina yang sekarang sedang sibuk dengan layar iPadnya, menoleh. Keke mencium tangannya, lalu berbalik. Rina kembali memusatkan perhatian pada layar iPad, karena ada sebuah pekerjaan yang harus ia kerjakan.

Keke melangkah dengan jantung bergetar heboh menuju pintu rumah. Ia lalu membuka pintu, dan keluar. Gadis itu terpana. Melihat kini ada empat buah sepeda motor besar menunggu di depan pagar. Keke tak bisa menahan diri untuk tidak melongo. Ia memang sering melihat empat pemuda itu memakai motor besar ke sekolah, tapi tak pernah sekompak ini. Biasanya salah satu membawa motor, dan ada yang membawa mobil atau menebeng dengan yang lain. Namun hari ini, keempatnya membawa motor masing-masing.

Keke meneguk ludah, lalu menutup pintu dan melangkah mendekat. Cakka menyambutnya dengan cengiran lebar. Alvin juga melemparkan senyum selamat pagi. Rio hanya acuh tak peduli di atas motornya. Sementara Gabriel menatap Keke tak sabar karena langkah gadis itu lambat.

Keke membuka pagar, dan keluar masih dengan perasaan tak menyangka.

"Nih," Cakka menyodorkan helm yang ia bawa.

Keke tersenyum kaku, lalu menerimanya. Dan memakainya. Namun ia sedikit bingung harus naik ke motor yang mana.

"Elo sama gue. Cepet," perintah Gabriel membaca pikiran Keke.

Keke tenganga sesaat. Tapi melihat mata tajam Gabriel, membuatnya menurut. Keke duduk menyamping, membuat Gabriel mendecak.

"Elo pikir gue tukang ojek? Duduk yang bener! Jangan nyamping!" perintah Gabriel ketus, membuat Keke sedikit sebal.

Keke mendesah pelan, lalu menurut kembali. Ia memang hanya bisa pasrah. Dikelilingi empat preman sekolah, bisa apa dia? Melawan? Sama saja cari mati kalau begitu.

Setelah melihat Keke sudah duduk manis, dengan jemarinya yang menggenggam erat pegangan di belakang jok, Gabriel menipiskan bibir dan menyalakan mesin lagi. Ia lalu memimpin tiga lainnya menarik gas pergi, membelah jalanan pagi Jakarta.

***

SMA Bintang gempar. Jam tujuh tepat, sekolah sudah ramai. Jadi banyak saksi mata yang melihat kejadian itu.

Motor hijau Cakka dan motor hitam merah Alvin berada di depan. Di susul oleh motor hitam Gabriel dan motor putih Rio. Keempatnya mengendarai empat motor besar walau ada yang bermerek berbeda. Tapi tetap saja terlihat keren di mata para siswi. Namun itu permandangan biasa. Yang membuat gempar tentu saja, motor hitam Gabriel. Biasanya Gabriel selalu sendiri. Dan kini, seorang siswi berseragam SMA Bintang sedang duduk di belakangnya dengan wajah sengaja ditutup kaca helm. Gadis itu menyembunyikan wajah, karena sadar ia langsung jadi pusat perhatian begitu Gabriel menghentikan motor.

Dengan canggung Keke turun dari motor. Gabriel dan yang lain melepas helm mereka, menaruh di atas motor. Lalu juga membuka jaket yang mereka pakai. Sementara Keke masih diam di tempat, dengan helm yang enggan ia buka. Karena kalau sampai wajahnya terlihat, semua orang pasti akan makin heboh.

"Elo mau jadi power rangers pake' helm mulu?" tanya Alvin becanda.

Keke tersenyum masam, tapi lalu dengan enggan melepas helmnya. Dan benar saja. Para mata memandang membelalak, dan tak sedikit yang menganga. Kening mereka berkerut, tak mengenali sosok Keke, walau beberapa sedikit tahu wajah Keke.

"Ayo," Gabriel memimpin di depan. Yang lain mengikuti. Keke masih ragu untuk melangkah. Namun ia tersentak saat Rio menarik pergelangan tangannya, dan memaksanya melangkah di samping Gabriel, di depan tiga orang lainnya.

Gabriel seperti biasa, melangkah tenang dan santai. Alvin melemparkan senyuman pada beberapa yang menyapanya. Rio selalu saja cuek tak peduli. Sementara Cakka sibuk melambaikan tangan pada beberapa siswi yang menyapa pagi.

Keke sedikit menunduk, menyadari kini ia menjadi sorot utama. Beberapa siswi awalnya menyapa cowok-cowok ganteng itu, tapi setelah itu melemparkan tatapan iri ke arah Keke. Keke berjalan kikuk setengah mati, meneguk ludah panik. Gabriel membaca gerakkan itu. Ia mengangkat alis, dan mendekat ke Keke sambil memindai para mata yang menatap gadis itu tajam. Tingkah Gabriel justru membuat para siswa makin ingin gigit besi. Keke juga makin merutuk. Bukannya merasa aman, ia justru merasa makin di ujung jurang! Oke, mungkin FourG melindunginya dari sekolah lawan, tapi begini sama saja melemparkan Keke menjadi korban di sekolah sendiri!

Kelas 10B masih berjalan seperti biasa. Ada yang menyapu piket, ada yang mengerjakan tugas, dan ada juga yang sibuk bergosip. Tapi kala Keke dan keempat pemegang sekolah itu menampakkan diri, sontak semua terdiam. Beberapa bahkan menganga parah. Oik merasakan hatinya langsung mencelos jatuh.

Hening.

"Pulang nanti elo nggak usah kemana-mana, tunggu kita," perintah Gabriel dengan nada otoritas.

"Tapi kak..." protes Keke terhenti, kala mendapat tatapan tajam Gabriel.

"Elo lagi dalam bahaya. Mau lo jadi sandera anak Pangeran?" tanya Gabriel sinis.

Keke mengerucutkan bibirnya kecil, tapi lalu hanya menunduk. 'Gue emang aman dari cowok-cowok Pangeran, tapi sama aja jadi umpan cewek-cewek Bintang!' batinnya menggerutu.

Gabriel hanya mendesah, namun tak berkata apapun lagi dan melangkah pergi. Rio sempat melemparkan tatapan lama pada Keke, tapi lalu mengikuti.

"Tunggu kita ya," pesan Alvin sebelum mengekor.

"Bye Ke!" pamit Cakka ceria, dan ikut menyusul.

Keke menghembuskan nafas, lalu berbalik. Dan melebarkan mata kala melihat tatapan tak percaya dari teman-temannya. Keke hanya melengos, lalu melangkah menuju kursinya dan duduk di sana. Acha masih menatapnya dengan mulut terbuka lebar dan mata membelalak.

Tapi detik berikutnya, dipimpin teriakan Oik memanggil nama Keke, semua murid segera mengerubungi meja Keke, membuat Keke terkejut dan menoleh kanan kiri kebingungan karena teman-temannya langsung melemparkan beribu pertanyaan tentang kejadian tadi.

"Aduuuhhh diem dulu deh. Gimana gue mau jawab?" ucap Keke kesal dan bernada tinggi, membuat suara-suara gaduh itu perlahan menghilang.

"Oke deh oke. Kita diem. Cerita gih," kata Oik membenarkan posisi duduknya yang berhimpit dengan Nadya di kursi Nadya.

Keke menghela nafas panjang, "panjang ceritanya," ucapnya malas.

"Nggak papa!" jawab para murid serempak. Kini bukan hanya para siswi, tapi beberapa siswa juga ikut tertarik.

Keke menggeram kecil dengan sebal, "Pokoknya intinya, mulai sekarang gue bakal selalu bareng sama FourG!"

"HA?!"

Keke sedikit mengkerut kala mendengar jeritan dari segala arah itu.

"Serius lo? Kok bisa? Kenapa?" tanya yang lain bertubi-tubi.

Keke melengos, "ada kemungkinan gue diincer anak Pangeran, dan karena nggak mau hal itu terjadi, mereka mau jaga gue!" jelas Keke sedikit sebal.

Lagi-lagi semua memekik tak percaya.

"Keren banget..." desah Oik kagum, membuat Keke mendelik.

"Jadi... maksudnya... FourG bakal ngelindungin elo?" tanya Lintar.

Keke mendecak kecil dan memainkan bibirnya, tapi lalu mengangguk pelan. Membuat semua mendesah tak percaya dan juga takjub.

"Gila ih! Ini udah kayak di komik-komik Jepang aja sih!" komentar Acha geleng-geleng.

"Ke!" Oik menepuk dan memegang pundak Keke, membuat Keke mengerutkan kening menatapnya. Oik memandangnya serius, "menurut gue, mulai detik ini, elo... bakal jadi princess sekolah!"

"Ha?" kini giliran Keke yang memekik. Semua berkoar setuju dan mengiyakan.

"Bener banget, Ke! Bayangin deh, elo bakal dijaga empat pentolannya SMA Bintang. Dan salah satu dari mereka adalah bosgengnya nih sekolah! Pangeran sekolah pula! Itu berarti... elo bakal jadi cewek yang punya kedudukan tinggi di sekolah ini!" kata Nova panjang lebar dan menggebu-gebu.

"Wih keren nih. Elo bakal dijaga pasukannya Gabriel! Beuuhh," kata Patton terkagum.

"Kayak ftv!"

"Bukan, drama Korea!"

"So sweetnya ngalahin komik Jepang!"

"Keren, Ke!"

Keke menganga, tapi lalu menghembuskan nafas panjang. Mereka pikir ini keren? Keren apanya? Adanya Keke malah akan terus mendapat kesialan dan tekanan batin bertubi-tubi!

***

Sambil melahap mie ayamnya, Keke menceritakan tentang kronologi kejadian pada Acha, sahabat terdekatnya. Acha yang sedang mengunyah mie, terdiam dan tertegun mendengar cerita Keke. Mereka di pojokan kantin yang kini cukup sepi, jadi tak ada yang mendengar. Keke menceritakan dari awal ia bertemu Gabriel-Rio, digendong Rio, dan semuanya. Mata Acha melebar sepanjang Keke bercerita.

"Ya ampun Ke... itu romantis banget!" komentar Acha kala cerita Keke selesai, "Lebih menggetarkan daripada film-film!"

Keke melengos, sepertinya salah ia bercerita pada Acha. Karena gadis ini sama saja seperti yang lain.

"Tapi... kasian elo juga sih. Bakal banyak tekanan nih," lanjut Acha mengelus dagunya. Keke menghembuskan nafas lega karena akhirnya ada yang mengerti keadaannya.

"Elo juga sih Ke! Ngapain sih pergi jauh-jauh dari sekolah? Ke arah SMA Pangeran lagi! Nyetop taksi di gerbang aja emang nggak bisa?" omel Acha membuat Keke bersungut.

"Kemarin tuh gue mau ke supermarket. Dan pas banget anak Pangeran datang!" sahut Keke mencak-mencak.

Acha mendecak, lalu memain-mainkan sendok dan garpunya di mangkuk. Ia berpikir keras. "Emang sih, jalan satu-satunya ya elo harus dilindungin FourG kalau nggak mau ada hal macem-macem. Tapi kalau gini caranya, elo malah jadi tersudutkan kalau di sekolah!"

Keke mengangguk cepat, menyetujui kalimat itu, "tadi pagi aja, cewek-cewek tuh natap gue kayak mau ngebunuh gue! Dari kelas satu sampai kelas tiga," keluh Keke lalu bergidik. "Dan elo tahu nggak sih Cha, gue tuh udah kayak pembantunya Kak Gabriel! Diperintah ini-itu mulu. Gue nurut aja, karena gue juga takut kalau dia udah marah. Diakan serem."

Acha terkikik geli melihat muka cemberut Keke saat menceritakan Gabriel. "Kalau elo ngelawan, elo bakal mati Ke!"

Keke mengerucutkan bibir, dan menghembuskan nafas panjang. Sementara Acha menepuk-nepuk pundaknya, mencoba menyabarkan hati Keke.