Tampilkan postingan dengan label Fyel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fyel. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 17 Agustus 2013
MARIO's Part 7
Label:
Ashilla,
Cerbung Rify,
CerbungIC FFIC,
FFIC,
Fyel,
Gabriel,
Idola Cilik,
Ify,
Keke,
OKe,
Rio,
Shilla
Sabtu, 29 Juni 2013
MARIO's Part 5
Keke
menggandeng lengan Shilla, dengan tangan kiri yang memegang senter menyala
terang. Shilla sendiri melangkah di samping Gabriel yang berada di depan dengan
tenang. Ify melangkah di belakang sembari menggerutu, karena pemuda yang
melangkah di sampingnya ini daritadi tak pernah bisa diam.
"Jadi
Fy, kalau di film-film ya, kalau kita ketemu tiga kali secara nggak sengaja
selama berturut-turut, itu berarti jodoh!" kata Rio masih berargumen.
"Pertama, elo sekelas sama gue. Kedua, elo duduk depan gue. Ketiga, kita
satu kelompok! Nah. Kesimpulannya adalah..."
"Gue
dapat kesialan bertubi-tubi," sela Ify menuntaskan kalimat Rio.
Rio
menipiskan bibir, tapi lalu kembali nyengir lebar khasnya. "Terkadang Fy,
ada berkah di balik kesialan," kata Rio masih saja berusaha.
Ify
melengos kasar, lalu memilih mengalihkan pembicaraan saja. "Yel, ini
kemana nih? Kita udah masuk lebih dalam loh!" tanya Ify yang memang sudah
berada di tengah hutan.
"Kita
harus cari pohon paling besar," jawab Gabriel membaca kertas yang ia
pegang. Ia lalu kembali mendongak, menyenterkan ke segala arah.
"Pohon
paling besar yang gimana? Paling tinggi atau paling rindang atau gimana?"
tanya Shilla meminta penjelasan.
"Gue
juga nggak tahu. Yang jelas di sini di suruh cari pohon besar," jawab
Gabriel terus mencari.
KRESEK
"KYAAA,"
jerit Ify spontan, membuat semua terkejut.
"Apa
Fy? Apaan?" tanya Rio cemas.
"Itu!
Itu tadi ada apaan gerak-gerak," kata Ify dengan wajah pucat dan panik.
"Apaan
sih?" tanya Shilla sembari menyenterkan ke arah sekitar kaki Ify. Terlihat,
seekor hewan berbulu abu-abu gelap terlihat dengan sepasang mata hitamnya.
"Yaelah. Kucing," kata Shilla santai.
"Tenang
Fy, itu anaknya Shilla. Shillakan macan," kata Rio setengah mengejek, yang
langsung dapat injakan kaki keras dari Shilla, membuatnya segera mengaduh.
"Udahlah.
Ayo kita cari lagi," kata Gabriel kembali memimpin.
"Shil,"
bisik Keke sembari mencolek pinggang Shilla membuat Shilla menoleh.
"Itu... apaan?" tanya Keke takut-takut sembari menyenterkan ke arah
yang di maksud.
Shilla mengerutkan
kening, ikut menyenter ke arah yang Keke tuju. Gabriel, Ify, serta Rio merasa
tertarik dan juga memandangi ke arah yang sama. Terlihat, seperti sebuah guling
dengan kain putih membungkusnya, dan terlihat seperti....
"POCOOONNNGGG!!!"
teriak Shilla spontan. Keke dan Ify ikut memekik, membuat Gabriel dan Rio
terkejut setengah mati.
"Gabriel!!!"
jerit Ify memegang lengan Gabriel dan berlindung di dada pemuda itu.
Shilla juga
tanpa sadar memegang lengan Gabriel yang satu lagi dengan erat. Kalau masalah
begini, ia juga tak berani. Sedangkan Keke yang sedari tadi menggandeng lengan
Shilla, memeluk gadis itu ketakutan.
Rio
tenganga di tempat. Heh heh heh! Apa-apaan ini? Kenapa ia seperti pemuda tak di
anggap? Kenapa tiga gadis itu malah berlindung pada Gabriel? He?! Apa-apaan
ini!? Lalu dia di anggap apa?! Pajangan saja?! Atau parahnya, ia hanya
pecundang yang tak bisa melindungi?
"Ssstt...
Itu tuh cuma boongan doang," kata Gabriel menenangkan sembari mengarahkan
senter ke arah benda tadi. "Pasti ini kerjaannya panitia. Bukan
beneran."
Shilla
membuka mata perlahan, lalu melebarkan mata memerhatikan benda itu lebih jeli.
Keke juga sedikit mengintip walau masih takut.
"Eh,
iya ding boongan," kata Shilla lega sembari meringis. Ify ikut menghela
nafas lega. Tapi kedua gadis itu lalu sama-sama tersadar dan memandang ke arah
tangan mereka yang masih memeluk lengan Gabriel. Gabriel sendiri menatap
keduanya bergantian.
"Eh
sorry," ucap Shilla lalu segera melepaskan genggamannya. "Gu...
gue... em... gue tadi panik!" kata Shilla menjelaskan dengan wajah
memerah.
Gabriel
tersenyum tipis, "nggak papa kok."
Ify
menggigit bibir bawah, sedikit menahan sebal karena ternyata gadis itu juga
menggenggam lengan Gabriel. Tapi Ify masih belum juga melepaskan pegangannya.
"Ehem!"
Rio berdehem keras, sambil melepaskan paksa tangan Ify di lengan Gabriel, lalu
berdiri di antara dua orang itu. "Ayo lanjut lagi! Nanti kita malah
tertinggal jauh sama yang lain," kata Rio ketus sambil memicingkan mata ke
arah Gabriel. Sementara Ify di sebelahnya mendumel dalam hati karena gangguan
pemuda itu.
Gabriel
hanya mendesah tak kentara, tapi lalu kembali melanjutkan langkah di ikuti yang
lain.
"Kalau
takut, nih. Lebih kokoh!" kata Rio menepuk-nepuk lengannya sendiri pada
Ify. Ify mendelik, lalu mencibir saja.
Rio lalu
tanpa sengaja menoleh ke arah Keke yang berada di pojok kiri. Wajah gadis itu
nampak pucat dengan keringat bercucuran di keningnya. Rio sedikit mengernyitkan
kening, merasakan sesuatu yang menjanggal ketika melihat wajah bulat itu pucat
pasih seperti ini.
"Ke,"
panggil Rio membuat Keke menoleh. "Lo nggak papa? Muka lo pucet,"
ucap Rio peduli.
Keke
mengangkat alis sejenak, tapi lalu tersenyum kikuk. "Nggak papa,"
jawabnya singkat. Tapi nadanya gemetar, membuat Rio malah berpikir ada apa-apa.
"Ke,
serius deh. Muka lo tuh pucet," ucap Rio khawatir sembari melangkah ke
arah gadis itu, membuat tiga orang lain sedikit bingung. Karena tumben sajalah
seorang Rio memedulikan orang lain. Apalagi di sekolah, tak ada satupun orang
yang tahu tentang hubungan antara Rio dan Keke. Alvin saja hanya tahu sedikit.
"Aku
tadi cuma takut Yo," jawab Keke menenangkan, walau tak bisa menahan ada
yang melayang dalam hatinya karena untuk pertama, pemuda itu memberikan
perhatian di depan orang lain.
Rio menatap
Keke lekat, berusaha mencari kepastian dari jawaban itu. "Shil, lo bawa
air minum?" tanya Rio tanpa mengalihkan pandangan. Memang, yang membawa
perlengkapan adalah Shilla. Walau itu hanya P3K.
"Nggak.
Kan nggak boleh," jawab Shilla juga mulai merasa khawatir dengan wajah
menunduk Keke yang semakin pucat.
Rio
membungkukkan badan, memandang Keke. Ia menepuk pundak gadis itu, membuat Keke
mendongak perlahan, walau diam-diam menahan laju detak jantungnya yang kencang.
"Ke...
lo tadi belum makan ya? Magh lo kambuh?" tanya Rio lembut, membuat
lagi-lagi ketiga orang anggotanya itu terkejut tak percaya.
Nanti dulu
nanti dulu. Ada apa ini? Kenapa mendadak seorang Mario Stevano jadi lembut nan
perhatian seperti ini? Dan... kenapa Rio bisa tahu Keke punya magh? Bukankah
saat kelas satu dulu mereka tak sekelas? Lalu di kelas mereka juga tidak akrab.
Bahkan Rio hanya menegur Keke kalau-kalau meminjam PR ataupun perlengkapan
menulis.
"Nggak
Yo. Aku cuma...."
"Ck!
Elo tuh kenapa sih nggak pernah mau jujur sama gue?" potong Rio sebelum
kalimat Keke usai. Rio menghela nafas keras memandang teman dari kecilnya itu.
"Elo tuh emang. Hati sama omongan di depan gue selalu beda. Seneng banget
sih nyembunyiin gitu," omel Rio sebal, mengingat memang selama ini Keke
selalu berkilah kalau Rio mencemaskannya. Ya seperti tentang magh yang di
derita Keke.
Dalam hati
Keke nelangsa. Seperti tersindir tajam. Bukan hanya karena masalah magh saja.
Ada hal lain, yang selalu ia sembunyikan dari Rio. Namun mungkin pemuda itu
masih saja tak peka, bahwa sebenarnya sebuah rasa telah Keke berikan selama
ini. Rasa yang terus saja bersembunyi di
balik status 'teman kecil'.
Rio
menghela nafas kembali, lalu membalikkan tubuh membelakangi Keke. Lutut pemuda
itu sedikit di tekuk, dan menoleh ke belakang sembari menepuk-nepuk pundaknya.
"Naik
gih. Nggak tega gue kalau nanti elo pingsan beneran kayak dulu."
Kayak dulu?
Maksudnya? Pertanyaan
yang sama menyantol di benak Gabriel, Shilla, dan juga Ify.
Keke
tertegun sesaat. Ia sedikit melirik ke arah tiga teman kelompoknya itu, lalu
menunduk tapi menurut saja. Karena mungkin sudah jadi kebiasan sedari mereka
SD. Kalau menolak permintaan Rio yang satu ini, Rio selalu saja ngambek, dengan
berkata "ya sudah kalau elo nggak mau denger omongan gue! Nanti pingsan
nggak gue tolong ya!". Kalimat itu sering kali Keke dapat sejak mereka
kelas enam SD, di mana magh Keke sering kali kambuh dan pertahanan gadis itu
sering pula melemah.
Keke
merengkuh leher Rio lembut, Rio mengambil lututnya, lalu berdiri dan sudah
menggendong Keke di belakang. Tak peduli pada tatapan tak mengerti namun juga
heran dari tiga orang lain.
"Yaelah,
Tante Gina ngasih lo makan apa sih? Enteng banget," ejek Rio tertawa geli.
Keke hanya mendecak dan merenggut.
Gabriel
tersentak. Mendengar nama itu. Gina. Dan Rio menyebutnya Tante Gina. Hanya
dengan sekilat detik, sebuah ingatan langsung datang dalam otak Gabriel. Dan
membuatnya langsung mengerti, bahkan tanpa sadar pemuda itu mengucap huruf O
tanpa suara. Ia lalu memandangi Keke yang kini dengan sedikit canggung menaruh
dagunya di bahu kanan Rio. Gabriel sudah bisa menduga, ada rona merah di kedua
pipi bulat gadis itu. Oh, ternyata gadis ini toh, batin Gabriel dalam hati.
Rio
menggerakkan kepala pada para anggota kelompoknya yang lain, dan memasang
ekspresi seakan-akan tak ada hal aneh yang terjadi. Walau ia tahu pasti mereka
heran dan kaget dengan perlakuan Rio terhadap Keke.
"He!
Ngapain lo semua bengong? Ayo jalan," kata Rio memimpin, lalu mulai
melangkah di ikuti yang lain.
Shilla
seakan tersadar, lalu segera mengekor di ikuti Gabriel. Sementara Ify masih
terdiam dan setengah tenganga di tempat melihat adegan barusan. Rio yang
mendadak jadi perhatian pada seorang gadis -yang menurut Ify sangat culun
karena selalu saja diam tanpa di tegur dulu-, Rio dan Keke yang sepertinya
punya sesuatu di masa lalu, Rio yang menawarkan diri menggendong Keke dan
langsung di turuti Keke tanpa bantahan. Tidakkah... kejadian ini terlalu aneh?
Dan juga.... raut cemas nan khawatir Rio tadi ituloh. Ify bahkan tak pernah
mendapatkan ekspresi seperti itu. Ify, yang sejak dari dulu sudah jadi rahasia
umum di kejar-kejar oleh Rio, tak pernah di perlakukan Rio semanis itu! Dan Rio
malah bersikap lembut pada gadis berpipi bulat yang cupu abis itu? Yang sangat
jauh levelnya dengan Ify! Pemuda itu kesurupan hantu hutan ini atau gimana sih?
Merasa ada
anggota yang kurang, langkah Shilla terhenti. Ia berbalik, dan mengerutkan
kening melihat Ify masih membatu. Dan makin mengerutkan kening melihat raut
kesal Ify. Ada apa dengan gadis itu?
"Fy!
Cepetan!" tegur Shilla membuat Ify mengerjap dan tersadar.
Ify
merapatkan bibir sejenak, sedikit tak suka gadis itu yang menyadari ketidak
hadirannya. Kenapa bukan Gabriel saja? Bahkan juga, sekarang saja Rio yang
selalu memuja Ify malah sibuk mengucapkan sesuatu pada Keke. Dengan lembut!
Apa-apaan sih Rio itu?! Mau membuat Ify geram!?
Eh?
Ify
terkesiap sendiri. Menyadari dasar kekesalannya sedari tadi. Wait wait wait.
Ada apa nih dengan otaknya? Kenapa mendadak jadi tak suka dengan perlakuan Rio
pada gadis lain? Loh?
"Ify.
Lo masih mau berdiri di situ doang?" tegur Shilla lagi, kini dengan nada
malas.
Gabriel dan
Rio memilih menghentikan langkah, ikut memandangi gadis cantik berwajah tirus
itu namun tak mengeluarkan kata.
Ify
mendesah, tapi lalu menurut dan berjalan mendekat. Walau dalam hati masih
bertanya-tanya tak mengerti, apa yang terjadi pada otaknya kini, yang
membuatnya benar-benar merasa geram pada Rio dan Keke.
Sabtu, 06 April 2013
Bintang Super Mario Part 10 [LAST PART]
It's The
LAST PART of "Bintang Super Mario"
Part 10: It's the begin
Ify
melangkah terseok-seok ditarik -paksa- Rio menuju taman sekolah. Istirahat
kedua ini Gabriel bermain basket bersama teman-temannya. Rio tak mau kehilangan
kesempatan. Karena sejujurnya ia sudah muak dengan keberadaan 'Bintang' itu.
Mengganggunya saja. Oke, Ify memang yang mengajaknya bersama. Tapi pemuda satu
itu bisa tahu diri sedikit, kan? Ia malah mengatakan Rio saja yang pergi kalau
Rio tak suka dengan keberadaannya. Apa-apaan itu? Tak tahukah dia bahwa Ify
adalah milik Rio? Dari dulu, sekarang, sampai nanti.
"Yo,
mau kemana sih?" keluh Ify mencuatkan bibirnya.
Rio hanya
diam terus menarik gadis itu. Sampai di sebuah bangku taman panjang, ia
mendudukkan Ify di sana. Ify menurut. Rio duduk di samping gadis itu, dengan
jarak dekat. Lengan kanannya disandarkan di atas kepala kursi, seakan mengurung
Ify membuat Ify menarik diri dengan kening berkerut.
"Apa
perasaanmu ke Gabriel?"
Pertanyaan
itu seperti tembakan tanpa aba-aba. Namun menancap tepat sasaran. Membuat Ify
tak siap dan membelalakkan mata dengan mulut sedikit terbuka. Sementara Rio
menatapnya lurus.
"Aku
tahu kalian nggak pacaran. Tapi selama ini yang ku liat kamu sering senyum ke
arah dia. Kamu suka dia?" tanya Rio dengan nada tegas, membuat hati Ify
seperti ditusuk-tusuk mesin jahit.
Ify meneguk
ludah. Entah mengapa pipinya memanas. Teringat lagi awal ia melihat Gabriel.
Awal ketetarikannya pada pemuda itu. Gabriel yang terlihat bersinar di matanya.
Gabriel yang membuat aliran darahnya melaju. Gabriel yang bersikap manis.
Gabriel yang menyatakan perasaannya. Ify ingin sekali menceritakan semua pada
Rio. Karena dulu, apapun yang terjadi ia selalu menceritakan pada Rio. Tapi
untuk masalah ini, apa juga harus begitu?
"Fy.
Jawab."
Ify
menggigit bibir. Ia menunduk, dan dengan agak malu-malu menjawab. "Eum...
sebenarnya dari kelas satu aku naksir dia."
Garis wajah
Rio mengendor.
"Dan
saat kenal dia, ternyata dia anak yang nyenengin. Bisa memperlakukan cewek
dengan baik dan manis."
Tatapan Rio
mulai menajam.
"Tanpa
diduga, ternyata dia juga sering merhatiin aku diam-diam. Dan... dia nembak
aku."
Kini wajah
Rio makin mengeras.
"Akunya
belum jawab sih. Tapi dia mau nunggu."
Tangan Rio
makin mengepal. Apalagi melihat pipi Ify mulai terlihat merona merah.
"Tolak."
Ify sontak
mendongak, "ha?"
"Tolak
dia," ulang Rio tegas, "kamu nggak boleh suka sama dia."
Ify
merenggut, "kok-"
"Aku
dulu pernah bilang, kan? Selama aku pergi kamu nggak usah main sama cowok lain.
Boleh berteman dengan cewek tapi mereka nggak boleh gantiin posisi aku."
"Aku
nggak janji. Kamu aja yang maksa," kata Ify membela diri.
Rio
mendecak, seakan bentuk omelan bahwa Ify belum boleh menyela. Ify menipiskan
bibir, mengerti.
"Kamu
tahu? Selama ini aku tuh hampir gila karena nunggu kamu! Aku bahkan nggak
pernah nerima cewek manapun yang deketin aku! Karena aku selalu mikirin
kamu."
Ify kini
terdiam.
"Kamu,
nggak boleh sama cowok lain selain sama aku. Boleh berteman tapi nggak lebih
dari itu. Kayak kamu ke Gabriel," kata Rio sungguh-sunguh sambil menatap
Ify dalam, "kamu hanya boleh sama aku. Bukan yang lain."
Setelah
mengucap kalimat itu, Rio beranjak. Berjalan menjauh meninggalkan Ify yang
terbengong. Mulut gadis itu terbuka dengan wajah terpaku. Matanya
mengerjap-ngerjap sesaat. Sebelum kesadarannya kembali datang. Ia meraba
dadanya. Ada yang bergetar dahsyat di sana. Rasanya menyenangkan. Tapi entah
mengapa sedikit sesak. Karena ternyata benar.
Ia berada
di antara dua sahabat kecilnya sendiri.
^^^
Rio dan Ozy
saling pandang. Mereka menghela nafas berbarengan, seakan memberi kode.
Keduanya lalu mendekat ke sofa ruang tengah Ozy, dan dengan kompak melemparkan
tubuh di sana. Duduk mengapit Adit, yang baru saja menyeruput kopi susunya
untuk menemani menonton tivi sore ini.
Adit
mengangkat wajah, menoleh kanan dan kiri bergantian. Keningnya berkerut, agak
curiga.
"Om
utang penjelasan ke kita," tegas Ozy dengan wajah serius.
"Iya.
Kemarin Om seharian nggak ada di rumah. Entah kemana. Dan sekarang, kita tunggu
cerita Om," kata Rio juga serius.
"Apa
sih maksud kalian?" tanya Adit tak mengerti. Ia meniup kopinya lagi, lalu
mengisapnya.
Ozy
menghela nafas. "Siapa itu Alya Maharani?"
"Uhuk
uhuk."
Rio dan Ozy
segera menghindar. Adit sudah sibuk membersihkan air panas di sekitar bibir dan
yang tertumpahan di kaos birunya. Lidahnya juga dikeluarkan karena kepanasan.
Rio dan Ozy saling pandang lagi. Makin penasaran karena mendapat reaksi seperti
itu.
"He!
Itu guru kalian. Yang sopan," tegur Adit setelah berhasil menguasai diri
atas keterkejutannya.
"Yang
kita tanya itu siapa Alya Maharani, bukan Miss Alya guru bahasa Inggris SMA
Pelita," kata Rio tegas. Ozy mengangguk di sampingnya.
Adit
terdiam. Ia menaruh cangkirnya di meja depan sofa. Tapi tak menjawab. Tepatnya
sibuk berpikir harus menjawab apa.
"Kenapa
Om bohong sama dia?" tanya Ozy mengingatkan kejadian kemarin. "Em...
apa Om ngerasa nggak enak sama cowok pembawa bunga itu?"
"Pacarnya
Zy," kata Rio membenarkan. Karena kesannya 'cowok pembawa bunga' seperti
tukang bunga yang mengantarkan ke Alya. Bukannya yang memang memberikan spesial
pada Alya.
"Itu
maksud gue," kata Ozy menurut, "Om dulu pernah kenal dia? Teman
SMA?"
Adit
menghela nafas, lalu mengangguk. "Kita ketemu di saat MOS. Berawal dari
kesalahan yang sama, kita dihukum. Dan sejak itu saling kenal," Adit mulai
bercerita, sambil mengenang masa itu. "Dia anak yang ceria. Pintar membawa
diri. Jadi Om gampang akrab sama dia."
"Em...
Om dekat sama dia?" tanya Rio perlahan. Adit mengangguk.
"Teman?"
pancing Ozy sedikit memicingkan mata. "Atau... lebih?"
Adit
tertawa kecil, "sampai semester dua kelas satu, teman."
"Oh..."
Rio dan Ozy manggut-manggut bersamaan. Tapi saat benar-benar mencerna kalimat
itu...
"JADI
BENER MANTANNYA OM ADIT?!?!"
Adit
sedikit terlonjak mendapat reaksi histeris tersebut. Tapi lalu ia tertawa lagi.
Seakan ia merasa fine saja dengan pembicaraan ini. Tanpa ada yang tahu,
sebenarnya hatinya merasa miris.
"Kan
Zy! Gue bilang juga apa? Dia itu pasti firsth lovenya Om Adit!" kata Rio
dengan wajah bangga karena tebakannya benar.
"Astaga!
Jadi selama ini gue ngefans sama mantan om gue sendiri?!" tanya Ozy
melotot tak percaya, lalu geleng-geleng kepala. "Terus terus Om?
Pacarannya sampai kapan? Putusnya gimana?" tanya Ozy antusias, begitu pula
dengan Rio.
Adit
menarik nafas dalam, lalu menghembuskannya sambil bersandar di kepala sofa.
"Kita langgeng kok. Sampai kelulusan bahkan," ceritanya dengan nada
santai, berbanding terbalik dengan Rio dan Ozy yang memasang wajah 'nggak
nyantai'. "Tapi Om harus ke Australi, dapat beasiswa di sana. Ninggalin
dia."
Rio dan Ozy
masih diam mendengarkan. Walau mereka dapat merasakan aura kesedihan mulai
meraja. Adit masih memasang wajah tenang dengan senyum tipis. Sebenarnya
hatinya terbelah. Menyesal dan sesak. Andai saja bisa diputar waktu, ia tak akan
pergi. Karena saat kembali, wanita itu sudah ada pemiliknya.
"Kita
sempat LDR. Tapi sampai akhirnya dia nggak sanggup, dan akhirnya... kita
putus."
Ekspresi
Rio dan Ozy menunjukkan rasa iba. Adit tersenyum samar melihat itu. Antara
senyum miris dan pedih.
"Kita
putus koneksi bertahun-tahun. Sepuluh tahun lebih. Om nggak pernah tahu dia
dimana saat Om kembali ke Indonesia. Walau pernah coba nyari, tapi nggak pernah
dapat. Sampai kemarin. Karena kalian, kita ketemu lagi."
Rio dan Ozy
masih diam mendengarkan. Adit mendesah.
"Om
nggak tahu harus berterima kasih atau malah nyesal. Om pengen marah aja. Sama
diri sendiri. Karena begitu bodohnya bertahun-tahun Om masih nyimpan rasa sama
orang yang sudah ngelupain Om dan punya penggantin lain." Wajah tenang itu
perlahan sendu. Ia terdiam sendiri. Merasakan luka yang kembali menganga itu.
Kembali lagi terngiang kala Rohan menyodorkan bunga dengan senyuman lembut.
Alya yang menerimanya dengan nada manis. Dan pengakuan Alya bahwa Rohan adalah
calon suaminya. Sesal itu makin terasa. Andai saja ia tak pergi. Mungkin
kemarin yang datang menyodorkan lili putih adalah dia, bukan Rohan.
"Om,"
Rio menepuk pundak Adit, membuat Adit tersadar dan menoleh. Wajah Rio
benar-benar serius. "Sebelum janur kuning melengkung, Om harus tetap
berusaha!"
"Ya!
Bener banget. Lagian juga aku yakin, Miss Alya sebenarnya masih cinta sama Om.
Cuma... gara-gara Dinda kemarin tuh," kata Ozy ikutan, "mungkin dia
juga ngerasain hal yang sama."
Adit
tersenyum tipis.
"Ayo
Om! Om harus usaha! Kita dukung!" kata Ozy memberi semangat sambil
mengacungkan kepalan tangan.
"Loh,
bukannya kamu suka sama dia?" goda Adit membuat Ozy nyengir.
"Ngefans
kok Om. Ozy sekarang udah punya pacar," sahut Rio bermaksud menenangkan.
"Amin,"
seru Ozy segera. Adit tertawa.
Setelah
tawanya reda, Adit bertanya dengan agak lirih. "Gimana caranya bisa buat
dia kembali?"
Rio dan Ozy
saling pandang. Agak merasa bodoh karena belum memikirkan tentang ini.
Tiba-tiba
hape di saku celana Rio bergetar, membuat Rio segera merogohnya. Ada pesan
masuk. Dari Ify. Rio membacanya sambil mengangkat alis. Ia diam sejenak,
membaca sms itu sekali lagi. Dan bohlam di atas kepala itu menyala, membuat
wajahnya merekah bahagia. Ia menoleh pada Adit, dan tersenyum lebar. Membuat
Adit mengernyit tak mengerti.
^^^
Gabriel
menatap langit malam setengah menerawang. Bayang wajah imut seorang gadis kecil
dengan rambut sepundak terngiang di sana. Sedang tertawa riang terbang di atas
ayunan yang terayun tinggi. Ia menyebutkan nama Bintang berkali-kali dengan bahagia.
Membuat Gabriel ingin sekali menculiknya, dan mengurungnya dalam rumah tak mau
diberikan pada orang lain.
Ya. Itu
memang egois. Tapi bukankah cinta bisa membuat kita tak memedulikan hal lain?
Termasuk perasaan orang lain yang juga menginginkan gadis itu.
Gabriel
menghela nafas. Jujur, ia juga tak mau membebani pikiran Ify. Ia tak ingin
gadis itu tertekan karena tak tahu harus memilih siapa. Tapi harus bagaimana
lagi? Ify adalah bintang baginya. Gadis itu yang memberikan sinar dalam ruang
gelap Gabriel selama ini. Gabriel membutuhkannya, bukan semata menginginkannya.
Gabriel
menghela nafas. Diraihnya hape dalam saku celana. Ia mengetikkan pesan beberapa
saat. Dirinya diam sejenak, tapi kemudian menambahkan emoticon di akhir pesan.
Lalu dikirimkan pada Ify. Pemuda tak berkata lagi. Hanya berbalik masuk menuju
kamar dan ingin segera terlelap menenangkan diri.
^^^
"Bukannya
dari dulu lo sukanya sama Gabriel?" tanya Acha sambil bersandar di kepala
ranjang Ify.
Ify yang
baru saja selesai mengirimkan sms pada Rio, menoleh. Ia mengangguk, dan lalu
ikut duduk di atas ranjang, samping Acha. "Tapi biar gimanapun... dulu
waktu kecil gue pengen nikah sama Rio."
Acha
tergelak mendengar itu.
Ify
menghembuskan nafas, membuat kedua pipinya mengembung. "Dulu gue janji
sama dia, kalau dewasa nanti gue maunya nikah sama dia. Dan dia juga bilang dia
bakal jadi pengantin pria gue," cerita Ify jujur.
Acha makin
tertawa geli. "Fy, please deh. Itukan waktu lo masih kecil. Sekarang usia
lo udah mau 17 tahun. Itu udah berapa tahun yang lalu Alyssa?"
Ify
terdiam. Ia mengambil guling dan memeluknya. Tapi tak menyahut.
"Dari
kelas satu lo naksir Gabriel, Fy. Dan Gabriel udah balas perasaan itu. Kalian
saling suka. Lalu apalagi?" kata Acha meyakinkan.
"Tapi...
dari dulu gue nggak bisa gantiin Rio, Cha," kata Ify lirih dan memelas.
"Diakan... first love gue..." ucapnya memelankan suara.
Acha
geleng-geleng, "Fy, lo tuh korban sinetron banget sih. Sahabat kecil yang
jadi cinta pertama, belum tentu saat dewasa jadi cinta lo juga. Kalau di film
atau sinetron mungkin, tapi inikan realita. Elo percaya amat sih," kata
Acha setengah mengejek.
Ify terdiam
lagi. Ia mengalihkan pandangan. Dan matanya jatuh pada boneka Super Mario besar
yang tergeletak di atas meja belajarnya. Boneka yang diberikan Rio dulu saat
mereka berpisah. "Tapi gue bener nggak bisa milih, Cha. Rio itu udah kayak
hidup gue. Tapi di sisi lain, gue juga udah 'klik' di Gabriel," kata Ify
bingung dengan nada frustasi.
Acha
menghela nafas. "Kalau menurut gue sih ya. Mending lo milih Gabriel, dan
biarkan Rio tetap jadi sahabat lo. Lagian, Riokan belum bener-bener ngaku
perasaannya ke elo. Lagian lo lebih cocok sama Gabriel."
Ify
mengigit bibir, namun tak menjawab. Ditatapnya lagi boneka Super Mario itu. Ia
kemudian menghela nafas. Walau perlahan mulai didoktrin ucapan Acha.
Tapi
tiba-tiba hapenya bergetar, membuat gadis itu agak tersentak. Ia segera membuka
pesan masuk yang datang, dan mengangkat alis. Balasan dari Rio tadi.
From: Rio
aku bakal
bantu kamu! tenang aja ^^
Eh betewe,
udah malam noh. super mario tidur dulu sono, tapi bintangnya tetep bakal
nyinarin kok ;)
main ke
mimpiku yuk. nanti aku ajakin main ayunan lagi. Hahaha.
sleep well
supermarioku ({})
Tanpa bisa
dicegah, Ify tersenyum kecil membaca itu. Membuat Acha mendelik ingin tahu dan
mengintip sedikit. Namun sadar akan hal itu, Ify segera mendekap hape
menjauhkan dari Acha. Acha mencibir. Sementara Ify hanya memeletkan lidah.
Hapenya
bergetar lagi. Membuat Ify agak tersentak dan membuka kembali pesan masuk.
Perlahan, wajah gadis itu menjadi tertegun kala membacanya.
From: Gabriel
Bintang
malam ini bersinar cerah, seakan ingin menenangkan hati yang mulai gundah.
Aku ingin
kamu selalu jadi bintang yang menyinariku, walaupun kini ku tahu mulai ada
sosok lain yang menginginkan cahaya itu.
Jangan
gundah ataupun resah. Itu hakmu untuk memilih.
Tidurlah,
semoga mimpi akan menuntunmu menemukan pilihan yang terbaik. Dan ku harap saat
terbangun, sinarmu akan datang padaku.
Sweet dream
:*
Pipi Ify
langsung bersemu. Didekapnya hape dalam dada, mencoba menikmati benar-benar
debaran menyenangkan yang ada di sana. Ah. Bagaimana ini? Walau berbeda, tapi
kedua pesan itu membuat ia melayang bahagia. Dan membuat gadis itu menyadari.
Ia
benar-benar tak bisa memilih.
^^^
Alya
merenggangkan otot-ototnya. Dikuceknya mata sekali lagi. Kemudian mengemasi
kertas-kertas hasil ulangan anak didiknya. Setelah itu, wanita muda tersebut
tak langsung menuju tempat tidur. Tapi malah menghidupkan komputer. Ia membuka
ms.word dan mulai mengetik. Mata ngantuknya langsung melebar kembali. Seakan ia
baru saja bangun dari tidur. Ototnya bugar lagi. Dan dengan tenang jemarinya
mengetik dengan cepat dan lihai.
Dulu saat remaja
aku selalu percaya bahwa kisah dalam novel akan ku temui dalam hidup nyata.
Dulu aku juga sering berharap semoga ceritaku seperti dalam novel yang pernah
ku baca.
Tapi kala aku
dewasa, waktu membuatku mengerti. Novel dituliskan dan direncanakan oleh
manusia. Mudah ditebak. Tak seperti realita yang berbelit-belit, rumit, dan tak
pernah diduga akhirnya.
Seperti ini.
Tiba-tiba ia datang lagi. Tanpa tanda, tanpa firasat, tanpa bayangan. Mendadak
pertemuan itu singgah. Sepasang bola mata yang tak pernah ku lupa seakan
menancapku kuat. Membuatku terpaku tak bisa bicara.
Lalu juga mereka.
Para bintang. Akhirnya langit menyatukan mereka lagi. Walau aku dapat
merasakan, dewasa membuat hubungan mereka mulai berbeda seperti masa kecil.
Dulu mereka bersahabat, ya walau sering bertengkar. Tapi kini? Aku dapat
merasakan ada suasana menegangkan yang tak kentara. Ada aura persaingan yang
tak diumbar. Mereka memperebutkan hati princess itu. Aku mengerti. Dewasa
membuat mereka tahu jatuh cinta dan bagaimana cara mendapatkan cinta.
Lalu bagaimana
kelanjutan kisah ini? Apalagi yang akan dituliskan langit? Lalu juga bagaimana
akhir kisahku sendiri? Akankah memang hanya berujung kecewa dan penyesalan?
Ini kisah langit.
Tak pernah tahu bermuara kemana. Yang aku tahu kisah ini pasti akan selalu
mengalir. Membuat kita hanyut tanpa bisa menerka keberadaan sebenarnya.
Namun aku, para
bintang, dan dia, akan terus mendayung agar sampai di ujung muara. Agar kami
tahu pasti harus bagaimana. Tanpa meragu lagi seperti ini.
Namun... harus
memilih jalan yang mana agar sampai di ujung sana?
THE END
BUT WAIITTT!!!
It's not the end.
But it's the beginning! Keep read 'ocehan penulis'
Label:
Cerbung Rify,
CerbungIC FFIC,
FFIC,
Fyel,
Gabriel,
Ify,
Rio
Langganan:
Postingan (Atom)