Sabtu, 29 Juni 2013

MARIO's Part 5


Keke menggandeng lengan Shilla, dengan tangan kiri yang memegang senter menyala terang. Shilla sendiri melangkah di samping Gabriel yang berada di depan dengan tenang. Ify melangkah di belakang sembari menggerutu, karena pemuda yang melangkah di sampingnya ini daritadi tak pernah bisa diam.
"Jadi Fy, kalau di film-film ya, kalau kita ketemu tiga kali secara nggak sengaja selama berturut-turut, itu berarti jodoh!" kata Rio masih berargumen. "Pertama, elo sekelas sama gue. Kedua, elo duduk depan gue. Ketiga, kita satu kelompok! Nah. Kesimpulannya adalah..."
"Gue dapat kesialan bertubi-tubi," sela Ify menuntaskan kalimat Rio.
Rio menipiskan bibir, tapi lalu kembali nyengir lebar khasnya. "Terkadang Fy, ada berkah di balik kesialan," kata Rio masih saja berusaha.
Ify melengos kasar, lalu memilih mengalihkan pembicaraan saja. "Yel, ini kemana nih? Kita udah masuk lebih dalam loh!" tanya Ify yang memang sudah berada di tengah hutan.
"Kita harus cari pohon paling besar," jawab Gabriel membaca kertas yang ia pegang. Ia lalu kembali mendongak, menyenterkan ke segala arah.
"Pohon paling besar yang gimana? Paling tinggi atau paling rindang atau gimana?" tanya Shilla meminta penjelasan.
"Gue juga nggak tahu. Yang jelas di sini di suruh cari pohon besar," jawab Gabriel terus mencari.
KRESEK
"KYAAA," jerit Ify spontan, membuat semua terkejut.
"Apa Fy? Apaan?" tanya Rio cemas.
"Itu! Itu tadi ada apaan gerak-gerak," kata Ify dengan wajah pucat dan panik.
"Apaan sih?" tanya Shilla sembari menyenterkan ke arah sekitar kaki Ify. Terlihat, seekor hewan berbulu abu-abu gelap terlihat dengan sepasang mata hitamnya. "Yaelah. Kucing," kata Shilla santai.
"Tenang Fy, itu anaknya Shilla. Shillakan macan," kata Rio setengah mengejek, yang langsung dapat injakan kaki keras dari Shilla, membuatnya segera mengaduh.
"Udahlah. Ayo kita cari lagi," kata Gabriel kembali memimpin.
"Shil," bisik Keke sembari mencolek pinggang Shilla membuat Shilla menoleh. "Itu... apaan?" tanya Keke takut-takut sembari menyenterkan ke arah yang di maksud.
Shilla mengerutkan kening, ikut menyenter ke arah yang Keke tuju. Gabriel, Ify, serta Rio merasa tertarik dan juga memandangi ke arah yang sama. Terlihat, seperti sebuah guling dengan kain putih membungkusnya, dan terlihat seperti....
"POCOOONNNGGG!!!" teriak Shilla spontan. Keke dan Ify ikut memekik, membuat Gabriel dan Rio terkejut setengah mati.
"Gabriel!!!" jerit Ify memegang lengan Gabriel dan berlindung di dada pemuda itu.
Shilla juga tanpa sadar memegang lengan Gabriel yang satu lagi dengan erat. Kalau masalah begini, ia juga tak berani. Sedangkan Keke yang sedari tadi menggandeng lengan Shilla, memeluk gadis itu ketakutan.
Rio tenganga di tempat. Heh heh heh! Apa-apaan ini? Kenapa ia seperti pemuda tak di anggap? Kenapa tiga gadis itu malah berlindung pada Gabriel? He?! Apa-apaan ini!? Lalu dia di anggap apa?! Pajangan saja?! Atau parahnya, ia hanya pecundang yang tak bisa melindungi?
"Ssstt... Itu tuh cuma boongan doang," kata Gabriel menenangkan sembari mengarahkan senter ke arah benda tadi. "Pasti ini kerjaannya panitia. Bukan beneran."
Shilla membuka mata perlahan, lalu melebarkan mata memerhatikan benda itu lebih jeli. Keke juga sedikit mengintip walau masih takut.
"Eh, iya ding boongan," kata Shilla lega sembari meringis. Ify ikut menghela nafas lega. Tapi kedua gadis itu lalu sama-sama tersadar dan memandang ke arah tangan mereka yang masih memeluk lengan Gabriel. Gabriel sendiri menatap keduanya bergantian.
"Eh sorry," ucap Shilla lalu segera melepaskan genggamannya. "Gu... gue... em... gue tadi panik!" kata Shilla menjelaskan dengan wajah memerah.
Gabriel tersenyum tipis, "nggak papa kok."
Ify menggigit bibir bawah, sedikit menahan sebal karena ternyata gadis itu juga menggenggam lengan Gabriel. Tapi Ify masih belum juga melepaskan pegangannya.
"Ehem!" Rio berdehem keras, sambil melepaskan paksa tangan Ify di lengan Gabriel, lalu berdiri di antara dua orang itu. "Ayo lanjut lagi! Nanti kita malah tertinggal jauh sama yang lain," kata Rio ketus sambil memicingkan mata ke arah Gabriel. Sementara Ify di sebelahnya mendumel dalam hati karena gangguan pemuda itu.
Gabriel hanya mendesah tak kentara, tapi lalu kembali melanjutkan langkah di ikuti yang lain.
"Kalau takut, nih. Lebih kokoh!" kata Rio menepuk-nepuk lengannya sendiri pada Ify. Ify mendelik, lalu mencibir saja.
Rio lalu tanpa sengaja menoleh ke arah Keke yang berada di pojok kiri. Wajah gadis itu nampak pucat dengan keringat bercucuran di keningnya. Rio sedikit mengernyitkan kening, merasakan sesuatu yang menjanggal ketika melihat wajah bulat itu pucat pasih seperti ini.
"Ke," panggil Rio membuat Keke menoleh. "Lo nggak papa? Muka lo pucet," ucap Rio peduli.
Keke mengangkat alis sejenak, tapi lalu tersenyum kikuk. "Nggak papa," jawabnya singkat. Tapi nadanya gemetar, membuat Rio malah berpikir ada apa-apa.
"Ke, serius deh. Muka lo tuh pucet," ucap Rio khawatir sembari melangkah ke arah gadis itu, membuat tiga orang lain sedikit bingung. Karena tumben sajalah seorang Rio memedulikan orang lain. Apalagi di sekolah, tak ada satupun orang yang tahu tentang hubungan antara Rio dan Keke. Alvin saja hanya tahu sedikit.
"Aku tadi cuma takut Yo," jawab Keke menenangkan, walau tak bisa menahan ada yang melayang dalam hatinya karena untuk pertama, pemuda itu memberikan perhatian di depan orang lain.
Rio menatap Keke lekat, berusaha mencari kepastian dari jawaban itu. "Shil, lo bawa air minum?" tanya Rio tanpa mengalihkan pandangan. Memang, yang membawa perlengkapan adalah Shilla. Walau itu hanya P3K.
"Nggak. Kan nggak boleh," jawab Shilla juga mulai merasa khawatir dengan wajah menunduk Keke yang semakin pucat.
Rio membungkukkan badan, memandang Keke. Ia menepuk pundak gadis itu, membuat Keke mendongak perlahan, walau diam-diam menahan laju detak jantungnya yang kencang.
"Ke... lo tadi belum makan ya? Magh lo kambuh?" tanya Rio lembut, membuat lagi-lagi ketiga orang anggotanya itu terkejut tak percaya.
Nanti dulu nanti dulu. Ada apa ini? Kenapa mendadak seorang Mario Stevano jadi lembut nan perhatian seperti ini? Dan... kenapa Rio bisa tahu Keke punya magh? Bukankah saat kelas satu dulu mereka tak sekelas? Lalu di kelas mereka juga tidak akrab. Bahkan Rio hanya menegur Keke kalau-kalau meminjam PR ataupun perlengkapan menulis.
"Nggak Yo. Aku cuma...."
"Ck! Elo tuh kenapa sih nggak pernah mau jujur sama gue?" potong Rio sebelum kalimat Keke usai. Rio menghela nafas keras memandang teman dari kecilnya itu. "Elo tuh emang. Hati sama omongan di depan gue selalu beda. Seneng banget sih nyembunyiin gitu," omel Rio sebal, mengingat memang selama ini Keke selalu berkilah kalau Rio mencemaskannya. Ya seperti tentang magh yang di derita Keke.
Dalam hati Keke nelangsa. Seperti tersindir tajam. Bukan hanya karena masalah magh saja. Ada hal lain, yang selalu ia sembunyikan dari Rio. Namun mungkin pemuda itu masih saja tak peka, bahwa sebenarnya sebuah rasa telah Keke berikan selama ini.  Rasa yang terus saja bersembunyi di balik status 'teman kecil'.
Rio menghela nafas kembali, lalu membalikkan tubuh membelakangi Keke. Lutut pemuda itu sedikit di tekuk, dan menoleh ke belakang sembari menepuk-nepuk pundaknya.
"Naik gih. Nggak tega gue kalau nanti elo pingsan beneran kayak dulu."
Kayak dulu? Maksudnya? Pertanyaan yang sama menyantol di benak Gabriel, Shilla, dan juga Ify.
Keke tertegun sesaat. Ia sedikit melirik ke arah tiga teman kelompoknya itu, lalu menunduk tapi menurut saja. Karena mungkin sudah jadi kebiasan sedari mereka SD. Kalau menolak permintaan Rio yang satu ini, Rio selalu saja ngambek, dengan berkata "ya sudah kalau elo nggak mau denger omongan gue! Nanti pingsan nggak gue tolong ya!". Kalimat itu sering kali Keke dapat sejak mereka kelas enam SD, di mana magh Keke sering kali kambuh dan pertahanan gadis itu sering pula melemah.
Keke merengkuh leher Rio lembut, Rio mengambil lututnya, lalu berdiri dan sudah menggendong Keke di belakang. Tak peduli pada tatapan tak mengerti namun juga heran dari tiga orang lain.
"Yaelah, Tante Gina ngasih lo makan apa sih? Enteng banget," ejek Rio tertawa geli. Keke hanya mendecak dan merenggut.
Gabriel tersentak. Mendengar nama itu. Gina. Dan Rio menyebutnya Tante Gina. Hanya dengan sekilat detik, sebuah ingatan langsung datang dalam otak Gabriel. Dan membuatnya langsung mengerti, bahkan tanpa sadar pemuda itu mengucap huruf O tanpa suara. Ia lalu memandangi Keke yang kini dengan sedikit canggung menaruh dagunya di bahu kanan Rio. Gabriel sudah bisa menduga, ada rona merah di kedua pipi bulat gadis itu. Oh, ternyata gadis ini toh, batin Gabriel dalam hati.
Rio menggerakkan kepala pada para anggota kelompoknya yang lain, dan memasang ekspresi seakan-akan tak ada hal aneh yang terjadi. Walau ia tahu pasti mereka heran dan kaget dengan perlakuan Rio terhadap Keke.
"He! Ngapain lo semua bengong? Ayo jalan," kata Rio memimpin, lalu mulai melangkah di ikuti yang lain.
Shilla seakan tersadar, lalu segera mengekor di ikuti Gabriel. Sementara Ify masih terdiam dan setengah tenganga di tempat melihat adegan barusan. Rio yang mendadak jadi perhatian pada seorang gadis -yang menurut Ify sangat culun karena selalu saja diam tanpa di tegur dulu-, Rio dan Keke yang sepertinya punya sesuatu di masa lalu, Rio yang menawarkan diri menggendong Keke dan langsung di turuti Keke tanpa bantahan. Tidakkah... kejadian ini terlalu aneh? Dan juga.... raut cemas nan khawatir Rio tadi ituloh. Ify bahkan tak pernah mendapatkan ekspresi seperti itu. Ify, yang sejak dari dulu sudah jadi rahasia umum di kejar-kejar oleh Rio, tak pernah di perlakukan Rio semanis itu! Dan Rio malah bersikap lembut pada gadis berpipi bulat yang cupu abis itu? Yang sangat jauh levelnya dengan Ify! Pemuda itu kesurupan hantu hutan ini atau gimana sih?
Merasa ada anggota yang kurang, langkah Shilla terhenti. Ia berbalik, dan mengerutkan kening melihat Ify masih membatu. Dan makin mengerutkan kening melihat raut kesal Ify. Ada apa dengan gadis itu?
"Fy! Cepetan!" tegur Shilla membuat Ify mengerjap dan tersadar.
Ify merapatkan bibir sejenak, sedikit tak suka gadis itu yang menyadari ketidak hadirannya. Kenapa bukan Gabriel saja? Bahkan juga, sekarang saja Rio yang selalu memuja Ify malah sibuk mengucapkan sesuatu pada Keke. Dengan lembut! Apa-apaan sih Rio itu?! Mau membuat Ify geram!?
Eh?
Ify terkesiap sendiri. Menyadari dasar kekesalannya sedari tadi. Wait wait wait. Ada apa nih dengan otaknya? Kenapa mendadak jadi tak suka dengan perlakuan Rio pada gadis lain? Loh?
"Ify. Lo masih mau berdiri di situ doang?" tegur Shilla lagi, kini dengan nada malas.
Gabriel dan Rio memilih menghentikan langkah, ikut memandangi gadis cantik berwajah tirus itu namun tak mengeluarkan kata.
Ify mendesah, tapi lalu menurut dan berjalan mendekat. Walau dalam hati masih bertanya-tanya tak mengerti, apa yang terjadi pada otaknya kini, yang membuatnya benar-benar merasa geram pada Rio dan Keke.





6 komentar:

  1. kereeeenn.
    RiFy'nya diperbanyak dong.
    adegannya jangan Gabriel terus :D
    #sorry maksa
    lanjuuutt. ngaretnya jangan lama lama teman ;)
    banyak yang menunggu kelanjutan cerita ini.

    BalasHapus
  2. Gamau tau ah. Ini harus shiel :3 rify jg ding. Etapi rike(?) jg gpp kak. Setuju. Eh tapi bagusan Rify ding-__-V lanjut! Jgn lama! Cerpen badai nya juga! Dobel ah cerpennya. Gamau tauuu

    BalasHapus
    Balasan
    1. rike? OKe -_-
      aku maunya aliel aja boleh gak? :3
      iye badai nanti -_-

      Hapus