Tampilkan postingan dengan label Ify. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ify. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 29 Juni 2013

MARIO's Part 5


Keke menggandeng lengan Shilla, dengan tangan kiri yang memegang senter menyala terang. Shilla sendiri melangkah di samping Gabriel yang berada di depan dengan tenang. Ify melangkah di belakang sembari menggerutu, karena pemuda yang melangkah di sampingnya ini daritadi tak pernah bisa diam.
"Jadi Fy, kalau di film-film ya, kalau kita ketemu tiga kali secara nggak sengaja selama berturut-turut, itu berarti jodoh!" kata Rio masih berargumen. "Pertama, elo sekelas sama gue. Kedua, elo duduk depan gue. Ketiga, kita satu kelompok! Nah. Kesimpulannya adalah..."
"Gue dapat kesialan bertubi-tubi," sela Ify menuntaskan kalimat Rio.
Rio menipiskan bibir, tapi lalu kembali nyengir lebar khasnya. "Terkadang Fy, ada berkah di balik kesialan," kata Rio masih saja berusaha.
Ify melengos kasar, lalu memilih mengalihkan pembicaraan saja. "Yel, ini kemana nih? Kita udah masuk lebih dalam loh!" tanya Ify yang memang sudah berada di tengah hutan.
"Kita harus cari pohon paling besar," jawab Gabriel membaca kertas yang ia pegang. Ia lalu kembali mendongak, menyenterkan ke segala arah.
"Pohon paling besar yang gimana? Paling tinggi atau paling rindang atau gimana?" tanya Shilla meminta penjelasan.
"Gue juga nggak tahu. Yang jelas di sini di suruh cari pohon besar," jawab Gabriel terus mencari.
KRESEK
"KYAAA," jerit Ify spontan, membuat semua terkejut.
"Apa Fy? Apaan?" tanya Rio cemas.
"Itu! Itu tadi ada apaan gerak-gerak," kata Ify dengan wajah pucat dan panik.
"Apaan sih?" tanya Shilla sembari menyenterkan ke arah sekitar kaki Ify. Terlihat, seekor hewan berbulu abu-abu gelap terlihat dengan sepasang mata hitamnya. "Yaelah. Kucing," kata Shilla santai.
"Tenang Fy, itu anaknya Shilla. Shillakan macan," kata Rio setengah mengejek, yang langsung dapat injakan kaki keras dari Shilla, membuatnya segera mengaduh.
"Udahlah. Ayo kita cari lagi," kata Gabriel kembali memimpin.
"Shil," bisik Keke sembari mencolek pinggang Shilla membuat Shilla menoleh. "Itu... apaan?" tanya Keke takut-takut sembari menyenterkan ke arah yang di maksud.
Shilla mengerutkan kening, ikut menyenter ke arah yang Keke tuju. Gabriel, Ify, serta Rio merasa tertarik dan juga memandangi ke arah yang sama. Terlihat, seperti sebuah guling dengan kain putih membungkusnya, dan terlihat seperti....
"POCOOONNNGGG!!!" teriak Shilla spontan. Keke dan Ify ikut memekik, membuat Gabriel dan Rio terkejut setengah mati.
"Gabriel!!!" jerit Ify memegang lengan Gabriel dan berlindung di dada pemuda itu.
Shilla juga tanpa sadar memegang lengan Gabriel yang satu lagi dengan erat. Kalau masalah begini, ia juga tak berani. Sedangkan Keke yang sedari tadi menggandeng lengan Shilla, memeluk gadis itu ketakutan.
Rio tenganga di tempat. Heh heh heh! Apa-apaan ini? Kenapa ia seperti pemuda tak di anggap? Kenapa tiga gadis itu malah berlindung pada Gabriel? He?! Apa-apaan ini!? Lalu dia di anggap apa?! Pajangan saja?! Atau parahnya, ia hanya pecundang yang tak bisa melindungi?
"Ssstt... Itu tuh cuma boongan doang," kata Gabriel menenangkan sembari mengarahkan senter ke arah benda tadi. "Pasti ini kerjaannya panitia. Bukan beneran."
Shilla membuka mata perlahan, lalu melebarkan mata memerhatikan benda itu lebih jeli. Keke juga sedikit mengintip walau masih takut.
"Eh, iya ding boongan," kata Shilla lega sembari meringis. Ify ikut menghela nafas lega. Tapi kedua gadis itu lalu sama-sama tersadar dan memandang ke arah tangan mereka yang masih memeluk lengan Gabriel. Gabriel sendiri menatap keduanya bergantian.
"Eh sorry," ucap Shilla lalu segera melepaskan genggamannya. "Gu... gue... em... gue tadi panik!" kata Shilla menjelaskan dengan wajah memerah.
Gabriel tersenyum tipis, "nggak papa kok."
Ify menggigit bibir bawah, sedikit menahan sebal karena ternyata gadis itu juga menggenggam lengan Gabriel. Tapi Ify masih belum juga melepaskan pegangannya.
"Ehem!" Rio berdehem keras, sambil melepaskan paksa tangan Ify di lengan Gabriel, lalu berdiri di antara dua orang itu. "Ayo lanjut lagi! Nanti kita malah tertinggal jauh sama yang lain," kata Rio ketus sambil memicingkan mata ke arah Gabriel. Sementara Ify di sebelahnya mendumel dalam hati karena gangguan pemuda itu.
Gabriel hanya mendesah tak kentara, tapi lalu kembali melanjutkan langkah di ikuti yang lain.
"Kalau takut, nih. Lebih kokoh!" kata Rio menepuk-nepuk lengannya sendiri pada Ify. Ify mendelik, lalu mencibir saja.
Rio lalu tanpa sengaja menoleh ke arah Keke yang berada di pojok kiri. Wajah gadis itu nampak pucat dengan keringat bercucuran di keningnya. Rio sedikit mengernyitkan kening, merasakan sesuatu yang menjanggal ketika melihat wajah bulat itu pucat pasih seperti ini.
"Ke," panggil Rio membuat Keke menoleh. "Lo nggak papa? Muka lo pucet," ucap Rio peduli.
Keke mengangkat alis sejenak, tapi lalu tersenyum kikuk. "Nggak papa," jawabnya singkat. Tapi nadanya gemetar, membuat Rio malah berpikir ada apa-apa.
"Ke, serius deh. Muka lo tuh pucet," ucap Rio khawatir sembari melangkah ke arah gadis itu, membuat tiga orang lain sedikit bingung. Karena tumben sajalah seorang Rio memedulikan orang lain. Apalagi di sekolah, tak ada satupun orang yang tahu tentang hubungan antara Rio dan Keke. Alvin saja hanya tahu sedikit.
"Aku tadi cuma takut Yo," jawab Keke menenangkan, walau tak bisa menahan ada yang melayang dalam hatinya karena untuk pertama, pemuda itu memberikan perhatian di depan orang lain.
Rio menatap Keke lekat, berusaha mencari kepastian dari jawaban itu. "Shil, lo bawa air minum?" tanya Rio tanpa mengalihkan pandangan. Memang, yang membawa perlengkapan adalah Shilla. Walau itu hanya P3K.
"Nggak. Kan nggak boleh," jawab Shilla juga mulai merasa khawatir dengan wajah menunduk Keke yang semakin pucat.
Rio membungkukkan badan, memandang Keke. Ia menepuk pundak gadis itu, membuat Keke mendongak perlahan, walau diam-diam menahan laju detak jantungnya yang kencang.
"Ke... lo tadi belum makan ya? Magh lo kambuh?" tanya Rio lembut, membuat lagi-lagi ketiga orang anggotanya itu terkejut tak percaya.
Nanti dulu nanti dulu. Ada apa ini? Kenapa mendadak seorang Mario Stevano jadi lembut nan perhatian seperti ini? Dan... kenapa Rio bisa tahu Keke punya magh? Bukankah saat kelas satu dulu mereka tak sekelas? Lalu di kelas mereka juga tidak akrab. Bahkan Rio hanya menegur Keke kalau-kalau meminjam PR ataupun perlengkapan menulis.
"Nggak Yo. Aku cuma...."
"Ck! Elo tuh kenapa sih nggak pernah mau jujur sama gue?" potong Rio sebelum kalimat Keke usai. Rio menghela nafas keras memandang teman dari kecilnya itu. "Elo tuh emang. Hati sama omongan di depan gue selalu beda. Seneng banget sih nyembunyiin gitu," omel Rio sebal, mengingat memang selama ini Keke selalu berkilah kalau Rio mencemaskannya. Ya seperti tentang magh yang di derita Keke.
Dalam hati Keke nelangsa. Seperti tersindir tajam. Bukan hanya karena masalah magh saja. Ada hal lain, yang selalu ia sembunyikan dari Rio. Namun mungkin pemuda itu masih saja tak peka, bahwa sebenarnya sebuah rasa telah Keke berikan selama ini.  Rasa yang terus saja bersembunyi di balik status 'teman kecil'.
Rio menghela nafas kembali, lalu membalikkan tubuh membelakangi Keke. Lutut pemuda itu sedikit di tekuk, dan menoleh ke belakang sembari menepuk-nepuk pundaknya.
"Naik gih. Nggak tega gue kalau nanti elo pingsan beneran kayak dulu."
Kayak dulu? Maksudnya? Pertanyaan yang sama menyantol di benak Gabriel, Shilla, dan juga Ify.
Keke tertegun sesaat. Ia sedikit melirik ke arah tiga teman kelompoknya itu, lalu menunduk tapi menurut saja. Karena mungkin sudah jadi kebiasan sedari mereka SD. Kalau menolak permintaan Rio yang satu ini, Rio selalu saja ngambek, dengan berkata "ya sudah kalau elo nggak mau denger omongan gue! Nanti pingsan nggak gue tolong ya!". Kalimat itu sering kali Keke dapat sejak mereka kelas enam SD, di mana magh Keke sering kali kambuh dan pertahanan gadis itu sering pula melemah.
Keke merengkuh leher Rio lembut, Rio mengambil lututnya, lalu berdiri dan sudah menggendong Keke di belakang. Tak peduli pada tatapan tak mengerti namun juga heran dari tiga orang lain.
"Yaelah, Tante Gina ngasih lo makan apa sih? Enteng banget," ejek Rio tertawa geli. Keke hanya mendecak dan merenggut.
Gabriel tersentak. Mendengar nama itu. Gina. Dan Rio menyebutnya Tante Gina. Hanya dengan sekilat detik, sebuah ingatan langsung datang dalam otak Gabriel. Dan membuatnya langsung mengerti, bahkan tanpa sadar pemuda itu mengucap huruf O tanpa suara. Ia lalu memandangi Keke yang kini dengan sedikit canggung menaruh dagunya di bahu kanan Rio. Gabriel sudah bisa menduga, ada rona merah di kedua pipi bulat gadis itu. Oh, ternyata gadis ini toh, batin Gabriel dalam hati.
Rio menggerakkan kepala pada para anggota kelompoknya yang lain, dan memasang ekspresi seakan-akan tak ada hal aneh yang terjadi. Walau ia tahu pasti mereka heran dan kaget dengan perlakuan Rio terhadap Keke.
"He! Ngapain lo semua bengong? Ayo jalan," kata Rio memimpin, lalu mulai melangkah di ikuti yang lain.
Shilla seakan tersadar, lalu segera mengekor di ikuti Gabriel. Sementara Ify masih terdiam dan setengah tenganga di tempat melihat adegan barusan. Rio yang mendadak jadi perhatian pada seorang gadis -yang menurut Ify sangat culun karena selalu saja diam tanpa di tegur dulu-, Rio dan Keke yang sepertinya punya sesuatu di masa lalu, Rio yang menawarkan diri menggendong Keke dan langsung di turuti Keke tanpa bantahan. Tidakkah... kejadian ini terlalu aneh? Dan juga.... raut cemas nan khawatir Rio tadi ituloh. Ify bahkan tak pernah mendapatkan ekspresi seperti itu. Ify, yang sejak dari dulu sudah jadi rahasia umum di kejar-kejar oleh Rio, tak pernah di perlakukan Rio semanis itu! Dan Rio malah bersikap lembut pada gadis berpipi bulat yang cupu abis itu? Yang sangat jauh levelnya dengan Ify! Pemuda itu kesurupan hantu hutan ini atau gimana sih?
Merasa ada anggota yang kurang, langkah Shilla terhenti. Ia berbalik, dan mengerutkan kening melihat Ify masih membatu. Dan makin mengerutkan kening melihat raut kesal Ify. Ada apa dengan gadis itu?
"Fy! Cepetan!" tegur Shilla membuat Ify mengerjap dan tersadar.
Ify merapatkan bibir sejenak, sedikit tak suka gadis itu yang menyadari ketidak hadirannya. Kenapa bukan Gabriel saja? Bahkan juga, sekarang saja Rio yang selalu memuja Ify malah sibuk mengucapkan sesuatu pada Keke. Dengan lembut! Apa-apaan sih Rio itu?! Mau membuat Ify geram!?
Eh?
Ify terkesiap sendiri. Menyadari dasar kekesalannya sedari tadi. Wait wait wait. Ada apa nih dengan otaknya? Kenapa mendadak jadi tak suka dengan perlakuan Rio pada gadis lain? Loh?
"Ify. Lo masih mau berdiri di situ doang?" tegur Shilla lagi, kini dengan nada malas.
Gabriel dan Rio memilih menghentikan langkah, ikut memandangi gadis cantik berwajah tirus itu namun tak mengeluarkan kata.
Ify mendesah, tapi lalu menurut dan berjalan mendekat. Walau dalam hati masih bertanya-tanya tak mengerti, apa yang terjadi pada otaknya kini, yang membuatnya benar-benar merasa geram pada Rio dan Keke.





Minggu, 07 April 2013

NEW FANFICTION~ "Mario's"


Ini sebenarnya inspirasi dari Kak Utami Irawati di Prolog 'I Love You, I Love You Not'. Sorry gaje banget guys. Wkwkwkwk


'Press Conference'
Perkenalan Tokoh
MARIO's




NARATOR: 
Ehm. Tes.. tes… Oke. Selamat pagi semua, kalau kalian baca ini pagi. Selamat siang kalau kalian baca siang, dan selamat malam kalau kalian baca malam. Hari ini kita akan membahas tentang cerbung baru dari Aleastri yang berjudul Mario's.
Oke mbak penulis, silahkan duluan.

PENULIS:
Ehem. Oke. Cek, cek. Satu, dua...

NARATOR:
Udah nyala mbak miknya. Cepetan ya durasi.

PENULIS:
Eh, iya maap. Oke, heiho semua readers! Kali ini aku bawa cerbung baru lagi pengganti Bintang Super Mario yang baru aja tamat.

NARATOR:
Belum tamat deh kayaknya mbak. Kan ada sekuelnya.

PENULIS:
Ya tapikan udah last part, mas. Sekuelnya judul baru.

NARATOR:
Tapi masih lanjut kan, mbak?

PENULIS:
Ergh. Bisa lanjut nggak, mas? Durasi woy!

NARATOR:
Oh, ya. Maap. Silahkan mbak.

PENULIS:
Hhhh. Oke, lanjut ya. Jadi di cerbung ini, selalu, pasti, dan mungkin sudah jadi kewajiban. Aku memakai Rio lagi sebagai peran utama pria.

RIO:
Tapi FF baru yang di fb nggak tuh.

PENULIS:
Bisa diam dulu? Saya lagi ngomong.

RIO:
Iya mbak. Jutek amat.

PENULIS:
Ergh. Oke, selanjutnya juga akan ada Gabriel.

NARATOR:
Katanya mau move on mbak.

PENULIS:
HHHHH. SEBENTAR YA MAS. SAYA JELASIN DULU OKE?! Ergh. Oke readers. Maaf ada ganguan. Selanjutnya akan ada Shilla, sebagai peran utama wanita, lalu juga ada Ify dan Keke. Selanjutnya sebagai peran pendamping adalah Alvin dan Sivia. Mereka semua adalah main cast di cerbung ini. Oke, siapa yang mau pertama kenalkan diri? Eh, kok pada diem? Durasi!

NARATOR:
Mbak penulis aja deh yang nunjuknya. Eh, tapi mbak pasti pilih Gabriel ya? Ya udah deh saya aja yang nunjuk. Eh, mbaknya jangan melotot gitu dong. Ya udah, peran utama dari yang paling utama, Mario.

RIO:
Gua? Oh oke. HAI SEMUAAAAAA!!! Eh, kenapa lo melotot Shil? Biasa aja kali! Siv, lo diem dulu deh. Orang ganteng mau ngomong. Hallo all, perkenalkan gue Mario. Gue cowok terganteng di SMA Pelita versi gue sendiri. Tahun ini gue jadi anak kelas 11 IPA 3, dan sialnya harus sekelas sama saingan gue yang paling sok kegantengan itu. Ify, Shilla, Sivia, jangan ngomel dulu gue mau ngomong!
Gue anaknya sih biasa aja. Walau gue punya hidup yang nggak biasa. Keluarga? Ah, gue malas bahas itu. Rumah gue aja udah kayak kastil hantu. Tapi beruntung gue punya sobat kayak Alvin yang selalu ada. Juga ada Keke dan keluarganya yang selalu nemenin gue. Terus juga Ify tersayang. Aduh Fy! Sakit tahu cubitan lo! Ya tapi sayangnya, Ify naksir sama cowok sok keren itu. Dan gue kesel. Tapi gue nggak mau diam aja. Gue selalu direndahin dan dibandingan sama dia. Gue selalu jadi zero. Karena itu gue mau berusaha. Gue harus bisa lebih dari dia.
Oke itu aja. Lanjut lo, can!

SHILLA:
Sialan lo! Nama gue Shilla!

RIO:
Nama lo macan. Udah cepet, durasi!

SHILLA:
Ehm. Oke, hai semua! Gue Shilla. Gue punya sahabat dekat namanya Sivia. Tapi saat kelas dua ini kita pisah kelas. Eh tapi beruntung deh. Gue sekelas sama cowok idola gue dari dulu. Awalnya gue nggak tahu harus gimana biar deket sama dia. Tapi akhirnya dia tahu nama gue dan itu membahagiakan banget.
Gue ketua karate sekolah. Orang bilang sih gue cukup galak, walau sebenarnya masih galakan penulis. Eh, iya mbak penulis ampun. Jangan mendelik gitu ah. Becanda kok. Hehehe. Oh ya, walau cukup tomboy dan cuek, tapi gue rada takut sama hantu-hantuan gitu.
Ha? Hubungan gue sama Rio? Aduh please deh. Siapa yang mau sama cowok tengil gitu? Tapi ya anehnya, walau sering berantem gue justru ujung-ujungnya sahabatan sama dia. Dia musuhnya pujaan hati gue. Tapi gue tahu sebenarnya Rio itu baik. Lo nggak usah senyam-senyum gitu deh, Yo. Enek tahu. Ya udah deh lanjut. Eung... em... Gabriel, ehm. Kamu aja deh.

GABRIEL:
Hm? Gue? Gue biasa aja sih. Nggak ada yang harus diceritakan panjang lebar. Gue kapten basket sekolah, dan ada di kelas 11 IPA 3. Gue juga kaget sekelas sama si tengil itu. Gue berusaha nggak cari masalah, walau dia selalu aja ungkit masalah dulu itu. Gue nggak peduli, asal dia nggak bawa nama keluarga gue aja.
Gue lagi nggak naksir siapapun. Walau ada beberapa cewek yang ngaku punya perasaan sama gue. Ya... sampai saat kelas dua ini, gue ketemu cewek yang menarik perhatian gue. Tapi ternyata dia malah deketnya sama si tengil. Ya udahlah. Gitu aja perkenalannya. Lanjut, Fy.

IFY:
Oh, giliran gue? Okay. Ehm. Hello, gue Ify. Menurut gue Gabriel salah banget bilang dia biasa aja. Karena pada kenyataannya, gue dan Gabriel adalah murid yang nggak biasa. Kita idola sekolah dan merupakan murid eksis. Gue nggak geer, tapi itu kenyataannya. Eh, kenapa lo Shil nyibir gitu? Sirik lo?
Gue selama ini naksir sama seorang cowok yang juga pujaan semua cewek di sekolah. Tapi sayangnya tu cowok cool dan nggak banyak omong. Buat gue makin penasaran dan bingung apa perasaannya ke gue. Karena bagi SMA Pelita, gue dan dia adalah perfect couple. Dan juga, ada seorang cowok tengil yang sering ngejar dan ganggu gue. Yap, itu elo Yo. Udah nggak usah nyengir, males gue liatnya. Ehm. Ya... walau harus diakui ketengilannya Rio itu kadang suka bikin kangen. Yo, please. Ini tuntutan mbak penulis harus jujur. Jadi lo jangan gede kepala deh. Hhhh... udah deh. Lanjut yang lain. Elo aja deh Ke. Kan peran utama juga.

KEKE:
Aku? Em... hai semua. Namaku Keke Angeline. Em... aku... em...

NARATOR:
Masih lama Ke ngomongnya?

KEKE:
Eh, maaf mas. Maaf, saya nggak biasa ngomong di depan umum.

RIO:
Rileks Ke. Stay cool. Kayak gue.

KEKE:
Ehm. Iya. Em, aku murid kelas 11 IPA 3 juga. Sebangku sama Ify. Yang memang beda banget sama aku. Aku tetangga dan sahabat kecil Rio dari dulu. Sahabat dekatku sendiri, Acha, harus pisah kelas sama aku.
Aku... em... dari dulu naksir sama seorang cowok. Tapi dia nggak pernah tahu ataupun peduli. Dia suka sama orang lain. Aku ya dukung aja kok. Karena bahagianya, bahagiaku.
Udah itu aja. Lanjut deh.

NARATOR:
Ha? Segitu doang? Nah, harusnya yang lain nyontoh gini nih. Durasinya singkat! Jadikan...

PENULIS:
Durasi, mas! Durasi.

NARATOR:
Eh, iya ding. Lanjut Alvin.

ALVIN:
Hhhh akhirnya. Gue sampe' lumutan gini. Apalagi sebelah sama si pibo ini nih. Males banget. Eh, apa lo Siv melotot? Emang kenyataan yee. Hm. Oke, gue Alvin. Gue partner in crime-nya Rio. Walau gitu, gue masih nggak tahu apa masalah tu anak. Rumahnya aja gue nggak tahu dimana. Selain itu, gue juga nggak ngerti apa sebenarnya akar permusuhan Rio sama Gabriel. Oke, mungkin itu Ify. Tapi gue yakin banget ada hal lain.
Gue lagi naksir cewek. Namanya.... ah nggak usah sebut deh. Karena masuk IPA 3 sama kayak Rio, gue kalah taruhan dan harus nembak cewek itu. Tapi... ternyata gue ditolak. He, apa lo Siv ketawa? Diem deh. Oh ya. Cewek ini nih, si pipi bolong Sivia, musuh gue dari dulu. Matanya sipit ngikutin gue! Gue suka jailin dia. Walau kadang agak ciut kalau Shilla udah belain dia.
Gue mau protes sama Mbak penulis. Di PMB guekan jadi cool, ganteng, keren gitu. Lah ini? Gue kok jadi ikutan tengil kayak Rio, sih? Apalagi juga di sini gue jadi bego-bego gitu. Ah. Image kegantengan gue langsung meluntur. Hhhh. Next deh next. Yang paling akhir.

SIVIA:
Hu, sekian lama nunggu akhirnya gue. Hai semua, gue Sivia! Gue sahabat dekatnya Shilla. Kita sama-sama ngidolain satu cowok yang sama. Tapi sialnya, Shilla yang dapet kelas bareng sama dia. Huh.
Dari kelas satu, gue emang udah nggak akur sama si cipeng rese ini. Apalagi sejak kelas dua, partner in crimenya yang tengil itu, Rio, ikut-ikutan jailin gue. Ya tentu aja gue andalin Shilla sebagai perlindungan.
Tapi... walau gue sama Shilla sahabatan baik. Kita juga rival. Karena kita suka cowok yang sama. Apalagi gue sering jealous liat Shilla yang mulai dekat sama cowok itu. Terus juga, gue kasihan deh sama Alvin. Dia nembak cewek di depan gue, tapi ternyata ditolak. Eh, apaan sih Vin mata lo melotot gitu? Kan gue boleh ngeluarin unek-unek apa aja. Bwee.
Ya udahlah mas narator. Gue nggak tahu mau cerita apalagi. Lanjut deh lanjut.

NARATOR:
Udahan nih? Oke. Eh, tapi saya punya pertanyaan buat mbak penulis. Di posternya ada poto Deva, tapi kok hari ini nggak ada dia mbak?

PENULIS:
Itu sebenarnya buat ngelengkapin aja. Deva cuma muncul di part-part akhir mas. Tapi juga termasuk peran penting kok. Nanti dia mau saya jodohin sama Keke.

KEKE:
Ha? Aku?

RIO:
Mbak penulis jangan ngaco ya! Deva tuh bawel, songong, nggak cocok sama Keke.

NARATOR:
Rio cemburu? Eh, kok pipinya Keke merah? Jangan-jangan nanti ceritanya...

RIO:
Mas bisa lanjut nggak? Udah nggak usah gosip. Ify nanti salah paham, mas. Eh, Fy jangan cubit ah. Lo demen amat nyubit gue. Nanti kita di akhir cerita berdua loh Fy!

NARATOR:
Eh, Rio jangan bocorin ceritanya dong. Mbak penulis, emang bener nanti jadinya RiFy?

PENULIS:
ERGH. BISA NGGAK LANJUTIN PRESS CONFERENCENYA? PEMBACA SAYA BINGUNG NIH!

NARATOR:
Oh ya maaf. Untuk semua pembaca, itulah perkenalan tokohnya ya. Saya juga mau umumkan kalau cerbung ini mungkin akan sering ngaret karena penulisnya lagi sibuk ngadain kegiatan yang belum dapat respon dari manapun itu.

PENULIS:
Saya lagi berusaha mas. Lagi berjuang.

NARATOR:
Iya mbak. Iya. Jangan sambil melotot gitu dong. Dari mbak penulis sendiri, ada yang mau disampaikan lagi?

PENULIS:
EHEM. Untuk semua readers, terima kasih atas dukungan dan semangatnya selama ini. Sejak BSM ku umumkan tamat, protes kalian sungguh LUAR BIASA. Apalagi juga saat aku bilang mau buat new FF, kalian semangat ngusulin banyak couple. Dan semua couple itu aku terima, ku kumpulkan di sini. Walau ada yang nggak masuk. Usulan dari Elma dan Arief, yang maunya Caik sama Badai. Hehe, maaf ya. Banyak yang minta Alvin sama Shilla sih.

ALVIN:
Terus kenapa gue nggak jadi peran utama lagi mbak?

PENULIS:
Gantian dong. Masa AlShil terus. Kan bosen.

ALVIN:
Berarti Shilla juga jangan jadi peran utama dong mbak. Argh aduh. Shil, jangan tonjok gue. He, apa sih lo Siv ketawa. Sialan lo. Elo juga Yo, bisa nggak usah ngakak gitu? Rese' lo temen sendiri diketawain.

PENULIS:
Sudah dong ya koko. Bisa diam? Ergh.

NARATOR:
Mbak, kok suka ngomong ergh sih? Kan mbaknya cadel.

PENULIS:
KENAPA SIH EMANGNYA MAS?! Ah sudahlah. Begitu aja ya readers. InsyaAllah prolog akan dipost besok. Padahal sudah saya setel di draf blog, tapi sering nggak kepost nggak tahu kenapa. Kalau respon prolog bagus, insyaAllah saya akan ngpost tiga part sekaligus selanjutnya. Karena sebentar lagikan liburan anak SMA datang ya. Sayanya mau liburan juga pasti. Hehehe.

NARATOR:
Loh, bukannya mbak ngurus kegiatan itu ya?

PENULIS:
Iya mas, disambi.

NARATOR:
Kalau gitu, boleh satu pertanyaan lagi mbak? Nanti di MARIO's ini, atau kita singkat Ms, apa bakal muncul saya lagi, mbak? Kan kita jadi couple juga mbak di Bintang Super Mario kemarin.

PENULIS:
Ah? Mas mau lagi ya pasangan sama saya? Eung... nanti deh mas dipikir-pikir. Karena Bagas udah casting nih mau jadi pasangan saya juga di Kisah Langit nanti.

NARATOR:
Masih brondong, nggak baik mbak. Ah sudahlah ya readers. Semoga nanti kalian menikmati karya baru dari penulis yang suka ngaret dan PHP ini. Dibilangnya besok, tapi kita nggak tahu kalau ternyata minggu depan. Jadi jangan terlalu ngarepin ya. Oke, saya Aditya Suryo dari Junas Monkey sebagai narator, undur diri dulu. Silahkan komennya di twitter atau lainnya ditunggu selalu oleh kami! See you di prolog nanti ya!!!