Tampilkan postingan dengan label Ify. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ify. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 17 Agustus 2013
MARIO's Part 7
Label:
Ashilla,
Cerbung Rify,
CerbungIC FFIC,
FFIC,
Fyel,
Gabriel,
Idola Cilik,
Ify,
Keke,
OKe,
Rio,
Shilla
Sabtu, 29 Juni 2013
MARIO's Part 5
Keke
menggandeng lengan Shilla, dengan tangan kiri yang memegang senter menyala
terang. Shilla sendiri melangkah di samping Gabriel yang berada di depan dengan
tenang. Ify melangkah di belakang sembari menggerutu, karena pemuda yang
melangkah di sampingnya ini daritadi tak pernah bisa diam.
"Jadi
Fy, kalau di film-film ya, kalau kita ketemu tiga kali secara nggak sengaja
selama berturut-turut, itu berarti jodoh!" kata Rio masih berargumen.
"Pertama, elo sekelas sama gue. Kedua, elo duduk depan gue. Ketiga, kita
satu kelompok! Nah. Kesimpulannya adalah..."
"Gue
dapat kesialan bertubi-tubi," sela Ify menuntaskan kalimat Rio.
Rio
menipiskan bibir, tapi lalu kembali nyengir lebar khasnya. "Terkadang Fy,
ada berkah di balik kesialan," kata Rio masih saja berusaha.
Ify
melengos kasar, lalu memilih mengalihkan pembicaraan saja. "Yel, ini
kemana nih? Kita udah masuk lebih dalam loh!" tanya Ify yang memang sudah
berada di tengah hutan.
"Kita
harus cari pohon paling besar," jawab Gabriel membaca kertas yang ia
pegang. Ia lalu kembali mendongak, menyenterkan ke segala arah.
"Pohon
paling besar yang gimana? Paling tinggi atau paling rindang atau gimana?"
tanya Shilla meminta penjelasan.
"Gue
juga nggak tahu. Yang jelas di sini di suruh cari pohon besar," jawab
Gabriel terus mencari.
KRESEK
"KYAAA,"
jerit Ify spontan, membuat semua terkejut.
"Apa
Fy? Apaan?" tanya Rio cemas.
"Itu!
Itu tadi ada apaan gerak-gerak," kata Ify dengan wajah pucat dan panik.
"Apaan
sih?" tanya Shilla sembari menyenterkan ke arah sekitar kaki Ify. Terlihat,
seekor hewan berbulu abu-abu gelap terlihat dengan sepasang mata hitamnya.
"Yaelah. Kucing," kata Shilla santai.
"Tenang
Fy, itu anaknya Shilla. Shillakan macan," kata Rio setengah mengejek, yang
langsung dapat injakan kaki keras dari Shilla, membuatnya segera mengaduh.
"Udahlah.
Ayo kita cari lagi," kata Gabriel kembali memimpin.
"Shil,"
bisik Keke sembari mencolek pinggang Shilla membuat Shilla menoleh.
"Itu... apaan?" tanya Keke takut-takut sembari menyenterkan ke arah
yang di maksud.
Shilla mengerutkan
kening, ikut menyenter ke arah yang Keke tuju. Gabriel, Ify, serta Rio merasa
tertarik dan juga memandangi ke arah yang sama. Terlihat, seperti sebuah guling
dengan kain putih membungkusnya, dan terlihat seperti....
"POCOOONNNGGG!!!"
teriak Shilla spontan. Keke dan Ify ikut memekik, membuat Gabriel dan Rio
terkejut setengah mati.
"Gabriel!!!"
jerit Ify memegang lengan Gabriel dan berlindung di dada pemuda itu.
Shilla juga
tanpa sadar memegang lengan Gabriel yang satu lagi dengan erat. Kalau masalah
begini, ia juga tak berani. Sedangkan Keke yang sedari tadi menggandeng lengan
Shilla, memeluk gadis itu ketakutan.
Rio
tenganga di tempat. Heh heh heh! Apa-apaan ini? Kenapa ia seperti pemuda tak di
anggap? Kenapa tiga gadis itu malah berlindung pada Gabriel? He?! Apa-apaan
ini!? Lalu dia di anggap apa?! Pajangan saja?! Atau parahnya, ia hanya
pecundang yang tak bisa melindungi?
"Ssstt...
Itu tuh cuma boongan doang," kata Gabriel menenangkan sembari mengarahkan
senter ke arah benda tadi. "Pasti ini kerjaannya panitia. Bukan
beneran."
Shilla
membuka mata perlahan, lalu melebarkan mata memerhatikan benda itu lebih jeli.
Keke juga sedikit mengintip walau masih takut.
"Eh,
iya ding boongan," kata Shilla lega sembari meringis. Ify ikut menghela
nafas lega. Tapi kedua gadis itu lalu sama-sama tersadar dan memandang ke arah
tangan mereka yang masih memeluk lengan Gabriel. Gabriel sendiri menatap
keduanya bergantian.
"Eh
sorry," ucap Shilla lalu segera melepaskan genggamannya. "Gu...
gue... em... gue tadi panik!" kata Shilla menjelaskan dengan wajah
memerah.
Gabriel
tersenyum tipis, "nggak papa kok."
Ify
menggigit bibir bawah, sedikit menahan sebal karena ternyata gadis itu juga
menggenggam lengan Gabriel. Tapi Ify masih belum juga melepaskan pegangannya.
"Ehem!"
Rio berdehem keras, sambil melepaskan paksa tangan Ify di lengan Gabriel, lalu
berdiri di antara dua orang itu. "Ayo lanjut lagi! Nanti kita malah
tertinggal jauh sama yang lain," kata Rio ketus sambil memicingkan mata ke
arah Gabriel. Sementara Ify di sebelahnya mendumel dalam hati karena gangguan
pemuda itu.
Gabriel
hanya mendesah tak kentara, tapi lalu kembali melanjutkan langkah di ikuti yang
lain.
"Kalau
takut, nih. Lebih kokoh!" kata Rio menepuk-nepuk lengannya sendiri pada
Ify. Ify mendelik, lalu mencibir saja.
Rio lalu
tanpa sengaja menoleh ke arah Keke yang berada di pojok kiri. Wajah gadis itu
nampak pucat dengan keringat bercucuran di keningnya. Rio sedikit mengernyitkan
kening, merasakan sesuatu yang menjanggal ketika melihat wajah bulat itu pucat
pasih seperti ini.
"Ke,"
panggil Rio membuat Keke menoleh. "Lo nggak papa? Muka lo pucet,"
ucap Rio peduli.
Keke
mengangkat alis sejenak, tapi lalu tersenyum kikuk. "Nggak papa,"
jawabnya singkat. Tapi nadanya gemetar, membuat Rio malah berpikir ada apa-apa.
"Ke,
serius deh. Muka lo tuh pucet," ucap Rio khawatir sembari melangkah ke
arah gadis itu, membuat tiga orang lain sedikit bingung. Karena tumben sajalah
seorang Rio memedulikan orang lain. Apalagi di sekolah, tak ada satupun orang
yang tahu tentang hubungan antara Rio dan Keke. Alvin saja hanya tahu sedikit.
"Aku
tadi cuma takut Yo," jawab Keke menenangkan, walau tak bisa menahan ada
yang melayang dalam hatinya karena untuk pertama, pemuda itu memberikan
perhatian di depan orang lain.
Rio menatap
Keke lekat, berusaha mencari kepastian dari jawaban itu. "Shil, lo bawa
air minum?" tanya Rio tanpa mengalihkan pandangan. Memang, yang membawa
perlengkapan adalah Shilla. Walau itu hanya P3K.
"Nggak.
Kan nggak boleh," jawab Shilla juga mulai merasa khawatir dengan wajah
menunduk Keke yang semakin pucat.
Rio
membungkukkan badan, memandang Keke. Ia menepuk pundak gadis itu, membuat Keke
mendongak perlahan, walau diam-diam menahan laju detak jantungnya yang kencang.
"Ke...
lo tadi belum makan ya? Magh lo kambuh?" tanya Rio lembut, membuat
lagi-lagi ketiga orang anggotanya itu terkejut tak percaya.
Nanti dulu
nanti dulu. Ada apa ini? Kenapa mendadak seorang Mario Stevano jadi lembut nan
perhatian seperti ini? Dan... kenapa Rio bisa tahu Keke punya magh? Bukankah
saat kelas satu dulu mereka tak sekelas? Lalu di kelas mereka juga tidak akrab.
Bahkan Rio hanya menegur Keke kalau-kalau meminjam PR ataupun perlengkapan
menulis.
"Nggak
Yo. Aku cuma...."
"Ck!
Elo tuh kenapa sih nggak pernah mau jujur sama gue?" potong Rio sebelum
kalimat Keke usai. Rio menghela nafas keras memandang teman dari kecilnya itu.
"Elo tuh emang. Hati sama omongan di depan gue selalu beda. Seneng banget
sih nyembunyiin gitu," omel Rio sebal, mengingat memang selama ini Keke
selalu berkilah kalau Rio mencemaskannya. Ya seperti tentang magh yang di
derita Keke.
Dalam hati
Keke nelangsa. Seperti tersindir tajam. Bukan hanya karena masalah magh saja.
Ada hal lain, yang selalu ia sembunyikan dari Rio. Namun mungkin pemuda itu
masih saja tak peka, bahwa sebenarnya sebuah rasa telah Keke berikan selama
ini. Rasa yang terus saja bersembunyi di
balik status 'teman kecil'.
Rio
menghela nafas kembali, lalu membalikkan tubuh membelakangi Keke. Lutut pemuda
itu sedikit di tekuk, dan menoleh ke belakang sembari menepuk-nepuk pundaknya.
"Naik
gih. Nggak tega gue kalau nanti elo pingsan beneran kayak dulu."
Kayak dulu?
Maksudnya? Pertanyaan
yang sama menyantol di benak Gabriel, Shilla, dan juga Ify.
Keke
tertegun sesaat. Ia sedikit melirik ke arah tiga teman kelompoknya itu, lalu
menunduk tapi menurut saja. Karena mungkin sudah jadi kebiasan sedari mereka
SD. Kalau menolak permintaan Rio yang satu ini, Rio selalu saja ngambek, dengan
berkata "ya sudah kalau elo nggak mau denger omongan gue! Nanti pingsan
nggak gue tolong ya!". Kalimat itu sering kali Keke dapat sejak mereka
kelas enam SD, di mana magh Keke sering kali kambuh dan pertahanan gadis itu
sering pula melemah.
Keke
merengkuh leher Rio lembut, Rio mengambil lututnya, lalu berdiri dan sudah
menggendong Keke di belakang. Tak peduli pada tatapan tak mengerti namun juga
heran dari tiga orang lain.
"Yaelah,
Tante Gina ngasih lo makan apa sih? Enteng banget," ejek Rio tertawa geli.
Keke hanya mendecak dan merenggut.
Gabriel
tersentak. Mendengar nama itu. Gina. Dan Rio menyebutnya Tante Gina. Hanya
dengan sekilat detik, sebuah ingatan langsung datang dalam otak Gabriel. Dan
membuatnya langsung mengerti, bahkan tanpa sadar pemuda itu mengucap huruf O
tanpa suara. Ia lalu memandangi Keke yang kini dengan sedikit canggung menaruh
dagunya di bahu kanan Rio. Gabriel sudah bisa menduga, ada rona merah di kedua
pipi bulat gadis itu. Oh, ternyata gadis ini toh, batin Gabriel dalam hati.
Rio
menggerakkan kepala pada para anggota kelompoknya yang lain, dan memasang
ekspresi seakan-akan tak ada hal aneh yang terjadi. Walau ia tahu pasti mereka
heran dan kaget dengan perlakuan Rio terhadap Keke.
"He!
Ngapain lo semua bengong? Ayo jalan," kata Rio memimpin, lalu mulai
melangkah di ikuti yang lain.
Shilla
seakan tersadar, lalu segera mengekor di ikuti Gabriel. Sementara Ify masih
terdiam dan setengah tenganga di tempat melihat adegan barusan. Rio yang
mendadak jadi perhatian pada seorang gadis -yang menurut Ify sangat culun
karena selalu saja diam tanpa di tegur dulu-, Rio dan Keke yang sepertinya
punya sesuatu di masa lalu, Rio yang menawarkan diri menggendong Keke dan
langsung di turuti Keke tanpa bantahan. Tidakkah... kejadian ini terlalu aneh?
Dan juga.... raut cemas nan khawatir Rio tadi ituloh. Ify bahkan tak pernah
mendapatkan ekspresi seperti itu. Ify, yang sejak dari dulu sudah jadi rahasia
umum di kejar-kejar oleh Rio, tak pernah di perlakukan Rio semanis itu! Dan Rio
malah bersikap lembut pada gadis berpipi bulat yang cupu abis itu? Yang sangat
jauh levelnya dengan Ify! Pemuda itu kesurupan hantu hutan ini atau gimana sih?
Merasa ada
anggota yang kurang, langkah Shilla terhenti. Ia berbalik, dan mengerutkan
kening melihat Ify masih membatu. Dan makin mengerutkan kening melihat raut
kesal Ify. Ada apa dengan gadis itu?
"Fy!
Cepetan!" tegur Shilla membuat Ify mengerjap dan tersadar.
Ify
merapatkan bibir sejenak, sedikit tak suka gadis itu yang menyadari ketidak
hadirannya. Kenapa bukan Gabriel saja? Bahkan juga, sekarang saja Rio yang
selalu memuja Ify malah sibuk mengucapkan sesuatu pada Keke. Dengan lembut!
Apa-apaan sih Rio itu?! Mau membuat Ify geram!?
Eh?
Ify
terkesiap sendiri. Menyadari dasar kekesalannya sedari tadi. Wait wait wait.
Ada apa nih dengan otaknya? Kenapa mendadak jadi tak suka dengan perlakuan Rio
pada gadis lain? Loh?
"Ify.
Lo masih mau berdiri di situ doang?" tegur Shilla lagi, kini dengan nada
malas.
Gabriel dan
Rio memilih menghentikan langkah, ikut memandangi gadis cantik berwajah tirus
itu namun tak mengeluarkan kata.
Ify
mendesah, tapi lalu menurut dan berjalan mendekat. Walau dalam hati masih
bertanya-tanya tak mengerti, apa yang terjadi pada otaknya kini, yang
membuatnya benar-benar merasa geram pada Rio dan Keke.
Minggu, 07 April 2013
NEW FANFICTION~ "Mario's"
Ini
sebenarnya inspirasi dari Kak Utami Irawati di Prolog 'I Love You, I Love You
Not'. Sorry gaje banget guys. Wkwkwkwk
'Press
Conference'
Perkenalan
Tokoh
MARIO's
NARATOR:
Ehm. Tes.. tes… Oke. Selamat pagi semua, kalau kalian baca ini pagi. Selamat siang kalau kalian baca siang, dan selamat malam kalau kalian baca malam. Hari ini kita akan membahas tentang cerbung baru dari Aleastri yang berjudul Mario's.
Ehm. Tes.. tes… Oke. Selamat pagi semua, kalau kalian baca ini pagi. Selamat siang kalau kalian baca siang, dan selamat malam kalau kalian baca malam. Hari ini kita akan membahas tentang cerbung baru dari Aleastri yang berjudul Mario's.
Oke
mbak penulis, silahkan duluan.
PENULIS:
Ehem.
Oke. Cek, cek. Satu, dua...
NARATOR:
Udah
nyala mbak miknya. Cepetan ya durasi.
PENULIS:
Eh,
iya maap. Oke, heiho semua readers! Kali ini aku bawa cerbung baru lagi
pengganti Bintang Super Mario yang baru aja tamat.
NARATOR:
Belum
tamat deh kayaknya mbak. Kan ada sekuelnya.
PENULIS:
Ya
tapikan udah last part, mas. Sekuelnya judul baru.
NARATOR:
Tapi
masih lanjut kan, mbak?
PENULIS:
Ergh.
Bisa lanjut nggak, mas? Durasi woy!
NARATOR:
Oh,
ya. Maap. Silahkan mbak.
PENULIS:
Hhhh.
Oke, lanjut ya. Jadi di cerbung ini, selalu, pasti, dan mungkin sudah jadi
kewajiban. Aku memakai Rio lagi sebagai peran utama pria.
RIO:
Tapi
FF baru yang di fb nggak tuh.
PENULIS:
Bisa
diam dulu? Saya lagi ngomong.
RIO:
Iya
mbak. Jutek amat.
PENULIS:
Ergh.
Oke, selanjutnya juga akan ada Gabriel.
NARATOR:
Katanya
mau move on mbak.
PENULIS:
HHHHH.
SEBENTAR YA MAS. SAYA JELASIN DULU OKE?! Ergh. Oke readers. Maaf ada ganguan.
Selanjutnya akan ada Shilla, sebagai peran utama wanita, lalu juga ada Ify dan
Keke. Selanjutnya sebagai peran pendamping adalah Alvin dan Sivia. Mereka semua
adalah main cast di cerbung ini. Oke, siapa yang mau pertama kenalkan diri? Eh,
kok pada diem? Durasi!
NARATOR:
Mbak
penulis aja deh yang nunjuknya. Eh, tapi mbak pasti pilih Gabriel ya? Ya udah
deh saya aja yang nunjuk. Eh, mbaknya jangan melotot gitu dong. Ya udah, peran
utama dari yang paling utama, Mario.
RIO:
Gua?
Oh oke. HAI SEMUAAAAAA!!! Eh, kenapa lo melotot Shil? Biasa aja kali! Siv, lo
diem dulu deh. Orang ganteng mau ngomong. Hallo all, perkenalkan gue Mario. Gue
cowok terganteng di SMA Pelita versi gue sendiri. Tahun ini gue jadi anak kelas
11 IPA 3, dan sialnya harus sekelas sama saingan gue yang paling sok
kegantengan itu. Ify, Shilla, Sivia, jangan ngomel dulu gue mau ngomong!
Gue
anaknya sih biasa aja. Walau gue punya hidup yang nggak biasa. Keluarga? Ah,
gue malas bahas itu. Rumah gue aja udah kayak kastil hantu. Tapi beruntung gue
punya sobat kayak Alvin yang selalu ada. Juga ada Keke dan keluarganya yang
selalu nemenin gue. Terus juga Ify tersayang. Aduh Fy! Sakit tahu cubitan lo!
Ya tapi sayangnya, Ify naksir sama cowok sok keren itu. Dan gue kesel. Tapi gue
nggak mau diam aja. Gue selalu direndahin dan dibandingan sama dia. Gue selalu
jadi zero. Karena itu gue mau berusaha. Gue harus bisa lebih dari dia.
Oke
itu aja. Lanjut lo, can!
SHILLA:
Sialan
lo! Nama gue Shilla!
RIO:
Nama
lo macan. Udah cepet, durasi!
SHILLA:
Ehm.
Oke, hai semua! Gue Shilla. Gue punya sahabat dekat namanya Sivia. Tapi saat
kelas dua ini kita pisah kelas. Eh tapi beruntung deh. Gue sekelas sama cowok
idola gue dari dulu. Awalnya gue nggak tahu harus gimana biar deket sama dia.
Tapi akhirnya dia tahu nama gue dan itu membahagiakan banget.
Gue
ketua karate sekolah. Orang bilang sih gue cukup galak, walau sebenarnya masih
galakan penulis. Eh, iya mbak penulis ampun. Jangan mendelik gitu ah. Becanda
kok. Hehehe. Oh ya, walau cukup tomboy dan cuek, tapi gue rada takut sama hantu-hantuan
gitu.
Ha?
Hubungan gue sama Rio? Aduh please deh. Siapa yang mau sama cowok tengil gitu?
Tapi ya anehnya, walau sering berantem gue justru ujung-ujungnya sahabatan sama
dia. Dia musuhnya pujaan hati gue. Tapi gue tahu sebenarnya Rio itu baik. Lo
nggak usah senyam-senyum gitu deh, Yo. Enek tahu. Ya udah deh lanjut. Eung...
em... Gabriel, ehm. Kamu aja deh.
GABRIEL:
Hm?
Gue? Gue biasa aja sih. Nggak ada yang harus diceritakan panjang lebar. Gue
kapten basket sekolah, dan ada di kelas 11 IPA 3. Gue juga kaget sekelas sama
si tengil itu. Gue berusaha nggak cari masalah, walau dia selalu aja ungkit
masalah dulu itu. Gue nggak peduli, asal dia nggak bawa nama keluarga gue aja.
Gue
lagi nggak naksir siapapun. Walau ada beberapa cewek yang ngaku punya perasaan
sama gue. Ya... sampai saat kelas dua ini, gue ketemu cewek yang menarik
perhatian gue. Tapi ternyata dia malah deketnya sama si tengil. Ya udahlah.
Gitu aja perkenalannya. Lanjut, Fy.
IFY:
Oh,
giliran gue? Okay. Ehm. Hello, gue Ify. Menurut gue Gabriel salah banget bilang
dia biasa aja. Karena pada kenyataannya, gue dan Gabriel adalah murid yang
nggak biasa. Kita idola sekolah dan merupakan murid eksis. Gue nggak geer, tapi
itu kenyataannya. Eh, kenapa lo Shil nyibir gitu? Sirik lo?
Gue
selama ini naksir sama seorang cowok yang juga pujaan semua cewek di sekolah.
Tapi sayangnya tu cowok cool dan nggak banyak omong. Buat gue makin penasaran
dan bingung apa perasaannya ke gue. Karena bagi SMA Pelita, gue dan dia adalah
perfect couple. Dan juga, ada seorang cowok tengil yang sering ngejar dan
ganggu gue. Yap, itu elo Yo. Udah nggak usah nyengir, males gue liatnya. Ehm.
Ya... walau harus diakui ketengilannya Rio itu kadang suka bikin kangen. Yo,
please. Ini tuntutan mbak penulis harus jujur. Jadi lo jangan gede kepala deh.
Hhhh... udah deh. Lanjut yang lain. Elo aja deh Ke. Kan peran utama juga.
KEKE:
Aku?
Em... hai semua. Namaku Keke Angeline. Em... aku... em...
NARATOR:
Masih
lama Ke ngomongnya?
KEKE:
Eh,
maaf mas. Maaf, saya nggak biasa ngomong di depan umum.
RIO:
Rileks
Ke. Stay cool. Kayak gue.
KEKE:
Ehm.
Iya. Em, aku murid kelas 11 IPA 3 juga. Sebangku sama Ify. Yang memang beda
banget sama aku. Aku tetangga dan sahabat kecil Rio dari dulu. Sahabat dekatku
sendiri, Acha, harus pisah kelas sama aku.
Aku...
em... dari dulu naksir sama seorang cowok. Tapi dia nggak pernah tahu ataupun
peduli. Dia suka sama orang lain. Aku ya dukung aja kok. Karena bahagianya,
bahagiaku.
Udah
itu aja. Lanjut deh.
NARATOR:
Ha?
Segitu doang? Nah, harusnya yang lain nyontoh gini nih. Durasinya singkat!
Jadikan...
PENULIS:
Durasi,
mas! Durasi.
NARATOR:
Eh,
iya ding. Lanjut Alvin.
ALVIN:
Hhhh
akhirnya. Gue sampe' lumutan gini. Apalagi sebelah sama si pibo ini nih. Males
banget. Eh, apa lo Siv melotot? Emang kenyataan yee. Hm. Oke, gue Alvin. Gue
partner in crime-nya Rio. Walau gitu, gue masih nggak tahu apa masalah tu anak.
Rumahnya aja gue nggak tahu dimana. Selain itu, gue juga nggak ngerti apa
sebenarnya akar permusuhan Rio sama Gabriel. Oke, mungkin itu Ify. Tapi gue
yakin banget ada hal lain.
Gue
lagi naksir cewek. Namanya.... ah nggak usah sebut deh. Karena masuk IPA 3 sama
kayak Rio, gue kalah taruhan dan harus nembak cewek itu. Tapi... ternyata gue
ditolak. He, apa lo Siv ketawa? Diem deh. Oh ya. Cewek ini nih, si pipi bolong
Sivia, musuh gue dari dulu. Matanya sipit ngikutin gue! Gue suka jailin dia.
Walau kadang agak ciut kalau Shilla udah belain dia.
Gue
mau protes sama Mbak penulis. Di PMB guekan jadi cool, ganteng, keren gitu. Lah
ini? Gue kok jadi ikutan tengil kayak Rio, sih? Apalagi juga di sini gue jadi
bego-bego gitu. Ah. Image kegantengan gue langsung meluntur. Hhhh. Next deh
next. Yang paling akhir.
SIVIA:
Hu,
sekian lama nunggu akhirnya gue. Hai semua, gue Sivia! Gue sahabat dekatnya
Shilla. Kita sama-sama ngidolain satu cowok yang sama. Tapi sialnya, Shilla
yang dapet kelas bareng sama dia. Huh.
Dari
kelas satu, gue emang udah nggak akur sama si cipeng rese ini. Apalagi sejak
kelas dua, partner in crimenya yang tengil itu, Rio, ikut-ikutan jailin gue. Ya
tentu aja gue andalin Shilla sebagai perlindungan.
Tapi...
walau gue sama Shilla sahabatan baik. Kita juga rival. Karena kita suka cowok
yang sama. Apalagi gue sering jealous liat Shilla yang mulai dekat sama cowok
itu. Terus juga, gue kasihan deh sama Alvin. Dia nembak cewek di depan gue,
tapi ternyata ditolak. Eh, apaan sih Vin mata lo melotot gitu? Kan gue boleh
ngeluarin unek-unek apa aja. Bwee.
Ya
udahlah mas narator. Gue nggak tahu mau cerita apalagi. Lanjut deh lanjut.
NARATOR:
Udahan
nih? Oke. Eh, tapi saya punya pertanyaan buat mbak penulis. Di posternya ada
poto Deva, tapi kok hari ini nggak ada dia mbak?
PENULIS:
Itu
sebenarnya buat ngelengkapin aja. Deva cuma muncul di part-part akhir mas. Tapi
juga termasuk peran penting kok. Nanti dia mau saya jodohin sama Keke.
KEKE:
Ha?
Aku?
RIO:
Mbak
penulis jangan ngaco ya! Deva tuh bawel, songong, nggak cocok sama Keke.
NARATOR:
Rio
cemburu? Eh, kok pipinya Keke merah? Jangan-jangan nanti ceritanya...
RIO:
Mas
bisa lanjut nggak? Udah nggak usah gosip. Ify nanti salah paham, mas. Eh, Fy
jangan cubit ah. Lo demen amat nyubit gue. Nanti kita di akhir cerita berdua
loh Fy!
NARATOR:
Eh,
Rio jangan bocorin ceritanya dong. Mbak penulis, emang bener nanti jadinya
RiFy?
PENULIS:
ERGH.
BISA NGGAK LANJUTIN PRESS CONFERENCENYA? PEMBACA SAYA BINGUNG NIH!
NARATOR:
Oh ya
maaf. Untuk semua pembaca, itulah perkenalan tokohnya ya. Saya juga mau umumkan
kalau cerbung ini mungkin akan sering ngaret karena penulisnya lagi sibuk
ngadain kegiatan yang belum dapat respon dari manapun itu.
PENULIS:
Saya
lagi berusaha mas. Lagi berjuang.
NARATOR:
Iya
mbak. Iya. Jangan sambil melotot gitu dong. Dari mbak penulis sendiri, ada yang
mau disampaikan lagi?
PENULIS:
EHEM.
Untuk semua readers, terima kasih atas dukungan dan semangatnya selama ini.
Sejak BSM ku umumkan tamat, protes kalian sungguh LUAR BIASA. Apalagi juga saat
aku bilang mau buat new FF, kalian semangat ngusulin banyak couple. Dan semua
couple itu aku terima, ku kumpulkan di sini. Walau ada yang nggak masuk. Usulan
dari Elma dan Arief, yang maunya Caik sama Badai. Hehe, maaf ya. Banyak yang
minta Alvin sama Shilla sih.
ALVIN:
Terus
kenapa gue nggak jadi peran utama lagi mbak?
PENULIS:
Gantian
dong. Masa AlShil terus. Kan bosen.
ALVIN:
Berarti
Shilla juga jangan jadi peran utama dong mbak. Argh aduh. Shil, jangan tonjok
gue. He, apa sih lo Siv ketawa. Sialan lo. Elo juga Yo, bisa nggak usah ngakak
gitu? Rese' lo temen sendiri diketawain.
PENULIS:
Sudah
dong ya koko. Bisa diam? Ergh.
NARATOR:
Mbak,
kok suka ngomong ergh sih? Kan mbaknya cadel.
PENULIS:
KENAPA
SIH EMANGNYA MAS?! Ah sudahlah. Begitu aja ya readers. InsyaAllah prolog akan
dipost besok. Padahal sudah saya setel di draf blog, tapi sering nggak kepost
nggak tahu kenapa. Kalau respon prolog bagus, insyaAllah saya akan ngpost tiga
part sekaligus selanjutnya. Karena sebentar lagikan liburan anak SMA datang ya.
Sayanya mau liburan juga pasti. Hehehe.
NARATOR:
Loh,
bukannya mbak ngurus kegiatan itu ya?
PENULIS:
Iya
mas, disambi.
NARATOR:
Kalau
gitu, boleh satu pertanyaan lagi mbak? Nanti di MARIO's ini, atau kita singkat
Ms, apa bakal muncul saya lagi, mbak? Kan kita jadi couple juga mbak di Bintang
Super Mario kemarin.
PENULIS:
Ah?
Mas mau lagi ya pasangan sama saya? Eung... nanti deh mas dipikir-pikir. Karena
Bagas udah casting nih mau jadi pasangan saya juga di Kisah Langit nanti.
NARATOR:
Masih
brondong, nggak baik mbak. Ah sudahlah ya readers. Semoga nanti kalian
menikmati karya baru dari penulis yang suka ngaret dan PHP ini. Dibilangnya
besok, tapi kita nggak tahu kalau ternyata minggu depan. Jadi jangan terlalu
ngarepin ya. Oke, saya Aditya Suryo dari Junas Monkey sebagai narator, undur
diri dulu. Silahkan komennya di twitter atau lainnya ditunggu selalu oleh kami!
See you di prolog nanti ya!!!
Langganan:
Postingan (Atom)
