Kamis, 26 April 2012

Persahabatan Musuh Bebuyutan Part 3


Alvin dan Rio sama-sama berada di satu tempat yang sama. Mereka juga merasakan ikatan batin kuat, tapi ternyata belum juga bisa di pertemukan. Alvin masuk ke SMA Nusantara, dan semeja dengan Gabriel. Sementara Rio yang sangat dingin dan sangar, ternyata bisa juga salah tingkah di depan Keke, teman dekat Acha.
Lalu, kelanjutan cerita ini bagaimana?

Part 3. Boys Most Wanted

Kalau sudah dewasa nanti, apa kita akan berubah ya?

Mungkin. Saat aku lihat poto Papa saat ia kecil, dan ku bandingkan dengan sekarang, Papa berbeda jauh. Mungkin akan ada banyak yang berubah.

Oh... Tapi, persahabatan kita tidak akan berubah, kan?

Iyalah. Mana mungkin. Tapi kata Papa, selain wajah, sifat kita juga akan berubah seiring kita dewasa. Kata Papa, aku akan tahu kalau aku sudah dewasa nanti.

Oke. Kita lihat saja nanti kalau kita sudah dewasa. Apakah kita akan berubah, atau tidak...

***

Istirahat, @SMA Nusantara
Alvin melangkah sendiri di koridor sekolah. Ia melihat kanan dan kiri, aktifitas para murid smanra –sebutan untuk SMA Nusantara– pada saat istirahat. Ada yang ke kantin, bermain futsal, bermain basket, sekedar nongkrong di koridor sekolah, ke perpustakaan, dan asik bepacaran ria. Alvin menghela nafas. Tidak beda jauhlah dengan sekolah lamanya dulu di Malang.
“Hei!” sapa seseorang sambil menepuk pundak Alvin. Alvin tersentak dan menoleh. Shilla tersenyum manis ke arahnya.
“Kok sendiri?” tanya Shilla ramah.
“Kan aku masih anak baru. Belum akrab sama yang lain. Kamu sendiri?” tanya Alvin balik sambil melangkah kembali. Shilla mengiringi langkah Alvin di sampingnya.
“Temen-temen gue lagi pacaran. Jadi gue sendiri deh.”
“Kamu? Nggak pacaran juga?”
Shilla tertawa renyah, “nggak lah. Pacar aja kaga punya.”
Alvin hanya ber-o panjang sambil terus melangkah. “Oh, iya. Maksud kamu aku mangsa dari Gabriel sama yang lain, itu apa?” tanya Alvin mengingat perkataan Shilla tadi.
Shilla terdiam beberapa saat, tapi lalu tersenyum kembali. “Sini deh,” ucapnya sambil menarik tangan Alvin. Alvin sampai tersentak, tapi hanya menurut.
Shilla membawa Alvin sampai ke pinggir lapangan basket. Terlihat di tengah lapangan, Gabriel, Cakka, Ozy, dan tiga teman lainnya sedang bermain three on three.
Shilla menunjuk kecil ke arah tengah lapangan. “Mereka. Termasuk anak basket yang jadi kebanggan sekolah. Dan juga, termasuk boys most wanted di smanra,” jelas Shilla.
Shilla lalu menunjuk anak berbadan cukup mungil seperti Ozy, rambutnya agak sedikit gondrong lurus, sedang bermain basket juga. “Namanya Ray. Anak kelas 12 IPS 1, termasuk dalam kumpulan mereka juga. Tapi Ray bukan anak basket, dia anak band. Drummer. Terus itu...” Shilla menunjuk salah seorang di tengah lapangan basket, hitam manis dengan rambut cepak. “Irsyad. 12 IPS 1 juga. Anak orang kaya yang termasuk dalam 10 besar orang terkaya di Jakarta. Dan juga… Sion.” Kini Shilla menunjuk anak laki-laki berambut jabrik yang sedang mendrible bola, “12 IPS 4. Dia anak paling preman. Suka banget kelahi en mukul orang. Anaknya emosian, dan juga sensi!”
Alvin mengernyitkan kening. “Em… tadikan aku nanya, apa maksudnya aku jadi mangsa, tapi kenapa nyambung ke mereka? Lagian juga… kamu bilang, aku mangsa baru Gabriel, Ozy, dan Cakka. Kenapa nyambung ke mereka?” tanya Alvin heran.
“Makanya itu, dengerin dulu!” sahut Shilla sedikit sebal. “Cakka. Gitaris beken di smanra. Playboy paling laku. Karena dia ganti pacar kayak ganti baju. Di antara mereka berenam, Cakka yang paling sering ngajak jalan cewek. Tapi gue nggak pernah jalan bareng dia. Sorry, nggak level!” cerocos Shilla membuat Alvin mengangkat salah satu alis.
“Kalau Ozy. Dia yang paling baik. Dia anaknya ramah dan paling sering senyum. Walau nyebelin juga. Dan di antara mereka semua, cuma Ozy yang nggak playboy. Pacaran aja nggak pernah. Dan, kecil-kecil gitu, Ozy sering nyetak angka waktu tanding. Nggak jarang three point dia dapet. Dia juga kalau sekali tonjok, lawannya bisa kalah di tangannya doang. Walau badannya mungil gitu. Tapi Ozy jarang mukul orang. Itu lebihnya Ozy dari pada yang lain,” jelas Shilla kembali.
“Mukul orang?” tanya Alvin tidak mengerti.
“Loh? Tadi belum gue kasih tahu ya? Mereka berenam, boys most wanted, dan termasuk pemegang sekolah ini. Preman sekolah,” jawab Shilla. Alvin hanya diam dan tetap stay cool.
“Ada juga sih, anak buah mereka yang lain. Tapi nggak terkenal. Yang paling terkenal ya mereka. Oh, ya. Kalau Gabriel, dia si pangeran smanra. Hampir semua cewek smanra tergila-gila sama dia. Dia kapten basket sekaligus ketua preman di sini. Kalau dia udah kelahi, beh. Nggak nanggung-nanggung. Pernah ada lawannya sampai masuk rumah sakit dan sekarat,” lanjut Shilla berapi-api. “Gue cuma peringatin mereka aja, biar nggak apa-apain elo kayak murid lain. Elokan murid baru di sini,” kata Shilla.
Alvin tertawa renyah. “Kenapa aku harus takut? Biasa aja kali!” kata Alvin cuek lalu melangkah.
Shilla sedikit menganga. “Yeee… di belain malah nggak tahu terima kasih!” gerutu Shilla kesal.
^^^
Bel masukan belum terdengar. Para siswa masih sibuk dengan aktifitas mereka semula. Kecuali para pemain bola yang tadi bermain. Para pemain futsal sudah ngacir ke kantin untuk menghilangkan dahaga mereka. Sementara para pemain basket sudah bubar karena lelah.
Alvin melangkah ingin kembali ke kelas. Tapi saat melewati tangga menuju lantai dua, ia melihat Gabriel, Cakka, Ozy, dan Ray berdiri di depan tangga seperti satpam. Alvin mendesah kecil, tapi tetap cuek dan terus melangkah.
“Eiittss… jangan lewat dulu,” tahan Ozy. Alvin menghentikkan langkahnya, lalu menoleh dengan alis terangkat.
“Oh… jadi ini anak barunya?” tanya Ray sambil memandang Alvin. Cakka dan Ozy mengangguk mengiyakan.
“Vin, pajak masuk sekolah dong. Sepuluh rebo aja,” tagih Cakka. Alvin menyatukan alisnya.
“Eh, jangan sepuluh rebo. Diakan anak baru, kasian. Dua puluh ribu, vin,” kata Ozy. Satu jitakan dari Cakka melayang ke kepala Ozy. Ozy merintih.
“Kalau aku nggak mau? Kalian mau apa?” tanya Alvin tenang. Semua saling pandang, lalu tersenyum.
“Hem. Gini nih anak baru. Nggak tahu adat di sini,” kata Ray sambil mendesah. “Liat ya!” perintah Ray lalu menoleh ke arah Abner yang kebetulan lewat.
“Asal lewat aja elo,” sindir Ray.
Abner berhenti dan menoleh. Tanpa bicara apapun lagi, Ray mengadahkan tangannya ke arah Abner. Abner terdiam.
“Elo, sih. Makanya, nggak usah lewat sini,” kata Ozy sambil tertawa.
Abner terlihat ciut dan ketakutan. Para preman itu memang sering memalakinya. Bodoh memang tadi Abner memilih jalan ini untuk menuju kelas. Ray masih mengadah tangan dan menatapnya dingin.
“Abner… tangan gue capek nih. Mana?” tagih Ray.
Abner menunduk, lalu merogoh saku seragamnya dan menyerahkan selembar uang sepuluh ribu. Ray menerimanya sambil tersenyum. Abner langsung ngacir dan menaiki tangga dengan cepat.
“Liat kan Vin? Ini peraturan di sini. Mana pajak elo?” tagih Cakka. Alvin menoleh, lalu menarik salah satu ujung bibirnya.
“Cara kalian kuno banget sih,” kata Alvin sambil memasukkan kedua tangan di saku celana abu-abunya. Yang lain mengerutkan kening tidak mengerti.
Alvin lalu menoleh ke arah Bian yang ingin melewati mereka. Saat Bian di depan Alvin, dengan santai Alvin mengambil selembar uang di saku seragam Bian. Bian kaget dan menoleh.
“Boleh kan? Cuma selembar kok,” kata Alvin santai sambil menyibakkan selembar uang lima ribuan.
Bian terdiam. Ia ingin melawan, tapi saat melihat Gabriel, Cakka, Ray, dan Ozy, Bian segera mengurungkan niatnya. Ia lalu mengangguk pasrah dan segera menaiki tangga dengan cepat. Alvin tersenyum puas.
“Liat, kan? Nggak perlu buang-buang waktu. Tinggal ambil aja,” kata Alvin sambil menyerahkan uang itu ke arah Ray. Ray menerimanya dan hanya diam.
Gabriel tersenyum, “keren juga elo vin.”
Alvin balas tersenyum. “Aku tahu kok. Kalian preman di sini kan? Kenalin,” kata Alvin sambil menjulurkan tangannya ke arah Gabriel. “Aku mantan ketua preman SMA Bakti Negara, Malang.”
Ray dan Cakka membelalakan mata kaget. Sementara Ozy menganga.
Gabriel membalas uluran tangan Alvin sambil tersenyum kecil. “Gabriel. Ketua preman SMA Nusantara, Jakarta.”
Alvin tersenyum tipis sambil melepaskan tangannya.
“Weis! Bisa jadi brother kita nih,” kata Ozy sambil merangkul Alvin. Tapi dia harus sedikit berjinjit untuk menggapai pundak Alvin. Alvin tersenyum.
“Oke. Mulai saat ini, elo termasuk anak gengstar nusantara,” tegas Gabriel.
Ozy tersenyum lebar sambil menepuk-nepuk pundak Alvin.
“Terus? Elo mau ikut basket juga nggak kayak kita?” tawar Cakka.
“Dari awal aku juga pengen masuk ekskul itu. Dulu aku kapten basket,” jawab Alvin.
“O, iya. Kita belum kenalan. Gue Ray,” kata Ray sambil memainkan alisnya. Alvin tersenyum.
“Eh, Vin. Elo kan dah termasuk anak gengstar smanra tuh. Medok elo nggak usah di pake’ napa?” kata Ozy sambil melepaskan rangkulannya. Capek juga harus berjinjit terus.
Alvin tertawa kecil. “Itu udah bawaan. Lagian juga, logat jawaku nggak begitu keliatan kali.”
“Iya sih. Dan juga, ini Jakarta vin! Kalau ngomong, pake’ elo-gue. Bukan aku-kamu,” kata Ozy mengajari. Alvin hanya mengangguk menurut.
“Eh, ada princess tuh,” seru Cakka sambil memainkan kepalanya ke belakang.
Semua menoleh. Terlihat, Shilla yang sedang melangkah mendekat. Di belakangnya, berjalan Zahra dan Angel mengiringi langkah Shilla. Mereka bertiga berjalan seperti layaknya koridor sekolah adalah catwalk. Cewek-cewek modis itu memang divanya sekolah. Aura yang mereka pancarkan seiring mereka berjalan memang sangat kuat. Para siswi berbisik-bisik, sementara para siswa tanpa sadar sering merapikan diri, memastikan penampilan mereka dalam kondisi sekeren mungkin di depan tiga permaisuri itu.
“Hei cewek!” goda Cakka saat Shilla sudah berada di depannya.
Shilla menoleh, lalu bergidik kecil. Tapi raut wajahnya berubah saat melihat Alvin berdiri manis di sebelah Ozy.
“E, kenalin. Sekarang Alvin termasuk anak gengstar di smanra,” kata Ozy menjawab raut wajah bertanya Shilla.
Shilla menganga kaget. Sementara Angel dan Zahra memekik senang. Semua murid juga tahu, anak gengstar smanra, khususnya kumpulan Gabriel, adalah most wanted sekolah. Dan kalau Alvin menjad gengstar smanra, itu berarti ia adalah most wanted sekolah!
Shilla menoleh ke arah Alvin tidak percaya. Sementara Alvin hanya tersenyum tipis. Shilla menghela nafas, tapi lalu melangkah kembali, tapi dengan cepat tangan Cakka menggapai lengannya dan menahan langkah Shilla.
“Buru-buru amat neng,” tanya Cakka dengan nada menggoda.
“Neng? Ikut abang dangdutan yuk!” celetuk Ozy.
“Ih, najis!” sahut Shilla bergidik.
“Waktu tamasya ke binar ria,” Ozy mulai bersenandung. Satu jitakan dari Zahra mendarat di kepala mungilnya.
“Aduh! Kok dari tadi banyak amat sih yang jitak gue? Naksir sama kepala gue?” rintih Ozy kesal.
Shilla mendecak, “gila ah elo semua,” kata Shilla sambil melepaskan tangan Cakka dan mulai melangkah.
“Eh, Shil!” panggil Gabriel membuat Shilla menoleh. “Bbm gue tadi malam kok nggak di balas? Nggak pending kan?” tanya Gabriel sambil menatap Shilla.
Shilla tertegun. Yah. Tatapan maut Gabriel itu memang mampu membuat para perempuan meleleh saat menatapnya. Tidak terkecuali Shilla.
“Eh, sorry Yel. Tadi malam gue udah ketiduran,” jawab Shilla merasa bersalah.
“Oh… kalau gue ajak bbm-an, elo balas nggak?” tanya Gabriel sambil tersenyum.
Shilla tersenyum manis, “pastilah yel!”
“Yyeee… elo Shil! Kalau di depan cowok tinggi nan cakep aja, manis!” protes Ray kesal.
“Iya. Kita kecil-kecil gini, pesonanya kuat loh, Shil,” tambah Ozy.
“Kasian ya kalian…” kata Cakka sambil tertawa.
“Elo juga di cuekin sama Shilla!” sahut Ray dan Ozy kompak. Cakka nyengir lebar.
“Apaan sih kalian. Gaje!” kata Shilla lalu berlalu dan dua sahabatnya itupun mengikuti.
“Eh, Angel! Tunggu,” kata Cakka saat langkah Angel sudah mulai menjauh. Angel menoleh.
“Nanti malam? Jadikan?” tanya Cakka sambil tersenyum.
Angel terdiam sesaat, tapi lalu mengangguk sambil tersenyum malu. Ia lalu berbalik dan menyusul dua temannya pergi.
“Elo jalan sama Angel Kka?” tanya Ray.
“Yo’i,” jawab Cakka sambil bersandar di dinding tangga.
“Lah? katanya elo mau jalan sama Gita…” kata Ozy heran.
“Iya. Tapi itu nanti sore. Kalau sama Angel nanti malam,” jawab Cakka santai.
“Bah. Mantap banar kau nak!” puji Ozy dengan kedua alis terangkat. Cakka hanya nyengir.
^^^
@ SMA Harapan
“RIO!!!” teriak cewek-cewek histeris dari pinggir lapangan.
Rio baru saja sukses menghasilkan three point. Lima temannya yang ikut bermain bersama Rio sudah lelah dengan keringat bercucuran. Nama mereka juga di teriakan para siswi dengan histeris. Istirahat pertama, saat Rio dan teman-temannya bermain basket, memang saat-saat indah bagi para siswi. Rio dan kelima temannya memang termasuk laki-laki terkeren di smanhar –sebutan untuk SMA Harapan-. Walau di teriaki ribuan siswi, mereka tetap cool dan fokus pada permainan. Itu memang peristiwa yang mungkin setiap hari ada di smanhar.
“Udah ah. Capek. Bentar lagi juga masukan,” kata Rio pada teman-temannya sambil melangkah ke pinggir lapangan. Mereka menurut
Semua siswi segera memutar mata ke arah bangku tempat Rio tertuju. Rio memang pangeran sekolah yang terkenal di smanhar. Rio duduk di bangku tersebut sambil mengusap peluh di dahinya.
“Yo, mau minum? Nih. Gue bawain air putih,” tawar seorang anak perempuan yang sudah berdiri di samping Rio.
Rio menoleh. “Nggak usah. Gue bawa kok Dea,” tolak Rio sambil mengacungkan botol air minumnya. Dea tersenyum kecewa.
“Buat gue aja, De. Haus nih,” kata seseorang yang tiba-tiba sudah duduk di samping Rio.
Rio dan Dea menoleh. Mendapati seorang anak perempuan langsing dengan wajah tirus sedang memandang mereka. Ify.
“Kok sendiri Fy? Acha mana?” tanya Rio yang memang tidak melihat adiknya itu. Ify memang sering mengajak Acha ke pinggir lapangan basket kalau sedang istirahat.
Ify tersenyum. “Tadi udah gue ajakin, tapi dia nggak mau. Katanya, mau nemenin Keke ke perpus.”
Rio mengangkat alis. “Keke? Perpus? Jadi sekarang mereka di perpus?”
Ify mengangguk. Rio diam sesaat, tapi lalu berdiri membuat Dea tersentak.
“Gue duluan ya Fy,” pamit Rio lalu berlari pergi.
“Loh? Rio!!!” panggil Dea memerotes. Tapi Rio terus berlari sampai menghilang.
“Sabar, De. Orang cakep mah gitu. Suka ngindar. Tapi nggak lama dia datang juga kok,” kata Ify tenang. Dea mengerucutkan bibirnya dengan kesal.
^^^
Rio membuka pintu perpustakaan. Petugas perpus menoleh, dan nafasnya tersentak melihat Rio yang berkeringat –walau tetap keren- ada di pintu perpus. Rio melangkah masuk dan masih di tatap penjaga perpus dengan tatapan tidak percaya. Rio menoleh.
“Ada yang salah?” tanya Rio dingin.
Penjaga perpus kaget, lalu segera menggeleng dan menunduk. Rio tidak peduli, lalu berjalan masuk. Semua yang ada di perpus menatapnya heran dan tak percaya. Iyalah. Rio kan ketua preman di SMA Harapan. Dan, buat apa Rio ke perpustakaan? kesambet apaan coba?
“Ternyata di sini,” kata Rio saat menemukan Acha dan Keke yang sedang duduk di depannya.
Acha terlihat sedang mencatat sesuatu di buku tulisnya. Dan Keke sedang membaca buku fisika di depannya. Keduanya mendongak kompak.
“Kak Rio? kok ke sini? Bukannya main basket?“ tanya Acha heran.
Rio tersenyum lalu duduk di kursi di depan Acha yang kosong.
“Harusnya kakak yang tanya. Kok tumben kamu ke perpus? Kesambet paan?” tanya Rio setengah mengejek.
Acha mencibir. “Acha kurang ngerti sama pelajaran fisika tadi. Dan Keke, nawarin buat ngajarin.” 
Rio melirik Keke yang tersenyum. Rio lalu menghembuskan nafas sambil menoleh kembali ke Acha.
“Gimana sih, Cha. Kok nggak ngerti. Kasian kan, Keke harus ngajarin kamu. Waktu istirahatnya jadi terganggu,” omel Rio.
“Yee… Keke yang nawarin kok. Iya, kan Ke?” tanya Acha sambil menoleh ke Keke yang ada di sebelahnya. Keke tersenyum sambil mengangguk.
“Tetep aja Keke terganggu istirahatnya Cuma buat ngajarin kamu. Kan kakak bisa ngajarin nanti,” omel Rio lagi.
“Emang kakak bisa pelajaran fisika?”tanya Acha bingung dengan wajah polos.
Rio terdiam menatap adiknya itu. Kenapa malah adiknya sendiri meragukannya? Rio mendesah kecil, lalu mengacak-acak puncak kepala Acha.
“Kalau pelajaran kelas satu, kakak pasti bisalah. Walau nggak jago,” jawab Rio sambil cengengesan. Acha merapatkan kedua bibirnya.
 “Udah. Ayo istirahat dulu,” ajak Rio sambil berdiri. Acha mengangguk dan ikut berdiri.
“Nggak ikut Ke?” tawar Acha menoleh pada Keke yang masih duduk. Keke mendongak lalu menggeleng.
“Tanggung. Bentar lagi masukan. Tinggal beberapa paragraf lagi, kok,” tolak Keke. Acha manggut-manggut. Keke lalu kembali menunduk dan membaca buku di depannya itu.
“Ayo, kak,” ajak Acha sambil beranjak.
Rio diam sejenak, lalu malah duduk kembali, membuat Acha mengernyitkan kening. Tapi kini ia duduk di depan kursi Keke. Keke tersentak dan sedikit melirik ke arah Rio.
Acha mengerutkan kening. “Kak. Ayo, katanya mau istirahat. Acha juga laper, nih.”
Rio menatap Keke yang sedang menunduk kikuk. “Elo nggak ke kantin?” tanya Rio.
Keke mendongak sekilas, tapi langsung menunduk, tidak berani menatap sepasang mata Rio. “Nggak kak” jawab Keke pelan.
“Emang nggak laper? Tadi udah sarapan?” tanya Rio sambil menunduk memandang wajah Keke.
Pipi Keke memanas mendapat perhatian dari Rio. “Udah kok, kak. Keke nggak laper.”
“Makan aja gih. Nanti kamu malah laper waktu belajar. Masa kenyang Cuma karena baca tuh buku?” ucap Rio perhatian.
Keke tertegun dan mengangkat kepala perlahan. Rio tersenyum tulus ke arahnya.
Keke tersenyum kecil. “Nggak usah Kak. Bentar lagi juga bel, nanti nggak sempet.”
Rio sempat terpana saat melihat senyum Keke. Tapi langsung berusaha bersikap biasa. “Nggak papa. Makan dulu, gih. Yah? Bareng sama Acha juga.” bujuk Rio.
Keke merasakan jantungnya mulai berdetak tidak karuan gara-gara sikap Rio yang perhatian. Keke menunduk, menyembunyikan rona bahagia.
“Woi! Ingat! Ini perpustakaan. Malah sok malu-malu monyet,” ledek Acha menopang dagu di meja, menyadarkan Rio dan Keke bahwa masih ada dia di sana daritadi.
Rio dan Keke menoleh lalu menjadi makin kikuk. Sedangkan Acha tersenyum simpul.
“Udahlah, Ke. Kak Rio udah perhatian sama kamu. Ayo makan bareng. Nggak papa lah. Kak Rio yang traktir,” kata Acha sambil tersenyum lebar. Rio tersentak, lalu mendelik ke arah Acha.
Acha nyengir. “Kak Rio mau traktir kita kan?” tanya Acha sambil mengedipkan sebelah mata.
Rio menatap Acha geram. Sementara Acha menyeringai lebar. Pasti tujuan Acha sebenarnya memang ingin di bayari oleh Rio. Rio melirik ke arah Keke yang sedang melihat ke arah Acha. Rio mendesah.
“Ya ya ya. Ayo,” kata Rio pasrah seraya berdiri kembali.
Acha tersenyum penuh kemenangan. Keke ikut berdiri sambil menaruh buku di rak kembali. Rio melangkah, di ikuti Acha dan Keke. Acha melangkah di antara Rio dan Keke.
“Kak, nanti Acha beliin chitato yang banyak ya,” pinta Acha.
“Yeee… enak aja. Chitato punya kakak. Walau kamu minta beli, nanti kakak juga minta,” kata Rio sambil menjulurkan lidah. Dia memang sangat menyukai snack satu itu.
“Ih… kakak! Eh, terus. Sama minuman kalengnya satu, donatnya satu, coklatnya dua, fresh corn nya juga, ….” cerocos Acha yang segera di potong Rio.
“Kamu mau minta traktir, atau mau pelorotin kakak sih?” kata Rio sambil memukul kepala Acha pelan. Keke tersenyum melihat keduanya.
Acha tertawa. “Biarin. Kan kakak yang traktir.”
“Nggak jadi,” sahut Rio sambil terus berjalan.
“Ih! Kakak jahat!” rengek Acha sambil manyun.
“Biarin!” balas Rio cuek. Acha dan Rio pun berkelahi kecil.
“Sssttt…” kata orang-orang yang sedang membaca di perpustkaan. Rio menoleh, membuat mereka tersentak melihat siapa yang mereka tegur.
“Kenapa? Ganggu?” tanya Rio dingin.
Semua terdiam melihat sepasang mata tajam Rio. Mereka saling pandang. Dan detik berikutnya, mereka menggeleng cepat dan kembali menunduk melanjutkan membaca. Yah, siapa sih yang berani dengan ketua preman sekolah yang terkenal itu? Auranya saja sudah memancarkan ketidakramahan.
Acha merasa risih semua orang memandangnya takut. Acha mendengus, lalu dengan cepat menarik tangan Rio dan Keke keluar.
^^^
“Kakak nggak bisa apa bersikap biasa aja sama orang lain?” tanya Acha sebal lalu meneguk minuman kalengnya. Rio hanya diam.
Acha menghela nafas, lalu menjawil lengan Rio yang duduk di depannya. Rio menoleh dengan pandangan bertanya. Acha menggerakkan kepala ke arah Keke di sebelahnya yang diam sedaritadi.
“Acha tahu, kakak nggak pernah ramah sama orang lain. Tapi paling nggak, kakak jaga image dong!” gerutu Acha.
Rio terdiam lalu melirik Keke. Keke masih menatap hampa es jeruknya dalam diam. Acha menghela nafas panjang. Rio kembali menoleh ke arahnya.
"Kak. Acha ngerasa nggak enak dong kalau kakak kayak gini. Kan karena Acha kakak kenal sama dia. Eh… kakak malah sifatnya gitu. Gimana dia mau terima?” kata Acha setengah berbisik. Rio terdiam.
“Woy!” kata seseorang menepuk pundak Rio.
Rio, Acha dan Keke tersentak serta menoleh kompak.
“Kak Lintar? Kok sendiri? Mana Nova?”tanya Acha heran.
Lintar tersenyum tipis sambil mendesah. “Biasa lah, Cha. Udahlah. Malas bahas,” jawab Lintar tak peduli. “Eh, yo. Balik, yok,” ajak Lintar pada Rio.
Rio menoleh sekilas, lalu memandang Keke. Setelah menghela nafas, Rio berdiri. Lalu menoleh ke Acha dan Keke.
“Makannya udah selesai kan? Kakak balik duluan,” pamit Rio. Acha mengangguk. “Gue balik ya Ke,“ kata Rio dengan suara berbeda pada Keke. Keke tersenyum tipis sambil mengangguk. Rio lalu berbalik, dan mulai melangkah bersama Lintar keluar kantin.
Setelah Lintar dan Rio pergi…
“Huuuffttt… pasti ada masalah lagi,” kata Acha sambil menghela nafas.
Keke mengerutkan kening, “masalah apa?”
“Ituloh, Ke. Kak Lintar sama Nova. Berarti kita punya satu tugas lagi,” jawab Acha.
Keke tersenyum, “iyalah, Cha. Tugas wajib.”
“Kak Lintar juga sih. Nggak perhatian banget. Nggak pernah nganggap Nova. Gimana si Nova nggak ngambek coba?” protes Acha sedikit kesal. Keke hanya mengangkat bahu.
Acha menghela nafas, “pasti nanti kak Lintar bakal curhat lagi.”
Keke mengerutkan kening kembali.
"Kamu nggak pernah ngerasain ngumpul bareng preman-preman sekolah kayak mereka sih. Bayangin deh. Hampir tiap hari mereka ngumpul di rumahku. Ada kak Rio, yang coolnya minta ampun dan selalu over protectiv sama aku. Terus kak Lintar, yang pasti curhat mulu tentang dia sama Nova. Kamu tahu nggak Ke? Gara-gara kak Lintar sering berantem sama Nova, kak Lintar itu di panggil Mr. Galau! Ckckck."
Keke tertawa geli.
"Terus Kak Debo, yang playboynya minta ampun. Baru juga sampai abis jemput ceweknya, eh, pergi lagi jemput cewek yang lain. Ya ampun. Tu anak punya berapa pacar ya? Terus juga kak Deva. Yang paling nggak bisa diam. Dan juga yang paling seneng ngejayus. Beda banget sama Kak Kiki yang pendiemnya gitu. Terus, kalau di tambah sama Kak Rizky, yang hobi ketawa. Lucu dikit aja, pasti ketawa. Ckckck.
“Huuuffttt… bayangin. Kalau mereka ngumpul bareng, ada yang diam, ada yang curhat, ada yang nasehatin aku, ada yang bolak-balik, ada yang ribut sana-sini. Hhhhh… dan hari ini, mungkin Kak Lintar bakal curhat lagi,” keluh Acha panjang lebar.
“Loh… kok kamu ikut-ikutan Cha?” tanya Keke heran.
"Ya wajiblah, Ke! Pertama, basecamp mereka emang di rumahku. Kedua, aku adeknya ketua mereka. Lagian juga, mereka temen cowok yang aku punya. Kamu tahu sendirikan kak Rio itu paling nggak suka ada cowok yang deketin aku?” jawab Acha sambil memain-memainkan jari di minuman kalengnya.
Keke tersenyum. “Tapi seru, kan? Jadi rumah kamu nggak sepi. Apalagi Bunda sama Ayah kamu lagi ada di Manado.”
“Iya, sih. Tapi… kalau lagi di nasihatin Kak Rio,  pasti mereka ngetawain aku. Huh!!” sahut Acha sambil memajukan bibirnya.
Keke tertawa. “Udahlah,Cha. Nyantai aja. Walaupun gitu, mereka juga pasti care sama kamu.”
“care?“ tanya Acha sambil mendelik heran. Keke mengangguk sambil tersenyum.
Acha menghela nafas. “Mungkin.” kata Acha ragu. “Eh, balik, yuk. Udah mau masukan nih,” ajak Acha seraya berdiri. Keke mengangguk dan mengikuti.

xxxxx

Wkwkwkwk. Itu sorry banget yang malak-malak ga jelas banget sumpah -,- *jaman sekarang masih malak, please deh -_-*
Itu padahal ada dua scene lagi tentang SMA Harapan. Tapi karena kayaknya udah panjang banget, aku ilangin deh :D (padahal suka loh sama scene itu --" )
Yang cantik, ganteng, keren,manis, baik hati dan tidak sombong, di komen ya :) Yg di twitter pake' hastag #PMB ya :D
Facebook.com/mrz.mikas (Aleastri Blinkstar Miossa)  Twitter.com/aleastri
Thanks :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar