Rabu, 13 Februari 2013

Bintang Super Mario: Part 6



Part 6: "Please, forget him..."

Perkembangan hubungan Gabriel dan Ify berjalan pesat. Setelah menghabiskan malam Minggu berdua saja dengan menonton pertunjukan musik dan  makan bersama, esoknya Gabriel kembali bertemu dengan Ify. Kali ini rumah Ify yang jadi latarnya.
Ify tersenyum sambil melangkah keluar dari rumahnya dengan sebuah baki di kedua tangannya. Ada dua gelas es jeruk dan sepiring brownies potong. Gabriel yang awalnya duduk melamun di ayunan halaman rumah Ify, terkejut dan menoleh.
"Malam-malam ngelamun, nanti kesambet," tegur Ify sambil menaruh baki di meja kecil yang tadi ia tarik dari terasnya, di samping ayunan itu.
Gabriel tersenyum, "dari dulu lo nggak bisa lepas dari ayunan ya?" tanya Gabriel setengah mengejek.
Ify tertawa, lalu duduk di samping Gabriel, di ayunan panjang itu. "Gue seneng aja sama ayunan. Tapi ayunan begini nggak terlalu asyik. Sukanya yang bisa bikin ngelambung gitu!" kata Ify ceria.
Gabriel tertawa. Bayang Ify kecil muncul dalam benaknya. Keceriaan gadis itu, yang membuatnya selalu kagum.
"Ayunan itu ya, bisa buat gue bahagia. Apalagi saat ngelambung tinggi, gue kayak nyatu sama langit. Hehe, iya. Langit. Gue suka banget sama langit," lanjut Ify menatap langit malam yang gelap. Tapi lalu bibirnya mendecak dengan raut wajah kecewa, "tapi gue kesel banget kalau malam gini. Nggak ada bintang. Padahal gue suka langit karena langit tu tempatnya bintang."
Gabriel mengangkat alis, "ya iyalah nggak ada bintang. Kan bintangnya lagi ada di samping gue."
Ify tersentak, lalu menoleh. Gabriel tersenyum ke arahnya, membuat pipi gadis itu kembali membara.
"Apaan sih lo," kata Ify memukul pelan lengan pemuda itu, membuat Gabriel tertawa. "Yang punya nama Bintang kan elo, ya elo bintangnya."
Tawa Gabriel berubah jadi senyum, "em... bintang dimana?" tanyanya dengan nada menggoda.
'Di hati gue...' batin Ify sambil menggigit bibir, takut kata itu langsung terceplos begitu saja. "Ya... dimana kek gitu. Keluarga lo, sekolah, atau lapangan basket mungkin?" jawab Ify asal.
"Em... kalau di hati lo?" tanya Gabriel mengerling.
"Ih Gabriel apaan sih," sekali lagi, Ify memukul pemuda itu sambil bersungut. Walau diam-diam merasa melayang. Ternyata pemuda pujaan hatinya sedari dulu ini punya sifat seperti ini. Menyenangkan.
Gabriel tertawa, lalu bersandar di ayunan membuat ayunan itu bergoyang pelan. Ia mendongak menatap langit. Ify mengangkat alis melihat itu, tapi lalu mengikuti.
"Lo sering liat langit ya?" tanya Gabriel, mengingat saat itu Acha juga berkata seperti itu.
Ify tersenyum. "Sering banget Gab. Tapi... gue sering bete. Langit Jakarta tuh ngeselin kalau malam. Nggak ada bintang. Namanya... em... light... polusi... eh,  light..." Ify mencoba mengingat-ingat, Gabriel tertawa melihat ekspresi gadis itu.
"Light pollution?" ucap Gabriel membenarkan.
"Eh, iya itu maksud gue!" kata Ify nyengir. Agak merasa malu. "Ibukota kebanyakan gedung tinggi, lampu jalanan, dan kendaraan dimana-mana. Lampu-lampu dari mereka itu yang buat langit jadi terlalu  terang, jadi sinar bintangnya nggak keliatan deh."
Gabriel mengangguk-angguk, "sama kayak hidup ya?"
"Hm?" Ify menoleh dengan kening berkerut.
Gabriel tersenyum, "kadang banyak hal-hal yang  terlihat indah yang nutupin hal indah sebenarnya. Yang buat manusia sering kali terbuai, dan salah langkah untuk milih."
Ify diam sejenak, lalu mengangguk setuju. Ia kembali menatap langit malam, dan menerawang. "Kayak seorang pengagum rahasia yang punya cinta tulus, tertutupi sama para pengagum lainnya. Sehingga pujaan hatinya nggak bisa liat dia," kata Ify terdengar lirih, bahkan seakan ia sedang bicara sendiri.
Gabriel tersentak. Ify sendiri juga ikut tersadar dengan ucapannya, lalu merutuk diri dengan bodoh.
"Elo curhat Fy?" ejek Gabriel bercanda sambil tertawa.
Ify makin merutuk, merasakan pipinya makin membara.
"Bukan sama gue, kan? Hahaha," kata Gabriel asal sambil tertawa.
"Eeeee ya bukanlah. Masa sama lo, haha, bukan. Geer lo. Haha, emang siapa yang curhat? Sok tahu deh. Haha, apaan sih, haha," racau Ify tak jelas. 'Mampus gue mampus....' batin Ify ingin sekali memukulkan kepalanya ke tembok. Salah tingkah membuatnya tertawa gugup dengan racauan tak karuan.
Gabriel meredakan tawanya. "Sinar yang terlalu terang emang bisa nutupin sinar lain. Karena itu, kita sebagai manusia harus punya ciri khas sendiri. Biar kita juga bisa bersinar terang daripada yang lain."
Ify mengangguk, sambil menoleh ke segala arah. Berusaha agak merah di pipinya tak terlihat dan segera menghilang.
Gabriel memerhatikan raut wajah gadis itu. Yang entah mengapa membuat lagi-lagi, hatinya berdesir. Ah gadis ini. Bintang paling terang dalam hidupnya. Beruntung Gabriel kembali dipertemukan dengan gadis ini. Karena... tanpa gadis ini hidup pemuda itu akan semakin gelap. Bersamaan dengan luka yang terus menganga. Kala pertemuan awalnya dengan Ify, senyuman gadis itu mengobati lukanya. Ganti menggoreskan senyum dan bahagia. Tapi saat pemuda ini harus pergi, ia harus rela meninggalkan bintang itu. Tapi mungkin Tuhan sangat mencintainya. Doa Gabriel didengar. Gadis itu kembali padanya. Awalnya Gabriel memang senang memerhatikan Ify dari jauh setiap Ify menontonnya bermain basket. Perasaan Gabriel sudah berkata bahwa dialah orang yang pergi selama ini. Dan benar saja. Sejak mereka sekelas -atau tepatnya sejak ke ruang musik berdua itu- mereka jadi dekat karena tahu kisah kecil masing-masing. Tak bohong kalau Gabriel senang melihat pipi gadis itu sering merona di sampingnya. Mungkin Gabriel terlihat cuek tak peduli, padahal diam-diam hatinya ikut melambung melihat itu. Membuat suatu firasat muncul dalam dadanya. Mungkin saja... gadis ini juga memiliki rasa yang sama.
Dan... apakah ini waktunya? Karena posisi Gabriel seperti terancam. Sejak kedatangan murid baru itu, entah mengapa Gabriel merasa dialah Rionya Ify. Selama ini firasat Gabriel jarang ada yang salah. Karena itu, Gabriel takut. Kalau-kalau kisah mereka remaja ini akan sama seperti kisah saat mereka masih kanak-kanak. Dimana Rio selalu dominan mendekati Ify, Ify yang selalu menurut walau mengomel dulu, dan Bintang yang hanya bisa melihat mereka tertawa bersama. Tidak. Gabriel tidak ingin seperti itu lagi. Ia yang kali ini bersama Ify, bukan Rio. Ya. Mungkin ini memang waktunya.
Gabriel menarik nafas dalam, lalu menghembuskannya. Kemudian ia berdehem pelan, "em... Fy," panggilnya membuat Ify menoleh. "Apa sampai saat ini gue tetap jadi bintang paling bersinar buat lo?" tanya Gabriel, mengingatkan ucapan Ify dulu saat mereka masih kecil.
Ify terkejut setengah mati, dan melebarkan mata menatap Gabriel.
"Dulu lo pernah bilang. Bintang di langit nggak akan bisa nyamain dua bintang yang jadi sahabat lo di bumi. Sampai saat ini... apa masih begitu?" tanya Gabriel serius.
Ify meneguk ludah. Andai saja Gabriel tahu. Gabriel telah jadi bintang terindah di hati Ify. Bukan di tempat persahabatan, tapi di tempat lain yang lebih spesial. Akhirnya Ify hanya tersenyum dan mengangguk. Tak bohong, kan?
"Eum... sekarangkan, kita udah nggak tahu Rio ada dimana," ucap Gabriel perlahan, Ify mengerutkan kening. "Jadi... apa... gue bisa jadi satu-satunya bintang yang bersinar buat lo?"
Mata Ify melebar, dan tertegun. Tatapan teduh Gabriel membuatnya makin membeku.
"Ma... maksud lo?" tanya Ify mencoba bersua walau tercekat.
Gabriel menghela nafas, lalu mendekatkan diri. "Gue mau jadi bintang lo. Bintang milik lo."
Mulut Ify terbuka sedikit. Tak memercayai pendengarannya. Siapapun, tolong segera tampar pipinya sekarang. Karena ia tak yakin ini nyata atau mimpi. Atau khayalan? Halusinasi? Apapunlah. Ify mengerti maksud itu. Apalagi kata 'milik lo'. Eh, atau ia yang salah menafsirkan? Ataukah karena harapan itu sudah terlalu banyak hingga ia mengartikan maksud Gabriel seperti apa yang ia inginkan selama ini? Namun... tatapan menenggelamkan itu membuatnya yakin sekali ini kenyataan.
"Gue nggak bisa diam lagi. Selama ini gue selalu merhatiin lo diam-diam. Karena itu, saat tahu kita sekelas gue langsung deketin lo. Dan saat tahu ternyata lo adalah Ify kecil gue, gue makin ingin selalu sama-sama lo," aku Gabriel membuat lutut Ify melemas seketika. Gabriel menarik nafas perlahan, "gue... sayang sama lo."
Mata Ify melebar dengan mulut terbuka sedikit, tak menduga dengan apa yang Gabriel ucapkan. Em... oke oke. Ify memang selalu mengkhayal dan berharap suatu saat nanti Gabriel akan menyatakan cinta padanya. Tapi ternyata, saat hal itu jadi nyata Ify hanya bisa jadi batu yang tak bergerak sedikitpun. Benar-benar membeku.
Tapi ucapan Gabriel selanjutnya, membuat Ify tersentak lagi.
"Gue mau jadi satu-satunya bintang buat lo. Bukan yang lain," kata Gabriel serius.
Ify diam sejenak, "mak...sud lo... satu-satunya bintang?" ucap Ify tersendat. Sepertinya ia mengerti maksud kalimat itu.
Gabriel meneguk ludah sedikit, lalu mendesah pelan. Ia kemudian meraih kedua tangan Ify dan menggenggamnya hangat. "Lupain Rio."
Ify tenganga, tapi refleks melepaskan genggaman Gabriel membuat Gabriel terkejut. "Maksud lo, lo mau gantiin posisi Rio gitu?" ucapnya mulai menajam, agak tersinggung.
Gabriel menggigit bibir, sudah pernah menduga dengan reaksi seperti ini. "Bukannya lo bilang lo benci dia? Dan lo mau lupain dia, kan?"
"Ya tapi bukan berarti tempatnya bisa digantikan," sahut Ify segera. "Sampai kapanpun, lo, atau siapapun di dunia ini, nggak akan ada yang bisa gantiin Rio," tegas Ify membuat tusukan dalam dada Gabriel.
"Bahkan sampai dia nggak pernah kembali?" tanya Gabriel tak bernada, seakan tenang dengan pembicaraan mereka. Walau hatinya mulai retak perlahan.
Ify mendadak terdiam. Sementara Gabriel menatapnya dalam.
"Apa sampai nanti, sampai lo punya kehidupan sendiri, lo tetap akan terus mikirin dia?" tanya Gabriel dengan nada menuntut, datar namun mendesak. "Dan Fy, apa lo yakin di sana Rio sedang mikirin lo juga? Apa Rio masih ingat sama sahabat kecil yang dia tinggal? Apa Rio sampai saat ini nggak pernah gantiin posisi lo? Apa lo tahu?"
Mulut Ify terbuka, tapi tak tahu kata apa yang harus ia ucap. Ia jadi gagu, dengan nafas yang tercekat.
"Dia udah buat luka untuk lo. Dan di sini, gue bersedia ngobatin luka itu," ucap Gabriel kini menjadi bernada lembut, "karena gue sayang sama lo."
Ify meneguk ludah menatap bola mata teduh Gabriel. Hatinya bergerak perlahan. Mulai merasa luluh. Namun hati kecil gadis itu masih tak bisa menerima, memerotes dan yakin bahwa Rio pasti akan kembali. Karena laki-laki itu sudah mengatakan berkali-kali. Kemanapun ia melangkah, pasti nanti akan kembali lagi pada Ify. Dan Ify memercayainya. Seperti Ify percaya bahwa memang sampai kapanpun ia takkan bisa menggantikan posisi Rio. Memang, ia sering berkata ia sudah melupakan Rio, membenci pemuda itu yang sudah ingkar janji. Namun sebenarnya di lubuk hati Ify terdalam, Ify masih sangat mengharapkan Rio. Oke, ia memang menyukai Gabriel. Gabriel punya posisi berbeda di hati Ify dengan Rio. Tapi ucapan Gabriel itu, yang seakan menyuruhnya memberikan seluruh tempat di hati hanya untuk Gabriel. Tanpa ada lagi nama Rio di sana. Sanggupkah Ify melakukannya?
"Gimana Fy?"
Ify tersentak. Ia lalu menghela nafas dan mengalihkan pandangan. Punggungnya ditempelkan ke senderan ayunan dengan mata menerawang langit malam. "Gue nggak tahu," jawabnya singkat membuat Gabriel tersentak. "Gue nggak bisa jawab Gab. Em... iya, gue juga suka sama lo. Tapi... gue nggak tahu apa gue bisa gantiin Rio atau nggak."
Gabriel mendesah pelan, "terus? Gue harus nunggu jawabannya?"
Ify mengedikkan bahu, "terserah lo. Gue nggak nyuruh atau maksa."
Gabriel diam. Ia menggigit bibir sambil ikut menatap langit malam. Pemuda itu menghela nafas panjang. "Oke, gue tunggu."
Ify meremas jemarinya. Ada perasaan senang bahagia memancar dalam dadanya. Tapi sebagian juga ada rasa ragu yang menyelinap. Gadis itu makin menatap langit, dan berbisik lirih.
'Rio... kamu akan kembali, kan?'

^^^

"Aku pasti kembali!" sahut Rio kesal, karena berkali-kali diteriaki hal yang sama. "Besokkan sekolah Ma, aku pasti pulang."
Mama Rio sudah memasang wajah marah karena anak tunggalnya itu selalu seenak jidat keluar masuk rumah sesukanya. Sejak jadi anak ibukota, Rio memang sering kali keluar. Ya sebagai orangtua, wajar saja Mama Rio merasa khawatir. Ia tak ingin pergaulan ibukota yang jelek merasuk ke anaknya -yang memang sudah bandel-.
"Aku ke tempat Ozy aja kok! Ya? Bye!" pamit Rio tanpa menunggu jawaban ijin dari bunda tersayang. Ia langsung ngeluyur keluar rumah begitu saja.
Cukup melewati satu rumah, Rio sudah sampai di pagar rumah Ozy. Ia masuk seenaknya, dan melangkah ke teras rumah Ozy, lalu melangkah masuk dengan santai.
"Ozy!" panggil Rio sambil melangkah melewati ruang tamu begitu saja.
"Di kamar, masuk aja."
Sebuah suara berat dari ruang tengah yang baru ia masuki membuat Rio menoleh. Rio refleks tersenyum lebar, melihat Om Ozy sedang duduk di sofa ruang tengah sambil mengetik di laptopnya.
"Woi Om!" sapa Rio sambil duduk di sofa, "aku mau ngomong sama Om."
Om Ozy itu mengerutkan kening, dan mendongak.
"Mau bantu aku nggak?" tanya Rio nyengir.
Pria putih yang duduk membentuk sudut dengan Rio itu mendesah, lalu kembali memandang layar laptop. "Apalagi? Ngerjain Ozy lagi?" tanyanya yang memang sering mendapat ide jail dari Rio untuk mengerjai keponakan pertamanya itu.
Rio tertawa, "Om Adit ah! Emang aku sebejat itu apa?" tanyanya tanpa dosa. Pria yang mendengarnya tertawa.
Rio merogoh sesuatu dari kantong celananya. Ia lalu menaruh di atas keyboard laptop Adit. Adit tersentak. Sepucuk surat. Kening pria itu berkerut, lalu menoleh pada Rio.
Rio menyeringai, "aku disuruh guru panggil orangtua buat besok."
Kening Adit makin mengerut, "buat apa? Ck. Kamu pasti buat masalah ya?"
"Nggak Om," elak Rio segera, "kata gurunya itu, dia mau ketemu waliku. Biar lebih tahu aku karena akukan murid baru."
"Terus kenapa kasih Om? Kenapa bukan orangtuamu?" tanya Adit telak, membuat Rio bungkam. "Pasti kamu buat onar ya di hari pertama?"
"Iya Om!" sebuah suara yang baru datang membuat Adit dan Rio menoleh. Ozy dengan kaos putih oblong dan celana biru pendeknya mendekat, lalu melemparkan tubuh ke samping Rio. "Dia berantem sama anak kesayangannya guru, ya wajar aja dipanggil."
Rio mencibir, mengingat sosok gadis yang jadi alasan adanya surat itu. Sementara Adit mendesah.
"Panteslah dipanggil. Anak baru tapi hari pertama udah berantem. Mau tahu lebih dekat itu maksudnya pengen tahu kamu dulu di sekolah lama gimana," kata Adit sambil mengambil surat itu, membukanya, membaca sekilas tanpa melihat tanda tangan atau nama guru yang memanggil Rio, lalu melipatnya kembali dan memasukkannya lagi.
Rio mendesah, "Om, datang ya? Please.... Mama udah ngamuk nih sama aku, apalagi kalau ditambah surat itu."
Adit mendecak pelan, "jam berapa?"
"Sembilan, dan ditunggu sampai jam sebelas," jawab Rio.
"Aku masih kerja tuh. Jam sebelas memang istirahat, tapikan harus jemput Dinda," ucap Adit membuat Rio langsung kecewa.
"Yah Om, jadi gimana?" tanya Rio mulai panik.
"SDnya Dindakan deket sama sekolah. Emang nggak bisa mampir Om?" tanya Ozy membantu Rio.
Adit diam, menimang. Ia memutar mata, melirik Rio yang menatapnya super memelas dan berharap.
"Datang ya Om. Yang manggil tuh guru tercantik di sekolah loh! Idolanya Ozy!" bujuk Rio membuat Ozy mendelik. "Dia guru bahasa Inggris yang juga jadi pembina musik. Ozy ngefans banget sama dia!"
Ozy dengan kesal menempeleng kepala Rio, membuat Adit tertawa kecil.
Rio bersungut dan menoleh, "elo sendiri yang ngaku kalau ngefans sama tu guru."
Ozy mencibir sebal, lalu melirik ke arah Adit, "ya elo juga nggak usah ngomong di depan Om Adit kali," bisik Ozy kesal.
"Loh? Memang kenapa Om nggak boleh tahu?" tanya Adit mendengar, membuat Ozy membelalak sedikit karena bisikkannya ternyata tak pelan.
"Emang nih Ozy. Dia takut kali Om ngerebut pujaan hatinya," ucap Rio seenaknya.
Ozy menggeram sebal, "Om! Besok nggak usah datang aja! Lagian sekarang aku mau ngasih tahu Tante Manda kok, biar Tante Manda yang datang!" kata Ozy tegas sambil berdiri, membuat Rio melotot dan segera menariknya mendekat.
"Iya Zy, iya. Ampun ampun. Damai deh damai," kata Rio langsung panik. Ancaman Ozy untuk memberi tahu mamanya membuat Rio langsung ciut.
Adit geleng-geleng kepala melhat tingkah dua sahabat ini, "ya sudah. Besok Om datang," putusnya membuat senyuman lebar langsung tengiang di wajah Rio. Sementara Ozy hanya mengerucutkan bibirnya.

*****

Hm... bingung ya? Karena part kemarin aku bilang bakal nyesek dan ada yang nangis sesenggukan. Ya... sebenarnya itu si penulis, yang nyesek ngetik adegan Gabriel nembak Ify *hiks. (Maaf, penulis emang random)
Eeeehhhh ada yang muncul. Ihiy. Si semut (senyum imut) hihihi. Adit di sini baek gitu ya. Mau ngebantu dan masih berjiwa muda gitu. Huahaha.
Cieee Ozy kayaknya beneran suka sama Miss Alya. Tapi... Omnya kan padahal mantan gurunya itu ya. Kalau dia tau gimana? Em~
Part depan, entah muncul atau nggak(?). Karena aku pengen kalian promote dulu dong. Pake' hastag kek sekalian. Em... hastagnya #BintangSuperMario aja gimana?
Tapi ngomong-ngomong part depan sih.... termasuk yang aku suka ya. Karena para peran utama muncul di satu part yang sama. Mulai menuju klimaks juga ;)

see you next part ya!
@aleastri






Minggu, 10 Februari 2013

Bintang Super Mario: Part 5



Sebelumnya aku minta maaf karena sering ngaret dan gagal post mulu. Akhir-akhir ini emang banyak baget kendala. Maaf maaf banget ya.

Part 5: Kisah Langit

"Sumpah deh Yel. Gue kesel banget sama dia," gerutu Ify kesal sambil melangkah bersama Gabriel pulang sekolah ini.
Sejak tahu tentang masa lalu mereka, keduanya memang jadi makin mendekat. Di kelaspun, tak jarang Gabriel mendatangi Ify. Membuat pipi Ify sering kali terasa memanas. Dan tadi, Gabriel juga menawarkan diri pulang bersama Ify. Melihat kekesalan di wajah Ify, membuat Gabriel bertanya simpatik. Dan ya begitulah, Ify menceritakan segala kekesalannya tentang anak baru itu.
"Anaknya tuh rese banget. Gimana gue bisa duet sama dia? Ih," omel Ify terus mendumel tentang Rio.
"Fy, udahlah. Lo nggak boleh gitu. Benci sama orang itu nggak baik," ucap Gabriel dewasa.
"Tetep aja gue kesel sama dia. Anak baru kok songong banget. Kayaknya tu anak bakal jadi pengganggu hidup gue deh!" kata Ify masih saja sebal.
"Nggak boleh ngomong gitu ah. Nggak baik berburuk sangka sama orang."
Ify terdiam. Ia mengangkat sebelah alis, lalu menoleh pada Gabriel. Gadis itu kemudian tersenyum menahan tawa, membuat Gabriel mengerutkan kening. "itu pasti kata mamamu, kan?" tanya Ify mengingat awal pertemuannya dengan Bintang.
Gabriel tertawa, "masih ingat?"
Ify berdehem pelan, "kata mama aku, nggak baik berburuk sangka sama orang," ucap Ify belaga memeragakan gaya Bintang yang ia ingat dulu.
Gabriel kembali tertawa. Ify juga ikut tertawa, walau diam-diam hatinya melambung tinggi bahagia.
"Oh ya Fy. Nanti malam ada live music jazz di HQ cafe. Lo suka jazz, kan? Nonton yuk!" ajak Gabriel membuat mata Ify melebar, "pas banget kan nanti malam tuh malam Minggu?"
Amarah dan panas yang tadi membakar hati Ify karena mencurahkan hati tentang Rio tiba-tiba langsung melenyap tanpa jejak. Digantikan bunga-bunga bermekaran yang mungkin sedang merayakan tahun baru karena ada kembang api meledak-ledak dalam hati gadis itu. Hatinya melambung tinggi dengan ribuan harapan menyerbu. Dan... ehm. Pas banget malam Minggu? Itu... maksudnya apa ya? Kodekah? Aduhduh. Tanpa sadar pipi Ify sudah memerah panas.
"Eum... oke deh. Jam berapa?" tanya Ify setelah beberapa saat mencoba menguasai diri.
"Jam setengah delapan gue jemput," jawab Gabriel tersenyum menawan.
'Aduhduh... bintang di langit aja kalah kali sama sinar bintang yang ini...' batin Ify menatap senyuman itu. Ify tersenyum tersipu, dan mengangguk.
Gabriel makin tersenyum. Menyadari pipi gadis itu sudah merona. Entahlah. Ada rasa bahagia terpancar dari hati pemuda tampan itu. Seperti dulu.

^^^

- IKLAN SEJENAK -
Semuanya jangan lupa klik www.ceritamu.com terus log in via facebook. Search cerpen 'Thanks, I Love You'. Like dan komen ya. Kalau ga sempet komen, share di twitter aja. Makasih :D

^^^

Alya keluar dari mobil yang mengantarnya pulang. Si pengemudi ikut turun, dan mengantar Alya sampai menuju ke pintu rumahnya. Alya berbalik, dan tersenyum pada pria itu.
"Rohan, makasih ya," kata Alya manis.
"Kamu apa sih. Kok ngomong makasih, kan tiap hari emang begini," jawab pria bernama Rohan itu tersenyum.
"Makasih... buat makan siangnya," jawab Alya malu.
Rohan tersenyum, lalu mengusap-usap rambut panjang Alya halus. "Aku pulang ya," pamitnya.
Alya mengangguk. Rohan tak langsung melepaskan tangannya di atas kepala Alya. Ia menarik lembut kepala itu mendekat, lalu mengecup kening Alya, membuat wanita muda tersebut menunduk sambil tersenyum kecil.
"Bye!" Rohan berbalik, kembali pada Mercy hitamnya.
Alya melambai pada pria itu. Rohan masuk ke dalam mobil, lalu mulai pergi. Senyum kecil di wajah Alya menjadi senyuman lebar bahagia. Ia lalu dengan riang masuk ke dalam rumahnya. Perempuan itu segera masuk kamar, lalu merebahkan diri ke atas ranjang. Merasa lelah sekali seharian mengurusi anak muridnya di SMA Pelita. Apalagi tadi dua anak itu membuat onar. Alyssa dan Mario.
Mario.
Alya tersentak, dan langsung terduduk dari tidurnya. Teringat lagi nama Rio tadi. Ia berani sumpah. Ia pernah mendengar nama itu. Dulu. Dulu sekali. Tapi... kapan?
Alya melepaskan sepatu haknya, lalu berganti baju. Ia terus mencoba mengingat nama itu. Sepertinya dulu ia sering kali menuliskannya. Eh, atau dulu ia sering kali memikirkannya?
"Mungkin umurku sama Rio beda belasan tahun. Jadi... kapan aku ketemu dia?" gumam Alya bertanya, entah pada siapa.
Perempuan itu mondar-mandir di kamarnya sambil mengelus dagu, mencoba mengingat.
"Mario Bintang Haling..." kata Alya pelan, dengan suara mengambang. Bintang...

"Bintang di langit..."
"Aku udah suruh mereka nemenin kamu."
"Namanya Rio itu Mario Bintang... eng... siapa Yo?"
 "Aku nggak akan ninggalin kamu lama-lama kok. Kalau aku pergi, nanti aku juga pasti kembali lagi ke kamu."
"Kamu... akan kembali, kan?"
"... Aku, ataupun kamu nggak tahu kehidupan apa yang terjadi nanti. Kita nggak bisa nebak..."
"Suatu saat nanti..."

Secepat kilat, ribuan bayang kenangan menyerbu otak Alya. Dua anak kecil yang bermain di ayunan taman, lalu pemuda yang memberikan ia segelas es jeruk, dan dirinya yang berseragam SMA dengan buku tulis dan pulpen di pangkuan. Memori itu mendadak muncul, membuat kepala Alya sedikit berdenyut sakit.

"Itu bukan kisah mereka nanti, tapi... kisah novel kamu."

Alya tersentak. Refleks, ia membuang pandangan pada lemari besarnya yang ada di sudut kamar. Perempuan itu seperti kesetanan, segera menuju lemari tersebut. Membukanya dengan tak sabar. Kalap, ia melemparkan semua barang-barang yang ada di dasar lemari begitu saja, mencari suatu benda yang ingin ia ambil. Dan itu dia. Tergeletak pasrah di pojok lemari. Sendirian. Dengan debu yang jadi selimutnya. Alya merasakan hatinya mencelos seketika.
"Adit..." gumamnya bergetar. Ribuan gejolak emosi itu membuatnya jadi terhantam keras. Karena kenangan yang coba ia kubur, kini kembali datang ke permukaan.
Dengan gemetar, Alya menjulurkan tangan. Meraih kotak berwarna emas berukuran 30x30x30 cm. Ada pita putih menghiasi tutupnya, walau kini terlihat sangat lusuh dan berdebu.
Alya beranjak, membawa kotak itu menuju depan ranjangnya. Ia duduk di sana, lalu membersihkan debu tebal di kotak tersebut. Perempuan itu menutup hidung dan mulut saat debu-debu itu berterbangan. Ya Tuhan... sudah berapa tahun ia menyimpan kotak ini tanpa pernah menyentuhnya sedikitpun?
Alya menghela nafas, lalu membuka tutup kotak itu. Hatinya berdenyut tak nyaman. Walau ada luapan rindu yang meledak-ledak menyesaki dadanya.
Benda pertama yang terletak paling atas, sepucuk surat. Surat yang Adit berikan dulu kala keberangkatannya ke Australi. Lalu selanjutnya ada beberapa buku harian, yang berisi kisah manis Alya dan Adit saat SMA dulu. Ada sebuah boneka kelinci kecil berwarna pink yang sudah terlihat lusuh. Lalu...
Sebingkai pigura.
Alya menggigit bibir kuat meraih benda itu. Ia mengusap kaca pigura, menjelaskan poto yang ada di sana. Seorang gadis berwajah manis sedang tersenyum senang di rangkulan seorang pemuda putih yang juga tersenyum. Keduanya mengenakan seragam SMA yang sudah tak bersih dengan coretan-coretan pilox menghiasi setiap sentinya. Hari kelulusan mereka.
Sebulir air mata jatuh, membasahi kaca pigura itu. Membuat Alya tersentak. Ia dengan segera mengusap mata basahnya. Tidak tidak. Ia sudah berjanji pada diri sendiri tak akan lagi meneteskan air mata karena pemuda itu. Atau... yang kini ia sebut pria itu. Bagaimana ia sekarang? Em... apa masih pendek seperti dulu? Dulu tingginya sama seperti Alya, tak seperti teman lelaki lainnya yang melebihi tinggi Alya. Em.. apa ia masih senang bermain drum? Ah drum. Hal yang sering kali membuat Alya cemburu. Dan... apa ia masih senang taman? Dulukan ia sering membawa Alya pergi ke taman. Tak seperti kebanyakan laki-laki pada jaman itu, yang sering membawa gadisnya kencan ke restoran romantis atau bioskop. Adit justru pasti membawa Alya ke sebuah taman.
Alya menggigit bibir kuat, dan tanpa sadar mendekap pigura itu erat. Sebelas tahun itu waktu yang lama, kan? Tapi kenapa tak bisa mengikis perasaan ini?
Alya memang bisa move on. Memacari beberapa orang sampai ia berhenti di lelaki sekarang, Rohan. Tapi... jujur, kecap rasa membahagiakan itu terasa hambar. Tak berasa. Seakan tak ada lagi 'sensasi'nya. Bagi wanita sebaya Alya, mencari pendamping hidup adalah tujuan kala mendapatkan seorang kekasih. Tapi bagi Alya... entahlah. Rohan memang kekasihnya, namun... ia belum ingin Rohan jadi calon pendamping hidupnya.
Ia kagum pada pria itu, ia menyukai pria itu, dan ia bahagia ada di samping pria itu. Rohan memang ada di hatinya, tapi belum bisa masuk ke dalam ruang spesial di sana. Ruang yang masih kosong, karena sebelas tahun telah ditinggalkan.
Ada tiga fase jatuh cinta, kan? Pertama, nafsu. Seperti saat kita mengendarai mobil, tapi kepala kita menoleh ke kanan dan kiri. Kedua, cinta. Saat seseorang terus memikirkan satu orang saja menjadi fokusnya dan ingin memiliki orang tersebut. Dan yang ketiga, ingin hidup bersama. Nafsu, cinta, dan ingin memiliki. Dilanjutkan kita ingin terus bersama orang itu, menikmati hidup dengannya sampai ajal menjemput.
Dan yang Alya rasakan pada Rohan... jujur, masih pada tahap pertama. Ia belum bisa 'mencintai' pria itu. Meski begitu, ada sosok lain yang pernah melewati fase tersebut. Bahkan fase cinta dan ingin hidup bersama juga telah ia lewati. Alya ingin menghabiskan harinya bersama pria itu. Bahkan dulu, Alya berangan hari tuanya akan diwarnai dengan mengurusi anak-anaknya bersama pria tersebut. Adit...
Alya menghela nafas panjang, lalu menaruh bingkai tadi di antara barang-barang yang lain. Ia kembali melongok ke dalam kotak. Tersisa beberapa benda lain. Ada jepit pemberian Adit, kartu ucapan hari Valentine, gantungan kunci dari Adit, dan barang-barang kecil pemberian pria itu. Kecil, namun punya efek besar di memori Alya.
Tapi di antara itu semua, ada sebuah buku catatan tipis. Gadis itu tersenyum pelahan, kemudian meraihnya. Kalau buku-buku yang lain berisikan harian kisahnya bersama Adit, buku ini khusus menuliskan kejadian-kejadian yang ia alami bersama Adit, namun bukan mengenai pria itu.
Alya dulu bercita-cita jadi penulis, jadi ia selalu menyempatkan diri menulis hal-hal menarik yang pernah ia alami. Siapa tahu nanti bisa jadi bahan cerita. Seperti halnya saat Adit membawanya ke sebuah taman yang ada danaunya. Banyak kisah terjadi. Sepasang kekasih lain yang bersikap romantis, penjual jajanan kecil yang ramah, atau anak-anak yang bermain di sana. Kalau diperhatikan lebih jelas, hal-hal itu bisa jadi bahan tulisan.
Alya membuka lembar demi lembar buku itu. Dan akhirnya ia menemukan hal yang ia cari. Hal yang membuatnya langsung teringat pada kotak kenangan bersama Adit. Tertulis jelas sebagai judul halaman.

"Bintang"

Alya membaca tulisan tangannya saat itu. Yang membulat rapi khas anak SMA pada umumnya.  Ia kadang tersenyum sendiri membaca tulisan-tulisan yang dulu ia tulis dengan bahasa remaja yang khas. Atau kadang juga tersenyum miris saat membaca ada nama Adit di sana. Tapi Alya mendadak terdiam, matanya makin melebar membaca kalimat-kalimat pada hari itu.

"Anak perempuan berdagu lancip itu seperti kaget, bersamaan juga dengan temannya -yang... eum.. agak sengak menurutku-. Ternyata anak cowok imut itu namanya Bintang. Namanya sama seperti anak cowok -yang belagu itu- (ya... harus ku akui tingkah sombongnya justru menggemaskan). Kata anak perempuan itu, nama temannya adalah Mario Bintang Haling.  Aku pikir anak cowok sengak itu akan luluh, tapi malah mengusir Bintang. Ckckck. Masih TK aja belagunya minta ampun. Awas saja kalau saat dia besar aku bertemu dengannya lagi dan sikapnya masih sama, pasti akan aku hajar!
Ya, kalau aku bertemu lagi dengan mereka. Aku penasaran bagaimana saat mereka dewasa nanti. Bintang, Ify, dan Rio..."

Masih banyak kata lain sebenarnya. Tapi Alya terdiam di kalimat itu. Tiga nama tersebut. Bintang, Ify, dan Rio.
Alya sudah terkejut bukan main saat sadar Rio adalah anak cowok belagu-tapi-menggemaskan yang ia temui di taman kala itu. Dan ditambah ini. Ia tahu, sebagai guru tentu saja.
Ify adalah nama panggilan Alyssa.
Buku catatan tersebut jatuh begitu saja dari kedua tangan Alya yang melemas. Mulutnya terbuka lebar. Ya Tuhan... inikah yang namanya kisah Langit? Yang memang sudah ditetapkan dan ditentukan sedari dulu, bahkan sebelum manusia itu lahir di dunia ini. Kisah Langit adalah kisah yang memang ditulis Tuhan. Dengan tokoh-tokoh yang sudah Ia pilih berhubungan satu sama lain. Terkadang akal manusia sulit percaya, kebetulan-kebetulan ajaib yang malah jadi berhubungan satu sama lain menjadikan sebuah kisah yang rumit. Yang sulit dijelaskan ternyata bisa terjadi. Kisah ini mungkin... sudah direncanakan.
Kepindahan Rio ke SMA Pelita, membuatnya bertemu lagi dengan sahabat kecilnya, Ify. Jadi... dua orang itu tak saling mengenal lagi? Memangnya apa yang terjadi selama sebelas tahun ini?
Dulu Adit masih sering mengajak Alya ke taman itu. Alya juga sering melihat Ify dan Rio bermain ayunan. Ada Bintang juga yang melengkapi mereka. Saat itu Alya juga penasaran bagaimana Rio kecil yang seperti tak suka dengan Bintang malah memperbolehkan Bintang ada dalam persahabatannya dengan Ify. Alya sering menuliskan tingkah mereka kala memerhatikan dan mencuri dengar ketiga anak kecil itu bermain bersama.
Tapi... apakah mereka berpisah?
Alya tanpa sadar tersenyum. Inikah namanya cosmological coincidence? Atau kebetulan kosmos, yang dirancang oleh alam semesta. Alya kembali bertemu dengan dua sahabat itu. Alya juga tak habis pikir, ternyata gadis kecil yang pernah jadi inpirasinya kini malah jadi murid kesayangannya. Mengapa ia bisa lupa dengan nama Ify? Dan... anak kecil sengak-belagu yang saat itu terlihat menggemaskan, ternyata anak baru yang bandel. Yang sudah buat onar di hari pertamanya. Hahaha. Ternyata Rio tak banyak berubah. Terutama sifatnya. Ia dan Ify juga masih sering bertengkar kecil seperti dulu. Lalu... mana Bintang? Apa dia juga termasuk dalam kisah ini?
Entah mengapa Alya jadi bersemangat. Ia mengambil buku catatan itu, dan membawanya ke meja kerjanya. Sudah lama ia tak lagi menulis -walau kini sudah banyak buku karyanya, fiksi maupun nonfiksi-. Sejak jadi guru di SMA Pelita, ia sudah jarang mengetik seperti dulu. Dan kini, kisah Ify dan Rio sangat menarik kalau dijadikan sebuah cerita novel. Dan ia sangat penasaran, apa ya kelanjutan kisah ini?

*****

Eaaaaa wkwkwk.  Oke, ga usah sewot karena di prolog aku bilang mau jadi si Alya di sini. Wuahaha. Bayangin aja deh siapa kek gitu. Dan Aditnya itu... awawaw. You know who kan? hahaha. Dan Rohan... jujur, aku rada pusing awalnya mau kasih nama siapa. Tapi ya karena sekarang mulai tertarik sama Stanza, khususnya Rohan, jadi deh Rohan masuk. Huahaha.
Em... betewe itu Gabriel ngajakin Ify malam mingguan, atau bahasa kecenya... ngedate. Ya. Ify dan Gabriel. Ngedate. *ngirisnadi*
Kalian emang maunya Ify sama Gabriel atau Ify sama Rio? Terserah deh. Yang penting penulisnya sama Aditya Junas ya :3 *plak *nyambungnyajauh
Part depan.... aduh nyesek banget, terutama bagiku </3 Tapi sih... ada yang buat senyam senyum, karena... bakal ada calon suami saya! *eh. Si 'semut' itu tuh... hihihi. Dan tetep ada si kambing sih ya. Bakal ada yang liat bintang. Dan bakal ada yang nangis sesenggukan(?)
So, wait! And be patient pliiissss pengen amat cepet2 dah. Aku bukan kyak penulis lain yg sekali post langsung 3 sampai 5 part. Aku jga bukan penulis yg dalam satu hari ngepost dua part. Maaf yaaaaa :) Tapi insyaAllah part selanjutnya besok (doakan saja)
next part: "Please, forget him..."

@aleastri ^^