Rabu, 03 April 2013

Bintang Super Mario Part 9


Part 9: Gabriel vs Rio? :O

Malamnya, dua keluarga yang sempat terpisah itu menyatu kembali. Hari yang panjang itu sangat menyenangkan.
Saat sore tadi, Rio ikut ke rumah Ify. Bertemu dengan keluarga Ify. Eizel, kakak tunggal Ify, sempat merasa pangling melihat Rio yang kini tingginya sudah sama sepertinya. Khalif, adik semata wayang Ify, mengerutkan kening tak mengenali Rio. Karena Rio pergi saat usianya baru satu tahun. Mama Ify sempat menangis haru memeluk Rio yang dulunya sudah ia anggap anak sendiri. Papa Ify yang kebetulan ada juga menepuk-nepuk bahu Rio, tak menyangka anak itu sudah sebesar ini.
Dan malam ini, Rio memborong keluarganya. Ya... walau hanya Mama dan Papa sih. Mereka saling melebur dengan keluarga Ify. Melepas rindu yang sama-sama terkumpul satu sama lain.
Kini, Ify dan Rio duduk bersama di ayunan panjang di halaman depan rumah Ify. Menatap langit malam Jakarta. Ditemani bulan sabit menyinari malam mereka.
"Sejak kapan suka musik?" tanya Rio membuka percakapan.
"Sejak kamu pergi," jawab Ify tenang, berbeda dengan Rio yang tersentak. "Aku ngerasa nggak punya teman. Dan musik adalah teman yang nggak akan pergi ninggalin kita."
Rio tersenyum tipis, merasa bersalah. "Sorry."
Ify tertawa renyah, "udahlah. Sekarang kita udah ketemu lagi, kan?"
Rio tersenyum, lalu menggerakkan tubuh perlahan. Menyandarkan kepala di pundak Ify. Ify sedikit melirik, entah mengapa merasa berbeda. Dulu Rio kecil sering bersandar di pundaknya. Mereka bahkan pernah tidur bersampingan. Tapi kini... berbeda. Mereka telah dewasa. Telah mengenal rasa itu. Telah tahu getaran itu. Dan kini Ify merasakannya. Ia yang dulunya bisa memeluk Rio dengan santai, kini menjadi sedikit gugup. Apakah menjadi dewasa juga berarti mendewasakan perasaannya?
"Kamu makin galak," kata Rio kembali membuka mulut.
"Kamu makin bandel," balas Ify.
Rio menegakkan tubuh lagi, memandang Ify. "Kamu jadi ngeselin."
"Kamu juga nyebelin."
"Makin jutek."
"Makin tengil."
"Makin bawel."
"Makin jail."
"Makin cantik."
Kali ini debat itu terhenti. Mulut Ify terbuka tanpa suara. Sementara di sampingnya Rio melemparkan senyum. Matanya menatap Ify jenaka.
"Elo cantik sekarang."
Pujian itu terlontar. Apa adanya tanpa basa-basi. Membuat seperti ada yang menusuk hati Ify pelan. Tak sakit. Tapi membuatnya melambung tinggi.
Rio menatap Ify semakin dalam. "Pantes dari awal aku ngerasa pernah kenal kamu. Pantes aku ngerasa pernah dengar nama keluargamu. Pantes aku selalu dapat reaksi aneh seperti ucap namaku di depanmu. Dan pantas kamu suka Super Mario. Karena memang kamu Ify. Ipi si Super Mario." Rio tertawa renyah, lalu mengacak lembut puncak rambut Ify. "Awalnya aku nggak ngenalin kamu. Kamu benar-benar berubah."
"Tapi aku masih nunggu kamu," kata Ify segera, tak terima seakan dituduh begitu.
Rio tertawa, "apa aku juga berubah?"
Ify diam sejenak, lalu tersenyum dan menggeleng. "Kamu tetap bandel, songong, dan nyebelin." Nadanya memang becanda, tapi Ify tak berbohong. Membuat Rio kembali tertawa.
"Em... kalau fisik?" Rio mengerling menggoda.
Ify mencibir, "dikasih makan apa sama Tante Manda sampai kayak tiang listrik begini? Cuma tulang doang juga," komentar Ify mendecak-mendecak kecil memandangi Rio.
"Itu doang?" tanya Rio menunggu dengan kerlipan berharap.
"Kamu makin item," kata Ify masih tak mau mengatakan apa yang Rio inginkan. Ify sebenarnya tahu Rio ingin Ify mengucap apa, tapi entah mengapa kata itu terpendam dalam hatinya saja.
"Terus?"
"Udah," jawab Ify mengedikkan bahu kecil. Lalu memandangi Rio. Hatinya berbisik pelan. Makin keren sih. Makin ganteng juga. Manis. Rupawan. Bersinar. Auranya kuat. Menawan. Tatapannya teduh. Tubuhnya atletis. Seperti most wanted boy. Keren.
"Ehm. Permisi."
Sebuah salam dengan suara serak ngebas membuat Rio dan Ify menoleh. Seorang laki-laki bertubuh jangkung dengan setelan kemeja biru dan celana jins hitam panjang berdiri tak jauh dari tempat mereka duduk. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana. Wajahnya tenang. Walau ia berusaha melemparkan senyuman.
Wajah Ify merekah, lalu mengibaskan tangannya menyuruh pemuda itu mendekat. "Gabriel! Sini!"
Rio mengernyit tak suka. Kenapa dia ada di sini?
Gabriel menurut. Ia melirik tatapan sebal Rio, tapi tak memedulikan dan tersenyum pada Ify.
"Yo, gue undang Gabriel gabung malam ini," kata Ify ceria.
"Untuk? Ini acara keluarga kita. Tertutup," sahut Rio sedikit tak tajam. Seakan berarti, 'orang luar tak boleh datang'.
Ify tertawa, "kamu pasti belum tahu ya siapa Gabriel?"
Rio mengangkat sebelah alis, lalu memandang Gabriel. Gabriel melemparkan senyum bersahabat.
"Gue Bintang."
Singkat. Tapi mampu menjelaskan semua.
Rio terkesima. Sedikit tak menyangka. Anak kecil berwajah agak bulat berbadan kecil yang dulu sering menemaninya itu menjadi... sosok laki-laki yang rupawan. Apalagi ia kapten basket. Teman-teman kelas Rio yang perempuan mengidolakannya. Tubuh kecilnya kini jadi tinggi menjulang, sama seperti Rio.
"Kamu kagetkan, Yo? Aku juga! Nggak nyangka banget ternyata aku satu sekolah sama Bintang, yang dulunya sering dorongin kita ayunan! Hahaha," ucap Ify tertawa, tak menyadari perubahan ekspresi yang perlahan mampir di wajah Rio.
"Oh," ucap Rio singkat. "Dia yang nemenin kamu selama ini?"
"Selama kami sekelas. Aku juga baru tahu saat kelas dua ini kok," kata Ify menjelaskan. "Gab, sini duduk!" ajak Ify.
Gabriel tersenyum, lalu memilih duduk di samping Ify. Walau sebenarnya tempat di samping Rio lebih lebar dan kosong. Membuat Rio sedikit mendelik ke arahnya. Gabriel memasang wajah tenang, walau sebenarnya ia ingin sekali membalas delikan sinis Rio itu.
"Pa kabar Yo?" Gabriel mencoba mencairkan suasana.
"Lo liat sendiri, kan?" sahut Rio dingin. Ify sedikit mengernyit melihat itu.
"Selama ini kemana aja?"
"Gue hanya berkelana sebentar. Dan sekarang juga sudah pulang," jawab Rio penuh arti. Pipi Ify sedikit bersemu mendengar itu. 
"Lo ninggalin dia." Suara Gabriel mulai menyamai Rio.
"Gue hanya pergi sebentar."
Ify sedikit merasa jengah. Duduk di antara dua laki-laki yang kini saling menatap dengan tatapan tak terbaca. Apalagi nada suara mereka terdengar datar namun agak tajam.
"Awal ketemu kenapa lo nggak ngenalin dia?" tanya Gabriel masih berusaha mencari kesalahan pemuda itu.
"Gue pangling. Dia aja nggak ngenalin gue," sahut Rio santai memutar mata ke arah Ify. Ify refleks menunduk kikuk.
"Lo berantem sama dia. Jambak rambut dia, bentak dia, bahkan benci dia."
"Karena gue nggak tahu dia Ify gue."
"Ify lo?"
Hening.
Ify melebarkan mata menyadari kalimat itu. Ia memandang ke arah Rio yang terdiam. Rio seperti ingin mengucapkan sesuatu, namun bingung harus berkata bagaimana. Ify menoleh pada Gabriel. Gabriel melemparkan tatapan dingin meminta penjelasan. Walau sepertinya pemuda itu sudah dapat membaca keadaan ini.
"Sembilan tahun bukan waktu sebentar, Yo. Semua berubah. Mungkin dulu lo ngerasa dia milik lo. Tapi sekarang dia udah dewasa. Punya pilihan sendiri," kata Gabriel datar.
Gabriel memandang Ify, lalu meraih jemari gadis itu dan menariknya lembut mendekat ke arah Gabriel. Ify hanya bisa pasrah menurut.
"She with me now. Not with you," ucap Gabriel singkat. "Elo udah pergi lama ninggalin luka untuk dia. Sekarang adalah tugas gue ngobatin luka itu."
Ify meneguk ludah. Lalu melirik hati-hati ke arah Rio. Garis wajah pemuda itu mengeras. Matanya memancarkan amarah dan menatap tajam jemari Gabriel yang menggenggam tangan Ify.
"A... a.... Aaa! Kita makan malam dulu yuk. Pasti yang lain udah nunggu. Oh ya. Aku udah ngomong mama bakal ada kamu, Yel. Masuk yuk. Kita makan bareng rame-rame. Ayo ayo," kata Ify segera dengan panik. Ia berdiri, tapi tangan Gabriel belum melepaskan jemarinya. Membuatnya terdiam lagi.
"Lepasin tangan lo," kata Rio dingin.
"Kalau gue nggak mau?" tanya Gabriel menantang.
Ify merutuk dalam hati. Ia melengos keras, lalu meraih tangan Rio membuat Rio dan Gabriel terlonjak. "Ayo masuk!" tegas Ify menarik kedua pemuda itu agar berdiri mengikutinya masuk ke dalam rumah.
Ify menelan ludah dalam hati. Kedua tangannya menggenggam tangan masing-masing dua pemuda itu. Sepertinya persahabatan kecil mereka benar-benar tak akan sama lagi. Dan parahnya, Ify diposisikan berdiri di tengah. Berarti nantinya ia yang akan mendapat banyak tekanan.

^^^

Sekolah gempar. Lagi-lagi karena dua orang itu. Seperti selebriti saja. Membuat sensasi dimana-mana. Kali ini bukan pertengkaran heboh seperti biasa. Namun hal yang sangat aneh. Sangat ajaib mungkin. Apa yang terjadi? Kedua orang itu gagar otak? Amnesia? Otaknya telah dicuci? Atau apa sih?
Dimulai dari kedatangan Ify dengan swift birunya. Ia keluar dari mobil, dan berjalan ke arah pintu utama sekolah. Tapi ternyata di depan parkiran Gabriel telah menunggu. Mereka melangkah bersama. Dan saat sampai di tangga menuju pintu utama, mereka berpapasan dengan Rio.
Para siswa yang melihat itu sontak menghentikan langkah. Tertarik dan penasaran karena mereka yakin pasti akan ada pertengkaran lagi.
Tapi apa nyatanya? Rio malah menyeringai lebar, lalu merangkul pundak Ify. Sementara Ify tertawa dan menarik lengan Gabriel agar mengikutinya menaiki tangga memasuki sekolah.
Mulut para mata memandang terbuka lebar. Tak memercayai permandangan itu. Mereka mengerjap. Mengucek-ngucek mata. Mungkin masih mengantuk karena jam baru menunjuk angka tujuh kurang.
Ify dan Rio seakan tak melihat tatapan-tatapan kaget tak percaya itu. Rio masih merangkul Ify dengan senyuman lebar. Ify juga masih tersenyum. Dengan Gabriel berjalan di samping mereka mencoba melemparkan senyum pada beberapa orang yang menyapa. Walau beberapa orang itu masih menatap Ify dan Rio tak percaya.
Alya baru saja keluar dari koperasi, membeli sarapan. Tapi dirinya terkejut bukan main. Saat ketiga murid itu melewatinya, kompak melemparkan senyum selamat pagi. Alya membeku sesaat, sebelum mencoba balas tersenyum. Walaupun senyumannya terlihat aneh karena keningnya berkerut tak mengerti. Tapi setelah melihat punggung ketiga murid itu, bibir Alya benar-benar tersenyum. Ketiganya sudah menyatu lagi.
Alya geleng-geleng kepala kecil. Ternyata mereka benar-benar terlihat berbeda dengan sebelas tahun lalu. Jelas sekali perbedaannya. Tapi... apakah fisik juga sama seperti hubungan mereka? Apakah perubahan juga terjadi pada persahabatan ketiganya?
Alya diam sejenak. Ia lalu mendongak, menatap langit cerah pagi ini. Biarkanlah. Cerita ini akan mengalir kemana, tak akan ada yang tahu. Ini kisah langit, kan?
Tapi Alya terdiam sendiri. Lalu kembali menatap bayang Ify, Rio, dan Gabriel yang mulai menghilang. Ia menghela nafas. Lalu bagaimana dengan kisahnya sendiri? Akan bermuara ke arah mana? Apalagi dengan pertemuan yang terjadi kemarin. Mungkin Ify masih bisa berhubungan dengan Gabriel ataupun Rio. Tapi Alya? Apa bisa ia bersama pria yang sudah menjadi seorang ayah?
Alya menghela nafas dan memejamkan mata sekilas. Mencoba menata hatinya. Karena ia kembali merasa ada retakan di sana. Yang selalu ada karena nama pria itu.
Adit.

^^^

"Kamu berasa lagi nonton sinetron nggak?" tanya Ozy sambil meraih roti di kotak bekal biru itu.
Acha menopang dagu, memandang Ify yang kini duduk semeja dengan Gabriel dan Rio. Walau Gabriel dan Rio seperti saling menolak satu sama lain, tapi Ify memaksa keduanya untuk tetap berteman seperti dulu.
"Aku malah berasanya nonton drama korea," sahut Acha membuat Ozy tertawa. Acha kini menoleh pada Ozy, mefokuskan pada pemuda itu yang kini melahap roti sandwichnya.
"Enak banget," puji Ozy menjawab pertanyaan yang tak terlontar itu. "Buatnya pakai cinta ya?" goda Ozy mengerling.
Pipi Acha memerah seketika. Ia manyun, dan memukul lengan Ozy pelan. "Kamu bilang di kantin tuh ribet. Istirahat pertama pasti rame. Tapi disuruh bawa bekal malah katanya kayak anak TK. Ya udah aku bawain," jelas Acha malu.
Ozy tertawa renyah. "Nggak nyangka deh dibuatin bekal gini. Pertama kalinya nih dapet bekal dari cewek," akunya jujur.
Pipi Acha makin memanas. "Besok... mau lagi?" tanyanya malu-malu.
Ozy menyeringai, "nggak."
Sontak, wajah Acha berkerut kesal. "Masakan aku nggak enak?" tanyanya memerotes.
Ozy tertawa lagi. "Bukan itu. Besok... nggak usah bawain bekal lagi. Biar kita buat bekal bareng," ucap Ozy diakhiri senyuman manis. "Kamukan bakal repot kalau buatin bekal aku terus. Kita buat berdua aja. Pagi-pagi aku ke rumahmu. Gimana?"
Pipi Acha kembali merona. "Iya deh," jawabnya pelan. Walau dalam hati ingin sekali berteriak senang.
Ozy tersenyum, lalu mengacungkan sandwich itu ke depan mulut Acha. "Makan gih."
Acha menggeleng, "kamu aja. Kan buat kamu," tolak Acha halus menjauhkan tangan Ozy darinya.
"Yah. Makan bareng dong," pinta Ozy memasang raut memelas yang lucu. Membuat Acha tertawa dan tak bisa menolak.
Acha mengangguk. Tapi baru saja tangannya ingin mengambil alih roti itu, Ozy dengan manisnya sudah menyodorkan ke depan mulut Acha. Acha merasakan suhu tubuhnya meningkat. Ia membuka mulut, memakan suapan Ozy. Ozy tersenyum melihatnya. Entah kenapa, hati mereka sangat merasa bahagia kini.

xxxxx

Yang mau cerbung ini tetep lanjut, mention ke aku atau @_ALders ya. Karena kayaknya aku bakal banyak disibukkan kegiatan yang baru-baru ini aku seriusin. Mungkin aku bakal jarang on lagi. Tapi masih usahain post PMB. Nah kalau BSM, mungkin ada rencana mau aku 'break' dulu. Tapi kalau banyak yang mau lanjut, insyaAllah aku tetep terusin kayak biasa. Ngomong aja ke akunya ya :)

@aleastri

Persahabatan Musuh Bebuyutan Part 25A


Sivia sudah mencoba membujuk Gabriel agar berdamai dengan Rio. Dan memberitahu bahwa sebenarnya ada kisah antara murid smanra dan smanhar yang Gabriel tak tahu. Lalu bagaimana kelanjutan kisah ini? Akankah perdamaian semakin dekat? Atau justru makin menjauh tak kunjung datang?
Bagaimana juga dengan kisah para pasangan yang mengukir kisah cinta dalam cerita ini?

Part 25. Permintaan Maaf

Kalau ada seseorang yang membuatmu marah besar, apakah kamu akan memaafkannya?

Kalau dia sudah mengaku salah, aku akan memaafkannya.

Walau dia sudah membuatmu marah besar?

Iya. Kalau dia tulus minta maaf padaku, pasti aku akan memaafkannya.

Apa benar?

Ya, dan kalau ia mau berjanji tidak akan mengulanginya lagi, aku akan memaafkan. Karena kata Bunda, tidak baik bila kita dendam dan tidak memaafkan orang lain.

**
Rio menatap nanar gadis berwajah bulat yang sedang melangkah keluar dari kantor guru dengan kepala tertunduk. Dengar-dengar, nilainya merosot drastis minggu ini. Mungkin ia mendapat teguran dari para guru. Gadis itu berjalan cepat sesegera mungkin menuju kelasnya. Membuat kaki Rio gatal sekali rasanya ingin segera berlari menyusul gadis itu. Mencoba menenangkannya.
Tapi... ah bodoh. Kapan dia bisa move on kalau ia tak bisa menahan diri untuk tidak peduli lagi?
"Yo!" tegur seseorang dengan sebuah tepukan halus di pundak membuat Rio tersadar dari lamunan dan menoleh.
Debo tersenyum tipis, kemudian duduk di samping Rio di bangku pinggir lapangan basket. Rizky, Deva, dan juga Lintar duduk berlesehan di depan Rio. Mereka berhenti bermain basket dan menatap Rio peduli.
"Lo masih mikirin Keke terus?" tanya Lintar khawatir. Rio hanya menjawab dengan helaan nafas.
"Yo! Gue yakin kok. Kalau elo sama Keke bener-bener saling sayang, dan perasaan kalian itu emang kuat, kalian pasti bisa ngatasin semua ini. Walau itu butuh proses," kata Deva menyemangati.
Rio tersenyum miris. "Ini bukan kisah novel," ucapnya membuat Deva mengernyit. "Lo pikir dengan cinta semua bisa selesai? Kekuatan cinta cuma ada dalam khayalan penulis novel ataupun lagu romantis. Pada nyatanya? Nggak semudah itu," sambungnya pedih dan lirih. Semua terdiam dan mendesah kecil.
"Nggak usah tarik-tarik gue!" kata seseorang yang mendekat membuat semua menoleh. Mereka melebarkan mata. Melihat Zevana menarik tangan Dea paksa dengan wajah serius. Sementara Dea terus berusaha melepaskan tangannya dengan wajah merenggut.
Zevana berhenti di depan teman-temannya, kemudian menarik Dea ke depan menghadap semua. Dea terdiam. Apalagi kala matanya bertemu tepat sepasang mata teduh Rio. Garis wajah Dea langsung menegang. Ia menunduk gugup.
"Kenapa Ze?" tanya Rizky merasakan aura tak menyenangkan dari dua gadis itu.
"Tanya aja sama Dea," jawab Zeva melirik tajam Dea. Dea menggigit bibir kuat dan makin menunduk dalam.
Dea seperti ketakutan. Ia menunduk dan diam. Semua juga hening menunggunya bicara.
"Dea, cepet ngomong," kata Lintar penasaran.
Zevana mendesah. "Dia mau minta maaf sama Rio," katanya tak sabar, membuat semua tersentak. Dea tanpa sadar mendekatkan diri ke samping Zevana, meminta perlindungan.
"Minta maaf apa?" tanya Rio tak mengerti.
Zevana diam, kemudian menoleh pada Dea. "Elo udah janji mau ngomong sendiri," ucapnya tajam, membuat Dea makin merasa bersalah. "Untung hari ini Ify nggak turun. Kalau nggak mungkin lo udah dapat lebih dari ini," bisik Zevana membuat Dea makin menunduk menarik diri. "Lo jujur, atau gue yang ngomong tapi ditambah-tambah?" ancam Zevana tak sabar melihat Dea yang gugup.
Dea memejamkan mata sejenak, kemudian melirik Rio takut-takut. "Ma... maaf Yo..." ucapnya bergetar.
"Kenapa sih? Lo ngomong yang jelas," kata Rio gemas dan berdiri.
Dea menarik nafas dalam, dan menghembuskan pelan. "Gue... dalang semua ini," nada suara Dea makin bergetar, membuat Rio mendekatkan diri untuk mendengar lebih jelas. "Gue yang cetak poto lo sama Keke lagi berdua, dan ngirim poto itu ke rumah Keke. Gue yang buat lo sama Keke....." Dea tak melanjutkan kalimatnya. Apalagi kepalanya yang menunduk dapat melihat gerakkan jemari Rio yang mulai mengepal.
Diam sejenak. Semua terdiam dan tertegun menatap Dea yang sudah ingin menangis. Dan tak lama...
"Maksud lo apasih?!" marah Rio ingin maju tapi dengan segera Zevana berdiri di depan Dea dan melindungi. Debo dan yang lain juga segera berdiri mendekat menahan Rio.
"Elo punya masalah apa sama gue?!" bentak Rio mengamuk.
Dea makin menarik diri takut. Tangisnya pecah sudah. "Maafin gue, Yo. Gue cuma kalap karena waktu itu gue marah lo lebih milih Keke daripada gue," jelas Dea terisak dan bergetar ketakutan.
"Gila kali elo ya! Kalau elo bersikap kayak gini, gue malah tambah nggak suka sama lo!" bentak Rio meraung marah dan ingin melayangkan tinjuan tapi dengan segera yang lain menahan pemuda itu. Zevana menahan kepalan tangan Rio dan mencoba menenangkan pemuda tersebut.
"Yo sadar, dia cewek," desis Zevana panik.
"Tahan diri lo, Yo," kata Debo menarik sahabatnya itu menjauh.
Beberapa murid di sekitar lapangan basket melihat ke arah itu sambil berkasak-kusuk. Dea menutup wajah dengan kedua telapak tangan dan menangis deras. Sementara Rio mencoba menenangkan diri yang sudah terbakar amarah.
"Cewek memang suka di luar kendali saat patah hati, Yo. Please, ngerti," kata Zevana mencoba membujuk.
"Ngerti apa?! Kelakuan dia itu udah abnormal! Temen lo tuh nggak punya hati! Gimana bisa dia patah hati?!" marah Rio masih mengamuk. "Kelakuannya udah keterlaluan tahu nggak! Dia ngerti nggak kalau tingkahnya ini buat semua berantakan?! Kenapa gue harus ngertiin dia kalau dia sendiri nggak mau ngertiin gue!"
Zevana agak menarik wajah menjauh karena ledakan emosi Rio. Ia mendesah pelan, mencoba menyabarkan diri. Biar bagaimanapun, gadis yang berbuat kesalahan fatal ini adalah sahabatnya. Sudah seharusnya ia melakukan pembelaan.
"Seenggaknya dia udah ngakuin semua, Yo. Dia ngaku salah," Zevana diam sejenak, "dia... juga udah ngaku dan minta maaf sama Keke. Dan Keke maafin dia. Gue harap lo juga gitu."
Rio terdiam. Mendengar penjelasan itu membuat ia langsung tertegun.
"Maafin aja, Yo. Seengganya kita udah tahu siapa dalang semua ini. Lagian juga, buat apa lo nggak maafin dia? Elo maafin dia atau nggak, semua sama aja. Toh, semuanya udah terjadi," saran Debo ikut ambil suara.
Rio menghembuskan nafas keras, dan menatap tajam Dea yang menangis di belakang punggung Zevana.
"Oke gue maafin," ucap Rio singkat, dan kemudian beranjak menubruk pundak Zevana pelan dan berjalan cepat.
Zevana agak tersentak, tapi kemudian mendesah. Dea hanya diam dan terus terisak.
^^^
Sivia agak kikuk kala berjalan di belakang Alvin dan Shilla memasuki restoran yang baru akan diresmikan itu. Namanya Angelova, restoran milik keluarga Angel yang nantinya juga akan diberikan pada Angel. Di dalam sudah ada beberapa kenalan dan keluarga Angel. Ada wajah Gabriel, Ray, Cakka, Sion, Irsyad, Zahra, Dayat, serta beberapa murid smanra lain berkumpul di pojok restoran. Terbagi menjadi tiga meja.
Menyadari kedatangan Alvin dan Shilla, mereka menoleh serempak. Dan agak tersentak melihat gadis putih bermata agak sipit dengan dress cantik berwarna peach berada di belakang mereka. Cakka, Ray, Sion, serta Irsyad yang memang sudah pernah melihat gadis cantik itu terkejut. Sementara Gabriel tanpa sadar wajahnya menjadi merekah.
"Kenalin, ini sepupu gua. Namanya Sivia," kata Alvin menunjuk Sivia yang tersenyum memperlihatkan lesung pipinya.
Sion dan Irsyad saling pandang. Dan agak memandang Sivia waspada. Sementara Cakka dan Ray yang memang sudah mengetahui sifat asli gadis ini -karena diceritakan Gabriel tentu saja- berdiri menyambut sambil tersenyum manis.
"Hei, elo ingat gua, kan? Cakka," ucap Cakka mengulurkan tangan.
Sivia mengangkat alis sejenak, tapi membalas uluran itu dan tersenyum.
"Hei, Via. Elo udah nggak galak lagi kan sama gue? Kan sekarang kalau bahas Gabriel malah seneng," sapa Ray setengah menggoda. Mengingatkan bagaimana reaksi gadis itu kala Ray menyebutkan nama Gabriel saat berkunjung ke rumah Alvin.
Sivia agak melotot geram ke arahnya. Apalagi mengingat tingkah pemuda itu kalau datang ke rumah Alvin. Sementara Gabriel yang duduk di depan Ray langsung menendang kaki Ray dari bawah meja. Ray agak mengaduh sedikit.
Sion dan Irsyad yang melihat itu justru menganga heran. He? Kok jadi begini?
"Oh. Ini yang namanya Sivia itu? Yang bisa luluhin si pangeran playboy?" tanya Zahra mengerling ke arah Gabriel. Gabriel melengos dengan wajah mulai merona.
Sivia melebarkan mata, dan menjadi agak kikuk. Selanjutnya, Sivia dikenalkan pada yang lainnya. Angel juga datang dari yang sebelumnya bersama keluarganya, kini juga berkenalan dengan Sivia. Ray dan Cakka yang sebelumnya ada satu meja dengan Gabriel, dengan isengnya pergi dan berpindah tempat. Alvin dan Shilla juga dengan terburu duduk di meja bersama Dayat dan Zahra. Sivia agak mendelik melihat tingkah itu. Karena kini mau tak mau, ia harus duduk di satu meja dengan Gabriel, berdua. Gabriel belaga memasang wajah cool sambil memanggil salah satu waiter untuk memesan minuman. Sivia merasakan pipinya merona. Tapi kemudian akhirnya duduk di kursi depan Gabriel. Yang lain tersenyum-senyum melihat itu. Karena Gabriel, sosok yang sering arogan dan merendahkan perempuan, akhirnya kena batunya juga. Kini ia malah terlihat sekali salah tingkah dan kikuk di hadapan Sivia.
"Eh, ngomong-ngomong Ozy mana?" tanya Shilla yang baru menyadari ada yang kurang.
Ray menoleh, lalu menghela nafas. "Sibuk ngukir nisan kali," jawab Ray asal, "semangat hidupnya kan udah sekarat. Mungkin tinggal hitung hari. Dan dia bakal benar-benar jadi zombi seutuhnya."
"Ray," tegur Alvin, sementara Ray melengos dan memasang wajah serius. Ia yang sebenarnya berbeda meja dengan Alvin, agak mendekatkan kursi ke meja di sisi kirinya itu.
"Vin, gue bukannya marah atau gimana. Cuma gue nggak terima diginiin mulu. Emang gue tuh siapanya dia sih, Vin? Kenapa gue nggak tahu apa-apa? Kenapa harus lo yang belum setahun jadi temannya? Kenapa harus Shilla yang sering berantem sama dia? Kenapa gue yang sahabatan sama dia dari MOS malah nggak tahu apapun?" keluh Ray bertubi-tubi dengan nada kecewa.
Shilla dan Alvin terdiam. Cakka yang mendengar itu, ikut mendekat dan berada di samping Ray. Keduanya menatap Shilla dan Alvin dengan tatapan menuntut penjelasan.
"Ini... masalah serius," kata Shilla akhirnya setelah diam memikirkan bicara apa.
"Gue tahu, Shil. Gue sangat sangat tahu. Karena dia sampai segitu banget ya berarti ini masalah sangat serius, kan?" kata Ray membuat Shilla jadi diam lagi.
"Kita nggak bisa jelasin," kata Alvin membuat Ray dan Cakka menoleh ke arahnya. "Ini masalah dia, jadi haknya dia mau gimana. Elo harusnya tanya sendiri ke dia, bukan gue ataupun Shilla."
"Emang lo pikir dia mau cerita ke kita?" tanya Cakka agak sinis.
Alvin mendesah panjang, "gue aja tahu hanya karena kebetulan gue ada di tempat kejadian," ucap Alvin membuat Ray dan Cakka mengernyit sedikit, makin penasaran. "Dan.... gue termasuk orang yang bersangkutan."
Ray dan Cakka tersentak. Mata keduanya melebar menatap Alvin. Shilla juga agak terkejut dengan ucapan itu. Restoran yang ramai dan bising, tak membuat suara mereka sampai ke yang lainnya. Walau para murid smanra yang datang berada di dekat situ, tapi hanya Ray, Cakka, dan Shilla saja yang dapat mendengar kalimat Alvin.
"Ini... tentang musuh kalian," Alvin memperlambat nada bicaranya. Membuat Ray dan Cakka agak mendekat lagi. "Tentang..."
"Vin," tahan Shilla segera, membuat Alvin menoleh dan menghentikan ucapan. Shilla tak berkata lagi. Hanya menatap Alvin tapi seakan matanya bertanya, 'kamu yakin mau jujur?'
Alvin terdiam. Mengerti tatapan itu. Ia menggigit bibir,lalu memandang ke arah Sivia yang nampak mengobrol dengan Gabriel. Ah. Andai saja Sivia ada di dekat sini. Alvin ingin mendengar saran sepupu terdekatnya itu. Sekarang ia harus bagaimana? Apalagi kini seakan-akan ia sudah ada di 'ujung tombak'.
"Ck. Tentang apa sih?" tanya Cakka tak sabar karena sedaritadi menunggu. "Nek, please. Gue mau dengar penjelasan Alvin," pinta Cakka menatap Shilla.
"Ini masalah serius," tegas Shilla sungguh-sungguh, "dan restoran ini bukan tempat yang tepat untuk bahas hal ini."
"Jadi dimana?" tanya Ray memberi penawaran.
Shilla terdiam. "Suatu saat... kalian juga akan tahu sendiri."
"Shil!" Ray agak meninggikan suara, tak terima. "Lo kenapa sih? Kenapa harus nahan Alvin? Biarin dia jelasin semua!"
Shilla agak menunduk merasa bersalah. Ia menarik nafas sesaat, "tapi ini juga tentang pacar gue. Dan gue nggak mau masalah dia makin besar," tegas Shilla mendongak balas tatapan Ray.
Alvin tertegun mendengar kalimat itu. Ray dan Cakka juga jadi ikut terdiam.
"Gue yakin seyakin-yakinnya kalian nggak akan percaya semua. Dan juga jelasin darimana? Ini semua terlalu rumit! Jadi biarin aja waktu yang jelasin ke kalian. Kalian juga akan tahu sendiri. Tapi itu bukan sekarang," kata Shilla serius. Membuat ketiga pemuda itu langsung tak membantah lagi. Karena aura Shilla yang memang sudah kuat, makin terasa kuat dan menegangkan karena wajah cantiknya menjadi sangat serius.
"Wey."
Ray agak terloncat kecil sangking kagetnya. Kala ia merasakan tepukan di pundak kanan. Pemuda itu menoleh ke belakang. Sion berdiri di sana.
"Ada sebatang? Gue abis," kata Sion mengadahkan tangan.
Ray diam sejenak. Tapi kemudian mengangguk. "Gue ikut deh," ucapnya berdiri, "daripada stress mikirin rahasia nenek-kakek sama cucunya," sindir Ray melirik sedikit, dan bersama Sion melangkah menuju keluar.
"Gue ikut," kata Cakka segera berdiri dan mengekor.
Alvin ikut beranjak, tapi dengan segera tangan Shilla menahannya.
"Kamu ngerokok juga sekarang?" tanya Shilla tajam.
Alvin menggeleng santai, "mau ikut aja. Akukan punya penyakit pernapasan," jelas Alvin tenang.
"Tapikan nggak boleh deket-deket asap rokok, Vin," tahan Shilla.
"Nggak papa kok. Tenang aja. Asal nggak ngerokok," kata Alvin ingin pergi tapi Shilla tak melepaskan genggaman.
"Perokok pasif jauh lebih beresiko daripada perokok aktif," kata Shilla tegas.
Alvin mendesah, "nanti hidungnya gue tutupin," katanya masih mengelak. Ia melepaskan pegangan Shilla dan pergi.
Shilla mendesah mengalah. "Jangan kelepasan ngomong lagi, Vin!" ingatnya sebelum Alvin jauh. Alvin hanya mengangguk dan mengikuti Cakka menyusul Ray dan Sion.
Tak lama Shilla jadi terdiam sendiri. Tapi kemudian gadis itu menghela nafas dan memutar tubuh, menghadap Dayat dan Zahra yang satu meja dengannya.
"Mau pesen apa Shil?" tanya Dayat yang menunggu Zahra sedaritadi memilih menu. Waiter baru saja datang ingin menuliskan pesanan.
"Minum aja," jawab Shilla malas-malasan.
"Minum apa? Nih," ucap Zahra yang sudah selesai dan menjulurkan menu ke arah Shilla. Shilla menerima dan membacanya. Sementara Zahra menoleh ke arah waiter.
"Kwetiaw goreng sama ice-cappucino," pesan Zahra yang sontak membuat Dayat mendelik tak suka. "Kamu apa?" tanya Zahra menoleh pada Dayat.
Dayat mendesah sesaat, "nasi goreng sama lemon tea."
"Gue ice-crem cokelat brownies aja," kata Shilla mendongak.
Waiter menuliskan pesanan mereka. Mengucapnya sekali lagi, kemudian berbalik dan mulai menjauh pergi menuju dapur.
"Kamu tuh jangan terlalu banyak minum kopi. Nanti maghnya kambuh," omel Dayat membuat Shilla yang awalnya ingin memainkan hapenya, jadi mengangkat wajah.
"Sedikit aja kali," sahut Zahra merenggut.
"Sedikit apanya? Udah dibilang berkali-kali tapi masih sering tuh mesen cappucino," sahut Dayat murni perhatian.
"Ya namanya suka, mau gimana," kata Zahra memanyunkan bibir bawahnya.
"Lebih suka aku atau cappucino?" tanya Dayat mendekatkan wajah pada kekasihnya itu.
Zahra diam sejenak, kemudian tersenyum. "Cappucino," jawabnya tanpa dosa. Shilla terkikik kecil melihat wajah innocent sahabatnya itu kala menjawab.
Dayat mendelik kesal, dan lalu mencubit hidung bangir Zahra membuat gadis itu mengaduh. Tapi Zahra balas mencubit pinggang Dayat. Keduanya kini malah jadi tertawa bersama.
Shilla mengangkat alis melihat itu. Ia jadi terdiam sendiri. Eung... Dayat perhatian ya?
Tapi, ya wajarlah. Dayatkan pacarnya Zahra. Wajar kalau perhatian. Tapi... kenapa Shilla tak pernah merasakan perhatian Alvin? Itu wajar, tidak?
Dari awal bertemu, Alvin memang bersikap cuek tak peduli. Ia tak pernah menggubris Shilla. Ya... dimulai saat Shilla marah besar dan menamparnya itu, Alvin meminta maaf dan mulai mendekatkan diri pada Shilla. Tapi ya tetap saja. Shilla tak pernah merasa pemuda itu memedulikannya secara intens. Adanya Shilla yang selalu memerhatikan Alvin. Bahkan itu hal kecil seperti noda pulpen di seragam Alvin.
Shilla melirik Zahra dan Dayat kembali. Kini Dayat merangkul Zahra dan keduanya bersandar di dinding sofa. Mereka mengobrol ria sambil tertawa tertawa kecil. Shilla menggigit bibir dan mengalihkan wajah. Hhh, menggenggam tangan saja jarang, apalagi merangkul mesra seperti itu? Alvin benar kekasih Shilla bukan sih?
"Hei Shilla."
Shilla terkejut dan menoleh. Dayat dan Zahra juga menoleh sekilas, tapi malah kembali sibuk berdua. Sivia tersenyum lebar, kemudian duduk di kursi yang tadi Alvin duduki, di samping Shilla.
"Loh? Gabriel?" Shilla menoleh ke arah meja Sivia dan Gabriel. Kini hanya ada dua gelas tinggi yang sudah hampir habis tersisa di sana.
"Dia keluar. Tadi nyariin Alvin sama yang lain," jawab Sivia membuat Shilla membulatkan bibir. "Em... Shil... em..." Sivia menggigiti bibir bawahnya, "nanti... aku pulang sama Gabriel aja ya. Kamu berdua sama Alvin," kata Sivia agak malu-malu.
Tawa Shilla langsung meledak, "ya ampun Via. Gue pikir lo mau ngomong apa," ucapnya geli, "iya iya. Tenang aja," kata Shilla mengedipkan mata.
"Ya... eee... kan maksudnya biar aku nggak ganggu kalian gitu," kata Sivia agak salah tingkah.
"Loh, bukannya terbalik nih?" goda Shilla membuat pipi Sivia memerah. "Biar bisa berduaan," ucap Shilla dengan nada menggoda.
"Shilla ih," ucap Sivia mendorong pelan Shilla.
Shilla tertawa. Tapi matanya lalu jatuh pada tangan kiri Sivia yang mendorongnya pelan barusan. Sivia mengenakan dress lengan panjang, jadi Shilla tadi tak terlalu memerhatikan. Tapi kali ini ia dapat melihat ada gelang silver-emas melingkar di pergelangan tangan gadis itu. Hm... gelang spesial ya....
Shilla diam-diam mencoba menelan kepahitan itu sekali lagi. Namun rasa iri pada Zahra dan Sivia tak bisa dibendung lagi. Gadis itu meragu pada perasaan Alvin.

xxxxx

Sebelumnya aku minta maaf karena ini dipotong jadi dua part. Juga karena lagi-lagi PHP. Jujur, aku udah siap banget tanggal 1 itu mau ngepost, tapi ternyata ada kendala lagi. Dari awal part 24, aku emang mau ngepost next part tanggal 1. Emang sengaja ngaret :p Karena... bentar lagi PMB mau tamat coy. Aku pengen masih lama-lama sama readersnya PMB, hehehe. Karena menurut pengalaman, bccb's readers udah pada ilang karena bccb tamat. Aku belum mau readersnya PMB kayak gitu u,u
Sorry ini jadi dua part karena part aslinya panjaaaannggg banget. Dan menurutku dipotongnya enaknya di bagian yang ini nih. Part depan ttg AlShil sepenuhnya. Jadi bagi para penggemar mereka, bersiap ye. Kalau yg ga suka, ya harus tetep baca -,- *inimaksa
Udah tahu dari @_ALders kan? Aku bakal ngasih sesuatu di anniv kedua nanti. Tanggal 13 April. Dan itu tentang PMB. Stay tune ya :')

muchlove! xoxo
@aleastri