Jumat, 03 Mei 2013

CERPEN: Jatuh Cinta Di bawah Hujan



Tittle: Jatuh Cinta Di Bawah Hujan
Main cast: Angel, Gilang
Author: Aleastri

Hujan. Sialan.
Aku mengumpat super sebal. Oke, apa hari ini adalah hari tersialku? Oh salah. Mungkin bulan tersialku. Apa memang hidupku akan dipenuhi kesialan dimulai dari minggu ini? Oh, no.
Apalagi yang kurang? Aku terdampar di suatu daerah pedalaman yang bahkan aku sama sekali tak pernah datang kemari apalagi tahu namanya sebelumnya! Kemudian hari pertamaku di sekolah baru sungguh membosankan, dan warga sekolahnya mempunyai cara pandang sangat berbeda denganku! Dan lagi, kini aku disuruh ibu membeli sesuatu di pasar. Tapi di tengah jalan malah turun hujan deras dan aku harus berteduh sementara di toko tutup yang ada di pinggir jalan.
Lengkap sudah!
Pedalaman ini, adakah yang tahu? Ah, aku tak yakin. Ini Batu Sopang, atau kata ibuku orang-orang lebih menyebutnya Batu Kajang. Orang-orang mana nih bu? Pedalaman sini? Huft. Ini adalah kota -ops, desa maksudku- tambang di Penajam, Kalimantan Timur. Aku orang asli Balikpapan, harus pindah ke desa kecil ini karena kerja ayahku. Kami semua jadi ikut pindah kemari, meninggalkan Balikpapan yang sudah membesarkanku selama 15 tahun lebih.
Bayangkan. Balikpapan yang sudah super lengkap, semua tersedia. Aku bahkan tak perlu repot-repot keluar rumah untuk beli makan. Cukup pesan delivery, semua selesai. Aku juga tak perlu susah-susah naik motor, hanya naik ke mobil dan dibawa supir pergi, tak repot. Tapi ini? Uh shit. Apa ayahku sengaja ya agar anak-anaknya tak usah dimanjakan terus dan ikut merasakan hidup susah begini? Atau malah, jangan-jangan ayah turun pangkat lagi? OH NO. Jangan alasan terakhir. Jangan.
Tiba-tiba aku mendengar tawa kecil tak jauh di kiriku. Tubuhku sontak menegang. Dengan perlahan ku lirik. Samar, aku melihat seorang pemuda jangkung berdiri tak jauh dari tempatku, menatapku sambil tertawa. Aku mendelik. Kenapa dia?
"Kamu kenapa geleng-geleng sendiri? Pusing?" tanyanya geli membuatku agak tersentak.
Aku menoleh kanan dan kiri. Em, oke. Hanya ada aku dan dia. Jadi dia bicara padaku?
Em... wait. Apa tadi dia bilang? Geleng-geleng sendiri? Ah Angel bodoh. Apa yang tadi kamu lakukan? Apa karena lamunan kesal tentang kepindahan itu membuatmu stres? Argh!
"Kesel ya hujannya belum reda?"
Aku terkejut. Apalagi saat menoleh dia sudah datang menghampiriku. Aku segera membuang muka. Aduh. Aku belum tahu watak warga sini. Apa dia orang jahat? Apa di sini juga ada penculikan, perampokan, atau bahkan... pemerkosaan? KYAAA jangan yang terakhir Tuhan, jangan.
"Aku bukan orang jahat," ucapnya kalem, seakan membaca pikiranku.
Ku delikkan mata ke arahnya. Tapi diam saja.
"Kamu murid baru di SMA, kan?"
Aku mengangkat alis. SMA di sini memang hanya satu. Jadi dia tak perlu repot-repot menyebut SMA mana yang dimaksud. Aku hanya mengangguk pelan menjawab. Sekolah kecil begitu, ya tentu saja berita tentang anak baru cepat menyebar. Anak baru dari kota pula!
"Siapa namamu?"
Suara serak itu agak mengganggu. Please deh. Nggak usah bersikap sok kenal gitu.
"Angel," jawabku singat dan datar.
Dia seperti manggut-manggut. "Kelas X-2, kan?"
Aku mengangguk. Ku lihat hujan sepertinya mulai agak mereda. Baguslah. Aku tak suka berlama-lama mengobrol dengan orang asing tak dikenal. Apalagi orang desa seperti ini. Selama aku di sekolah baru, tak ada satupun orang ku temui punya jalan pikiran sama sepertiku. Orang desa dan orang kota memang jauh berbeda.
"Dari Balikpapan, kan?"
Aku kembali mengangguk. Bagus, langit gelap mulai terlihat cerah.
"Aku juga dari sana loh."
Dan kalimat itu membuatku langsung menoleh seketika. Mataku melebar. Sementara ia tersenyum dan mengangguk. Baru ku sadari setelah benar-benar memandangnya. Dia manis. Dengan lesung pipi di kanan. Laki-laki di sini biasanya berkulit gelap karena berada di daerah panas dengan tambang. Tapi pemuda ini kulitnya putih. Membuatku jadi tergeitik untuk bertanya.
"Siapa namamu?"
"Gilang," dia menjawab singkat, lalu tak lama menyambung. "Kelasku di sampingmu, X-3."
Aku membulatkan bibir.
"Aku pindah ke sini waktu kelas dua SMP. Mungkin alasan kita sama. Bapakku pindah tugas ke sini," jelasnya tersenyum.
Awalnya aku merasa pemuda ini sok akrab. Tapi ternyata senyumannya itu ramah dan bersahabat. Dia tak seburuk awal pikiranku tentangnya.
"Em, hujannya udah reda. Aku harus cepet pulang," pamitnya saat sadar hujan telah berhenti. "Bye Angel!" pamitnya ramah, kemudian berjalan menuju motornya yang tak jauh berada di samping motorku.
Aku memandangi kepergian pemuda itu. Sepertinya aku tak benar-benar sial.

***

Aku bingung kenapa semua orang berlari keluar kelas saat gerimis mulai turun. Tapi aku tersadar saat teman sebangkuku berkata bahwa mereka mengambil helm di parkiran. Ya, parkiran sekolahku tak beratap. Aku tersentak dan tersadar bahwa helmku ada di atas motor. Aku jadi ikut berlari keluar kelas menuju ke parkiran.
Setelah mengambil helm merahku, gerimis malah mulai deras. Aku berlari lagi. Tapi karena terburu, tanpa sengaja pundakku terbentur dengan pundak seseorang yang juga berlari mengambil helm. Tanah parkiran yang becek, membuatku terpeleset. Tapi refleks si penabrak itu menarik lenganku membuatku pasrah saat tubuhku tertompang pada tubuhnya. Membuat tubuh kami menempel. Dan kedua pasang mata kami bertemu.
Gilang...
Ini bukan adegan sinetron atau film. Sungguh. Ini kisah nyata, dengan saksi gerimis yang mulai berganti menjadi hujan seutuhnya.
Gilang tampak tersentak dan menyadari itu. Suara rintik makin ramai. Ia tanpa permisi -atau mungkin tanpa sadar- menarik pergelangan tanganku dan membawaku berlari. Aku hanya bisa pasrah sambil melindungi kepala dengan helmku. Ia menuju pos satpam tak jauh dari tempat kami tadi. Kami berteduh di sana dengan pakaian yang sudah setengah basah.
Ia nampak terengah-engah berlari sambil melepaskan genggamannya dan mendecak kecil melihat banyak bulatan basah di seragamnya.
Aku tanpa sadar memerhatikan pemuda putih ini. Ini pertemuan kedua kami. Juga karena hujan. Tapi ada sesuatu yang berbeda. Jantungku berdebar kini. Rambut basahnya jatuh mengenai dahinya yang juga basah. Yang entah mengapa membuatnya terlihat bersinar. Ia mengacak-acak rambutnya, mencoba mengeringkan. Tapi gerakkan itu malah terlihat keren di mataku.
Oke, ini memang lebay. Aku bahkan baru pertama kali melihat laki-laki sampai seperti ini. Tapi kenapa dengan dia... berbeda?
Dia tiba-tiba menoleh padaku, membuatku agak tergagap dan dengan gugup segera membuang muka. Ku lirik, ada senyuman kecil di bibirnya.
"Kita ketemu lagi karena hujan," ucapnya memasukkan tangan di saku celana abu-abunya.
Aku mengangguk pelan dan menunduk. Tapi aku baru sadar. Sepatu kets oranye kesayanganku sudah kotor dengan lumpur menghiasinya. Oh no.
"Iyuh," gumamku mengangkat kaki. Oh God... jadi apa sepatuku ini?! Aku seperti pulang dari sawah.
Ku dengar Gilang tertawa, membuatku menoleh dan mendelik.
"Ya ampun, Ngel. Di sini tuh emang udah biasa kali. Makanya, nggak usah pake sepatu bagus-bagus deh. Kalau hujan ya pasti becek," katanya santai.
Aku merenggut, lalu mundur dan duduk di bangku yang ada di pos satpam yang kosong ini -em nanti dulu, aku baru sadar. Memangnya ini pos satpam ya? Bukannya sekolah ini tak punya satpam? Eng... Ah sudahlah-.
Aku melepaskan sepatu kananku, dan memasang wajah super jijik melihat sepatu yang sudah benar-benar tak layak itu. Kalau aku datang ke sekolahku yang ada di Balikpapan, pasti aku sudah ditendang karena tak pantas memakai sepatu begini. Iyuh.
"Sepatukan bisa dicuci, segitu amat sih," komentar Gilang duduk di sampingku.
Aku melengos kasar, "apalagi nih keburukkan dari tempat ini? Kalau siang super panas, kalau malam super dingin. Nggak ada mal, nggak ada delivery. Es krim aja nggak ada! Dan tanah becek, selanjutnya apa?!" protesku panjang lebar, kesal beribu kesal. Tapi aku juga heran. Kenapa aku bisa mengutarakan kekesalan pada pemuda ini? Padahal biasanya aku selalu diam seribu bahasa bersama orang-orang di sini.
Tapi diluar dugaan, Gilang malah tertawa.
"Awalnya aku juga kesel sama tempat ini. Sumpek banget. Tapi ya karena adaptasi, aku nyaman ada di sini," katanya diakhiri senyum.
"Kenapa kamu bisa betah sih?" tanyaku sambil memakai kembali sepatu zuper -karena melebihi super, jadi zuper- menjijikan itu.
Dia tersenyum, sambil bersandar di dinding bangku. "Di sini orang-orangnya nyenengin, Ngel."
"Apanya?" selaku tak setuju, "cara berpikir dan bahasanya tuh beda banget!"
Dia mengangguk, seakan mengerti. "Itu karena kamu sudah nolak keberadaan orang-orang di sini. Coba deh kamu membuka diri, pasti bakal tahu," ucapnya menoleh, kemudian tersenyum lagi. "Mereka itu masih apa adanya. Nggak kayak orang kota, yang sekarang hampir semuanya cuma pake topeng."
Aku terdiam.
"Mereka bilang apa yang mereka rasa, nggak munafik. Mereka juga sederhana, selalu terima apapun yang mereka dapat. Kalau orang kota, macet dikit aja ngomelnya udah panjang lebar. Di sini juga orang-orangnya bersahabat dan saling peduli. Sedangkan di kota, kalau nggak kenal ya udah nggak kenal. Mau orang itu jatoh, kecopetan atau apapun, ya itu urusan dia. Beda sama orang sini," jelasnya panjang lebar. "Di sini juga nyenengin kok! Ada bendungan, ada air terjun, ada puncak! Semuanya lebih alami daripada di kota. Yang alami itukan lebih asyik. Ya nggak?" tanyanya memainkan alis.
Tanpa sadar aku tersenyum.
"Dulu aku juga sama kayak kamu. Diem aja. Tapi karena berbaur dengan mereka, aku ikut jadi pribadi yang terbuka dan mau bergaul sama siapapun. Mereka juga banyak ngasih aku pengalaman dan pengetahuan baru, yang nggak pernah aku dapat di kota!"
Aku mendekat, menunjukkan aku tertarik dengan pembicaraan ini. Tak peduli pada hujan yang semakin deras. Ataupun pelajaran yang sedang berlangsung di kelas. Aku seperti tak mau pergi. Ingin selalu mendengarkan ceritanya.
"Ya emang sih, tambang buat tempat ini jadi panas. Bahkan banyak yang putih malah jadi hitam. Kamu hati-hati tuh," tegurnya menggerakkan dagu ke arahku.
Aku tertawa kecil. Kamu juga hati-hati Gilang, kamukan putih. Batinku dalam hati.
"Tapi Ngel, kita tuh harus bersyukur sekolah di sini. Karena aku dengar sih, lulusan sekolah sini bakal lebih diutamakan kalau ngelamar kerja tambang nanti!" ceritanya antusias, "kerja tambang itukan gajinya lumayan tinggi. Why not kita kerja di sini aja?"
Kerja di sini? Dengan tambang? Nggak deh...
"Kamu mau jadi apa sih nanti?" tanyanya seakan membaca pikiranku lagi.
Aku agak ragu menjawab, "penulis."
Jawaban singkat itu membuatnya terlihat agak terkejut, tapi lalu tersenyum. "Bagus tuh. Gimana kalau kamu tulis tentang kepindahanmu ke sini? Tentang keluhanmu tentang kota ini."
"Desa maksudmu?" ucapku meralat. Dia tertawa.
"Iya, desa Batu Kajang maksudku," katanya membenarkan.
"Em.... oke deh. Kayaknya seru," katanya jadi semangat karena mendapat ide tulisan. Aku menatapnya, dan mencoba tersenyum manis. "Thanks ya."
"Untuk?" tanyanya terlihat tak mengerti.
"Udah kasih aku bahan tulisan," jawabku ringan, "dan juga udah nyadarin aku bahwa aku harus membuka diri di kehidupan baru ini."
Dia mengangguk dan tersenyum. Dia memang senang tersenyum. Dan aku suka.
Eh?
Aku... suka?
Aku terdiam sendiri. Menatap pemuda manis yang masih tersenyum padaku ini. Aku pernah berkata pada ibu bahwa aku tak level dekat-dekat dengan lelaki di sini. Tapi pemuda ini... sepertinya telah bisa membuatku jatuh cinta.
Ternyata benar ya kata orang. Di balik kesialan itu terkadang ada keberuntungan. Dan mungkin itu yang ku rasakan sekarang. Tapi hari selanjutnya aku akan mencoba berbaur di desa tambang ini. Lagipula kita tak pernah tahu kelebihan dan kekurangan sesuatu saat kita belum benar-benar mengenalnya. Seperti Gilang. Aku tak pernah tahu bahwa pemuda ini mampu mencuri hatiku hanya dengan dua kali pertemuan. Dengan hujan sebagai saksinya.

*******

Hahaha. Maap ye kaga greget. Ini LAGI-LAGI atas request Arief yang minta cerpennya double. Ya udah aku tambahin ini. Awalnya tokohnya bukan anak IC, tapi jadi ku ganti karena kalian pasti protes klo tau siapa nama tokoh awalnya. Hihihi.
*liatkanankiri* semoga ga ada anak sekolahku yg baca ya. wkwkwk. Karena tokoh 'Gilang' di sini bisa dibilang setengah real (?) Dan tokoh Angel itu emang real. Iya ya ya ya ya. Awalnya emang sengak songong sombong belagu dan sebagainya. Tapi nggak lama dia sadar kok kalau dia harus membuka diri di lingkungan baru #inicurcol
Dan cerpen ini juga ngasih pesan ye! Untuk membuka diri sama lingkungan baru, dan jangan judge sesuatu sebelum tahu lebih lanjut! Jangan kayak penulisnya nih, yg jadi sempet dimusuhin satu sekolah gara2 ga mau bergaul (?) tapi ya alhamdulillah setelah kenaikkan kelas dan bertemu 'Gilang' akhirnya bisa berbaur bahkan kini punya banyak sahabat dan jadi diri sendiri di sekolah o:)
Cerpen ini special untuk seorang kakak kelas yang sekarang udah nggak deket lagi sama aku. Hehehe. Makasih atas nasihatnya saat itu. Lain kali pulang bareng yuk ke Balikpapan! Hehehe.
Juga untuk anak2 SMA N 1 Batu Sopang, khususnya XI IPA 1 yang udah buat aku jadi diri sendiri lagi! Jadi Ale yg gila dan heboh! Bukan Ale yg diem kalem ga banyak omong kayak awal pindah! Hehehe. Makasih! Muchlove banget karena tanpa kalian aku pasti udah frustasi terdampar di tempat yg sama sekali ga ku kenal. Terima kasiiiihhhhhh
Oke, ada request baru lagi? Oh ya. Yg Badai-Rasha-Gilangel disave dulu ya, aku usahain buat deh! Kalau selesai nanti aku post. Yg lain mau ikut mesen cerpen? Bisa :p

cheers!
@aleastri


CERPEN: Karena Aku Sahabatmu



Cerpen ini spesial teruntuk Gabriel Stevent Damanik dan para GabrielFC untuk lima tahunan kebersamaan kita. Hahahaha.

***
Kamu berubah. Ini bukan kamu. Di mana kamu yang dulu? Yang selalu menyampatkan diri menyapaku, menanyakan kabarku, dan berbagi cerita dengan riangnya? Di mana kamu yang dulu? Yang selalu mencoba menghibur ku walau aku tak sedang bersedih. Di mana kamu yang dulu? Yang selalu dewasa menanggapi sesuatu, tanpa merasa takut pada apapun.
Di mana kamu yang dulu? Bersembunyi di balik topeng 'pacar ganteng' kekasih barumu itu?
Sekarang aku mulai merasakan kamu selalu berusaha menjaga image. Selalu berusaha terlihat 'tampan' di depan kekasihmu. Tak pernah memedulikanku. Melupakan dan menjauhiku. Biar apa? Biar kekasihmu tak cemburu? Lucu. Tolong beritahu dia. Kita bersama sudah bertahun-tahun. Oh ya. Bukankah saat itu di awal dia mengatakan dia mengerti dengan kondisi kita? Lalu kenapa mendadak seperti ini?
Jangan membuatku jadi membenci kekasihmu. Dan parahnya, jangan membuatku jadi membencimu.

"Cindai?"
Cindai terlonjak setengah mati. Tubuhnya bahkan terloncat kecil dan sontak mendongak, dari awalnya khusyuk menulis di buku catatan oranyenya.
"Kenapa? Kok kayaknya marah gitu?" tanya Marsha, sahabat Cindai, sambil duduk di depan kursi Cindai. Ia baru saja datang dari kantin sambil membawa segelas plastik es cokelat. "Mata lo juga berkaca-kaca. Kenapa sih?" tanyanya khawatir, lalu menyedot es cokelatnya.
Cindai terdiam. Lalu menghela nafas panjang. Ia menatap Marsha lurus. "Gue mau bunuh Chelsea."
Marsha sontak tersedak. Es cokelat dari sedotannya sampai menyembur membuat Cindai refleks menarik tubuh menjauh.
Marsha terbatuk-batuk sesaat, lalu melotot menatap Cindai. "Lo gila!" desisnya tak percaya.
Cindai mendengus. "Sumpah, Sha! Ini udah di batas kesabaran! Gue emosi!!!" geramnya kesal. Kalau mengingat buku di depannya bukan 'buku keramat'nya, mungkin sudah ia jadikan pelampiasan amarah. Mengacak-acak kertas buku itu sambil mengamuk.
Marsha mendesah. "Udah deh, Ndai. Kemarahan lo nggak akan didenger Bagas. Berantem lagi yang ada."
"Ya karena itu!" Cindai menggebrak meja sambil berdiri. "Dia tuh udah dibutakan! Bahkan gue, temennya dari SD sampai dilupain sama dia! Lo pikir nggak nyesek? Sakit Sha!"
Marsha agak menarik wajah, dan mengerjap-ngerjap menatap Cindai yang sudah 'berasap'. Beberapa murid yang berada di dalam kelas menatap gadis itu.
"Gue yang selalu dukung dia selama ini! Gue yang selalu nyemangatin dia! Gue yang selalu ada! Tapi nyatanya? Di saat seneng dia nempelnya sama si sipit centil sialan itu! Bahkan dia belain cewek itu daripada gue!"
"Ndai, sabar Ndai, sabar," kata Marsha menarik Cindai duduk lagi. Ia memandang teman-teman sekelasnya, lalu nyengir. "Sorry, biasa. Efek tadi nggak ngantin nih. Hehehe."
Murid kelas 9B yang ada di sana saling pandang sesaat, tapi lalu kembali ke akitifas masing-masing, belaga tak mengerti. Walau mereka sangat tahu. Cindai marah karena Bagas jadian dengan Chelsea. Bukan karena cemburu. Jelas sekali. Karena yang mereka tahu, Bagas kini seperti melupakan Cindai, dan selalu menempel pada Chelsea. Bukan hanya Cindai, tapi hampir semua juga tahu, bahwa Bagas telah berubah.

***

Bagas mendesah, menatap gadis berseragam putih biru yang sedang menempelkan selembar kertas di mading sekolah. Ia menata kertas berwarna jingga itu, lalu berbalik dan kembali melangkah menuju kelasnya.
Bagas menunggu sampai gadis itu pergi, dan kemudian mendekat ke depan mading. Pasti cerpen baru. Gadis chubby tadi, Cindai, memang seorang penulis di sekolah ini. Cerpen dan puisinya sudah sering ada tertempel di mading sekolah. Bagas selalu membacanya. Dulu bersama Cindai, yang kemudian langsung mengomentari cerpen itu. Dulu.
Bagas membaca cerpen itu. Berjudul 'Kamu Telah Dewasa'. Mengisahkan tentang persahabatan dua remaja putri SMP. Salah satunya sudah mempunyai seorang pacar, dan membuatnya merasa ia sudah dewasa. Merubah segala hal. Dimulai dari bermain bersama, mengerjakan pr bersama, tertawa bersama, secara perlahan semua telah berkurang. Disibukkan dengan kegiatan bersama si pacar. Dewasa menjadikan dia jadi pribadi yang arogan. Hanya mementingkan diri sendiri tanpa memedulikan orang yang peduli padanya. Ia selalu menjadi baik di hadapan sang pacar, menomorsatukan sang pacar, dan selalu berada di samping sang pacar. Tak lagi memedulikan sahabatnya. Melupakan semua hal. Yang ada hanya pacarnya, pacarnya, dan pacarnya.
"Cara sindir ala Cindai banget," gumam Bagas membaca setengah cerpen itu. Ia kemudian mendesah. "Kamu nggak ngerti, Ndai..." bisiknya pelan, entah pada siapa.
"Bagas!"
Bagas agak terkejut. Ia berbalik, mendapati seorang gadis cantik oriental berambut panjang lurus tersenyum di hadapannya. Chelsea.
"Yuk ke kelas. PR metik nomer 7 aku belum. Hehe," kata Chelsea cengengesan.
Bagas diam sejenak, kemudian tertawa kecil. "Yuk," ajaknya kemudian menarik tangan Chelsea menuju kelas mereka.
'Aku sayang dia, Ndai,' batin Bagas melamun sambil melangkah. 'Dulu kamu selalu ngedukung aku, kan? Tapi kenapa sekarang nggak? Memangnya salah aku punya pacar?'

***

Chelsea mengangkat sebelah alis, membalas tatapan tajam seorang gadis manis bepipi bulat yang sedang duduk berjarak dua meja darinya di kantin sekolah ini. Ia bersama sahabatnya, sementara Chelsea bersama dua temannya.
Gadis itu. Yang jelas sekali terlihat tak menyukai Chelsea. Berawal dari kedekatan Chelsea dan Bagas sejak mereka sekelas. Chelsea tahu, Bagas dan dia berteman sejak dulu. Tapi ya tetap saja, kan? Gadis itu adalah seorang gadis. Tak ada hubungan darah dengan Bagas. Wajar kalau Chelsea merasa tak suka.
Gadis itu, Cindai, tak bisa mengalihkan tatapan. Apalagi sejak Chelsea balas menatapnya. Seakan-akan Cindai telah mengatakan apa yang ada di isi hatinya saat balas tatapan itu. Bahwa ia ingin, ingin sekali, teramat ingin, sangat ingin, ingin banget, kalau Chelsea menjauh dari Bagas sesegera mungkin.
Panggilan dari temannya membuat mau tak mau Chelsea mengalihkan pandangan. Cindai mendengus.
"Sha," panggilnya tanpa mengalihkan pandangan, membuat Marsha yang sedang melahap batagornya menoleh. "Bawa samurai nggak?"
Marsha langsung terbatuk-batuk. Ini sudah kedua kalinya ceplosan Cindai membuatnya tersedak. Ia memandang ke depan, melihat Chelsea yang sedang mengobrol bersama teman-temannya. "Nggak, cuma ada ini nih," canda Marsha mengacungkan garpu di tangan.
"Oke deh bisa. Sini," Cindai merebut garpu itu dan ingin berdiri.
"Eeeehhh," Marsha segera menariknya duduk, dan mengambil alih garpu itu segera. "Udah deh, Ndai! Gila ah lo!"
Cindai menghembuskan nafas keras. "Sha, gue tuh temenan udah lima tahun lebih! Wajar kalau gue nggak terima diginiin! Gue curiga kalau Bagas udah diracunin atau dipelet!" gerutunya geram dan tertahan, mengingat ini adalah kantin. Walau emosi, gadis itu berusaha menahan diri.
Marsha mendesah. Ini sekian kalinya ia mendengar omelan itu. Selalu begitu.
"Gue juga pernah kali pacaran sama si Ray! Tapi gue nggak lupain dia loh! Bahkan Ray sering marah karena gue mentingin dia. Gue justru malah bela dia! Karena dia sahabat gue!" marah Cindai tak tahan.
"Iya, Ndai. Gue gerti," kata Marsha menenangkan. "Udah deh, Ndai. Waktu itu aja lo berantem hebat sama Bagas gara-gara ini. Lo mau apa? Ngelabrak Chelsea gitu? Itu justru buat Bagas makin kesel sama lo. Mungkin sekarang Bagas udah bener-bener sayang," kata Marsha menasihati. "Lo harusnya ngedukung."
Cindai menghela nafas panjang, mencoba menyabarkan diri karena ia sadar bahwa ini masih di kantin sekolah. "Sha, gue udah dukung dia kok. Gue ngerti. Tapi ya nggak gini juga lah. Masa' dia nggak pernah nyapa gue, ngomong sama gue, ataupun main ke rumah gue. Mana pernah Sha! Lo terima nggak kalau gue gituin elo?"
Marsha terdiam. "Eung... ya nggak sih...." katanya mau tak mau membenarkan juga.
"Nah! Punya pacar buat dia ngelupain siapa yang selama ini ada buat dia! Gue doain deh shortlast!"
"Cindai ah!" tegur Marsha segera. "Bagas itukan sahabat lo, nggak boleh gitu."
"Gue emosi!" sahut Cindai ketus. "Sumpah ya, Sha. Selama ini, setiap gue marah ataupun kecewa sama Bagas, nggak pernah sampai kayak gini. Ini udah batas maks gue bete sama dia! Gara-gara apa? Gara-gara cewek yang belum ada satu tahun dia kenal!"
Marsha menghela nafas, "kalau menurut gue sih ya. Bagas hanya berusaha nyenengin Chelsea. Wajar Ndai kalau lo bersikap manis di depan orang yang lo suka. Gitu juga Bagas. Usia kita ini Ndai, awal dimana kita baru-baru ngerasain cinta monyet, naksir-naksiran, yang buat perasaan kita bahagia terlalu banyak, ataupun sedih berlebihan. Jadi lo ngerti kalau Bagas lagi bahagia di atas awan sama Chelsea, karena itu dia selalu mementingkan Chelsea daripada yang lain," nasihat Marsha panjang lebar. Ia menarik nafas dalam, lalu menghembuskannya dan melanjutkan. "Coba deh lo ingat saat lo suka sama Ray. Lo pasti mikirin Ray terus, kan? Pengen tahu dia lagi apa, khawatir dia lagi sama siapa, atau yang lain. Lo pengen liat dia seneng karena elo, kan? Dan saat jadian, lo pengen terus sama-sama Ray, kan? Lo seakan-akan nggak mau pisah, kan? Itu wajar, Ndai. Itu tingkah orang jatuh cinta."
Cindai terdiam. Seperti ditembak telak. Tak bisa membantah lagi. Marsha memang sahabatnya yang paling unik. Terkadang sering asal ceplos, tapi terkadang dewasa menanggapi sesuatu. Tipe sahabat baik yang dibutuhkan.
"Jangan salahin Bagas terus, Ndai. Biarkan dia bahagia. Nggak lama kok. Karena gue yakin, kalau nanti dia pisah sama Chelsea, yang dia ingat pasti elo. Orang yang selalu ada buat dia," kata Marsha menenangkan, lalu tersenyum. Dan kemudian kembali melanjutkan makan batagornya yang sempat tertunda. Membiarkan Cindai terdiam memikirkan ucapan-ucapannya.

***

Bagas mendelik. Dan tak lama raut wajahnya jadi kaku dan geram. Menatap gadis cantik itu, yang kini sudah berkaca-kaca di hadapannya.
"Maksud kamu apa sih?" tanya Bagas mencoba sabar, walau jelas sekali ia menahan amarah.
"Sorry, Gas..." kata Chelsea bergetar. "Aku nggak maksud. Tapi..." ucapan Chelsea terhenti sejenak. "Aku nggak bisa bohongin perasaan, kalau aku... masih sayang sama Arya."
Tangan Bagas terkepal. Ada sesuatu yang menancap dadanya. Sakit sekali. "Jadi... selama ini kamu masih sering berhubungan sama dia?" tanyanya serak dan datar.
Chelsea menarik kembali bulir hangat yang hampir menetes dari mata sipitnya. "I... iya..." ucapnya bergetar dan menunduk.
Bagas menghela nafas keras. "Selama ini, aku selalu coba jaga perasaan kamu. Aku nggak pernah sekalipun ngobrol sama Cindai padahal dia sahabat aku! Aku bahkan ngejauh dari Cindai karena kamu! Tapi kamu malah kayak gini?" kata Bagas tak bisa menahan diri. Jelas sekali terdengar nada kecewa dan emosi.
Chelsea makin menunduk. Air matanya mulai mengalir tak bisa dibendung. "Maaf, Gas... Maaf..." ucapnya tersendat dan bergetar.
Bagas menggelengkan kepala tak percaya, kemudian menghela nafas keras. "Kita putus," tegasnya tajam, dan kemudian segera berbalik pergi. Meninggalkan Chelsea yang menangis di koridor sekolah yang sudah sepi.
Bagas melangkah cepat dengan gusar. Ransel di punggungnya bergerak-gerak seiring langkahnya. Sekolah sudah sepi karena setengah jam lalu bel pulang sudah berbunyi. Ini hari Sabtu. Ada beberapa anak yang masih berada di area sekolah. Sekedar nongkrong ataupun latihan ekskul.
Bagas terus melangkah. Hatinya benar-benar retak dan hancur. Dan entah kenapa perasaannya membawanya melangkah menuju perpustakaan. Tidak. Ia bukan masuk ke perpustakaan yang diisi anak mading itu, tapi menuju ke belakangnya. Dimana ada botanical garden sekolah yang sejuk.
Mendengar suara langkah, Cindai sontak terlonjak dan segera menoleh. Ia makin terkejut, serta refleks berdiri. Menatap Bagas yang wajahnya kaku dan pucat, berdiri tak jauh di depannya.
Bagas terdiam. Tak bisa berkata. Hanya menghentikan gerak kaki dan terdiam. Ia tak tahu harus bagaimana. Dirinya juga bingung bagaimana bisa ia menuju kemari. Tentu saja di hari Sabtu begini, sepulang sekolah bukannya ikut ekskul, Cindai justru bersembunyi di belakang perpus. Di samping botanical garden yang sejuk. Ada meja dan beberapa kursi taman di sana, yang biasanya dipakai para penjaga sekolah dan tukang kebun untuk berkumpul ataupun merokok bareng. Sabtu jam sebelas seperti ini para penjaga sekolah dan tukang kebun sibuk, belum waktu mereka istirahat. Jadi Cindai selalu memakainya sebagai tempat menulis.
Cindai dapat membaca rasa sedih dan kecewa dalam mata Bagas. Membuatnya melangkah keluar dari belakang meja dan maju ke hadapan sahabatnya itu.
"Kenapa?" tanya Cindai khawatir dan cemas.
Bagas seperti ditampar keras. Nada itu. Ekspresi itu. Dari sahabatnya. Yang selalu ada untuknya. Yang selalu mendukungnya. Yang selalu menyemangatinya. Yang pernah ia lupakan.
Lutut Bagas melemas. Membuatnya luruh dan dengan perlahan berlutut, membuat Cindai terkejut. Pemuda itu menatap Cindai nanar sambil berlutut tepat di hadapan Cindai.
"Maaf..."
Kata itu terlontar begitu saja. Penuh getaran penyesalan. Penuh pilu dan rasa bersalah. Membuat hati Cindai terenyuh. Ia membeku, menatap Bagas dengan mata melebar.
"Aku sudah jadi sahabat yang jahat. Maaf..."
Bagas mengucapkan sepenuh hati, benar-benar menyesal. Membuat Cindai mendesah lega dan tersenyum haru. Ia menatap Bagas, dengan mata yang mulai berkaca.
"Lain kali, sadar diri biar nggak overdosis. Kamu kemarin mabuk," kata Cindai membuat Bagas mengernyit. "Mabuk cinta maksudku," sambungnya tersenyum menahan tangis.
Bagas tertegun sejenak, tapi lalu tertawa kecil. Cindai mengulurkan tangan, menarik pemuda itu berdiri kembali. Mereka berdiri berhadapan, saling menatap. Hening itu seakan telah bercerita, menjelaskan semua. Membuat Cindai mengerti, pemuda ini telah memutuskan hubungannya dan tersadar akan semua. Membuat Bagas juga mengerti, gadis ini pernah kecewa dan marah padanya, tapi tak pernah 'pergi'.
"Jangan berubah lagi," kata Cindai lirih, penuh permohonan.
Bagas tersenyum lembut, "maaf..."
Cindai balas tersenyum, kemudian mengacungkan kelingking kanannya. "Still amigo ya?" katanya tersenyum lebar.
Bagas tertawa kecil, lalu membalas uluran itu, mengaitkan kelingkingnya. "Amigo," ucapnya seraya tersenyum.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

EAAAAAAAA HAHAHAHA APAINI YA -_-
Ya gitu deh. Ini curahan hati ttg rasa kecewa dan marah buat abang kambing tercinta. Tapi ucapan Marsha di cerpen ini bener2 buat aku jadi sadar sendiri. Kalau emang harusnya kita ngertiin orang yg lagi 'fall in love'. Dia juga manusia biasa, juga ngerasain hal yg sama klo lagi jatuh cinta. Kita juga gitu kan?
Ya bukannya doain shortlast ataupun berakhir kayak cerbung ini. Klo dia baca, aku cuma mau dia tahu kalau kita, para fansnya, akan selalu ada buat dia walaupun dia udah pernah ngecewain kita. Kita akan selalu ada buat dia ya. Hehehe.
Dan buat my lovely kambing tersayang, walau lagi bahagia, please jgn nyuekin kita ya. Seenggaknya kamu kyak dulu, ngehibur kita walau itu hanya di timeline. Dgn twit kocakmu, ataupun dgn pendapatmu ttg sesuatu. Hihihihi. Tapi kalau memang kamu mau berubah jadi lebih dewasa, please berubah secara perlahan. Dan berubah ke arah yang baik ya. Biar banyak yg makin sayang sama kamu.
Udah deh gitu aja. Sorry ini cerpennya badai lagi. Nggak tahu mau couple apa bingung saya -_- masa AlieL? Kan ga cucok gitu. Hahaha. Eh, but. Buat yg bilang aliel aliel dan aliel, tengkyu loh! Hahaha aku aja kaget ada yg bilang gitu dan kini nyebar. wkwkwk.

cheers!
@aleastri ^^

Senin, 29 April 2013

Kalau Sudah Dewasa Nanti



Tittle: Kalau Sudah Dewasa Nanti
Main Cast: Cindai, Bagas
Author: Aleastri


"Ini namanya barbie," kata anak perempuan berusia lima tahun itu mengacungkan boneka cantik yang baru saja mamanya belikan untuknya. Dipamerkan pada seorang anak laki-laki yang kini baru saja masuk ke ruang bermain anak itu.
"Aku mau kayak barbie, cantik," kata anak perempuan itu senang.
Anak laki-laki tersebut memandangi boneka itu, lalu memandangi sahabatnya lagi. "Cantikkan kamu. Ini menor," katanya menunjuk bibir merah boneka itu.
Anak perempuan bepipi bulat itu tertawa. "Kan kalau sudah gede, emang pake' lipstik gini. Oh ya. Barbie punya pangeran loh! Kayak dongeng yang biasa mama ceritain."
Anak laki-laki itu diam sejenak. "Siapa pangerannya?"
Anak perempuan tersebut menggeleng. "Nggak tahu namanya," jawabnya polos.
"Hm. Ya udah. Aku aja. Jadi, kamu barbienya, aku pangerannya."
"Beneran?" tanya anak perempuan itu senang, "kita nanti bakal nikah dong!"
"Cindai?"
Obrolan dua anak itu terhenti, kala nama si anak perempuan dipanggil. Mereka menoleh, mendapati orangtua si gadis kecil itu sudah datang.
"Kok Bagas diajak mainan barbie sih? Kamu ini," kata Mama Cindai mengelus rambut Cindai dan tertawa kecil. "Yuk keluar. Waktunya makan."
"Em... Tante Shilla," panggil Bagas membuat wanita muda itu menoleh padanya. "Aku bolehkan jadi pangerannya Cindai? Kayak Barbie punya pangeran," ucapnya polos, membuat tawa geli Shilla sontak pecah.
"Iya Ma! Nanti Cindai nikahnya sama Bagas aja ya," pinta Cindai senang.
Shilla tertawa lagi, lalu mengelus lembut kepala dua anak itu. "Iya iya. Kalau udah gede nanti ya. Masih kecil nggak usah ngomong gitu. Masih lama," kata Shilla geli. Cindai dan Bagas bertatapan, tapi kemudian tertawa bersama.

***

DELAPAN TAHUN KEMUDIAN

***

CINDAI'S POV

Hai. Aku Cindai. Umurku 13 tahun di tahun ini. Aku baru aja naik ke kelas dua SMP. Menurutku, ini hal yang paling ditunggu. Karena berdasarkan apa yang ku lihat di twitter ataupun facebook, kakak kelas yang sudah SMA mengatakan bahwa pengalaman yang paling berkesan saat SMP itu adalah kelas dua SMP. Di mana kita berada di antara batas junior dan senior. Bisa memerintah, tapi juga diperintah. Bisa menantang, tapi juga tertunduk takut. Aku tak memilih jadi yang manapun. Jadi murid SMP yang biasa saja sudah cukup.
Tapi mungkin, menurutku bukan itu yang membuat kelas dua SMP berkesan.
Usia 13 tahun. Seakan puncak pubertas seseorang. Seorang remaja muda yang akan beranjak menjadi 'remaja' seutuhnya. Di mana banyak hal baru yang dipelajari. Banyak hal baru yang dikenal. Dan banyak hal baru yang... dirasakan.
Sejak SMP aku sudah mulai senang membaca novel. Aku sudah mulai rajin mendengar lagu cinta. Dan semuanya membuatku mengetahui. Apa itu yang namanya 'jatuh cinta'.
Aku pernah menyukai beberapa laki-laki. Tapi kini ku sadari itu hanya kagum semata. Karena saat ini, yang kurasa lebih dari itu.
Aku berdebar.
Pipiku sering merona tak jelas.
Dan entah kenapa aku tak berani menatap sepasang matanya.
Menurut kisah novel, itu tanda jatuh cinta.
Dan dalam novel yang pernah ku baca juga, jatuh cinta selalu unik. Berlari ke arah tempat yang sama, bertabrakan dan hampir terjatuh, saling tatap tak sengaja, atau yang lain. Tapi aku tidak. Caraku jatuh cinta benar-benar 'biasa'.
Di hari itu. Sekitar seminggu yang lalu. Aku melihatnya bermain basket di lapangan. Karena sudah kelas dua, ia terpilih menjadi kapten. Dan entah kenapa saat ia melompat memasukkan bola dalam ring, saat itu.... aku jatuh cinta padanya.
Ya, sesimpel itu. Sesederhana itu. Itu caraku jatuh cinta. Aneh ya? Padahal dari lahir sampai sekarang aku selalu memandangnya. Tiap hari kami bertemu. Kemanapun pergi dia selalu menemani. Dan kini, hanya karena melihat ia bermain basket, pemuda itu terlihat berbeda. Entah mengapa, mendadak aku menyadari bahwa wajahnya itu tampan. Gayanya cool dan karismatik. Tak banyak bicara namun juga terkadang jahil. Karakter unik yang misterius.
Ya, aku telah jatuh cinta padanya. Sahabatku sendiri sejak kecil, Bagas...

***

Minggu ini kerja bakti di lingkungan rumahku. Semua warga berkumpul di sekitar jalan dan lapangan. Aku dan dia berada di lapangan. Yang kini akan diberi semen karena sebelumnya hanya tanah saja. Para ibu-ibu teman-teman mamaku juga ada di sana. Memasak di dapur umum samping lapangan.
Ada satu hal yang sering ku benci kalau berkumpul seperti ini. Sering membuatku sebal dan malu. Ya... tapi kini justru membuat pipiku merona dan tersipu.
"Aduh Bagas, sebentar aja jauh dari Cindai nggak bisa?" goda Tante Zahra, yang sedang memasak di dapur umum.
"Kalian ini emang sejoli tak terpisahkan ya. Kalau Cindai ke sini, selalu ada Bagas. Kalau Bagas di sini, selalu ada Cindai. Kayak sepasang sepatu," goda Tante Irva, makin memojokkanku.
"Udah, pacaran aja. Kan sudah gede juga," goda yang lain lagi.
"Tapi apa mereka nggak terlalu muda? Masih kelas dua SMP," sahut Om Riko yang sedang membawa gerobak berisi semen, melintasi dapur umum dan masih sempat-sempatnya nimbrung.
"Ah. Dulu juga Shilla waktu pertama kali pacaran pas SMP," sekarang Oma jadi ikut-ikutan juga. Mama malah tersenyum saja memotong-motong kentang di pojok dapur.
"Biar jadinya Badai ya. Bagas Cindai," goda Tante Sivia membuatku makin bersemu.
"Duuuhhh ibu-ibu karlota deh! Cindai sama Bagas cuma sahabatan!" kataku tak tahan dengan pipi memanas dan mulut manyun. Ku lirik Bagas. Ia malah tertawa santai sambil membantu Om Riko.
"Tapi Cindai suka Bagas, kan?" goda Tante Okki membuatku langsung diam. Tatapan menggodanya sontak membuat pipiku makin merah.
"Ya siapa yang nggak suka sama Bagas? Ganteng, pinter, sopan, ramah lagi! Kalau aja Oca nggak kelas dua SD, aku jodohin deh!" kata Tante Irva membuat tawa ibu-ibu di sana terdengar.
Aku menoleh pada Bagas. Ia hanya tersenyum sekilas, tapi lalu kembali membantu mengaduk semen dengan cangkul. Bagas selalu begitu. Tak pernah merespon lebih ucapan ataupun godaan mereka. Membuatku malah jadi penasaran.
"Duh, Shil. Cepetan Bagas jadiin mantu deh! Nanti keburu diembat yang lain!" kata Oma dengan wajah serius dan sungguh-sungguh. Membuat mereka tertawa lagi.
Aku tak bisa menahan diri. Akhirnya hanya senyum geli saja yang ku berikan, tapi kemudian segera mendekat ke arah Bagas sambil membawa ember untuk mengisi semen. Ku taruh ember itu di dekat kakinya, dan ia mengisi semen dengan cangul di tangannya.
"Mereka cocok banget ya," kata suara ibu-ibu dari dapur umum itu dengan heboh. "Rio sama Ify bakal beruntung kalau punya mantu secantik Cindai."
Aku menunduk, menyembunyikan wajahku yang tersipu. Sementara Bagas ku lirik hanya tersenyum dan memasukkan semen dalam diam.
"Aku juga seneng kok kalau punya mantu kayak Bagas."
Aku dan Bagas sontak mengangkat wajah, dan menoleh. Kami mendelik kompak melihat mama kini malah jadi ikut-ikutan. Kalau yang lain oke, nggak diladeni. Lah ini kenapa Mama jadi ikut menggoda kami?
"Bukannya Bagas bakal jadi pangerannya Cindai?" goda Mama sambil menoleh dan memandang kami. Ibu-ibu lain langsung menggoda dan tertawa.
Aku dan dia segera menunduk mengalihkan wajah. Seakan di'skakmat' ucapan itu.
"Dulukan Bagas bilang mau jadi pangerannya Cindai, dan Cindai juga maunya nikah sama Bagas," cerita mama dengan nada menggoda yang kental sekali. Ibu-ibu lain langsung heboh. Huh! Dasar ibu-ibu.
Aku dan Bagas berpandangan, lalu saling melengos. Tatapan kami seakan saling berkata, 'dulu kita kayak gitu ya?'
"Itukan waktu kecil! Mama ih!" ucapku mengelak menoleh pada Mama dengan mulut manyun. "Jangan bongkar aib deh," gerutuku sambil mengangkat ember yang sudah berisi penuh semen. Namun aku agak keberatan. Dan agak terkejut. Bagas mengangkatkan ember itu dan menyodorkan padaku.
"CIEEEE."
Aku langsung salah tingkah. Segera ku ambil ember itu walau masih keberatan.
"Biar tambah heboh," bisik Bagas tersenyum kecil.
Aku hanya mencibir, walau pipiku sudah memerah. Ku bawa ember itu ke arah papa yang bersama bapak-bapak lain menyemen lapangan.
Dan kala istirahat, ibu-ibu heboh itu kembali menggodaku. Aku bersama remaja putri lain membantu menyiapkan makanan pada para lelaki yang kini duduk-duduk di pinggir lapangan.
"Nih, Ndai. Kasih gih ke Bagas," kata Tante Zahra menyodorkan segelas es teh ke arahku. Aku menerimanya.
"Cepetan, Ndai. Lagi capek tuh dia," goda Tante Okki mendorong pundakku pelan. "Kamu suka kan sama Bagas? Udah nggak usah ngelak, tante juga pernah muda kok."
"Tante ah," kataku manyun dan sebal.
"Ndai, kan sekarang jaman emansipasi wanita, kamu aja duluan yang nyatain!" kata Tante Irva berbisik heboh.
"Maksudnya?" tanyaku tak mengerti.
"Kamu tembak Bagas," kata Tante Okki dan Tante Irva kompak, membuatku tenganga.
"Bagas itukan ganteng, Ndai. Kalau nggak keburu, nanti diembat orang!" kata Tante Sivia ikutan. "Lagian juga, pacaran dari sekarang siapa tahu berlanjut sampai tua. Banyak loh yang pacaran dari SMP, jadi jodoh di pelaminan! Siapa tahu kamu gitu."
"Amin," ibu-ibu yang lain segera mengamini. Aku tersenyum menahan tawa.
"Udah, cepet sono," kata Tante Zahra mendorongku pelan hingga aku termaju.
Mama datang, dan menyodorkan segelas lagi ke arahku. "Nih, buat kamu. Jadi minumnya berdua sama Bagas."
"Mama," rengekku membuat mama tertawa. Tapi aku menerimanya saja.
"Orangtua kamu sama orangtuanya Bagas udah setuju banget loh. Cepet gih," kata Tante Irva menyemangati.
Aku diam sejenak. "Tapi... masa aku yang nyatain?" tanyaku polos.
"Ya nggak papa Cindai!" sahut Tante Sivia menggebu, "Bagaskan orangnya cool, nggak banyak omong. Pasti dia nggak mau ngebicarain hal kayak gini. Nah, makanya kamu duluan aja."
"Iya, Ndai!"
Aku terlonjak kaget, saat tiba-tiba sudah muncul Marsha dan Salma dari balik punggung Tante Okki yang berbadan agak 'besar'.
"Cepetan! Sekarang lagi tren kok cewek nembak," kini Marsha ikutan menyemangati.
"Tapi..."
"Itu keburu es batunya meleleh loh!" potong Tante Zahra gregetan menunjuk dua gelas es teh di tanganku.
Aku mendecak, lalu menoleh pada Mama yang juga berdiri mengitariku. "Ma...." panggilku memelas, meminta pertolongan.
Mama tertawa, "mama fine-fine aja kok. Kan Bagasnya juga suka sama kamu."
"CIEEEE."
Aku langsung mengembungkan pipi dan menutupi wajah merahku dengan mengangkat tangan mengacungkan dua gelas itu.
"Sono gih, sono."
Aku menarik nafas dalam, lalu menghembuskannya. Dan akhirnya menurut saja. Ku balikkan badan, memandang Bagas yang duduk tenang di samping Gilang di pinggir lapangan. Setelah diam beberapa saat, kakiku mulai melangkah ke sana. Walau aku sempat menoleh ke belakang, ibu-ibu heboh itu, beserta mama, Marsha, dan Salma, kembali menyemangati. Aku menggigit bibir dan melanjutkan langkah mendekati Bagas.
Menyadari kedatanganku, Bagas dan Gilang menoleh. Gilang diam sejenak, tapi kemudian tersenyum menggoda dan berdiri, seakan mengerti. Ia pergi begitu saja. Meninggalkan Bagas yang masih duduk tenang dan aku yang kini berdiri dengan jarak setengah meter darinya. Dan entah perintah siapa, orang-orang di sekitar Bagas tiba-tiba menjauh begitu saja. Membuatku dan dia lansung jadi titik tengah antara lapangan dan dapur umum.
Sial.
Pipiku memerah lagi.
"Duduk gih, nggak capek berdiri mulu?" tegurnya membuatku tersentak.
Aku menurut, duduk di sampingnya dan menyodorkan gelas ke arahnya. Bagas menerima dan meneguknya sesaat.
"Eung..."
Aduh. Ngomong gimana?
"Apa?" Bagas menoleh dan mengangkat sebelah alis. Aku segera menunduk. Sial. Dia ganteng banget.
"Eung..." Aku bergumam lagi, dan melirik ke arah dapur umum. Ibu-ibu itu memandangiku sambil tersenyum-senyum.
"Kamu... eum... pernah suka sama orang nggak?" tanyaku setelah mendapat pertanyaan sambil berpikir. Kalau tidak salah ini pernah ku baca di salah satu novelku.
Bagas diam sejenak. Sepertinya agak kaget aku bertanya begitu. "Pernah," jawabnya santai.
"Em... oh..." aku manggut-manggut dan menunduk. Pernah. Kalau di novel sih, lanjutannya aku akan bertanya 'sama siapa?' dan dengan manisnya Bagas akan menjawab 'sama kamu...' Hihihi. Manisnya.
"Kenapa senyam senyum?"
Aku terkejut, dan segera mendongak. "Ah, nggak. Eung, hehehe," aku hanya bisa cengengesan, membuat Bagas mengernyit.
"Cindai! Semangat!"
Aku terkejut dan menoleh. Om Alvin baru saja dari dapur umum melewati kami sambil mengacungkan kepalan tinju memberi semangat. Aku mendelik sekilas. Ah. Pasti para ibu karlota sudah bergosip.
"Ehm. Gas," aku kembali ke topik semula, membuat Bagas menoleh. "Kamu..."
"Jangan nolak ya, Gas!"
Aku dan Bagas menoleh lagi. Kini beberapa meter di kanan kami, para bapak-bapak memandangi sambil tersenyum-senyum.
"So sweet ya kayak di film. Nyatain di tengah lapangan gitu!" celetuk Rafli membuatku melotot.
Sialaaaannn. Om Alvin kenapa jadi kayak ibu-ibu sih? Pasti deh udah disebarin! ARRRGHHH.
"Semangat, Ndai! Gutlak!" kata Om Jo dengan nada sundanya yang kental.
Aku langsung memajukan bibir sebal. Dan melotot ke arah mereka menyuruh diam. Ah. Kenapa harus di sini sih?
Bagas mengangkat alis, kemudian menoleh padaku dengan alis terangkat. "Ada yang mau kamu omongin ke aku?"
TELAK!
Aku langsung salah tingkah. Ku taruh gelas berisi es teh di samping kananku, dan ingin beranjak. "Nanti aja deh," kataku malu, benar-benar ingin kabur dari situasi ini.
Tapi dengan cepat tangan Bagas menahan lenganku dan membuatku terduduk lagi. "Sekarang aja," ucapnya sedikit mendesak.
"Nanti aja deh, Gas," ucapku menolak dengan pipi yang benar-benar merah padam. Apalagi kini Bagas menggenggam lenganku, membuat debaran di dada ini makin menggila.
"Sekarang aja," tegas Bagas melepaskan genggamannya. Ia ikut menaruh gelas es teh di samping kanannya, dan menggeser tubuh mendekat ke arahku. Membuat getaran dalam dadaku makin mengamuk tak karuan. Mata yang memandang kami juga ikut tersenyum-senyum.
"Ehm," Bagas berdehem. "Tadikan kamu bilang, aku pernah suka sama orang atau nggak? Oke, sekarang aku gantian tanya kamu. Kamu pernah suka sama orang?"
Aku menunduk dalam, dan mengangguk pelan. Jujur.
"Sampai sekarang?"
Aku mengangguk lagi.
Bagas diam sejenak. "Aku kenal cowok itu?"
Duh, bodoh. Itukan kamuuuuuu.
Aku hanya bisa mengangguk lagi. Karena entah kenapa bibirku seakan terkunci kaku.
"Dia... di sekolah kita?" Aku mengangguk lagi. "Anak basket?" Lagi-lagi aku hanya mengangguk. "Em... namanya Bagas bukan?"
Aku ingin menggangguk lagi. Tapi baru satu gerakkan ke atas ke bawah, aku tersentak. Kepalaku langsung terangkat dengan wajah terkejut. Bagas justru balas menatapku tenang, walau bibirnya sedikit tersenyum kecil.
Mulutku terbuka, mengucap 'a' tanpa suara. Tapi setelah itu aku tak bisa berkata lagi. Hanya salah tingkah walau ingin sekali membuka suara. Semua seakan tenggelam oleh debaran jantung yang seakan meledak tak karuan.
Garis wajah Bagas berubah perlahan. Agak melengkung ke bawah, seakan sendu merasa bersalah. Ada mimik menyesal di sana. Membuat debaran dalam dadaku malah menjadi tak nyaman. Eung... apa ini? Kalau dalam sinetron dan film, ekspresi ini menggambarkan hal tak baik. Sepertinya akan ada kalimat yang tak ku ingin terlontar. Seakan-akan dia akan berkata...
"Tapi aku suka sama orang lain."
Aku terkejut setengah mati. Garis wajahku langsung mengendor. Ku tatap Bagas dengan ekspresi tak percaya. Bisa-bisanya ia langsung berkata frontal seperti itu.
Tanpa bisa dicegah, tiba-tiba aku sudah merasakan mataku menghangat. Aku meneguk ludah, tapi segera berdiri dan berlari, membuat Bagas -dan orang-orang yang memerhatikan kami dari jauh- terkejut.
Samar-samar, ku dengar suara bapak-bapak mendatangi Bagas.
"Kamu tolak!?" marah Om Riko geram.
"Kejar sana!" perintah Om Rio, Papa Bagas sendiri.
"Ta.. tapi..." Bagas terdengar kebingungan.
"Bagas cepet! Kejar sana!" perintah Om Rio lagi, kini dengan nada mendesak tak sabar.
Dan setelah itu dapat ku dengar langkah lari Bagas mendekat. Aku makin mempercepat langkahku yang kini sudah tak berlari. Sambil berusaha mengusap air mata yang hampir saja menetes.
Tiba-tiba seperti angin, Bagas melesat dan sudah berdiri tepat di hadapanku, membuatku terkejut dan refleks menghentikan langkah.
Bagas menghela nafas panjang, "denger dulu."
Aku memanyunkan bibir, dan mengusap sekali lagi mataku yang hampir meneteskan air mata lagi.
"Kan tadi kamu tanya, aku suka sama siapa. Ya aku jawab aku suka sama orang lain. Aku harus jujur, kan?" katanya seperti tak merasa bersalah sama sekali. Sialan.
"Aku suka sama Annisa Chiby."
HA?!
Mataku sontak membelalak maksimal. Mulutku tenganga menatapnya yang malah tersenyum tertahan.
"Iya, Cindai. Aku suka sama Annisa Chiby," ulang Bagas memperlambatkan ucapannya.
"Loh? Kok... kok..." aku malah jadi kebingungan sendiri. Bagas justru tertawa.
"Tapi aku naksirnya sama kamu," katanya tersenyum, membuatku terdiam.
Setelah beberapa saat, aku bisa mengendalikan diri lagi. "Naksir sama suka kan sama!"
"Nggak," katanya tenang. "Sukakan boleh sama siapa aja. Aku suka basket, tapi aku nggak naksir basket. Aku suka biru, tapi aku nggak naksir biru," jelas Bagas membuatku tertegun. "Naksir itu, 'adiknya' dari jatuh cinta," kata Bagas membuat tanda kutip di udara di kata 'adiknya'.
"Aku... nggak ngerti..." kataku mengaku polos.
Bagas tertawa. "Makanya, nggak usah sok ngaku cinta deh. Masih SMP juga," ucapnya mencubit pipi chubbyku membuatku tersipu. "Aku tuh mau nembak kamu pas kita SMA nanti, waktu kita benar-benar tahu apa itu jatuh cinta. Ehhh kok kamunya yang mau ngomong duluan," kata Bagas membuatku tertegun. "Nanti aja ya Ndai. Kalau kita sudah SMA. Kan Papa juga janji mau beliin aku motor nanti. Masa' aku punya pacar tapi nggak bemodal? Kan cupu. Kalau pacaran nanti, aku mau ngantar jemput kamu tiap hari pakai motor aku sendiri."
"Serius kamu?" ceplosku begitu saja, meminta kesungguhan.
Bagas mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya, "janji pramuka!" ucapnya tersenyum lebar.
Aku tertegun. Tapi kemudian tersipu. "Oke. Aku tunggu kamu sampai SMA," kataku sungguh-sungguh.
Bagas tertawa, lalu mengacak puncak rambutku.
"CIEEEE."
Kami sontak terkejut dan menoleh. Beberapa warga sudah mendekat dan berkumpul sekitar sepuluh meter dari tempatku dan Bagas berdiri.
"Jadi, pacaran ya?" goda Rafli yang ada di sana.
"Beneran nih? Bagas kayaknya nerima," kata Salma nyengir.
Aku dan Bagas berpandangan. Ada kerlingan jahil di mata Bagas, membuatku tersenyum mengerti. Aku menoleh ke arah mereka. "Iya! Sekarang kita mau pacaran dulu ya! Daaaahh!!!"
Bagas tertawa, lalu segera menarik tanganku berlari pergi. Samar, ku dengar suara Marsha.
"Nanti dulu. Mau pacaran? Jangan-jangan... mereka mojok?"
Aku tertawa dan menoleh ke belakang. Ku lihat wajah Mama dan Om Rio yang sedang bersampingan terkejut.
"Masih kecil mau mojok? Nanti mereka malah...." nada menakut-nakuti dari Gilang membuat mama melotot, tapi segera menoleh padaku.
"CINDAAIII!!! NGGAK BOLEH PACARAN DULU!!!" teriak Mama berlari, mengejarku dan Bagas.
"BAGASSSS!!! AWAS BERANI PEGANG-PEGANG CINDAI YA!!!" kini suara Om Rio terdengar, ikut mengejar kami.
Aku dan Bagas tertawa sambil terus berlari menghindar. Dengan tangan kami yang saling menggenggam satu sama lain.


xxxxxxx

Lalalalalalala~ Hahahaha. Tuh buat ARIEF a.k.a ANDRE a.k.a REYNALDI aku udah buat cerpen BaDai yeeee jgn nagih lagi lu!
Ini sebenarnya inspirasi pas ngeflashback waktu kecil. Jadi waktu itu tujuhbelasan gitu, mamanya temen aku jodoh-jodohin aku sama anaknya. Hahaha. Digoda-godain sama ibu2 lain padahal kita temen main doang. Ya walau sekarang udah pisah dan kayak org ga kenal sih, beda sama bagas sama cindai yang berakhir bahagia (?)
Percaya atau tidak, ibu-ibu heboh seperti itu ada di dunia nyata. Ya, teman-teman ibuku ataupun 'geng'nya mbahku. Apalagi klau lagi arisan, beuuuhhh.
Nanti sih maunya bikin sekuel. Waktu mereka SMA. Konfliknya lebih gimana gitu. Tapi kalau dipikir-pikir, justru khayalan ceritanya malah berkembang jadi cerbung -_- jadi saya nggak janji mau post sekuel atau nggak karena ya... cerbung yg kemaren aja belum lanjut2 dan lelet, apalagi nambah cerbung? beuuhhh.
Buat yang mau request couple juga, aku usahain deh. Kan itu juga buat tantantangan untuk aku sendiri.
Oh ye, sorry ye kalau yg ini kurang memuaskan atau apalah. Kritiknya monggo di mention aje. Hehehe. Like cukup follow @_ALders aja. oke?

bbye

@aleastri ^^