Kamis, 10 April 2014

Persahabatan Musuh Bebuyutan Part 30A



 aku lagi mager banget ya bikin opening gitu, dan kalian pada demo -_- apalagi ini mau UN, jadi pasti makin lama lanjutnya jadi ya silahkan langsung baca aja ya okebye

***
 Part 30. Peace?

Derap lari yang memburu cepat membuat mereka tersentak dan menoleh. Mata mereka melebar, melihat sosok jangkung Rio berlari dengan wajah pucat dan cemas. Rio berhenti, tepat tak jauh di depan Gabriel yang bersama Sivia dan Shilla. Keduanya saling tatap. Dua musuh besar itu kembali bertemu. Bukan di lapangan basket atau area tawuran, namun di depan pintu UGD.
"Kak!" panggil Acha segera mendekat dan menghambur ke pelukan Rio.
Rio segera tersadar. "Apin kenapa?" tanyanya kembali panik. Acha tak menjawab, justru mempererat dekapannya dan menempelkan wajah di dada bidang Rio, kembali menumpahkan tangis. Aksi yang membuat Rio semain kalut. "Cha? Apin kenapa? Mana Apin?" tanya Rio hampir histeris.
"Dia bonyok," jawab Ozy mewakilkan, mengerti Acha sekarang hanya ingin menumpahkan perasaan pada sang kakaknya. "Cukup parah," sambung Ozy lirih.
Tubuh Rio mulai melemas. Acha segera menarik kakak tunggalnya itu yang hampir saja limbung. Rio mengumpat kasar, nyala di mata tajamnya langsung membara. "Siapa yang mukul dia?! Siapa yang buat dia kayak gini!?" marah Rio langsung tersulut.
Ozy terdiam. Ia meneguk ludah sesaat, "... anak smanra... Sion..."
Tangan Rio langsung terkepal. Emosinya naik begitu saja. Ia lalu membuang pandangan pada Gabriel yang hanya menatapnya tanpa ekspresi. Rio menatap Gabriel tajam, seakan meluapkan emosi melalui matanya bahwa Gabriel patut disalahkan karena salah satu anak buahnya berbuat seperti ini.
Gabriel mendesah pelan, mengerti. "Gue nggak tahu. Gue juga nggak nyangka dengan tangan kosong Sion bisa buat Alvin kayak gini," kata Gabriel cukup merasa bersalah.
Rio kembali kehilangan tenaga. Ia menatap pintu UGD nelangsa. Pemuda itu tak berkata lagi. Ia mengulurkan kedua tangan, kembali memeluk adiknya erat. Berbagi kecemasan amat besar bersama. Ingin sekali Rio menangis panik seperti Acha. Namun ia tahu diri. Air matanya disimpan rapat dalam bibirnya yang mengatup kaku. Membatin, pemuda itu berdoa. Tuhan... kalau bisa berlutut, mungkin Rio akan berlutut di hadapan-MU. Kali ini, tolong dengan sangat, kabulkan doanya. Jangan biarkan tubuh lemas tak berdaya itu berlama-lama menutup mata. Jangan biarkan ada luka parah di tubuhnya. Panjangkan nyawanya. Selamatkan dia.
"Kak..." bisik Acha bergetar pelan dalam dekapan Rio. "Acha mohon... berhenti berantem... Acha nggak mau liat Kak Rio kayak Koko..." pintanya sepenuh hati, seakan itu adalah permintaan terakhirnya. "Jangan tawuran lagi. Jangan emosian lagi. Jangan bandel lagi..."
Rio tak menjawab. Tenggorokkannya tercekat, seakan digumpali segenggam pasir. Rio juga pernah masuk rumah sakit karena bertarung dengan Gabriel dulu. Ia mengerti betapa menyiksanya tubuh ketika itu. Rio tak tahu Alvin separah apa, tapi Rio berharap semoga semua akan baik-baik saja. Tapi kini Rio mengerti satu hal lain. Bagaimana rasanya jadi Acha dan kerabatnya yang lain ketika ia masuk ke rumah sakit. Ternyata bukan ia saja yang berjuang, namun orang-orang yang menyayanginya juga berjuang atas rasa takut kehilangan. 
Pintu UGD terbuka, Sivia segera menepi diikuti yang lain menatap seorang suster yang baru keluar itu. Acha juga melepaskan pelukannya pada Rio dan mendekat, diikuti Rio yang berdiri di sisi pintu UGD. Berseberangan dengan Shilla.
"Lukanya cukup parah, mengenai beberapa bagian vitalnya," jelas sang suster jelas namun agak lirih, mengerti itu bukan berita baik untuk disampaikan. "Alvin belum sadarkan diri, tapi kami akan memindahkannya ke ruang inap."
Setelah itu sang suster mengangguk kecil pamit, dan kembali masuk ke dalam ruang UGD.
Rio merasakan tulangnya hilang entah kemana. Acha terduduk lemas di bangku depan UGD, setetes bening hangat meluncur di pipi bulat Sivia, sementara Shilla menempelkan dahi di dinding ruang UGD, kembali menangis takut.
Rio yang bersandar di dinding samping pintu UGD perlahan merosot kebawah. Pemuda itu menekuk lutut, dan memeluknya. Ia membenamkan kepala di sana. Tak tahan lagi. Perlahan, samar memang, bahu tegak itu bergetar. Tak bisa lagi sembunyi. Hati rapuh itu menampakkan diri, mengibas tirai arogan dan sikap kasar yang selama ini menopengi.
Gabriel dan Ozy yang melihat itu terkesima. Rio, yang biasanya selalu terlihat gagah dan masa bodoh berdiri angkuh di hadapan mereka, kini terlihat lemah tak berdaya. karena Alvin.
Gabriel meneguk ludah. Entah mengapa ia merasa amat sangat bersalah. Mengingat semua akar permasalahan ini. Permusuhan tak penting yang menyangkut nama pribadi, merambat ke tim basket antar sekolah, dan lalu meningkat menjadi permusuhan atas nama sekolah. Pada pemuda yang terduduk lemas di lantai di dekatnya, Gabriel tak tahu Rio juga merasakan penyesalan yang sama. Ingin sekali Rio menghantam tubuhnya sendiri. Merasa sangat bodoh dan jahat melempar sahabatnya sendiri dalam situasi seperti ini. Kalau saja tak ada permusuhan, mungkin Sion tak akan menghakimi Alvin seperti tadi. Dan kalaupun iya, para murid smanra yang lain bisa melindungi Alvin. Tapi karena dicap pengkhianat, mereka justru tak berbuat banyak sebelum Sion benar-benar menghabisi Alvin.
Andai saja tak ada permusuhan. Mungkin tak akan seperti ini...

x x x
Sivia mengeratkan genggaman pada kelima jemari Gabriel, membuat pemuda itu meneguk ludah namun masih diam. Sivia masih berdiri di sampingnya. Terus menunggu.
Mereka kini berada di koridor rumah sakit. Gabriel baru saja pamit pulang, tapi Sivia menghentikannya dan membuat sebuah permohonan. Gabriel sedari tadi diam, terus berpikir keras.
"Aku mohon..."
Kini sebuah kalimat bergetar itu tercetus. Tak lagi hening dengan genggaman lembut. Sivia benar-benar berharap.
Gabriel menarik nafas dan menghembuskannya panjang. Ia menggerakkan kepala perlahan, menatap Sivia yang kedua matanya sudah sembab. Gabriel menggigit bibirnya sesaat. Tapi kemudian menganggukkan kepala pelan sambil tersenyum tipis.
Sivia mendesah lega setengah mati. Ia segera menarik tangan Gabriel menuju parkiran.
Sementara di parkiran, Rio berhenti di depan Jazz putihnya. Acha sudah terisak sambil memegangi kedua tangan Rio yang dingin. Sama seperti Sivia, ia juga memohon.
"Demi Koko Alvin, kak..." pinta Acha bergetar. "Tolong..." Acha menarik isaknya, mencoba menormalkan suaranya walau ia merasa suaranya benar-benar lirih tak beraturan. "Acha nggak akan minta banyak hal lagi. Acha cuma mau, kali ini... Kabulin permintaan Acha... Acha mohon..."
Rio berdiri lemas di hadapan sang adiknya itu. Ia juga dapat merasakan kedua matanya mulai menghangat dengan hati berdesir luluh. Ia menarik nafas dalam, mencoba menghilangkan kesesakan amat dalam di dadanya. Dan ketika menghembuskannya, Rio dapat mendengar derap langkah mendekat. Membuat ia dan Acha mengangkat wajah.
Sivia dan Gabriel melangkah mendekat. Walau Gabriel jelas sekali langkahnya jauh lebih pelan dengan wajah canggung.
Acha terdiam. Ia mengusap kedua pipi basahnya, dan mendekat pada Rio. Rio melirik Acha. Dengan mata, Acha memberikan isyarat memohon itu sekali lagi. Seakan mengatakan bahwa ini saatnya Rio mengabulkan permohonannya.
Sivia berhenti di hadapan Rio dengan Gabriel beberapa langkah di belakangnya. Suasana terasa sangat kaku dan dingin. Apalagi langit telah gelap dengan angin berhembus perlahan, makin mendramatisir pertemuan kedua pemimpin dua kubu yang berlawanan itu.
"Harus ada yang kalian bicarakan..." kata Sivia serius, menatap Rio tepat dan penuh arti.
Rio terdiam sesaat, tapi kemudian mendesah pelan dan mengangguk kecil, "gue tahu," katanya serak.
Gabriel menunduk sejenak, tapi kemudian dengan tegas ia mendongak dan melangkah maju, tepat berhenti di hadapan Rio yang masih terlihat tak bersemangat sejak dari Alvin dipindahkan ke ruang inap.
Rio mendongak, menumbukkan kedua bola mata tepat pada mata elang Gabriel. Keduanya diam satu sama lain. Membuat Sivia agak meneguk ludah gentar. Acha juga tanpa sadar mencengkeram pelan lengan Rio.
Kedua musuh bebuyutan itu masih hening. Namun di detik yang sama, dengan suara yang sama-sama serak dan lirih, mereka membuka suara. Membuat Sivia merasakan bulu kuduknya meremang.
Keduanya mengaku kalah satu sama lain.

x x x

Rio mendesah berat untuk ke sekian kalinya. Keke duduk di sampingnya sambil menunduk. Sementara Debo, Lintar, serta Deva duduk berderet di depan Rio dengan mata menajam, namun juga sarat kecewa dan ketergunan. Acha sebenarnya ada. Namun ia tertidur lelah dan diangat Rio ke kamar, sementara Rio langsung memanggil kawan-kawannya. 
"Gue nggak tahu harus gimana..." komentar Debo setelah sekian lama diam. "Pengen nonjok elo, Yo. Tapi di sisi lain juga masih benci smanra..." kata Debo dengan nada kering.
Rio ditemani Keke, memang sudah menjelaskan semuanya. Rio tak tahan lagi. Permusuhan ini harus berakhir. Perkelahian itu harus dihapuskan. Kesekaratan Alvin menamparnya keras. Menyadarkannya bahwa tawuran hanyalah jalan menuju neraka.
"Gue memang egois... Tapi gue juga capek sembunyi. Kalian sahabat gue, kalian harus tahu ini," kata Rio lemah dan serak. "Dan gue sungguh-sungguh. Gue... trauma berantem. Gue nggak mau liat adek gue sedih lagi. Gue nggak mau liat orang tua gue susah lagi. Saudara gue yang cemas. Dan... gue nggak mau sahabat gue khawatir..." kata Rio mengingat kejadian semalam. Acha, Sivia, dan Shilla yang tak berhenti menangis takut dan terus melafalkan doa. Gabriel dan Ozy yang setia menemani dan khawatir. Ayah Alvin dan Oma yang kebingungan dan cemas. Serta dirinya, yang hampir frustasi belum ada perkembangan selanjutnya tentang Alvin.
"Gue bukan ketua kalian. Nggak pernah ada yang memutuskan atau pemilihannya, kan? Jadi sekarang gue serahin ke kalian. Untuk pribadi... gue mundur," kata Rio benar-benar mengaku kalah.
Keke mengeratkan genggaman pada jemari dingin Rio. Keke mengerti, betapa campur aduknya perasaan hati Rio mengucapkan kalimat itu. Rio yang tak pernah mau kalah dan arogan, untuk pertama kalinya mengalah dan menyerah. 
"Gue nggak mau liat ada yang kayak Alvin lagi. Cukup Alvin aja yang jadi korban, jangan nambah..." kata Rio bergetar. Ia menundukkan kepala perlahan, menunjukkan permohonan tak terucap itu. Membuat Debo dan yang lain nelangsa.
Debo, Lintar, serta Deva saling pandang. Mereka diam sejenak, kemudian menghela nafas di detik yang sama.
"Den... makanannya udah siap," lapor Mbok Ipah dari arah dapur. "Den Rio belum ada makan sejak pulang pagi tadi, Den Rio makan ya," bujuk Mbok Ipah takut-takut.
Rio diam, tak menjawab. Keke mendesah, lalu menoleh pada Mbok Ipah. Seakan memberi isyarat melalui tatapan. Mbok Ipah mengangguk mengerti.
"Mas Debo, Mas Deva, sama Mas Lintar, Mbok masak banyak, kalian makan di sini aja," kata Mbok Ipah menawari. Debo dan yang lain hanya balas tersenyum tipis. Mbok Ipah lalu segera pamit lagi ke dapur.
"Kak, aku ambilin makan ya?" bujuk Keke lembut. "Nanti kalau nggak makan justru Kak Rio yang sakit. Acha makin stres loh kalau Kakak sama Kokonya sama-sama sakit. Aku nanti bangunin Acha suruh makan juga."
Rio meneguk ludah, lalu menghela nafas. Namun tak sengaja matanya jatuh pada hapenya yang tergeletak di atas meja di depannya. Pemuda itu diam beberapa saat. Tapi lalu meraih hape hitam itu. Ada yang harus ia hubungi. Sekarang. Sesegera mungkin. Karena Rio takut terlambat. Selama ini ia tak memberitahukan apapun pada seseorang yang akan segera ia hubungi. Dan sekarang mungkin saat yang paling tepat untuk memohon kehadirannya kembali.


Sabtu, 15 Februari 2014

Persahabatan Musuh Bebuyutan Part 29



Rio telah merelakan dan mengijinkan Acha bertemu Ozy. Walau Rio tak tahu menahu bahwa Acha sudah bertemu Ozy kembali. Namun di sisi lain, Rio merasa termotivasi dari Ozy. Ozy saja bisa meluluhkan hati kerasnya, lalu kenapa ia tidak? Rio akan berjuang. Rio akan berusaha.
Mendapatkan restu orang tua Keke.

Part 29. Rio!

Kamu menonton Power Ranger hari ini? Ranger Merah menyelamatkan Ranger Pink. Mereka saling menyukai. Walau Ranger Merah sudah hampir mati, tapi demi Ranger Pink ia terus berjuang.

Apa itu yang namanya kekuatan cinta?

Cinta? Haha kita sedang membahas kartun, bukan sinetron.

Tapi seorang pahlawan juga butuh cinta untuk tetap berjuang.

Apa nanti kamu akan berjuang juga untuk orang yang kamu cintai?

Tentu. Demi dia, aku pasti bisa berubah menjadi Ranger Merah. Hahahaha.

x x x

Rio terdiam lama di dalam Jazz putihnya. Tapi tak lama, ia menarik nafas dalam dan menghembuskannya. Mencoba menyiapkan diri. Dibukanya pintu mobil dan keluar. Melangkah menuju pagar rumah cokelat bertingkat dua itu. Rio menatap rumah tersebut dari luar, lalu menghembuskan nafas sekali lagi. Ia membuka pagar rumah, dan melangkah menuju teras. Tiap langkahnya mencoba meyakinkan hati pemuda itu bahwa ia benar-benar telah siap.
Pemuda itu mengetuk pintu tiga kali, dan menunggu. Tak lama, seorang wanita dewasa membukakan pintu. Dan langsung terkejut begitu melihat sosok Rio berada di depannya.
"Siang tante," sapa Rio sambil tersenyum tipis.
Mama Keke diam sesaat, lalu mendelik tak suka. "Ngapain lagi kamu ke sini?" tanyanya kasar.
Rio menghela nafas. "Tante... saya mohon, kasih kesempatan untuk saya buktiin ke tante sama, Om. Kalau saja sayang sama Keke!" tegas Rio serius. Langsung to the point tanpa basa-basi.
Mama Keke makin mendelik, "Rio, sudahlah. Suami saya sudah bilang, kan? Jangan harap kamu bisa dekat sama Keke! Kamu belum kapok dipukul suami saya?"
Rio diam sesaat. "Sampai kapanpun, saya terus pertahanin perasaan saya tante. Walau saya ditendang, dipukul, bahkan diinjak. Saya tetap berusaha ada bersama Keke."
Mama Keke menatap pemuda itu tajam. "Suami saya belum pulang kerja. Sebaiknya kamu pulang sebelum dia datang. Saya tidak mau melihat suami saya marah besar lagi," usir Mama Keke mencoba sabar.
"Saya sudah bilangkan tante? Sampai kapanpun, saya bakal berusaha untuk bersama Keke lagi," ucap Rio yakin.
Mama Keke mendesah, "keras kepala kamu."
"Ini semua karena perasaan saya ke Keke sudah terlanjur besar tante," jawab Rio mantap, membuat wanita di depannya itu tertegun. "Please tante, kasih saya kesempatan buat buktiin ke tante sama om," pinta Rio sungguh-sunguh.
Mama Keke menghela nafas. Wanita itu diam lama. Tapi kemudian kembali berkata, "maaf Rio. Tapi tante juga nggak bisa lawan Papa Keke," kata Mama Keke menyesal.
Rio menggigit bibir, "boleh... saya ketemu sama Keke? Sebentar lagi saya ujian nasional tante. Saya mau masalah ini selesai."
Mama Keke mendesah lagi. Ia nampak ragu, menatap Rio yang sangat berharap. Tapi tiba-tiba sebuah Kijang silver memasuki parkiran rumah Keke. Membuat Mama Keke dan Rio menoleh, lalu terkejut. Kijang silver itu berhenti, dan mematikan mesin. Rio meneguk ludah, dan entah mengapa jantungnya mulai melajukan detakkan tak nyaman.
Papa Keke keluar dari dalam mobil, sedikit mengernyit melihat sosok pemuda berdiri di teras rumahnya. Dan saat dekat, garis wajahnya perlahan berubah menjadi kaku dan tajam.
"Kamu?!"
Rio membalas tatapan Papa Keke, tapi diam saja tak menjawab.
"Kenapa lagi kamu ke sini?!" Nada itu langsung tersulut, bercampur antara amarah dan geram.
"Pa, sabar Pa... Papa baru pulang," kata Mama Keke menenangkan sambil mengambil alih tas koper di tangan Papa Keke.
Papa Keke mendesah keras dan menoleh pada istrinya. "Kenapa mama ijinkan anak ini menginjak kaki lagi di sini?!" tanyanya dengan nada tinggi. Mama Keke terdiam.
"Om, saya datang ke sini untuk..."
"Pergi!" potong Papa Keke membentak. "Saya tidak ingin mendengar ocehanmu!"
"Om! Saya datang ke sini mau minta maaf sama om. Dan meminta ijin agar saya sama Keke lagi," pinta Rio serius.
"Jangan mimpi kamu saya akan seperti itu," sahut Papa Keke tajam dan sinis.
"Pa, suruh Rio masuk dulu. Kita bicarain baik-baik di dalam. Nanti dilihat tetangga, Pa," kata Mama Keke mencoba membujuk. Tapi suaminya itu justru melemparkan tatapan marah menyuruh Mama Keke kali ini diam saja.
"Saya sungguh-sungguh sayang sama anak om," ucap Rio mantap kembali menarik perhatian Papa Keke.
Papa Keke makin emosi dan tersulut, "jaga mulut kamu! Kamu tidak pantas menyayangi anak saya!"
"Saya sayang anak om!"
Seakan menantang, Rio mengulangi ucapannya lagi. Kali ini benar-benar dengan nada tegas dan serius. Membuat Papa Keke langsung refleks melayangkan tamparan ke pipi kanannya. Mama Keke yang masih ada di sana membelalak kaget.
"Anak brandal seperti kamu tidak pantas dengan anak saya!" bentak Papa Keke meradang. Mama Keke diam sesaat, tapi segera masuk ke dalam rumah.
"Pergi kamu!"
"Saya bakal tetap di sini sampai om ngerti," kata Rio belum menyerah, walau pipinya mulai berdenyut perih.
Papa Keke makin geram, "ngerti apa?!"
"Om! Saya sayang sama anak Om. Dan saya yakin, Keke juga begitu!"
Papa Keke menatap Rio tajam, "kamu racuni apa anak saya sampai dia juga memiliki rasa sama seperti kamu?!"
Rio balas menatap Papa Keke. "Saya cuma ngasih dia kebahagiaan dan ketenangan tanpa kekangan orangtua," tegasnya membuat Papa Keke terdiam.
"Keke sudah dewasa om. Dia sudah SMA. Tapi kenapa sampai sekarang semua kemauan dia ditentang orangtuanya? Kenapa Keke selalu nggak punya pilihan? Hidupnya nggak punya warna karena selalu menurut kemauan orangtuanya. Kenapa kalian nggak pernah mau dengarkan dia?" kata Rio, mengingat perkataan Alvin tentang pengekangannya terhadap Acha. "Dan saya ada untuk Keke, untuk jadi pendengarnya, tempat mengadunya, dan saya berusaha untuk membuat hidup Keke berwarna. Bukan hitam putih seperti om dan tante beri ke dia," lanjut Rio dengan nada dinginnya. Papa Keke tertegun. 
"Mungkin om pikir itu semua terbaik untuk Keke. Tapi Keke nggak bahagia om, dia tertekan. Membimbing itu bukan ngekang," kata Rio tajam. "Ada seseorang yang bilang sama saya, kalau kita benar-benar ingin memberi yang terbaik untuk orang yang kita sayang, caranya adalah mendengarkan perasaannya. Mendengarkan apa pilihan dia sebenarnya. Bukan mengekang semua kemauan dia. Dan menjadi egois dengan memilih keputusan kita sendiri," ucap Rio, mengulang perkataan Alvin saat itu padanya.
Papa Keke terdiam lama. Namun mengingat lagi tabiat pemuda ini, membuat hatinya mengeras lagi. Tidak. Pemuda berandal ini tak akan pantas bersama anaknya.
"Terserah bagaimana cara saya membimbing Keke, dan itu bukan urusan kamu!"
"Tapi saya ingin itu jadi urusan saya," kata Rio serius. "Karena saya care sama Keke. Saya sayang sama Keke."
Papa Keke makin melotot geram, dan sekali lagi ingin melayangkan tangannya.
"Pa!" kata seseorang yang dengan cepat menahan tangan Papa Keke di udara, melesat secepat kilat dan tahu-tahu sudah datang berdiri di depan sang papa. Papa Keke dan Rio tersentak, dan terdiam.
Keke memegangi tangan papanya dengan nafas terengah. Ia baru saja dibangunkan mama, dan segera melesat ke bawah saat tahu ada Rio di rumahnya.
"Cukup, Pa... Jangan sakitin Kak Rio lagi," pinta Keke memelas. Sang papa menatapnya geram, lalu menepis tangan Keke. "Pa, please... ngertiin Keke..." ucap Keke bergetar penuh permohonan.
"Dia anak berandal, Ke."
Keke menggeleng, "Kak Rio nggak seburuk yang Papa bayangkan," belanya membuat Rio terdiam dan tertegun. "Walaupun kasar, tapi Kak Rio selalu berperilaku manis di depan Keke. Kak Rio selalu ngejaga Keke, dan buat Keke tenang. Kak Rio selalu bisa buat Keke ngerasa kalau beban Keke ringan," ucap Keke bergetar, "beban Keke tentang semua kemauan Papa..."
Semua terdiam. Menatap Keke yang kini sudah berkaca-kaca. Wajah kuyuhnya terlihat sangat lelah. Gadis itu mulai merasakan tubuhnya bergetar. Tapi ia tak mau mundur lagi. Yang ia hadapai adalah orangtuanya sendiri. Keke sudah dewasa. Ia sudah harus berani mengutarakan apa isi hatinya. Keke tahu, semua yang dilakukan orangtuanya adalah untuk dia. Dan Keke juga sangat tahu, pada akhirnya kedua orangtuanya yang terlihat keras ini juga tak bisa membantah jika anak gadis mereka terluka karena tingkah mereka sendiri.
"Selama ini Keke cuma diam nggak ngelawan pilihan Papa. Tapi kali ini beda, Pa..." Keke menarik nafas dalam, mengisi rongga paru-parunya yang terasa sesak. "Papa suruh Keke les ini dan itu, Keke masih bisa nurut. Papa larang Keke ikut ekskul selain pelajaran, Keke juga bisa nurut. Tapi apa Papa tahu, kenapa selama ini Keke nggak pernah nunjukin penolakan Keke?"
Papa Keke terdiam. Entah mengapa benar-benar hilang kata menatap mata anak sulungnya itu sudah berkaca.
"Karena semua kesedihan Keke terhapus oleh keberadaan Kak Rio. Keke tahu, Kak Rio cuma berandalan kasar. Kak Rio punya tabiat nggak baik. Keke juga awalnya sama kayak Papa, nggak terima dengan sikap Kak Rio yang sangat berbeda dengan Keke. Tapi... apa papa nggak pernah mencoba ngerti kenapa Keke bisa luluh?"
Rio yang dibelakangi punggung Keke tertegun. Ia tak tahu harus apa lagi. Gadis ini jarang berbicara, apalagi tentang perasaannya. Ia sering menunduk, menurut kalem tanpa bantahan. Tapi sekali ia mengutarakan isi hatinya, semua benar-benar dibuat diam tak bisa berkutik.
"Itu semua karena sikap kasar Kak Rio selama ini cuma tameng..." ucap Keke agak bergetar, membuat Rio tersentak. "Kak Rio nggak pernah bisa jauh dari adiknya. Kak Rio selalu kangen orangtuanya yang jauh. Kak Rio selalu peduli sama pembantu rumahnya. Kak Rio bahkan menyayangi sahabat-sahabatnya. Kak Rio... punya hati lembut yang orang asing nggak pernah tahu..."
Rio makin tertegun. Papa dan Mama Keke dapat melihat ekspresi itu. Mereka mengerti. Apa yang dikatakan Keke tak pernah ia ucapkan sebelumnya. Kali ini benar-benar pertama Keke mengutarakan semua. Walau sambil membelakangi Rio.
"Dan... ada satu hal yang buat Keke luluh sama Kak Rio..." Keke menunduk, terdiam beberapa saat sebelum melanjutkan disertai air mata yang mulai menetes. "Terkadang, Kak Rio ngingetin Keke sama Papa..."
Semua terkejut. Mata Rio dan Papa Keke saling tatap sejenak, lalu kembali terfokus pada Keke yang sudah mencoba diri menguasai dirinya.
"Posesifnya, kerasnya, diamnya... Tapi Keke tahu. Kalian berdua sama-sama ngelakuin ini untuk ngelindungin orang yang kalian sayang. Dan kalian sama-sama nggak tahu, kalau yang kalian lakuin sering nyakitin orang itu..." Keke memberanikan diri mendongak, menatap Papanya dengan wajah yang sudah basah. "Kak Rio menjaga Acha sama kayak Papa menjaga Keke. Acha pernah sakit dan frustasi karena sikap over Kak Rio. Dan karena Keke, Kak Rio sadar kesalahannya. Lalu sekarang... apa bisa, karena Kak Rio... Papa tahu bahwa Papa terlalu keras?"
Mama Keke menggigit bibir, merasakan matanya juga mulai menghangat. Ia perlahan mendekat, dan memegang lengan suaminya itu hangat. Hal yang hanya dua orang itu saja yang mengerti. Papa Keke masih diam tak bergerak.
"Acha sama Keke sama.... Kami sama-sama nggak pernah ngeluh dan berani protes. Bukan karena kami takut... Kami cuma nggak mau ngelawan orang yang sangat kami sayang..." Keke menarik kembali bulir yang hampir jatuh. "Acha sudah bebas dari kekangannya. Lalu sekarang... Keke kapan Pa?"
Rio meneguk ludah perlahan. Ia mendekat perlahan, berdiri di samping gadis itu membuat semua tersentak dan menoleh. Rio menghela nafas panjang sebelum bicara.
"Om... selama ini saya selalu melindungi adik saya. Saya nggak mau ada yang nyakitin dia. Tapi justru... selama ini sayalah yang nyakitin dia," Rio menarik nafas sejenak dan agak menundukkan kepala. "Cukup saya aja yang merasakan penyesalannya, Om. Cukup saya jadi contoh penjaga yang tidak baik."
Papa Keke tanpa sadar menggigit bibir keras. Ia memandang sepasang remaja yang sama-sama menundukkan kepala hormat kepadanya. Namun juga sikap permohonan mereka. Isak Keke masih terdengar samar. Membuat hatinya teriris. Pria itu juga dapat merasakan istrinya terus memberikan ungkapan batin yang ia sudah sangat paham tanpa bicara ataupun saling tatap.  Papa Keke menarik nafas sedalam mungkin, seakan ia sedang kekurangan banyak oksigen. Lalu dihembuskan perlahan, menenangkan diri.
"Pa? Kita ngomongin di dalam aja ya. Nggak baik berdiri di depan pintu," bujuk Mama Keke memecah hening.
Keke melirik sedikit, dan terus melafalkan doa dalam hati. Rio diam-diam juga berkomat-kamit dalam hati. Andai saja ia punya kekuatan pikiran. Sudah dihipnotis Papa Keke untuk segera setuju.
Papa Keke diam sejenak, kemudian menipiskan bibir. "Buatkan kopi, Ke. Papa harus bicara dengan pacar kamu ini."
Kalimat itu langsung membuat Keke dan Rio mendongak kompak. Tapi Papa Keke sudah berbalik dan masuk, diikuti istrinya yang tersenyum lega.
Keke dan Rio masih terdiam di tempat. Mereka saling menoleh. Masih dengan tampang tak percaya. Tapi kemudian tangis Keke benar-benar pecah. Rio menjulurkan tangan, mendekap gadis itu dengan perasaan yang seperti meledak-ledak tak karuan.
Beginikah rasanya mendapatkan restu? Beginikah rasanya hasil baik dari perjuangan untuk seseorang? Ini sih lebih bahagia daripada menang dari Smanra. Rio tak henti-hentinya mengucap syukur dalam hati.
Tapi kebahagiaan itu terpecah ketika hape Rio bergetar. Ia melepaskan pelukannya dan segera merogoh hape. Keke mengusap mata sembabnya dan kali ini wajah imut itu menyunggingkan senyum cerah.
Rio tak bisa menahan diri untuk tidak berbinar membaca nama kontak Acha yang tertera. Rio segera menekan dial menerima telpon sambil mendekatkan hape ke samping telinga.
"Halo Cha? Cha, ka....kak....."
Garis wajah Rio tiba-tiba mengendor. Kalimatnya terhenti. Membuat Keke mengerutkan kening.
"Cha? Cha kenapa? Suaramu nggak jelas," kata Rio mengernyit sambil menajamkan pendengaran. Hatinya mulai panik, mendengar isak di seberang sana. Rio benar-benar fokus dan khusyuk mendengar suara tersendat Acha. Mata pemuda itu perlahan melebar. Hatinya yang baru saja melambung tinggi tiba-tiba jatuh begitu saja dan hancur berkeping-keping.
"Kak?" panggil Keke mulai cemas melihat wajah Rio mendadak kaku dan memucat.
Tapi Rio tak menjawab. Ia meneguk ludah. Kembali mendengarkan Acha terus mengucap kalimat yang sama dengan gemetar. Membuat Rio dapat merasakan tungkainya mulai melemas.

Xxxxx

Part yang ini kayaknya drama zuper ya. Setaralah ya sama FTV-FTV Ind*siar atau m*ctv wuakakakakaka.
NOHHHHH aku baek banget yekannnn langsung aku post huahahahahaha ini hadiah buat setahun ALders yaaaaa padahal mau ngadain kuis yg hadiahnya ebook PMB asli, maksudnya PMB yang versi lama karena inikan versi baru gitu ye, tapi kayaknya TL sepi banget kemajuan deh ALders banyak yg malam mingguan kayaknya :’’’)))
Okeydey part depan gak tau kapan ya mungkin tunggu gabrielstev mention aleastri gitu yekan makanya bantuin ane dapat mention dr doi huahahahahahaha. Okeydey sekali lagi happy satu tahun ailopyu deh ya pokoknya selalu dukung me sampai kapanpun and makasih selalu support bahkan demo dan sebagainya gitu hahaha dan tetap sabar menghadapi kengaretan saya ye karena kan biar greget gitu (?) wuahahahahahaha
MARIOs? Nanti deh ya aku mau fokus selesaiin PMB dulu, baru deh MARIOs biar satu2 gitu jd kalian gak terlalu fyusing and kalau Ms udah, ya lanjut yg ‘itu’ kalau ada yg lupa ya alhamdulillah (?) klo ada yg inget ya jangan bahas lanjut(?) hahahaha waitwait aja and keep cabal alders muacmuach

Sincerely, Jodoh Gabriel Yang Tertunda

@aleastri