Kamis, 10 April 2014

Persahabatan Musuh Bebuyutan Part 30A



 aku lagi mager banget ya bikin opening gitu, dan kalian pada demo -_- apalagi ini mau UN, jadi pasti makin lama lanjutnya jadi ya silahkan langsung baca aja ya okebye

***
 Part 30. Peace?

Derap lari yang memburu cepat membuat mereka tersentak dan menoleh. Mata mereka melebar, melihat sosok jangkung Rio berlari dengan wajah pucat dan cemas. Rio berhenti, tepat tak jauh di depan Gabriel yang bersama Sivia dan Shilla. Keduanya saling tatap. Dua musuh besar itu kembali bertemu. Bukan di lapangan basket atau area tawuran, namun di depan pintu UGD.
"Kak!" panggil Acha segera mendekat dan menghambur ke pelukan Rio.
Rio segera tersadar. "Apin kenapa?" tanyanya kembali panik. Acha tak menjawab, justru mempererat dekapannya dan menempelkan wajah di dada bidang Rio, kembali menumpahkan tangis. Aksi yang membuat Rio semain kalut. "Cha? Apin kenapa? Mana Apin?" tanya Rio hampir histeris.
"Dia bonyok," jawab Ozy mewakilkan, mengerti Acha sekarang hanya ingin menumpahkan perasaan pada sang kakaknya. "Cukup parah," sambung Ozy lirih.
Tubuh Rio mulai melemas. Acha segera menarik kakak tunggalnya itu yang hampir saja limbung. Rio mengumpat kasar, nyala di mata tajamnya langsung membara. "Siapa yang mukul dia?! Siapa yang buat dia kayak gini!?" marah Rio langsung tersulut.
Ozy terdiam. Ia meneguk ludah sesaat, "... anak smanra... Sion..."
Tangan Rio langsung terkepal. Emosinya naik begitu saja. Ia lalu membuang pandangan pada Gabriel yang hanya menatapnya tanpa ekspresi. Rio menatap Gabriel tajam, seakan meluapkan emosi melalui matanya bahwa Gabriel patut disalahkan karena salah satu anak buahnya berbuat seperti ini.
Gabriel mendesah pelan, mengerti. "Gue nggak tahu. Gue juga nggak nyangka dengan tangan kosong Sion bisa buat Alvin kayak gini," kata Gabriel cukup merasa bersalah.
Rio kembali kehilangan tenaga. Ia menatap pintu UGD nelangsa. Pemuda itu tak berkata lagi. Ia mengulurkan kedua tangan, kembali memeluk adiknya erat. Berbagi kecemasan amat besar bersama. Ingin sekali Rio menangis panik seperti Acha. Namun ia tahu diri. Air matanya disimpan rapat dalam bibirnya yang mengatup kaku. Membatin, pemuda itu berdoa. Tuhan... kalau bisa berlutut, mungkin Rio akan berlutut di hadapan-MU. Kali ini, tolong dengan sangat, kabulkan doanya. Jangan biarkan tubuh lemas tak berdaya itu berlama-lama menutup mata. Jangan biarkan ada luka parah di tubuhnya. Panjangkan nyawanya. Selamatkan dia.
"Kak..." bisik Acha bergetar pelan dalam dekapan Rio. "Acha mohon... berhenti berantem... Acha nggak mau liat Kak Rio kayak Koko..." pintanya sepenuh hati, seakan itu adalah permintaan terakhirnya. "Jangan tawuran lagi. Jangan emosian lagi. Jangan bandel lagi..."
Rio tak menjawab. Tenggorokkannya tercekat, seakan digumpali segenggam pasir. Rio juga pernah masuk rumah sakit karena bertarung dengan Gabriel dulu. Ia mengerti betapa menyiksanya tubuh ketika itu. Rio tak tahu Alvin separah apa, tapi Rio berharap semoga semua akan baik-baik saja. Tapi kini Rio mengerti satu hal lain. Bagaimana rasanya jadi Acha dan kerabatnya yang lain ketika ia masuk ke rumah sakit. Ternyata bukan ia saja yang berjuang, namun orang-orang yang menyayanginya juga berjuang atas rasa takut kehilangan. 
Pintu UGD terbuka, Sivia segera menepi diikuti yang lain menatap seorang suster yang baru keluar itu. Acha juga melepaskan pelukannya pada Rio dan mendekat, diikuti Rio yang berdiri di sisi pintu UGD. Berseberangan dengan Shilla.
"Lukanya cukup parah, mengenai beberapa bagian vitalnya," jelas sang suster jelas namun agak lirih, mengerti itu bukan berita baik untuk disampaikan. "Alvin belum sadarkan diri, tapi kami akan memindahkannya ke ruang inap."
Setelah itu sang suster mengangguk kecil pamit, dan kembali masuk ke dalam ruang UGD.
Rio merasakan tulangnya hilang entah kemana. Acha terduduk lemas di bangku depan UGD, setetes bening hangat meluncur di pipi bulat Sivia, sementara Shilla menempelkan dahi di dinding ruang UGD, kembali menangis takut.
Rio yang bersandar di dinding samping pintu UGD perlahan merosot kebawah. Pemuda itu menekuk lutut, dan memeluknya. Ia membenamkan kepala di sana. Tak tahan lagi. Perlahan, samar memang, bahu tegak itu bergetar. Tak bisa lagi sembunyi. Hati rapuh itu menampakkan diri, mengibas tirai arogan dan sikap kasar yang selama ini menopengi.
Gabriel dan Ozy yang melihat itu terkesima. Rio, yang biasanya selalu terlihat gagah dan masa bodoh berdiri angkuh di hadapan mereka, kini terlihat lemah tak berdaya. karena Alvin.
Gabriel meneguk ludah. Entah mengapa ia merasa amat sangat bersalah. Mengingat semua akar permasalahan ini. Permusuhan tak penting yang menyangkut nama pribadi, merambat ke tim basket antar sekolah, dan lalu meningkat menjadi permusuhan atas nama sekolah. Pada pemuda yang terduduk lemas di lantai di dekatnya, Gabriel tak tahu Rio juga merasakan penyesalan yang sama. Ingin sekali Rio menghantam tubuhnya sendiri. Merasa sangat bodoh dan jahat melempar sahabatnya sendiri dalam situasi seperti ini. Kalau saja tak ada permusuhan, mungkin Sion tak akan menghakimi Alvin seperti tadi. Dan kalaupun iya, para murid smanra yang lain bisa melindungi Alvin. Tapi karena dicap pengkhianat, mereka justru tak berbuat banyak sebelum Sion benar-benar menghabisi Alvin.
Andai saja tak ada permusuhan. Mungkin tak akan seperti ini...

x x x
Sivia mengeratkan genggaman pada kelima jemari Gabriel, membuat pemuda itu meneguk ludah namun masih diam. Sivia masih berdiri di sampingnya. Terus menunggu.
Mereka kini berada di koridor rumah sakit. Gabriel baru saja pamit pulang, tapi Sivia menghentikannya dan membuat sebuah permohonan. Gabriel sedari tadi diam, terus berpikir keras.
"Aku mohon..."
Kini sebuah kalimat bergetar itu tercetus. Tak lagi hening dengan genggaman lembut. Sivia benar-benar berharap.
Gabriel menarik nafas dan menghembuskannya panjang. Ia menggerakkan kepala perlahan, menatap Sivia yang kedua matanya sudah sembab. Gabriel menggigit bibirnya sesaat. Tapi kemudian menganggukkan kepala pelan sambil tersenyum tipis.
Sivia mendesah lega setengah mati. Ia segera menarik tangan Gabriel menuju parkiran.
Sementara di parkiran, Rio berhenti di depan Jazz putihnya. Acha sudah terisak sambil memegangi kedua tangan Rio yang dingin. Sama seperti Sivia, ia juga memohon.
"Demi Koko Alvin, kak..." pinta Acha bergetar. "Tolong..." Acha menarik isaknya, mencoba menormalkan suaranya walau ia merasa suaranya benar-benar lirih tak beraturan. "Acha nggak akan minta banyak hal lagi. Acha cuma mau, kali ini... Kabulin permintaan Acha... Acha mohon..."
Rio berdiri lemas di hadapan sang adiknya itu. Ia juga dapat merasakan kedua matanya mulai menghangat dengan hati berdesir luluh. Ia menarik nafas dalam, mencoba menghilangkan kesesakan amat dalam di dadanya. Dan ketika menghembuskannya, Rio dapat mendengar derap langkah mendekat. Membuat ia dan Acha mengangkat wajah.
Sivia dan Gabriel melangkah mendekat. Walau Gabriel jelas sekali langkahnya jauh lebih pelan dengan wajah canggung.
Acha terdiam. Ia mengusap kedua pipi basahnya, dan mendekat pada Rio. Rio melirik Acha. Dengan mata, Acha memberikan isyarat memohon itu sekali lagi. Seakan mengatakan bahwa ini saatnya Rio mengabulkan permohonannya.
Sivia berhenti di hadapan Rio dengan Gabriel beberapa langkah di belakangnya. Suasana terasa sangat kaku dan dingin. Apalagi langit telah gelap dengan angin berhembus perlahan, makin mendramatisir pertemuan kedua pemimpin dua kubu yang berlawanan itu.
"Harus ada yang kalian bicarakan..." kata Sivia serius, menatap Rio tepat dan penuh arti.
Rio terdiam sesaat, tapi kemudian mendesah pelan dan mengangguk kecil, "gue tahu," katanya serak.
Gabriel menunduk sejenak, tapi kemudian dengan tegas ia mendongak dan melangkah maju, tepat berhenti di hadapan Rio yang masih terlihat tak bersemangat sejak dari Alvin dipindahkan ke ruang inap.
Rio mendongak, menumbukkan kedua bola mata tepat pada mata elang Gabriel. Keduanya diam satu sama lain. Membuat Sivia agak meneguk ludah gentar. Acha juga tanpa sadar mencengkeram pelan lengan Rio.
Kedua musuh bebuyutan itu masih hening. Namun di detik yang sama, dengan suara yang sama-sama serak dan lirih, mereka membuka suara. Membuat Sivia merasakan bulu kuduknya meremang.
Keduanya mengaku kalah satu sama lain.

x x x

Rio mendesah berat untuk ke sekian kalinya. Keke duduk di sampingnya sambil menunduk. Sementara Debo, Lintar, serta Deva duduk berderet di depan Rio dengan mata menajam, namun juga sarat kecewa dan ketergunan. Acha sebenarnya ada. Namun ia tertidur lelah dan diangat Rio ke kamar, sementara Rio langsung memanggil kawan-kawannya. 
"Gue nggak tahu harus gimana..." komentar Debo setelah sekian lama diam. "Pengen nonjok elo, Yo. Tapi di sisi lain juga masih benci smanra..." kata Debo dengan nada kering.
Rio ditemani Keke, memang sudah menjelaskan semuanya. Rio tak tahan lagi. Permusuhan ini harus berakhir. Perkelahian itu harus dihapuskan. Kesekaratan Alvin menamparnya keras. Menyadarkannya bahwa tawuran hanyalah jalan menuju neraka.
"Gue memang egois... Tapi gue juga capek sembunyi. Kalian sahabat gue, kalian harus tahu ini," kata Rio lemah dan serak. "Dan gue sungguh-sungguh. Gue... trauma berantem. Gue nggak mau liat adek gue sedih lagi. Gue nggak mau liat orang tua gue susah lagi. Saudara gue yang cemas. Dan... gue nggak mau sahabat gue khawatir..." kata Rio mengingat kejadian semalam. Acha, Sivia, dan Shilla yang tak berhenti menangis takut dan terus melafalkan doa. Gabriel dan Ozy yang setia menemani dan khawatir. Ayah Alvin dan Oma yang kebingungan dan cemas. Serta dirinya, yang hampir frustasi belum ada perkembangan selanjutnya tentang Alvin.
"Gue bukan ketua kalian. Nggak pernah ada yang memutuskan atau pemilihannya, kan? Jadi sekarang gue serahin ke kalian. Untuk pribadi... gue mundur," kata Rio benar-benar mengaku kalah.
Keke mengeratkan genggaman pada jemari dingin Rio. Keke mengerti, betapa campur aduknya perasaan hati Rio mengucapkan kalimat itu. Rio yang tak pernah mau kalah dan arogan, untuk pertama kalinya mengalah dan menyerah. 
"Gue nggak mau liat ada yang kayak Alvin lagi. Cukup Alvin aja yang jadi korban, jangan nambah..." kata Rio bergetar. Ia menundukkan kepala perlahan, menunjukkan permohonan tak terucap itu. Membuat Debo dan yang lain nelangsa.
Debo, Lintar, serta Deva saling pandang. Mereka diam sejenak, kemudian menghela nafas di detik yang sama.
"Den... makanannya udah siap," lapor Mbok Ipah dari arah dapur. "Den Rio belum ada makan sejak pulang pagi tadi, Den Rio makan ya," bujuk Mbok Ipah takut-takut.
Rio diam, tak menjawab. Keke mendesah, lalu menoleh pada Mbok Ipah. Seakan memberi isyarat melalui tatapan. Mbok Ipah mengangguk mengerti.
"Mas Debo, Mas Deva, sama Mas Lintar, Mbok masak banyak, kalian makan di sini aja," kata Mbok Ipah menawari. Debo dan yang lain hanya balas tersenyum tipis. Mbok Ipah lalu segera pamit lagi ke dapur.
"Kak, aku ambilin makan ya?" bujuk Keke lembut. "Nanti kalau nggak makan justru Kak Rio yang sakit. Acha makin stres loh kalau Kakak sama Kokonya sama-sama sakit. Aku nanti bangunin Acha suruh makan juga."
Rio meneguk ludah, lalu menghela nafas. Namun tak sengaja matanya jatuh pada hapenya yang tergeletak di atas meja di depannya. Pemuda itu diam beberapa saat. Tapi lalu meraih hape hitam itu. Ada yang harus ia hubungi. Sekarang. Sesegera mungkin. Karena Rio takut terlambat. Selama ini ia tak memberitahukan apapun pada seseorang yang akan segera ia hubungi. Dan sekarang mungkin saat yang paling tepat untuk memohon kehadirannya kembali.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar