Sabtu, 10 November 2012

Persahabatan Musuh Bebuyutan Part 11A


Berkali-kali mereka di pertemukan. Berkali-kali pula detak jantung mereka saling beradu dengan sekon yang berdetik. Perasaan itu sudah hinggap sejak awal jumpa. Dan terus berkembang, berlanjut hingga mereka perlahan mulai merangkai sebuah kisah cinta. Walaupun berasal dari dua kubu yang saling bertentangan, namun rasa itu malah memaksa untuk saling bersatu.
Tapi sanggupkah angan 'bersatu' akan jadi nyata?

Part 11. Backstreet

Aku berharap... semoga Raissa akan mencintai laki-laki yang terbaik kalau dia dewasa nanti.

Semoga saja. Seperti apa ya laki-laki yang di cintai Raissa nanti?

Entahlah.

Semoga laki-laki itu akan selalu membuat Raissa tersenyum dan tertawa bahagia.

Ya, dan tidak akan membuat Raissa menangis

Hm... semoga saja

***

"Kakak!!!" teriak Acha ceria pagi ini sambil berlari riang menuju meja makan.
Rio sudah duduk dengan manisnya di sana. Acha langsung menghambur memeluk Rio dari belakang. Rio terlonjak kaget, dan menoleh. Acha tersenyum lebar, lalu melepas pelukannya dan melompat duduk di samping Rio. Rio menatap adiknya itu dengan kening bertaut keras.
"Kamu kenapa sih Cha?" tanya Rio tak bisa menahan diri.
Acha mengangkat kedua alis, "Acha? Kenapa?"
Rio menatap Acha ngeri, "tadi malam mimpi ketemu Greyson Chance ya?" tanya Rio asal, menyebutkan nama idola Acha itu.
Acha tertawa, dan menjawab dalam hati. 'Bukan Greyson Chance... tapi malaikat cakep!'. Acha tersenyum-senyum sendiri sambil mengambil roti di atas meja dan selai cokelat. Rio menatap adiknya masih dengan tatapan ngeri tak mengerti, tapi belaga acuh dan menggigit rotinya kembali. Acha mengolesi rotinya dengan selai. Ia kemudian menggigit roti selai cokelatnya. Rasa manis cokelat langsung terasa di lidah Acha. Manis. Dan entah mengapa, rasa manis itu mengingatkan Acha pada sesuatu. Manis... seperti senyum Ozy semalam. Acha tersenyum kecil sendiri. Senyuman manis Ozy itu seperti senyuman malaikat. Mendamaikan. Dan senyuman itu seakan mengajak orang yang melihatnya ikut tersenyum juga. Andai saja tadi malam Acha punya kesempatan untuk mengabadikan senyuman itu dalam bentuk poto, betapa bahagianya Acha karena dapat terus melihat senyuman itu.
Rio tanpa sengaja menoleh pada Acha. Ia mendelik dan tenganga melihat adik semata wayangnya itu sudah tersenyum-senyum sendiri. "Cha!"
Acha terlonjak kaget dan refleks menoleh, terlempar dari dunia khayalnya yang penuh berisi sosok makhluk Tuhan yang bernama Ozy itu.
Rio menatap Acha penuh selidik, tapi lalu tersentak sendiri. Melihat sebuah pita pink terikat manis di ujung kepala Acha, mengikat beberapa helai Acha yang terjuntai di ujung rambutnya.
"Sejak kapan kamu pake' pita?" tanya Rio curiga.
Acha tersentak, dan spontan memegang pita yang mengikat beberapa helai rambutnya. Acha nyengir kuda, malu. Rio mengernyitkan kening menatapnya, curiga dan penuh penasaran.
"Em... ini... tadi malam Nova beli pita. Acha ikutan aja. Lucu sih," jawab Acha asal.
"Ha? Lucu? Acha, kakak tahu kamu. Kamu tuh kalau nggak di ikat, ya di urai aja. Kecuali kalau tampil cheers. Dan... kamu tuh nggak suka warna pink Acha. Kenapa tiba-tiba...." kalimat Rio menggantung dengan tatapan heran.
Acha nyengir lagi, mencoba menyembunyikan gugupnya. "Eh...... ah! Kak, udah jam berapa nih? Nanti telat loh. Yuk!" kata Acha cepat, mengalihkan pembicaraan sambil bergegas berdiri dan meraih rotinya yang tinggal setengah.
Rio tak beranjak. Masih menatap Acha penuh curiga dan ingin tahu. Acha merutuk dalam hati, dan berpikir keras untuk mengalihkan perhatian.
"Kak... Keke piket loh hari ini," kata Acha sambil memainkan alisnya.
Wajah Rio merekah seketika, "ayo!" ucapnya langsung semangat dan berdiri.
Acha tertawa kecil melihat tingkah kakaknya itu. Dalam hati bersorak dan bersyukur bisa membelokkan perhatian Rio.
^^^
Ozy masih duduk gelisah di bangkunya. Tangannya dari tadi memain-mainkan blackberrynya dengan gelisah. Ia kembali menatap layar hapenya, tapi lalu melengos dan memajukan bibir bawah. Ia mengumpat super sebal operator simcardnya. Karena sedari tadi malam, bbm nya selalu saja pending. Dan sampai sekarang Acha belum me-accept pinnya. Membuat Ozy benar-benar gelisah. Karena tak sabar sekali untuk mengajak mengobrol 'bidadari' itu.
"Kenapa sih Zy?" tanya Gabriel merasa risih dengan sikap gusar Ozy di depannya. Sedaritadi pemuda satu itu memang tak bisa diam.
Ozy mengembungkan kedua pipinya sambil mendengus, tapi tak menjawab.
"Kebelet lo?" tanya Cakka ikutan.
Ozy mendecak samar, lalu mengubah posisi duduk menyamping dan menatap Alvin yang ada di belakangnya. Alvin mengangkat alis menatapnya tenang.
"Gue mau ngomong sama lo waktu istirahat nanti," kata Ozy serius, lalu tak berkata apapun dan berbalik kembali sambil memasukkan smartphonenya di saku seragam.
Alvin, Gabriel, serta Cakka mengerutkan kening dan saling pandang.
^^^
Bel istirahat berbunyi.
Acha dengan segera merogoh blackberrynya. Ia menekan beberapa tombol, dan melafalkan doa. Karena dari semalam ia menunggu, tak kunjung datang invite bbm dari Ozy. Acha melihat daftar invitenya. Dan akhirnya tak bisa menahan diri untuk memekik kecil dan melompat senang melihat nama Ozy sudah tertera paling atas di layar bbnya.
"Kenapa Cha?" tanya Keke kaget sambil menoleh.
Acha tersentak dan menoleh, lalu nyengir kuda. "E... nggak papa. Hehe."
Keke masih mengernyitkan kening, tapi lalu berdiri, "ayo kantin."
Acha menggeleng, "aku di kelas aja deh."
"Oh. Mau titip?" tawar Keke. Nova kini sudah mendatangi meja mereka dan menunggu, karena biasanya tiga sahabat itu memang ngantin bareng.
"Nggak usah deh Ke," tolak Acha lagi.
"Loh kenapa? Nanti malah laper loh Cha. Minum aja gimana?" tanya Keke peduli.
Acha diam sejenak, tapi lalu menyeringai, "Aduh kakak ipar ini. Perhatian banget sih sama adek," goda Acha memasang wajah imut, membuat Keke tenganga, dan lalu mendelik sebal. Nova tertawa di sampingnya.
"Teh kotak aja deh Kak," kata Acha masih menggoda.
"Acha apa sih!" ucap Keke dengan pipi yang sudah merona, walau wajahnya merenggut.
Acha tertawa geli, "udah sono-sono. Siapa tahu nanti ketemu Kak Rio loh. Sono-sono," usir Acha mengibas-ngibaskan tangannya.
Keke manyun, tapi lalu mencibir sebal dan berbalik, melangkah bersama Nova yang masih tertawa.
Acha menghembuskan nafas kala melihat Keke dan Nova sudah menghilang keluar dari kelas. Ia lalu mengangkat blackberrynya. Dan dengan segera me-accept pin milik Ozy.
Tak lama setelah itu, Acha sudah mencicit senang melihat kontak nama Ozy. Ia lalu membuka display-picture Ozy. Terlihat, Ozy sedang merangkul seorang anak perempuan mungil berpipi bulat dengan mata agak sipit. Acha mengangkat alis, mengingat anak kecil itu. Yang semalan ia lihat bersama Alvin dan Shilla. Acha kembali memandangi poto itu. Sepertinya di ambil tadi malam. Karena Ozy memakai kaos yang sama seperti semalam dan anak perempuan itu juga memakai baju yang sama seperti malam tadi. Senyum Ozy di sana lebar dan bahagia, membuatnya makin terlihat bersinar di mata Acha.
Setelah puas memandangi poto Ozy, Acha melihat status pemuda itu. Singkat saja. Hanya ada satu huruf. "A".
Acha mendadak merasakan getaran di dadanya terasa bergetar cepat. Harapan besar mulai merasuki hatinya. A? Inisial namanya bukan sih? Eh, atau dia saja yang kegeeran nih? A itu siapa? Atau apa?
^^^
Ozy menarik Alvin keluar kelas kala bel berbunyi. Alvin hanya bisa pasrah. Ozy menarik Alvin ke belakang perpustakaan. Ozy duduk di bawah pohon rindang yang berada di sana. Alvin duduk di sampingnya dengan pandangan bertanya.
"Vin, gua mau cerita tentang ini sama lo, karena gue percaya sama lo," kata Ozy serius.
Alvin mengangkat alis dan sedikit tertegun. Karena belum pernah melihat Ozy serius seperti ini.
"Em..." Ozy melirik kanan kiri. Memang, belakang perpus sangat sepi. Tapi apa salahnya berjaga-jaga? "Elo... tahu tentang bidadari gue kan?"
Alvin diam sesaat, lalu mulai tertarik dan mendekatkan diri ke arah Ozy. Mencoba mendengar lebih jelas.
"Tadi malam... gue ketemu dia!" Ozy mulai curhatnya.
"Dimana?" sela Alvin segera.
"Waktu gue nyari sepatu juga! Dan elo tahu nggak? Gue udah minta pinnya!" cerita Ozy antusias dengan wajah merekah, "tadi dia udah accept gue Vin! Nah sekarang, gue malah jadi galau lagi. Karena gimana gue nyapanya? Guekan nggak pernah berurusan sama hal kayak gini."
Alvin manggut-manggut mengerti. "Kok lo nannya beginian sama gue? Kan ada Iyel, Cakka, atau Ray yang udah jago dan profesional. Mereka itukan playboy."
"Yaelah Vin. Kan gue tadi udah bilang, cuma lo yang tahu soal ini. Vin, smanra sama smanhar itu musuh. Apalagi, kemarin abis tarung kita malah tambah jadi musuh bebuyutan. Bayangin, reaksi anak-anak kalau tahu gue ngecengin anak smanhar!"
Alvin terdiam. Tapi lalu kembali manggut-manggut mengerti.
"Gimana nih Vin? Elo kalau ngajak Shilla bm-an gimana?"
Alvin tersentak, dan segera mendelik, "ngapain elo nyebut-nyebut Shilla?"
"Yeee Alvin. Elokan sama Shilla masih jaim-jaiman tuh. Pasti elo kalau ngajak bm-an sering gelisah kayak gue gini, kan?" tebak Ozy. Alvin mendelik sebal ke arahnya, sementara Ozy menyeringai.
"Bilang hai kek, apa kek. Basa-basi dulu kali," usul Alvin.
Ozy diam sejenak, tapi tersenyum lebar dan mengangguk. Dengan segera ia mengetikkan pesan singkat pada Acha. Seperti kata Alvin, sebuah sapaan dulu. "Hai Acha". Klise memang. Tapi semoga sajalah bisa berlanjut panjang.
"Vin! Di read Vin! Di read!" kata Ozy heboh melihat huruf R di atas tanda centang sudah tertera di layar bbnya. Alvin kembali mendelik melihat tingkah heboh Ozy itu.
Mata Ozy berbinar kala bbnya berbunyi. "Vin dia balas Vin!" Ozy kembali heboh, tapi kini hanya di jawab Alvin dengan menguap malas. "Dia bilang hai juga! Ada emoticon smilenya! Haha," Ozy sudah kegirangan sendiri, sementara Alvin hanya geleng-geleng. Anak satu ini memang baru pertama kali jatuh cinta ya?
"Vin, gue balas apa nih?" Ozy menoleh pada Alvin dengan wajah memelas.
"Dia nggak belajar apa? Bisa bm-an sama lo?" sahut Alvin menjawab.
"Ah! Iya!" wajah Ozy merekah, lalu segera mengetikkan balasan.

ozyadriansyah: ga belajar Cha?
AchaaaLSA: lagi istirahat. kamu?
ozyadriansyah: sama :D

Ozy memain-mainkan blackberrynya sambil menunggu. "Yah Vin, kok lama sih balasnya?" keluh Ozy tak sabar.
"Ya elo juga. Kesannya kayak nutup pembicaraan gitu," komentar Alvin membaca obrolan Ozy.
Tapi tak lama smartphone itu berbunyi, membuat Ozy segera melihat layar bbnya kembali.

achaaaLSA: kamu ga ngantin?
ozyadriansyah: nggak
achaaaLSA: kenapa?
ozyadriansyahh: kan pengen bbman sama elo aja :D

Alvin mencibir membaca balasan Ozy itu. Katanya tak pernah mengalami hal seperti ini. Tapi kok sudah bisa gombal? Ckckck.
^^^
Kaki Acha seakan melayang-layang ke langit. Senyum gembira tak terhapus dari wajahnya. Sepertinya hari ini gadis itu benar-benar bahagia. Sedaritadi, ada yang menari dalam hatinya, dan seakan di sana sedang musim semi. Karena bunga-bunga bermekaran, memperindah suasana hati gadis itu.
"Cha?"
Acha tersentak dan mengerjap, lalu menoleh. Mendapati sang kakak sedang duduk di ruang tengah, menatapnya sambil memiringkan kepala dengan kening berkerut.
"Kamu kenapa sih? Daritadi pagi aneh."
Acha mengangkat alis, tapi lalu meringis saja.
"Kamu itu senyam senyum mulu. Keke juga bilang, di kelas kamu malah nggak konsen. Ngelamun mulu kerjaannya. Ada paan?" tanya Rio penasaran.
Acha terdiam. Ia berpikir sejenak, tapi lalu kembali tersenyum lebar. "Nggak kak. Nggak papa. Ih kakak ini. Adeknya lagi ceria kok malah di komentarin. Nanti kalau Acha manyun nggak semangat, komentar juga. Maunya apa sih?" tanya Acha dengan memasang wajah lelah, walau air mukanya masih sangat berbahagia. Acha cengengesan sendiri, lalu berbalik ingin beranjak.
Rio menatap adiknya itu makin penasaran dan penuh selidik, "kamu naksir orang ya?"
TOENG
Langkah Acha segera terhenti. Tubuhnya seakan membeku perlahan. Acha diam-diam merutuk, mengapa Rio bisa sangat tepat sasaran seperti ini.
Rio mengangkat sebelah alis, menyadari pertanyaannya yang padahal asal itu 'tertembak' tepat. Perlahan, hatinya mulai tersulut.
"Ng... nggak kok!" elak Acha tak bisa menyembunyikan salah tingkahnya. Ia tak mau berbalik. Karena bisa-bisa Rio tahu bahwa kedua pipinya sudah membara merah.
"Sama siapa Cha?" tanya Rio tajam, tak memedulikan jawaban Acha.
Acha meneguk ludah, tapi lalu menarik nafas mencoba menguasai diri dan menghembuskannya kecil membuat kedua pipinya mengembung. "Nggak kak! Kakak nggak usah asal nuduh deh. Ah udah ah. Acha mau balik ke kamar!" pamit Acha segera, lalu berlari ke kamarnya.
Rio menghela nafas. Tangan kanannya sedikit terkepal. Ah shit. Siapa lagi cowok yang berani mendekati adiknya itu? Mau menantang Rio secara tak langsung?
^^^
Acha menggeleng kuat. Mencoba fokus pada buku Biologi di hadapannya. Namun gagal. Karena sedaritadi, yang ada di pikirannya bukanlah nama latin tumbuhan yang harus ia hafalkan minggu depan, namun... bayang sosok lain. Yang lebih indah dari sekedar pahatan seniman dunia. Bahkan harusnya, Biologi itu mengajarkan bagaimana bisa ada manusia setampan lelaki yang ada di pikiran Acha, daripada harus mumet pada nama-nama latin yang menyebutkannya saja syukur alhamdulillah kalau bisa.
Acha tersenyum sendiri. Menyadari kini ia benar-benar sudah 'gila'. Baru kali ini Acha benar-benar di mabukkan senyuman seorang laki-laki. Ya memang, kalau di perhatikan lebih tampan kakaknya daripada lelaki itu. Lebih keren Justin Bieber daripada lelaki itu. Lebih manis Donghae Super Junior daripada lelaki itu. Lelaki itu manis dengan wajah ramah yang seakan terus tersenyum. Apalagi kerlip di matanya itu bersinar memancarkan kebahagiaan. Dan seakan, ada banyak hal baik dari lelaki itu yang ingin terus Acha cari tahu. Dan... ketampanan lelaki itu. Berbeda. Tak seperti pangeran negeri dongeng, anggota boyband, cowok basket, ataupun idola sekolah. Dia berbeda. Acha juga tidak tahu apa bedanya. Yang jelas, di mata Acha, lelaki itu terlihat jauh sempurna daripada yang lain. Dan tak ada lelaki lain yang lebih tampan dari dia. Dia... benar-benar menawan di mata Acha.
Acha menghembuskan nafas, dan menggerakkan kepala ke arah cermin lemari di sebelah meja belajarnya. Ia menatap bayang wajahnya sendiri. Acha diam sejenak, tapi lalu melangkah mendekat. Ia membuka laci kecil di meja belajar. Acha mengambil sebuah bando dari dalam laci. Bando Nova yang ia pinjam tadi pagi. Acha memandangi bando pink dengan pita polkadot besar di ujungnya. Acha terdiam. Perkataan Rio tadi pagi terngiang di otaknya. Rio memang benar. Sebelumnya, Acha memang tak peduli dengan penampilannya. Kalau ke sekolah, ia hanya memakai bedak secukupnya dan menyisir rambut. Kalau tidak di ikat, ya di urai. Perawatannyapun sederhan. hanya mencuci muka dan memakai shampoo. Lalu juga, dulu Acha sering menghindari warna pink karena menurutnya itu warna centil. Tapi kini... entah mengapa ia senang sekali kalau melihat warna pink. Bando, pita, dan pensil Keke yang berwarna pink pun sering jadi sasarannya untuk di pinjam. Aneh memang. Kini Acha juga mulai memerhatikan penampilannya. Di mulai dari membeli sabun wajah, lotion, aksesoris rambut, dan lainnya. Acha juga tidak mengerti kenapa. Yang ia tahu, ia hanya ingin terlihat cantik kalau sewaktu-waktu bertemu Ozy lagi.
Tunggu dulu.
Ozy?
Acha tiba-tiba tersentak sendiri. Oh astaga. Jadi... semua ini karena Ozy?
Acha menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Entah mengapa tiba-tiba merasa sangat malu. Bagaimana kalau Rio tahu tentang ini? Bisa-bisa Ozy pasti sudah di jadikan sate untuk makan malam!
Acha menghembuskan nafas, membuat kedua pipinya mengembung. Ia lalu memakai bando tadi dan menarik poninya ke belakang. Setelah itu ia keluar, menuju ruang tengah. Rio sedang berkumpul bersama teman-temannya di luar.
Acha menghempaskan tubuh ke sofa dan menyalakan TV. Ia menonton sebuah FTV. Acha menyandarkan punggung ke sofa, sambil mengambil chitato yang ada di atas meja dan memakannya. Tapi, backsong FTV itu segera menarik perhatiannya.

“ku tak tahu apa yang terjadi,
Pada hatiku kini…  tak ku mengerti…
Getar ini belum pernah ada,
tak pernah kurasakan… selama ini… “

Acha berhenti mengunyah, dan terdiam menatap ke layar televisi.

“malu-malu aku… Mengakuinya…
Karna aku kini, belum dewasa… “

Acha menelan chitato di mulutnya. Tapi tak lama tersenyum sendiri. Wah wah wah... pas sekali ini. Acha jadi merasa dialah peran utama dalam FTV itu. Dan ceritanya, harusnya ceritanya kini dengan Ozy.

“Berjuta cahaya, datang padaku…
Menari denganku… menyanyikan lagu tentangnya…
Duhai bintang, mungkinkah yang ku rasa…
Apakah sudah saatnya… Untukku menyukainya…”

Suara merdu Gita Gutawa mengalun indah di layar televisi. Acha menikmati lagu itu sambil menerawang. Teringat lagi isi bbmnya dengan Ozy. Ozy meminta nomor hapenya. Acha benar-benar merasa melayang ke langit ke tujuh. Ah. Apakah sudah saatnya?

“Sekarangku sering melamun,
Dan juga ku senang bercermin,
Oh… mengapa ini ? “

Acha menunduk sambil tersenyum. Pipinya memerah merona tanpa alasan jelas. Karena lagu itukah? Atau karena otaknya yang terus memikirkan Ozy? Atau karena... ia mulai menyadari. Dirinya sudah benar-benar jatuh cinta pada sosok Ozy.
Tiba-tiba smartphone Acha berdering di atas meja, membuat Acha tersadar dan menoleh. Acha menekan tombol mute pada tv, lalu mengambil hapenya dan melotot kala membaca nama kontak yang tertera di layar blackberry itu. Nama yang sedaritadi terus menggelantung di benaknya. Acha menggigit bibir, menahan agar ledakan-ledakan kecil di dadanya itu tak menjadi bom besar yang malah nantinya meledakkan dirinya sendiri.
Acha menarik nafas dalam, lalu menghembuskannya. Ia lalu menekan tombol dial, dan mendekatkan hape ke telinganya.
"Halo," sapa Acha, berusaha sebaik mungkin agar suaranya terdengar lembut.
"Halo Cha. Eum... malam," balas orang di seberang.
Diam-diam Acha merasa sedikit meleleh mendengar suara agak serak itu. "Malam, Ozy..."
Acha melirik kanan dan kiri, lalu mengintip ke arah luar sambil mendengarkan Ozy yang berbicara di telpon. Acha mendesah tak kentara, karena aman. Rio sedang asyik di luar. Acha lalu menyahuti ucapan Ozy. Dan semalaman, mereka mulai berinteraksi melalui telpon.
Acha sedikit mengerutkan kening sambil meraba dadanya. Aneh ya. Padahal ia tak bertemu langsung dengan pemuda itu, tapi kenapa baru di telpon begini saja jantungnya tak bisa berhenti menari bahagia?
^^^
Sudah lebih dari seminggu ini, Ozy sangat aneh. Ia sering tersenyum sendiri. Kadang juga melamun atau memandangi layar blackberrynya sambil tersenyum senang. Semua temannya memandang heran. Oke, setiap hari Ozy memang sering bertingkah gila. Tapi 'gila' yang ini berbeda. Kenapa Ozy? Ada apa dengan preman sekolah satu itu?
"Gue heran deh. Tu anak kok jadi stres gitu ya," komentar Cakka kala mereka sedang berada di kantin.
Ray yang duduk di sebelahnya mengangguk mengiyakan, "terus, jarang bareng kita lagi. Malah sibuk di kelas sambil main bebe. Ckckck."
"Berseri-seri amat tu anak. Kayaknya dari kita pulang tanding tuh, dia udah keliatan happy," argumen Gabriel mengikut.
"Lagi jatuh cinta kali," ucap Alvin tenang lalu meneguk minuman kalengya.
Gabriel, Ray, dan Cakka segera menoleh. Mata mereka melebar kompak.
"Jatuh cinta?" tanya Cakka.
"Naksir cewek?" sambung Ray.
"Ozy?" tambah Gabriel.
Mereka bertiga saling pandang, tapi lalu meledakkan tawanya. Membuat Alvin mendelik kesal.
"Vin... vin.... Aneh-aneh aja lo. Ozy itu mana pernah mikirin cewek. Diakan setia sama gue!" kata Ray sambil tertawa terbahak.
"Ozy itu tipe pemilih Vin. Susah buat naksir orang. Dia aja nggak pernah pacaran. Lah sekarang lo bilang dia suka sama cewek?" ucap Cakka juga terkekeh geli.
Alvin menghembuskan nafas, "heh! Kalian nggak liat sikapnya? Senyam senyum sendiri, suka ngelamun, sering gelisah. Itu ciri-ciri orang yang baru pertama kali naksir orang," sahut Alvin sedikit sewot karena di tertawai.
Membuat ketiganya sontak terdiam. Benar juga sih, batin mereka.
"Gue setuju sama Alvin!" ucap seseorang tiba-tiba yang sudah melompat duduk di samping Gabriel tanpa permisi. Semua terkejut dan menoleh. Mendapati Shilla sudah bergabung dengan segelas es jeruk di tangannya.
"Eh, nenek! Ngikut aja lo!" ejek Ray.
"Biarin," kata Shilla cuek, "eh, kalian liat dong sikapnya Ozy. Dia itu kayak orang lagi jatuh cinta. Dan ciri-cirinya persis kayak orang yang baru pertama kali ngerasain suka sama seseorang! Gue pernah baca majalah tentang zodiak gitu, dan gue baca zodiaknya si Ozy, dia itu tipe orang yang sulit jatuh cinta. Tapi kalau udah jatuh cinta, dia bisa cinta mati sama cewek pilihannya itu! Dan setelah sekian lama Ozy nggak pernah jatuh cinta, akhirnya ada juga cewek yang bisa naklukin hati kurcaci stres itu!" jelas Shilla panjang lebar dengan menggebu-gebu.
Yang lain mendengarkan sambil manggut-manggut mengerti. Alvin tersenyum kecil samar, lucu juga dengan sosok temannya satu itu. Padahal dia anak yang supel dan punya banyak teman, tapi ternyata sampai sekarang tak pernah pacaran. Bagaimana bisa ya, sosok yang sering jadi premannya sekolah dan termasuk most wanted nya sekolah, tapi malah... tak pernah jatuh cinta?
"Siapa ya cewek yang bisa naklukin Ozy?" tanya Cakka penuh selidik. Shilla, Gabriel, serta Ray saling pandang, juga dengan tatapan penasaran ingin tahu.
Sementara Alvin belaga tak mendengarkan dan meneguk minumannya kembali. Ya siapa lagi kalau bukan si 'bidadari' itu?

Rabu, 12 September 2012

Persahabatan Musuh Bebuyutan Part 8B


Takdir menemukan mereka. Klimaks kisah ini sudah sampai. Pertemuan yang tak pernah di duga itu. Benang cerita ini mulai terajut dan bertemu satu sama lain. Pertemuan awal yang sekilas tapi sudah mampu menumbuhkan getaran berbeda. Pertemuan yang selama ini di nanti, ternyata masih di ragukan.
Dan... seperti apa penyelesaian dari benang-benang ini? Apakah akan jadi sebuah untaian kusut? Atau jadi selembar kain yang indah? Let's see...

Part 8b. Harapan vs Nusantara

Para pendukung masing sekolah sudah berkoar-koar menyemangati dan bernyanyi yel-yel mereka. Para anggota cheers juga menyemangati sambil memainkan pom-pom mereka.
"Gabrieeel!!! Alviiinn!!!" teriak Shilla menyemangati dari pinggir lapangan sambil memainkan pom-pomnya.
"Oper! Oper! Oper!" Ray berteriak tidak kalah heboh dengan tim cheers sekolahnya.
"Kak Rio! Kak Rio! Kak Rio!" teriak Acha menyemangati kakak tunggalnya di tengah gemuruh suara penonton.
"RIOOOO!!!" teriak Dea histeris. Em... maksudnya sih memberi semangat.
Terdengar samar juga suara Ify meneriakan nama Debo di antara ramainya suara stadion. Walau dalam hati Ify berharap setengah mati agar Debo tidak mendengar ia meneriakan namanya. Aneh. Keke juga meneriakan nama Rio dari bangku penonton. Nova tak mau kalah dan meneriakan nama Lintar sekencang mungkin.
Kedudukan sudah 39-34 untuk smanhar. Bola di tangan Alvin. Alvin segera berlari dan mendrible ke arah ring, lalu mengoper ke arah Ozy yang sedang kosong. Dengan sigap, Ozy menangkapnya dan segera mendrible sambil berlari ke arah ring lawan. Ozy melompat, dan...
"Masuk!!!" teriak Shilla histeris saat Ozy berhasil memasukkan bola ke dalam ring.
Seluruh pendukung smanra berteriak heboh. Cakka mengacak-acak rambut ikal Ozy dengan senang.
"Yeay!" teriak Acha girang sambil bertepuk tangan memandangi Ozy yang kini tertawa.
Zevana mendelik, "Cha! Tadi itu kita kebobolan! Kok malah seneng!"
Acha terdiam sesaat, tapi lalu menyeringai lebar, "yang ngeshoot manis sih."
"Hmppt! Dasar!" sahut Ify sambil memukul Acha dengan pom-pomnya. Acha hanya cengengesan.
Pertandingan masih berlangsung panas. Bola di tangan Ozy lagi. Kali ini ia berlari gesit menghindari lawan, dan melemparkan pada Alvin yang kosong. Alvin yang berada di dekat ring, segera melompat, ingin memasukkan bola. Tapi seorang lain juga ikut melompat, melemparkan bola itu jauh-jauh dari ring, menjaga pertahanannya. Shilla bersorak kecewa dengan heboh karena Alvin gagal memasukkan bola. Sementara Alvin sendiri malah terdiam, memandang siapa yang tadi menolakkan bolanya ke dalam ring. Laki-laki itu juga menatap Alvin, tapi sekilas saja, karena ia kembali bermain. Alvin menghela nafas, mencoba tetap konsentrasi bermain.
Acha mengerutkan kening, melihat siapa yang tadi di gagalkan kakaknya untuk memasukkan bola. Acha juga makin heran saat kakaknya sempat bertatapan dengan pemuda oriental itu. Acha terus memerhatikan pemuda dengan mata agak sipit yang kini tengah bermain kembali. Entah kenapa, Acha merasa pernah bertemu pemuda itu. Bahkan mengenalnya, dengan akrab dan dekat. Tapi... mana mungkin. Diakan tim smanra. Dari dulu, kakaknya selalu melarang Acha dekat-dekat dengan murid SMA Nusantara, karena itu adalah musuh Rio. Jadi tak mungkin Acha mengenal lelaki putih itu. Tapi kenapa, ada perasaan lain bergerak di hatinya? Seperti sebuah rindu yang menyeruak, dan memaksa Acha untuk mendatangi pemuda itu, memeluknya erat. Ia seperti seseorang yang selama ini Acha rindukan dan cari. Tapi... siapa?
Acha mendecak sendiri, tak paham dengan pikiran anehnya itu. Ia menghela nafas, tapi lalu kembali mencoba ceria menyemangati sang kakak yang masih memimpin tim smanhar.
Di tengah pertandingan, Sion dan Rio berebut bola. Bola di tangan Rio. Sering kali Sion mencoba mengambil kesempatan tapi selalu gagal. Rio terlalu gesit untuk menghindari penjagaan Sion. Tapi Sion tetap menjaga ketat Rio. Rio mendrible bola, lalu dengan gesit segera berlari menghindar dan melompat ke arah ring lawan.
"Gooolll!!!" pekik Dea heboh sambil melompat-lompat girang.
"Eh, gila. Kakak lo tadi cakep banget Cha!" kata Zevana histeris.
Acha tertawa, lalu memandang ke arah kakak semata wayangnya itu. Rio sedang menoleh ke arah bangku penonton. Lalu tersenyum, membuat para perempuan membelalak, tapi lalu melting tak karuan. Acha mengikuti arah pandang Rio, mendapati Keke sedang balas senyuman Rio itu dengan tersipu. Acha terkikik kecil. Ternyata kakaknya itu bisa romantis juga, ya? Sudah jelas dengan sikap Rio itu, kalau gol tadi di persembahkan untuk Keke. Ah manisnya.
Sion mengumpat dalam hati, kesal dengan Rio yang berhasil menghindarinya. Ini sudah sekian kalinya dalam pertandingan kali ini. Sion menatap tajam Rio yang sedang bertos ria dengan Deva. Sion mendengus, lalu berjalan menuju Rio yang kini sendiri. Rio menoleh saat Sion melangkah mendekat.
BUK!
Sion meninju perut Rio saat sudah ada di depan Rio, membuat Rio terlonjak. Jarak mereka dekat, sehingga tidak ada yang memerhatikan bahwa Sion sedang memukul Rio. Apalagi sekarang Cakka dan Debo sedang berebut bola dengan seru. Bola akhirnya di dapat Cakka dan mengarah ke ring smanhar, menjauhi tempat Rio berada. Rio meringis, lalu terduduk sambil memegangi perutnya yang terasa perih. Debo yang tanpa sengaja melihat itu, segera berlari datang.
"Eh nggak usah kasar ya!" kata Debo mendorong tubuh Sion.
Peristiwa itu menarik perhatian, membuat para pemain segera datang mendekat. Kiki dan Lintar membantu Rio berdiri kembali. Para penonton terdiam sambil memandang ke sudut lapangan tempat Rio berada. Alvin tersentak saat melihat Rio yang nampak masih kesakitan.
"Nggak sengaja," jawab Sion cuek.
"Eh, sialan lo!" kata Debo emosi dan maju ingin meninju Sion.
"Eh, eh, udah Bo," kata Deva segera menahan.
"Apa?!" bentak Sion menantang sambil ikut maju. Debo jadi tersulut dan mulai bertengkar dengan Sion.
Pertandinganpun ricuh.
Bisik-bisik penonton mulai terdengar sambil memandangi pinggir lapangan terjadinya perkelahian. Keke berdiri sambil menatap cemas Rio dari bangku penonton. Ify menutup mulut dengan telapak tangan. Ingin maju melerai, tapi entah mengapa kakinya terpaku di tempat. Ia hanya berteriak dalam hati, menyuruh Debo berhenti berkelahi seperti itu. Wasit segera berlari datang dan melerai.
"Yon! Udah!" lerai Gabriel menarik tubuh Sion yang sibuk bergulat dengan Debo.
Karena terlalu menyegani Gabriel, Sion menurut dan melepaskan Debo dengan emosinya yang masih memuncak.
Rio yang sudah mulai hilang rasa sakitnya, malah jadi terikut emosi dan balas meninju Sion. "Elo bisa kan kalau nggak pakai otot?!"
Sion meringis, lalu menatap Rio tajam. "Nggak bisa!" jawabnya lalu menepis tangan Gabriel yang menahannya, dan ingin membalas tinjuan Rio.
"Yon!" bentak seseorang yang tiba-tiba segera berdiri di depan tubuh Rio dan mendorong tubuh Sion menjauh. "Nyantai!" marah orang itu tak terima.
Gabriel, Sion, Cakka, dan juga Ozy sedikit menganga heran dan tak percaya mengapa Alvin berdiri di depan Rio, seakan melindungi lawan. Sedangkan Rio menjadi terdiam dan tertegun menatap punggung Alvin di depannya. Bahkan Shilla yang mendengar dari pinggir lapangan ikut mengerutkan kening tak mengerti.
"Kenapa pakai mukul sih?!" bentak Alvin emosi, tak terima Rio di pukul begitu saja oleh Sion.
"Vin! Kok elo malah marah sama Sion? Lawan kita itu kan mereka!" sahut Cakka menunjuk ke arah tim smanhar, benar-benar tak mengerti dengan sikap Alvin.
Alvin tersentak, lalu terdiam. Ia merutuk diri dalam hati. Bodoh. Kenapa mendadak emosinya jadi tersulut? Dan kenapa ia harus marah karena Sion memukul Rio? Rio kan musuh sekolahnya.
"Sudah. Cukup. Kedua tim di diskualifikasi!" tegas wasit membuat semua tersentak.
"Nggak bisa gitu dong, Pak. Kapten kami di pukul," bela Debo tidak terima.
"Pak, tim saya cuma emosi," kata Gabriel mencoba membujuk.
Wasit menggelengkan kepala tegas, "pertandingan selesai!"
Priiitt
Wasit sudah meniup peluitnya, menutup pertandingan. Semua penonton berseru kecewa. Kedua pelatih masing sekolah segera menghampiri wasit dan mencoba membujuk. Tapi wasit tetap menggeleng tegas dan menghentikkan pertandingan. Kedudukan sama. 42-42. Seri.
"Ayo balik," pimpin Gabriel lalu berbalik dan melangkah. Semua menurut tanpa di komando dua kali.
Alvin melirik ke arah Rio. Rio juga meliriknya, tapi kemudian membuang muka. Alvin menghela nafas, dan segera menyusul teman-temannya.
"Vin! Elo kenapa? Tadi kena pukul nggak?" tanya Shilla panik sambil menghampiri Alvin.
Alvin hanya menggeleng pelan dan tersenyum tipis, lalu melangkah ke dalam ruang ganti. Shilla mengerutkan kening, dan kembali menoleh ke arah kapten tim smanhar. Rio kini sedang menatap kepergian Alvin, membuat Shilla makin heran. Ada yang aneh. Tadi, Shilla dapat melihat ada tatapan lain dari Alvin ke kapten smanhar itu. Shilla hanya mendesah kecil, tapi lalu memimpin timnya menuju ruang ganti.
"Kak!" panggil Acha sambil berlari menghampiri Rio yang masih berdiri di sudut lapangan, "kakak nggak papa, kan?"
"Yo, kenapa?" tanya Dea cemas yang ada di samping Acha.
"Elo nggak papa, kan?" tanya Ify khawatir. Matanya sedikit bergerak ke arah Debo.
"Kak Rio!" panggil Keke sambil berlari dari bangku penonton menuju tim smanhar bersama Nova.
"Kak?" panggil Acha khawatir, belum mendapat jawaban dari Rio. Rio masih mematung menatap pintu ruang ganti smanra.
Rio diam sesaat, lalu mendesah kecil. "Dia udah kembali Cha..." gumam Rio pelan sambil kembali menatap pintu ruang ganti smanra.
^^^
Shilla melangkah dari toilet stadion menuju parkiran sendiri. Teman-temannya sudah menunggu di luar. Saat ingin kembali, tanpa sengaja, ia berpapasan dengan Dea, kapten cheers smanhar. Shilla dan Dea mengangkat alis saat mata mereka bertemu, dan saling melempar tatapan sinis tak suka. Mereka lalu berhenti serempak saat jarak keduanya sudah kurang dari tiga langkah.
"Elo kapten cheers smanra, kan?" tanya Dea sinis, seraya melipat kedua tangan di depan dada.
"Iya. Kenapa?" sahut Shilla tajam seraya sedikit mengangkat dagu angkuh.
"Tim lo, kalau emang kalah, ya kalah aja. Nggak usah pake otot segala," seru Dea tak kalah tajam.
Shilla mendelik. "Tim lo aja deh kayaknya yang emang cemen," balas Shilla meremehkan.
"Songong banget lo!" kata Dea mulai kesal.
"Siapa? Bukannya elo ya?" sahut Shilla tak terima.
"Elo ngajak berantem gue?!" tantang Dea sambil mendekat.
"Kalau iya?" jawab Shilla tak takut dan ikut maju.
Dea menatap Shilla geram, lalu dengan kesal ia menarik rambut Shilla yang di kuncir dua.
"Aw aw aw," rintih Shilla kesakitan, tapi lalu segera membalas menginjak kaki Dea.
Dea merintih. Shilla lalu menjambak rambut Dea dengan geram. Dea balas menarik rambut Shilla. Aksi tarik menarik rambutpun di mulai.
Ozy, yang di suruh memanggil Shilla yang belum juga kembali, melotot kaget saat melihat princess sekolahnya itu sedang 'bertarung' dengan kapten cheers smanar. Ia lalu segera berlari mendekat.
"Woi! Woi! Udah!!!" lerai Ozy saat sudah di tengah-tengah dua perempuan cantik itu.
Dea mendelik ke arah Ozy, "diem lo! Anak kecil!" usir Dea merasa terusik dengan Ozy di sela pertarungannya dengan Shilla. Shilla masih balas menjambak rambutnya.
"Siapa yang anak kecil? Udah udah," lerai Ozy mencoba memisahkan, "Aduh!" pekik Ozy yang terkena jambakan juga. Entah oleh siapa.
"Elo anak kecil bisa minggir nggak, sih?!" bentak Dea menarik kesal cowok yang menurut penglihatannya seperti anak kelas satu SMA itu -padahal sudah kelas tiga SMA-.
"Eh apaan lo narik-narik?! Dia teman gua!" kata Shilla sambil menarik Ozy kembali.
"Ah! Rusuh lo!" balas Dea sambil menarik tangan kiri Ozy.
"Ribut lo!" sahut Shilla menarik tangan kanan Ozy, "dasar mak lampir!"
"Diem lo nenek sihir!" umpat Dea menarik Ozy.
"Weh weh. Apa-apaan ini?!" panik Ozy yang sudah seperti boneka di perebutkan dua anak perempuan ini.
"Kak Dea?!" panggil seseorang kaget yang baru saja ingin keluar stadion. Ia melotot, lalu segera berlari mendekat. "Eh, eh, Kak. Udah," ucapnya mencoba melerai.
Dea menoleh, lalu segera melepaskan tangannya saat tahu yang menyuruhnya adalah adik dari pujaan hatinya, Acha. Karena Dea yang melepaskan pegangannya secara mendadak, Ozy menjadi terjatuh dan menimpa Shilla yang masih menariknya dengan kuat.
"Aduh!" pekik Shilla, lalu menjitak kepala Ozy geram, "ngapain lo nimpa gua!?"
"Yaelah Shil. Elo yang narik gue!" seru Ozy tidak terima.
Acha menoleh, dan mendadak terdiam melihat Ozy. Ia bahkan tak berkedip saat Ozy dan Shilla sama-sama berdiri, walau Shilla masih mengomel tak karuan. Tanpa sengaja, mata Ozy jatuh pada Acha yang menatapnya. Mata keduanya beradu. Keduanya saling mematung menatap satu sama lain. Dan tiba-tiba ada sebuah lagu mengalun merdu di pikiran keduanya, layaknya sebuah backsong dalam FTV-FTV.
'Terpesona, ku pada pandangan pertama...'
Shilla dan Dea mengangkat salah satu alis melihat Ozy dan Acha yang saling tersihir satu sama lain.
“OZY!” “ACHA!”
Ozy dan Acha terlonjak kaget dan segera tersadar. Shilla dan Dea ikut tersentak karena mereka mengucap di detik yang sama, keduanya saling menoleh.
"Ngapain elo ngikut?!" tukas Shilla kesal.
"Yeee. Adanya elo yang ngikut!" balas Dea tidak mau kalah.
"Eh, eh. Udahan aja ya. Yuk Shil!" kata Ozy lalu segera menarik Shilla pergi menjauh dari sana, sebelum ada hal aneh lain terjadi.
Shilla melemparkan mata melotot geram ke arah Dea, tapi hanya pasrah di tarik Ozy. Sementara Dea mengumpat kesal Shilla. Sedangkan Acha... malah jadi kembali terpaku melihat Ozy.
^^^
Tim basket dan beberapa murid SMA Nusantara sudah berada di depan stadion. Sion dan Gabriel sedang mendapat omelan panjang dari Pak Jo. Gabriel yang memang kapten menemani Sion. Para anggota basket yang lain masih duduk di tangga masuk ke dalam stadion.
Tidak lama kemudian, Sion dan Gabriel melangkah mendekat. Sion menghela nafas sambil duduk di salah satu anak tangga. Sementara Gabriel berdiri bersandar di dinding tangga.
"Yel! Gue nggak terima. Pokoknya, gue mau kali ini kita tarung lagi sama mereka," kata Sion kesal.
Alvin menoleh, sambil mencoba menahan emosi, "Yon, cukup. Elo tadi udah mukul dia. Masih belum puas?"
"Iyalah. Gue nggak bakal terima kalau gue belum balas."
"Belum balas? Bukannya elo yang mulai semua? Elo tuh kenapa sih?" tukas Alvin kesal.
"Adanya elo yang kenapa. Elo tuh aneh. Mereka lawan kita. Ngapain lo belain?" sahut Sion sinis, membuat Alvin terdiam tak menjawab. "Yel! Ini nih sohib baru lo. Aneh. Musuh sendiri kok di bela," adu Sion sambil menoleh ke arah Gabriel.
Alvin menoleh, dan menghembuskan nafas keras, mencoba sabar. "Yon, gue cuma nggak suka elo main otot di tengah pertandingan. Liat kan sekarang? Kita malah di dis!"
Sion menatap Alvin tajam, "eh! Elo tuh anak baru. Elo belum tahu gimana smanra sama smanhar. Kejadian kayak gini tuh udah sering ada!"
"Udah udah. Kok malah kalian yang berantem sih?" lerai Gabriel menengahi.
Sion menghela nafas sambil menoleh ke arah Gabriel, "Yel. Pokoknya kita harus jegat mereka pulangan ini. Pasti mereka belum pulang."
Gabriel terdiam, lalu menghela nafas panjang dan berpikir.
"Yel... pasukan kita banyak," hasut Sion meyakinkan Gabriel.
Gabriel memandang anggota gengstar sekolahnya yang memang masih berada di stadion. Semua anggota tim basket dan sejumlah murid smanra yang tadi menonton. Mereka hanya diam menunggu perintah dari Gabriel. Hanya Alvin yang menatap Gabriel seakan berkata, 'jangan'.
Gabriel menghembuskan nafas sambil mengalihkan wajah, "ayo ke halaman samping gedung," pimpin Gabriel sambil melangkah, membuat Alvin tersentak.
"Wooo! Itu baru ketua gue!" kata Sion bangga sambil beranjak.
Alvin mendecak tak setuju. Sion mendekat ke arah Alvin, lalu menepuk-nepuk pundak Alvin dan tersenyum sinis. Alvin hanya diam sambil membuang muka. Sion tertawa kemenangan, lalu menyusul Gabriel menuju halaman samping gedung, tempat di mana smanhar akan keluar.
"Loh? Vin! Pada mau kemana?" tanya Ozy yang baru saja datang. Shilla yang tadi bersamanya sudah ngeluyur kembali ke tim cheersnya.
Alvin menghela nafas, "kita bertarung sama smanhar," jawabnya lirih, lalu melangkah menyusul yang lain.
Ozy diam sesaat, tapi tetap menurut dan melangkah bersisian dengan Alvin.
^^^
Rio dan para anak buahnya -gengstar smanhar- melangkah keluar stadion setelah sebelumnya mereka sempat berada di dalam stadion cukup lama. Tapi saat ingin keluar melalui pintu samping stadion, sebagian murid lelaki smanra sudah berdiri menunggu, sebagian membawa alat. Gabriel berdiri di depan mereka sambil menatap Rio tajam. Rio terdiam.
"Yo, bakal bertarung lagi nih," bisik Lintar yang memang ada di samping Rio.
"Untung aja anak-anak belum balik," gumam Deva pelan.
Rio mendesah pelan, lalu menoleh ke belakang, "panggil Ify!" perintah Rio, membuat semua segera menurut.
Tidak lama kemudian, Ify segera melangkah maju dan berdiri di samping Rio dengan pandangan bertanya.
"Bawa Acha sama Keke pulang," perintah Rio.
Ify mengerutkan kening, "elo?"
Rio menggerakkan kepala kecil ke arah anak-anak smanra di depannya, "gue masih ada urusan.
Ify terdiam sambil memandang pasukan smanra. Ia lalu menghela nafas mengerti. "Hati-hati," pesannya, dan berbalik, tapi sebelumnya sempat menoleh ke arah Debo dengan cemas. Ia lalu melangkah menuju pintu utama stadion, mendatangi Acha dan Dea yang baru saja terlihat.
Rio menoleh ke depan kembali, dan melangkah maju, di ikuti para gengstar sekolahnya. "Kenapa?" tanyanya dingin.
Gabriel melangkah maju mendekat, dan menatap Rio tajam, "apa perlu gue jawab?"
"Ck. Nggak usah banyak bacot lah!" kata Debo emosi sambil maju dan meninju salah satu anak smanra. Yang lainpun mengikuti.
Dan pertarungan antar dua musuh bebuyutan ini... di mulai.
^^^
Para preman sekolah dari smanra dan smanhar masih terus memukul satu sama lain. Bibir Rio sudah berdarah. Pipi kanan Alvin juga sudah memar. Di tengah pertarungan, saat Rio sudah menghabisi satu lawan, Rio berbalik, menghadap Alvin yang membelakanginya dan baru saja meninju seorang lain. Rio segera menarik kostum basket Alvin tanpa melihat wajah Alvin, membuat Alvin tersentak. Rio menarik leher kaos Alvin dan siap meninju Alvin. Alvin juga sudah mengepalkan tangannya dan di arahkan pada Rio.
Deg!
Kedua pasang mata mereka bertemu. Dan seakan mengunci waktu. Menghentikan detik yang ada. Keduanya saling membeku. Rio yang masih menarik leher kostum basket Alvin, menatap Alvin sambil menghela nafas berkali-kali dengan tangan ingin meninju. Alvin juga mengatur nafasnya sambil menatap Rio dengan tangan yang siap melayang ke wajah tampan Rio.
Rio makin mempererat kepalan tangannya sambil menggigit bibir kuat. Ini bukan mimpi. Sama sekali bukan mimpi. Sosok di depannya itu benar dia. Dada Rio sesak. Semua perasaan itu seakan memberontak, menyiksa batinnya. Ia ingin sekali menarik tubuh di depannya ini, merengkuhnya dengan rindu sejuta yang sudah meledak. Mata Rio sudah berembun, benar-benar tak percaya dengan pertemuan yang terjadi ternyata jauh sekali dengan apa yang ia harapkan. Penantian selama 12 tahun itu... berakhir seperti ini...
Rio melepaskan cengkeramannya di baju basket Alvin, dan membuang muka. Alvin juga menurunkan tangannya sambil menghela nafas berkali-kali, mencoba mengatur emosi.
Rio meneguk ludah, "BERENTI!" teriaknya tiba-tiba, "Berenti gue bilang! Berenti!!!"
Semuanya terdiam dan berhenti saling pukul. Kemudian menoleh ke Rio dan Alvin yang berada di tengah-tengah mereka. Rio menghela nafas panjang, mencoba menguasai diri sendiri. Sementara Alvin mengepalkan kedua tangan, entah mengapa dadanya sangat sesak kini.
Gabriel melangkah maju, dan berdiri di samping Alvin. Wajahnya sudah membiru keunguan, tapi ekspresinya datar seperti tak merasa sakit. "Kenapa?"
Rio melangkah mundur perlahan. Semua anggotanya mengerti dan segera melangkah ke belakang Rio. Sementara para gengstar smanra berdiri di belakang Gabriel dan Alvin.
"Cukup sampai di sini. Ada warga yang lapor polisi," kata Rio beralasan, lalu menatap Gabriel tajam. "Mungkin, kali ini gue yang bakal pulang. Tapi liat nanti, gue bakal balas!" tantang Rio.
Gabriel balas menatap Rio tak kalah tajam, "gue selalu nunggu hari itu."
Rio menghela nafas, lalu menoleh ke arah Alvin. Alvin balas menatapnya. Rio menggelengkan kepala kecil, tidak percaya bahwa Alvin ada di pihak musuh. Musuh bebuyutannya.
"Balik!" perintah Rio lalu berbalik, dan melangkah maju. Semua anak buahnya menurut.
Smanra masih menatap kepergian lawannya. Alvin menatap punggung Rio yang semakin menjauh. Dan sesak itu bertambah. Makin menyiksa.
Rio segera melesat menerobos pasukannya, dan melangkah paling depan memimpin. Dengan sekuat tenaga, ia menahan setetespun butiran bening mengalir dari matanya. Karena sekarang, perasaannya sangat teramat pedih. Kesal, marah, kecewa, sedih, dan semua. Bercampur dalam hatinya, sangat mengiris.
Kenapa takdir begitu kejam, sampai menuliskan cerita pedih ini?

xxxxx

Eum... oke.... saatnya penulis sok eksis ini muncul lagi.
Dari semua part, aku emang suka part 8. Entah itu bag.A atau B. Semuanya ngumpul di sini. Hihihi.
Itu yang berantemnya Dea sama Shilla.... em... gimana ya? Wakakaka. Backsong yang Acha Ozy itu sebelumnya 'pandangan pertama, awal aku berjumpa' terus di ganti jadi 'ku rasa ku telahjatuh cinta, pada pandangan yang pertama...' dan akhirnya di ganti lagi jadi ini. Pas kan ya? Iya aja gin. Hehehe.
Dan Rio Alvin... nggak tahu deh ya. Tapi aku suka pas mereka hampir saling nonjok itu. Kalau di bayangin kayaknya... keren.
Komen ya ceman ceman :D twitter.com/aleastri
makasyong :)