Sabtu, 12 Januari 2013

Bintang Super Mario Part 2



Part 2. Nostalgia

Bel pulang berbunyi. Para murid mengemasi barangnya, lalu beranjak pergi. Ify dan Acha juga begitu. Mereka melangkah bersama keluar kelas, sebelum tiba-tiba seseorang menahannya berdiri di depan dua gadis itu. Ify dan Acha terkejut. Mereka tak bisa menahan diri untuk tidak melotot kaget melihat pemuda tampan itu kini tersenyum ramah di depan keduanya.
"Fy, gue mau ngomong," kata pemuda itu, Gabriel.
Ify merasakan tungkainya melemas seketika. Hatinya seakan mencelos. Mulutnya sedikit terbuka tak percaya. Apa tadi Gabriel bilang? Mau ngomong? Aduh... kok kesannya kayak cowok yang mau nembak gitu ya? Aduhduh. Tanpa sadar pipi Ify langsung memanas.
Acha menyenggol lengan Ify, membuat gadis itu segera tersadar ia berada di hadapan cowok pujaan hatinya. Masa' ia balah terbengong? Memasang wajah bodoh? Aduh...
Ify berdehem pelan, berusaha sekuat tenaga bersikap tenang. "Ya? Kenapa?"
Gabriel tersenyum (tanpa tahu gadis yang mendapat senyuman itu langsung meleleh tak karuan). "Gue mau gabung ekskul musik nih. Daftar ke elo, kan?"
"Lo mau gabung?" Ify tak bisa menahan nada bahagia dari mendengar ucapan itu.
Acha di sampingnya merutuk sahabatnya ini. Kentara banget sih Ify sangat gembira. Ckckck.
"Iya. Gue seneng sama musik juga. Dari kelas satu sih mau gabung, tapi karena waktu itu gue lebih condong olahraga, jadi gue milih fokus basket," jelas Gabriel.
Ify meneguk ludah. Gila meeen!!! Ini mah cowok idaman banget. Udah jago olahraga, suka musik pula! Awawaw.
"Basket lo gimana?" tanya Acha ikut bicara.
"Tetep sih, cuma gue pasti bisa bagi waktu kok. Lagian, jadwal basket sama musik itu beda. Ya, kan?" tanya Gabriel menoleh pada Ify dan tersenyum ramah.
Ya Tuhan... murah senyum sekali pangeran satu ini. Dia sadar kali ya senyumannya itu maut? Makanya tersenyum terus. Tapi... bisa-bisa Ify akan cepat mati di samping pemuda ini kalau melihat senyuman menawan itu berkali-kali.
"Gimana Fy? Bisa, kan?"
Ify berdehem lagi, mencoba menguasai diri. "Bisa kok," ucapnya manis sambil tersenyum.
Diam-diam Acha sedikit mendelik geli.
"Eh, oh ya. Kebetulan banget gue mau ke ruang musik dulu nih sebelum pulang. Lo bisa sekalian ambil formulirnya di sana," kata Ify mengingat ia harus ke ruang musik dulu mengambil buku lagunya yang tertinggal kemarin.
"Oke. Bareng yuk," ajak Gabriel ramah sambil berbalik, dan mulai melangkah.
Saat pemuda itu berpaling, mulut Ify segera terbuka lebar dengan mata membelalak. Antara terkejut dan senang. Acha segera menarik lengan gadis itu, mengikuti langkah Gabriel.
Menyadari ia memimpin langkah, Gabriel memelankan langkahnya. Agar ia sejajar dengan dua gadis itu. Dan ia tepat berada di samping Ify, membuat jantung Ify jadi seperti petasan betawi di acara kawinan. Meledak-ledak.
"Eh, gue lupa deh. Tadi disuruh ke kantor sama Miss Alya," kata Acha tiba-tiba sambil menghentikan langkah.
"Ha? Kapan Miss Alya ngomong?" tanya Ify menoleh, tak tahu menahu.
"Ada tadi. Elo sih nggak merhatiin! Liat langit mulu," kata Acha beralasan.
Ify mencibir, sementara Gabriel mengangkat alis.
"Kayaknya nggak bisa ikut kalian ke ruang musik deh."
Kali ini Ify jadi membelalak.
"Jadi... kalian berdua aja ya! Dadaaa!!!" pamit Acha melambai, lalu segera berbalik dan ngacir.
"Accchh....." nama itu menggantung di ujung lidah Ify, menyadari sia-sia saja ia menahan. Gadis itu menggigit bibir kuat, dan berdoa dalam hati. Semoga jantungnya tak benar-benar 'meledak' saat ini juga.
"Ya udah. Yuk," suara Gabriel dari balik punggung Ify terdengar, membuat Ify segera sadar.
Mereka kembali melangkah menuju ruang musik. Berdua. Beriringan. Bersampingan. Bagi kalian yang kasmaran, pasti tahu kan rasanya jalan berdua dengan si pemilik hati? Kebahagiaannya itu tak bisa digambarkan dengan kata-kata. Mungkin kalau ada kata di atas sangat-bahagia-banget-sekali, itu adalah yang pas.
"Fy..."
Ify melirik sedikit, "ya?" jawabnya singkat.
"Kok lo diem? Kayaknya gue sering liat lo justru suka ngomong gitu deh, hehe."
"Ih apaan sih. Itu Acha kali," sahut Ify mencoba menyembunyikan suara bergetar dahsyat karena jantungnya yang benar-benar diterpa gempa mendadak. Karena... tolong ya diulangi. SERING LIAT? Jadi... Gabriel sering melihatnya? Memerhatikannya? KYAAA.
"Tapi lo juga kok," sahut Gabriel tanpa menyadari salah tingkah Ify.
Ify merutuk kesal kala melihat ternyata pintu ruang musik sudah dekat. Ah. Kenapa ruang musik deket banget sih? Bisa nggak dijauhin sampai ke Manado? Atau Papua kek sekalian. Biar Ify bisa lama-lama berjalan dengan pemuda ini. Eh tapi. Nantikan di ruang musik mereka juga akan berdua, ya? Aduhduh.
Ify dan Gabriel melangkah masuk ke dalam ruang musik yang kosong itu. Berukuran seperti ruang kelas biasa. Di pojok ada sebuah piano, yang bersebrangan dengan sebuah drum dan juga keyboard. Dinding-dindingnya dihiasi gitar-gitar yang bergantungan. Ada juga bass, biola, dan beberapa alat perkusi.
Ify menuju meja yang berada di sisi berseberangan dengan alat-alat musik, lalu mengambil satu formulir dan menyerahkan ke Gabriel. Gabriel tersenyum menerimanya, kemudian duduk di salah satu kursi terdekat dan mulai mengisi. Ify kini melangkah menuju piano hitam di sudut kelas, dan mengambil buku lagu yang ada di atasnya.
"Fy..."
"Hm?" jawab Ify sambil duduk di kursi piano. Ia belaga membuka-buka buku lagunya, padahal sebenarnya menyembunyikan diri bahwa ia sangat sangat gembira karena hari ini Gabriel berulang kali memanggil namanya. Ya... walaupun dua huruf, tapi itu kemajuan pesat. Sangat pesat.
"Lo nyanyi dong," pinta Gabriel tiba-tiba, membuat Ify sontak mendongak. "Selama ini lo main piano doang. Kali ini, main piano sambil nyanyi dong. Gue pengen liat," kata Gabriel semangat sambil tersenyum.
Ify merasakan pipinya mulai membara lagi, "eum... nyanyi?"
Gabriel mengangguk.
"Nyanyi apa?" tanya Ify tak bisa menolak. Apapun ia juga pasti tak akan menolak kalau pemuda ini yang meminta.
"Terserah elo," kata Gabriel mengangkat bahu.
Ify memutar mata, berpikir. Ia kemudian membuka-buka buku lagunya lagi. Sampai gadis itu menemukan satu lagi yang tepat. Wajahnya merekah, lalu menaruh buku lagu itu disenderan atas piano.
"Ehm. Denger ya," kata Ify riang, sambil mulai menekan tuts.
Gabriel memperbaiki posisi duduk, dan memerhatikan Ify lekat. Gadis itu kini mulai hanyut dalam permainan pianonya. Ia mulai membuka mulut, suaranya ternyata tak kalah merdu dengan nada-nada indah musiknya.
"Setiap waktu, memikirkanmu... Ku katakan, pada bayangmu..." Ify menggerakkan mata perlahan, melirik ke arah Gabriel. "Sampai kapanku harus, menunggumu... jatuh cinta..."
Gabriel tanpa sadar tersenyum memandang gadis itu. Entah mengapa ia makin terlihat cantik setiap ia bermain piano. Apalagi kini gadis itu juga bersenandung merdu. Gabriel terus memandang Ify lekat. Tapi entah mengapa, mendadak ia jadi mengerutkan kening sedikit. Sepertinya... ia pernah melihat wajah Ify. Ah, ia memang sering lihat kan selama sekolah di sini? Tapi... entah mengapa di benak Gabriel yang muncul bukanlah Ify berwajah tirus dengan behel dan senyuman manis ini. Ada sosok lain. Pipinya lebih bulat, tak setirus sekarang. Rambutnya lebih pendek. Suaranya juga lebih cempreng dan lucu. Em... Sebenarnya Gabriel pernah berfirasat seperti ini. Apakah... mungkin?
"Rindu ini, terus mengganggu... Ku tak sabar, ingin bertemu... Berapa lama lagi... menantikan, kata cinta..."
Ify melirik Gabriel, tak kuasa memandang keseluruhan pemuda itu. Jemarinya sudah hapal tuts piano, sehingga bergerak dengan begitu lincah walau matanya sering bergerak memandang pemuda yang jadi tujuan lirik yang ia nyanyikan ini. Betapa ia sangat mengaguminya, selalu menunggu dan menantinya, dengan penuh harapan yang terus mengembang tak karuan. Andai saja pemuda ini tahu.
"Andaikan dia tahu... Apa yang ku rasa... resah tak menentu, mendamba cintamu... Andaikan dia rasa... hati yang mencinta... Ku yakini, kau belahan jiwa..."
Jemari Ify dengan lincah bergerak menekan tuts itu dengan merdu. Dan tak lama, gadis itu menghentikan permainan pianonya, lalu mendongak. Tersenyum pada Gabriel.
Gabriel tersenyum lebar, lalu menepuk kedua tangannya berkali-kali. "Keren keren. Bagus banget," puji Gabriel tulus.
Ify tersenyum tersipu. Gabriel berhenti bertepuk tangan, lalu cukup terdiam lama memandangi Ify. Membuat Ify merasa jengah dan menunduk.
"Fy, kita pernah kenal nggak sih?"
Ify tersentak, dan mendongak. Gabriel menatapnya lekat, membuat ia sedikit salah tingkah.
"Kok... kayaknya gue pernah liat elo ya? Dan... em... Ify. Nama itu kayaknya juga gue pernah denger," kata Gabriel mencoba mengingat. Walau sebenarnya sudah ada sosok gadis kecil dalam ingatannya.
Ify mengerutkan kening, "em... jujur sih. Awal liat lo gue juga sempet inget seseorang gitu. Tapi... gue lupa," kata Ify cengengesan. Ya, memang. Dia tertarik pada pemuda ini awalnya karena wajah Gabriel mengingatkan dia pada seseorang.
Kedua orang itu saling tatap. Ify sejenak melupakan detakan jantung cepat kala menatap sepasang bola mata itu. Mereka terus mencoba saling mengingat, mencari bongkahan-bongkahan kenangan yang mungkin saja masih tersisa dalam ingatan mereka.
"Elo... waktu kecil sekolah di TK Harapan nggak?" tanya Gabriel.
Mata Ify melebar, "iya!"
Wajah Gabriel merekah seketika, "lo... sering main di taman deket TK itu, kan? Main ayunan pasti!"
Mulut Ify terbuka lebar. Ia tadi memang sempat menduga, tapi entah mengapa otaknya menyangkal. Dan mendengar ucapan itu. Membuatnya benar-benar jadi ingat.
"BINTANG?!"
Gabriel tersentak, tapi lalu tersenyum. Lebar sekali. "Ify! Ify Super Mario!" kata Gabriel menunjuk Ify yang sudah berdiri dari duduknya.
"Oh God..." gumam Ify tercekat, lalu mendekat.
Gabriel juga beranjak dan mendekat. Keduanya lalu berdiri berhadapan. Ify menggerakkan kepala dari atas ke bawah, begitu pula Gabriel. Sama-sama tak percaya dengan perubahan drastis yang masing-masing alami.
"Sumpah! Gue baru ingat sama Bintang!" kata Ify jujur, membuat Gabriel tertawa.
"Jadi lo lupa sama cowok yang sering dorongin lo ayunan tanpa capek? Padahal elokan bawel banget nggak mau berenti main," ejek Gabriel.
"Gila. Elo kok.... berubah banget," kata Ify tak percaya menatap sekali lagi Gabriel dari atas ke bawah. 'Jadi tambah ganteng...' batin Ify.
Gabriel tersenyum, "semua pasti berubah lah. Elo juga. Untung gue masih inget dagu panjang lo itu."
Ify sontak memegang dagunya, dan lalu tertawa.
"Gue jadi pengen nostalgia nih. Em... gimana kalau kita ke taman itu? Udah lama nggak ke sana," ajak Gabriel senang.
"Mau mau!" kata Ify segera, tapi ia merutuk dalam hati karena begitu bersemangat.
Gabriel hanya tertawa, lalu memasukkan formulir dan pulpen ke dalam tasnya. "Nanti aja ya gue kasih lo formulirnya," kata Gabriel mulai melangkah.
"Nggak papa. Besok juga boleh kok," kata Ify mengikuti sambil menggenggam buku lagunya. Dalam hati ia sangat senaaang sekali.

^^^

Gabriel dan Ify duduk di sebuah bangku taman di dekat TK Harapan. Banyak yang berubah dari taman ini. Walau tak terlalu terlihat. Permainan-permainannya agak bertambah. Beberapa berubah letak. Air mancur yang dulu ada di tengah taman kini menghilang. Berubah menjadi tempat duduk melingkar dengan tanaman bunga di tengahnya.
"Udah berapa lama ya kita nggak ketemu?" tanya Gabriel setelah memandangi sekeliling taman yang agak ramai.
"Eum... sepuluh mungkin? Atau sebelas ya?" jawab Ify mencoba mengingat. "Seingat gue sih, setelah lulus TK gue nggak pernah ke sini lagi."
Di sampingnya, Gabriel mengangguk-angguk. "Rumah gue dulu deket sini. Setiap siang pasti mainnya ke sini nih. Ketemu elo," kenangnya tersenyum.
Ify ikut tersenyum. Diam-diam, ia mengenang saat-saat itu. Tanpa tahu, Gabriel juga ikut terlempar dalam kenangan yang muncul lagi ke permukaan ingatan mereka.
*
Besoknya setelah kejadian Bintang datang untuk menemani Ify, Ify dan Rio kembali datang ke taman itu. Kedua mama mereka memang sering mengajak mereka ke sini kalau sore hari. Tak jauh dari rumah. Walau pulang sekolah Ify dan Rio pasti main ke sini, sorenya mereka juga sering meminta untuk datang lagi. Karena Ify senang sekali playground. Terutama ayunan.
Ify tersenyum kala melihat Bintang sedang duduk di ayunan, lalu berlari mendekat. Rio yang berjalan di sampingnya tersentak, tapi segera mengikuti Ify.
"Bintang! Kamu datang lagi," kata Ify senang sambil duduk di ayunan samping Bintang. Ayunan itu hanya dua, membuat Rio merenggut karena tak kebagian. Ia hanya berdiri di samping Ify.
Bintang tersenyum, "kan kamu yang bilang. Besok main lagi. Ya udah aku datang. Rumah aku deket kok. Di situ tuh," jawab Bintang menunjuk sebuah rumah di deretan samping TK Harapan, sekolah Ify dan Rio.
"Ngapain sih? Ify mainnya sama aku!" kata Rio yang sudah kesal melihat pemuda kecil ini.
"Lio ih! Nggak papa tahu," sahut Ify mengomeli, lalu menoleh pada Bintang, "udah Bin, nggak usah dihirauin. Rio emang galak."
"Ipi!" tukas Rio.
Bintang tertawa, "kalian berdua emang sama-sama galak."
Ify dan Rio sontak mendelik dan manyun. Bintang makin tertawa, lalu menatap Rio.
"Rio, aku juga mau jadi teman kalian. Selama ini jarang ada anak yang seumuran aku main di taman ini sore-sore begini. Aku mau ikut main sama kalian," pinta Bintang.
Ify dan Rio terdiam. Ify memandang ke arah Rio, dan menunjukkan wajah memelas. Rio menghela nafas, mengerti ekspresi itu.
"Oke oke. Tapi, kamu kebagian tugas yang dorongin Ify main ayunan ya. Aku males banget," kata Rio dengan gaya bossy.
Bintang tertawa, tapi menurut saja. Ia lalu beranjak, dan berdiri di belakang Ify. Ify tertawa senang.
Rio mendesah, kemudian gantian duduk di ayunan Bintang tadi. Bintang mendorong ayunan Ify sambil tersenyum senang. Tak lama, Ify memilih berhenti, lalu menoleh pada Rio.
"Lio..." panggil Ify membuat Rio yang sedari tadi hanya menggoyang-goyangkan ayunannya menoleh.
"Rio," tukas Rio meralat.
"Iya, Rio," ucap Ify menurut. Ia diam sejenak, lalu tersenyum bahagia. "Sekarang aku nggak perlu liat langit lagi."
Rio dan Bintang mengerutkan kening, sementara Ify makin tersenyum lebar.
"Karena, sekarang aku punya dua bintang di bumi ini. Ada kamu, dan Bintang," Ify menggerakkan kepala ke arah Bintang sambil tersenyum, "bintang-bintang di langit nggak bisa nyamain kalian. Jadi aku nggak perlu ditemenin bintang lagi."
Rio tertegun, sementara Bintang tak tahu menahu maksudnya.
"Aku seneeeeeng banget sekarang punya dua teman yang sama-sama punya nama Bintang. Karena aku yakin deh, sinar kalian pasti bisa buat aku bahagia terus!" kata Ify ceria dan girang.
Rio dan Bintang saling pandang sejenak. Sebelum keduanya akhirnya tersenyum pada Ify.
"Tapi sinar aku lebih terang, kan?" tanya Rio menyombongkan diri.
"Eum... kalau kamu beliin aku boneka Super Mario, oke," kata Ify tertawa lalu memeletkan lidah.
"Huh! Super Mario mulu kamu ini," kata Rio mendecak.
"Yakan kamu yang ngajarin. Kalau aja kamu nggak seneng main game Super Marioku, pasti aku juga nggak ikutan suka," kata Ify membela diri, "lagian, mamakan beli kasetnya buat aku. Tapi kok yang nyobain pertama malah kamu."
"Yeee kamukan nggak bisa main, harus aku ajarin dulu," balas Rio. Ify mencibir.
"Eum... Super Mario apa sih?" tanya Bintang yang diam sedari tadi. Rio dan Ify menoleh.
"Kamu nggak tahu? Deso banget," ejek Rio. Bintang menggeleng saja.
"Itu games yang lagi booming banget Bin. Nanti deh kapan-kapan kamu ke rumah aku, kita main bareng pake nitendo aku," ajak Ify ceria, berbeda sekali dengan nada suara Rio. "Oh ya. Super Mario juga ada di TV kok. Setiap Minggu pagi. Kamu harus nonton!"
Bintang mengangguk-angguk, "kalau Minggu, mama aku biasanya ngajak jalan. Makanya aku jarang nonton kartun. Ya udah nanti aku mau nonton!" katanya tersenyum.
"Yeay! Mulai sekarang, kita jadi trio Super Mario!" kata Ify gembira.
"Ih nggak. Kamu aja. Aku nggak mau jadi gendut dan berkumis kayak Super Mario," kata Rio menolak. "Ipi Super Mario."
"Lio jelek," ejek Ify kesal.
"Kata mamaku aku ganteng tuh," sahut Rio memeletkan lidah.
"Kata mamaku kamu jelek," balas Ify tak mau kalah.
"Eh... sudahlah kalian. Ayo main lagi," kata Bintang menengahi. Sepertinya keberadaannya bisa jadi penengah antara Rio dan Ify yang terus berkelahi.
Rio hanya mencibir, tapi kali ini menurut tak membalas. Bintang tersenyum, dan kemudian mendorong ayunan Ify lagi dengan kencang. Dan selanjutnya, beralih ke Rio mendorong anak laki-laki itu membuat Rio tersentak dan segera berpegang pada tali ayunan.
"Wooo," teriak Ify bersorak senang.
"Waaa," kini Rio yang ikut bersorak.
Bintang tertawa melihat keduanya. Mungkin orang-orang berkata ia bodoh, mau saja mendorong dua orang itu yang tak mau gantian dengannya. Terserahlah. Karena kali ini Bintang benar-benar senang, memiliki dua teman baru seperti Rio dan Ify.
  *
"Dulu lucu banget ya Fy," kata Gabriel setelah mengingat kenangan dulu ia bersama Ify.
Ify tersentak dari lamunannya, lalu tersenyum. "Iya. Kita jadi sering main bareng di sini. Dan kamu pasti dorongin ayunan aku. Hahaha."
"Em... Fy," panggil Gabriel membuat Ify menoleh dan menggumam menjawab. "Rio mana?"
JLEB
Garis wajah Ify mengendor seketika. Ify merasakan jantungnya berhenti sejenak. Pertanyaan yang... jujur, paling ia benci. Karena setiap mendengar pertanyaan itu -oh, mungkin nama itu- hati gadis ini selalu retak. Jantungnya seakan ditikam keras. Membuatnya terdiam membeku.
Gabriel mengerutkan kening, melihat jelas perubahan pada wajah Ify, "kenapa?" tanyanya agak khawatir, "Rio... masih ada kan Fy?"
Masih ada. Ify merasakan hatinya makin teriris. Ia mendongak, menatap langit cerah dengan tatapan sendu.
"Masih ada dalam artian apa nih?" tanya Ify dengan suara lirih.
"Em... ya... maksud gue... Masih di dunia kita gitu," kata Gabriel merasa agak salah bicara.
Ify tertawa getir, lalu mengedikkan bahu. "Gue nggak tahu."
Gabriel mengerutkan kening, "kenapa?"
Ify menghela nafas panjang. Ia menunduk, lalu memejamkan mata sesaat. Kemudian gadis itu kembali menoleh pada Gabriel, dan mencoba tersenyum tipis. "Dia..."




Minggu, 30 Desember 2012

Bintang Super Mario Part 1


Part 1. Pangeran itu punya nama Bintang?

Tahun 2012

Gadis cantik berwajah tirus itu berdiri kala namanya dipanggil. Tepuk tangan riuh dari segala penjuru aula mengantarnya menaiki panggung sekolah. Ia tersenyum manis, dan kemudian duduk di belakang grand piano hitam yang berdiri anggun di sudut panggung. Gadis itu menaruh jemarinya di atas tuts piano. Dengan perlahan, musik merdu dan indahnya mulai terdengar. Kelincahan jemarinya menari di atas tuts hitam putih itu mengantarkan para pendengar larut dan terpukau. Musik pianonya yang sudah seperti pianis profesional benar-benar memukau. Sampai para penonton tak menyadari, gadis itu sudah sampai di penghujung aksinya.
Ia tersenyum dan berdiri. Lalu membungkuk, yang segera mendapatkan tepukan ramai memenuhi aula. Kedua orangtuanya yang duduk di barisan depan tersenyum bangga menatap anak gadis mereka dapat memukau semua orang di aula ini.
"Yeee! Alyssa," Si pembawa acara kembali naik ke atas panggung, mendatangi gadis cantik itu. "Keren banget ya?" tanyanya pada penonton yang segera disambut ramai.
"Dengan permainan piano Alyssa tadi, saya juga akan mengumumkan. Bahwa mulai kenaikan kelas ini, Alyssa adalah ketua ekskul musik di SMA Pelita."
Tepuk tangan jadi makin ramai. Sorakan-sorakan para siswa yang juga ada di aula sekolah mereka itu terdengar menyemangati Alyssa, nama gadis itu.
Pembawa acara menjabat tangan Alyssa mengucapkan selamat. Setelah itu ia meminta Alyssa mengucap beberapa kata untuk pensi sekolah kali ini, yang memang diperuntukkan untuk mempromosikan masing-masing ekskul di SMA Pelita. Alyssa berkata singkat saja, lalu mengingatkan adik kelas baru di kelas sepuluh boleh mendaftar padanya jika tertarik dengan ekskul musik. Setelah itu gadis berwajah tirus dengan behel tersebut tersenyum manis sekali lagi, dan menuruni panggung masih diiringi tepukan para penonton.

^^^

Alyssa Saufika Umari      XI IA 1
........
Larissa Safanah Arif         XI IA 1

"Yeaayyy!!!" teriak gadis berkulit putih melompat-lompat gembira sambil memeluk gadis berwajah tirus di sampingnya.
"Fy! Kita sekelas! Aaaa untunglah. Gue udah takut aja kita nggak bakal sekelas. Nanti siapa yang bakal gue pinjam PRnya tanpa ngomel-ngomel lagi? Yang bakal pasrah gue contekin pas ulangan tanpa nolak? Yang... hmpptt..."
Ocehan gadis itu segera berhenti kala Ify, panggilan untuk Alyssa, membekap mulut sahabatnya itu segera.
"Acha please deh. Elo nggak bisa ya sehari aja gitu ngomong satu kalimat aja? Gue capek dengernya woy!" omel Ify sambil melepaskan tangannya dari mulut Larissa, atau biasa dipanggil Acha.
Acha manyun sambil mengusap bibirnya. "Iya iya. Maaf. Ya udah yuk, kita ke kelas sekarang," ajak Acha riang sambil menggandeng lengan Ify dan menariknya pergi.
"Eh eh... kita nggak liat nih siapa aja nama temen sekelas kita nanti?" tanya Ify yang memang tadi hanya melihat namanya saja. Sementara Acha yang mencari satu persatu namanya karena berada di absen bawah.
Acha terdiam sejenak. Ia melirik ke arah Ify, lalu tersenyum. Senyuman yang agak aneh terlihat di mata Ify. "Eng... kita ke kelas aja dulu deh. Yuk!"
Ify mengerutkan kening. Hm... pasti ada sesuatu nih.
Sampai di kelas XI IPA 1, kelas tersebut sudah ramai dan agak penuh. Acha segera menarik Ify ke meja kosong, deretan kedua di samping jendela. Ify hanya pasrah saja. Walau sebenarnya ia senang ada di samping jendela. Karena pasti ia akan bisa melihat langit dari sana. Ah, langit. Temannya sedari dulu.
Acha memulai cerita saat mereka sudah duduk. Gadis itu memang senang sekali berceloteh ria. Sementara Ify, memang mendengarkan. Tapi kepalanya tertuju pada sahabat dekat-namun-jauh si bumi. Langit. Kali ini sinar mentari pagi terlihat cerah, membuat Ify tanpa sadar tersenyum. Ini yang dia suka dari langit. Langit rumahnya matahari. Rumahnya para bintang.
"Ify!"
Ify sedikit terkejut saat Acha tiba-tiba memukulnya. Ia menoleh, melihat wajah bertekuk Acha.
"Ify ih. Gue udah ngomong panjang lebar pasti nggak denger, kan? Lagi liatin langit lagi? Idola lo yang nggak akan lo gapai itu?" sindir Acha mengerling ke arah jendela.
"Yeee salah. Gue liatin matahari tahu," sahut Ify memeletkan lidah.
"Lama-lama mata lo bakal rusak ngeliatin matahari mulu. Mending liatin gue deh, lebih kinclong dari matahari!" kata Acha mengibaskan rambut agak panjangnya. Ify menyoraki sambil menoyor Acha, sementara Acha tertawa.
Tapi tanpa sengaja, mata Ify berhenti pada pintu kelas. Sebenarnya tadi ia lihat sekilas saja, tapi melihat siapa yang baru saja akan memasuki kelas, mata gadis itu langsung berhenti seutuhnya.
Acha yang melihat itu, mengerutkan kening dan ikut melihat ke arah fokus pandangan Ify. Ia mengangkat alis, tak terlalu terkejut karena tadi melihat nama pemuda jangkung itu di daftar absen kelas.
Ify terpaku. Matanya melebar perlahan dengan nafas tercekat. Sementara pemuda yang ditatapnya, dengan santai memilih kursi kosong. Berjarak satu barisan dari meja Ify. Deretan kedua juga. Di samping Cakka, si ganteng idola sekolahnya. Ah tapi. Serupawan apapun Cakka, sinar pemuda itu tetap tak terganti. Pemuda jangkung itu. Pujaan hatinya sedari MOS dulu. Dan kini... sekelas dengannya?! Ya Tuhan... ini mah anugerah banget. Anugerah terindah yang pernah Ify miliki. Kayak lagunya Sheila On 7. Ify ngefans tuh dengan bandnya. Apalagi vokalisnya. Ganteng. Eh tapi, tetep tak bisa gantikan ketampanan pemuda di samping Cakka itu. Andai saja pemuda itu juga jadi vokalis band ya. Pasti fansnya membludak. Dan Ify pasti akan sangat sangat sangaaaat mengidolakannya. Melebihi ia mengidolakan Sheila On 7.
Eh... kok pikiran Ify jadi ngelantur gini sih? Kenapa juga Sheila On 7 dibawa-bawa?
Tanpa sadar, Ify geleng-geleng sendiri, membuat Acha mendelik ngeri ke arahnya.
"Fy! Ify! Sadar woy!" kata Acha sambil mengguncang pelan bahu Ify.
Ify mengerjap dan menoleh.
"Ya ampun Fy... apa lo jadi stres karena terlalu bahagia sekelas sama..." suara Acha memelan dratis, "Gabriel?"
Ify menelan ludah, lalu nyengir. "Kok lo nggak ngomong sih?" bisiknya tercekat.
"Ya... kalau gue ngomong. Nanti elo heboh. Dan gue berani taruhan deh. Pasti tadi lo bakal mampir ke toilet dulu, ngaca sampai capek. Itukan makan waktu banget Fy. Sementara gue nggak mau kehilangan meja dengan posisi terbaik," jelas Acha panjang lebar.
"Posisi terbaik?" tanya Ify mengerutkan kening.
"Iya. Posisi terbaik itu adalah di tengah agak belakang. Yang bisa noleh kanan dan kiri tanpa ketahuan," kata Acha tenang yang disambut tawa Ify, "tapi liat deh. Mejanya udah diambil. Telat, kan? Gimana kalau nanti elo ke toilet? Pasti kita dapat di pojokan depan atau pojokan belakang. Meja pojok deh pokoknya. Di depan itu, depan guru. Sementara di belakang, temenannya sama hantu doang. Nah, syukur-syukur nih kita dapat samping jendela. Lo juga bisa pacaran sama langit dari sini. Ya, kan?"
Ify tersenyum, dan mengangguk-angguk. Ia melihat ekspresi Acha, gadis itu seperti tak merasa lelah walau telah berkata panjang lebar. Ify lalu menggerakkan kepala sedikit, melihat ke arah Gabriel yang kini berbincang bersama Cakka. Ah... tiap hari ia akan terus memandangi wajah tampan itu. TIAP HARI! Selama ini Ify hanya bisa menatapnya saat ia bermain basket saja. Dan kini? Ify tak perlu repot-repot meninggalkan makan siangnya di kantin demi melihat Gabriel. Cukup melolongkan kepala sedikit, pemuda rupawan itu sudah terlihat. Hihihi.
Para siswa yang dengan segera duduk di meja masing-masing membuat Ify dan Acha tersentak. Ternyata wali kelas mereka sudah datang. Ify melebarkan mata, melihat wanita muda dan masih terlihat cantik itu tersenyum ramah memasuki kelas. Ia memakai kemeja putih polos dengan rok denim selutut. Tangannya membawa sebuah map merah dengan tas jinjing putih. Wanita itu, pembinanya di ekskul musik.
"Pagi semua," sapa wanita itu ramah yang disambut para muridnya. "Kalian tahu nama saya, kan? Alya Maharani. Panggil aja Miss Alya. Saya adalah wali kelas kalian, XI IPA 1."
Sontak, para murid bersorak senang. Karena mereka tahu. Miss Alya masih muda, ia sangat mengerti para anak muridnya. Jadi kalau dibujuk sedikit, guru ini pasti luluh. Ah! Jadi kalau murid XI IA 1 mendapat masalah atau apapun, guru ini pasti akan datang membantu sepenuhnya. Senangnya!
"Oke, Miss absen satu-satu ya," kata Alya sambil membuka absen merahnya. Ia menyebutkan nama murid satu persatu. Mereka mengacungkan tangan setiap namanya dipanggil.
"Alyssa Saufika," panggil Alya, lalu mendongak.
Ify mengangkat tangan sambil tersenyum. Gabriel yang duduk sebaris dengannya, menoleh. Alisnya terangkat baru melihat gadis itu ternyata sekelas dengannya.
"Kamu anak kelas Miss? Wah... senangnya," kata Alya gembira karena Ify adalah murid kesayangannya di ekskul musik. Apalagi kini gadis itu terpilih jadi ketus ekskul. Ify balas tersenyum pada Alya.
Alya melanjutkan mengabsen satu persatu. Ify diam-diam memutar mata, melirik ke arah Gabriel. Kini pemuda itu menatap Alya, menunggu namanya disebut. Ify merasakan nafasnya tertahan. Aduh pemuda ini. Tampannya kebangetan banget sih. Dia sedang diam seperti ini saja rupawan. Auranya ituloh! Karismanya itu! Kinclong banget!!!
"Gabriel Bintang Damanik."
"Yes Miss..."
Ify sontak terkejut setengah mati. Ia membelalak, lalu melihat Gabriel yang kini menurunkan tangan kembali. Ify terperangah. Ia merasa ada yang memukul dadanya keras. Ia memang mengagumi Gabriel sedari dulu. Tapi yang ia tahu nama lengkap Gabriel itu Gabriel Damanik. Ia tak pernah tahu. Bahwa... ada nama Bintang di tengah nama pemuda itu.
Bintang...
Ify mendadak merasakan dadanya sesak. Ia mengalihkan wajah, menatap langit cerah dari jendela kelasnya.
"Fy..." sebuah tepukan halus di pundaknya ditambah panggilan pelan dari Acha membuat Ify tersentak dan menoleh. "Lo kenapa? Kok... mukanya serem..." tanya Acha mengerutkan kening.
Ify terdiam. Tapi tak lama ia segera memasang wajah biasa saja. "Ha? Serem apa? Rese ah lo!" sahut Ify mencibir, "Gue... cuma kaget aja denger nama lengkap Gabriel," kata Ify memelankan suara.
"Iya. Gue juga baru tahu loh namanya dia itu ada nama Bintangnya. Yah, dia emang bintang. Bintang di sekolah, dan... bintang di hati lo," ejek Acha menunjuk dada Ify.
"Sssttt!!!" kata Ify dengan pipi merona, takut ada yang mendengar karena kelas hening mendengarkan suara Alya.
Acha tertawa saja, lalu menoleh kembali ke arah Alya, menunggu namanya disebut.

******

Hehe. Ya begitulah part1nya. Eum... agak bingung ya? Hehe. Ha? Kenapa? Ada yang nggak muncul? Em... Rio?  Atau siapa? Bintang? Atau Aditya Junas?(???)
Udah bisa ditebak, kan? Iya. Si Bintang yang di prolog itu Gabriel (aku males main rahasia-rahasiaan atau kode-kodean, jadi kasih tau ajalah -_-)
Itu... Alyanya nongol :3 wkwkwk. Udah bisa ditebak nggak? Hehehe.
Sebenarnya Acha itu awalnya Sivia, tapi karena beberapa hal, aku ganti. Oh ya. Aku nulis waktu Ify liat Gabriel sebenarnya sambil bayangin, bahwa... akulah Ify. Hahaha.
Sorry ya Rio ga nongol. Masih di Manado nih, belum ada jadwal balik ke Jakarta. So, tunggu aja sampai dia ke Jakarta ya :p (walau kabarnya dia udah mau datang)
Part depan judulnya: Nostalgia. Hehe. InsyaAllah ga lama postnya.
Ayo promote cerbung ini yaw ^^

salam kece!
@aleastri