Minggu, 10 Februari 2013

Persahabatan Musuh Bebuyutan Part 20



Kisah antara Rio, Alvin, dan juga Acha, terselip beberapa kisah lainnya. Termasuk dari rival utama Rio, Gabriel. Ia yang sudah dicap playboy menjadi berubah seratus delapan puluh derajat kala bertemu seorang perempuan cantik, sepupu Alvin itu, Sivia. Tapi Sivia justru membencinya. Lalu... apa yang akan Gabriel lakukan agar meluluhkan hati gadis itu?

Part 20. Senandung Cinta Sang Pangeran

Jatuh cinta itu seperti apa ya?

Bukankah kita sudah pernah membahas ini? Aku tidak tahu.

Kamukan sering menonton sinetron bersama Mamamu. Katamu di sana banyak orang jatuh cinta.

Aku masih tidak mengerti. Yang ku lihat, mereka akan seperti orang gila. Terkadang tersenyum sendiri, gelisah tak menentu, dan tak jarang juga jadi sedih.

Sepertinya jatuh cinta itu merepotkan.

Mungkin. Kita lihat saja saat kita sudah merasakannya nanti.

***

Gabriel berguling di atas tempat tidurnya. Ia diam sejenak, tapi kemudian kembali memutar tubuh. Gelisah sedari tadi dan tak bisa membuatnya benar-benar diam. Pemuda itu lalu telentang, menatap langit kamar. Ia menghela nafas, kemudian bangkit duduk dan meraih hapenya kembali. Ditatapnya sederet nomor yang tertera di layar. Nomor yang baru tadi -dengan setengah paksaan- diberikan Alvin padanya. Padahal sudah susah payah meminta ini secara diam-diam dari si pemiliknya, tapi saat didapat Gabriel justru tidak tahu harus apa.
"Argh! Bisa gila gue!" umpatnya sebal pada diri sendiri.
Ia mendecak, kemudian segera menekan tombol hijau sebelum keberaniannya hilang. Ditempelkan hape ke samping telinga dengan jantung berdebar. Nada dering terdengar. Satu kali... dua kali... tiga kali.... Ah, diangkat....
^^^
Sivia masih asyik di depan laptopnya, bertukar kabar dengan teman-temannya di Malang sana melalui jejaring sosial facebook. Malam ini Alvin pergi berdua dengan Shilla, jadi tak menemaninya. Daripada bersama Oma menonton sinetron laga, mending ia berkutat dengan laptop saja.
Gadis itu masih hanyut dalam dunia maya, sampai tiba-tiba hapenya berdering heboh membuatnya tersentak dan menoleh.
Diraihnya hape di samping laptop. Keningnya berkerut, melihat nomor tak dikenal. Tapi gadis itu hanya mengedikkan bahu dan mengangkatnya.
"Halo?"
"...."
Kening Sivia berkerut. "Em... halo?" ucapnya sekali lagi. Sivia mendelik ke layar, lalu kembali menempelkannya ke samping telinga lagi.
^^^
"Halo... ini siapa?"
Gabriel membuka mulut, 'Hai, ini gue. Gabriel. Temennya Alvin. Yang waktu itu tangannya lo gigit. Ingat, nggak? Maaf ya yang waktu itu.'
Gabriel mengatupkan mulut, dan meneguk ludah. Ya Tuhan... susahnya berucap begitu saja. Hei! Bukankah tiap hari Gabriel dengan santai bisa berucap manis pada setiap perempuan ya? Bisa mengeluarkan rayuan mautnya yang maha dahsyat itu, yang bisa meluluhkan hati tiap perempuan. Tapi kenapa kali ini tenggorokkannya tercekat? Tak ada satu katapun yang mampu tercetus.
"Halo? Halo?"
Gabriel meraba dadanya. Getaran di sana jadi makin berdebar keras. Suara lembut itu.... membuatnya makin tak berkutik. Ah. Inikah yang namanya jatuh cinta sebenarnya?
Di seberang sana, Sivia mendecak sebal ke arah hape, dan dengan kesal menekan tombol merah mematikan sambungan.
"Pasti orang iseng deh," gerutunya sebal dan kembali sibuk pada laptop. Berusaha tak memedulikan panggilan tanpa suara itu.
Berbeda sekali dengan Gabriel yang malah terkejut kala sambungan diputus.
"ARRRGHHH!!!" teriaknya geram dan membanting hape ke tempat tidur. "Sialan! Gue belum ngomong woy! Kasih kesempatan dulu kali!"
Gabriel mengacak rambut frustasi dan kembali berguling-guling di atas tempat tidurnya. "Tu cewek jelmaan apa sih? Kenapa bisa sampai kayak gini?" geramnya kesal, entah pada siapa. Yang ia tahu ia marah pada dirinya sendiri yang benar-benar menjadi cowok bodoh si pecundang.
Ia kembali gelisah. Hatinya bergetar kacau. Kepalanya berputar kesana kemari tak tentu arah. Sampai ia berhenti di pojok kamar. Tergantung sebuah gitar cokelat di sana. Gabriel ragu sejenak, tapi kemudian segera bangkit dari tempat tidur dan meraih gitar itu. Diambilnya juga kertas dan pulpen, lalu kembali melompat ke atas ranjang. Dengan gitar sebagai meja, Gabriel mulai menuliskan serangkai kata-kata. Ia memang sering mengarang sebuah lagu. Sesekali Gabriel mengetukkan pulpen ke kening, lalu menulis lagi. Ia kemudian berpikir sejenak. Hm... akan lama kalau ia harus mencari nada lagu. Pemuda itu berpikir, lalu mengangguk-angguk sendiri seakan telah mendapat jawaban. Ia akan memakai irama dari lagu yang telah ia buat, tapi dengan lirik yang baru saja ia tulis ini. Ide bagus.
Gabriel memangku gitarnya, memetik-metiknya sambil bersenandung kecil berkali-kali. Lalu ia bernyanyi dari awal sampai akhir, sekedar latihan.
Beberapa lama kemudian ia mengambil hapenya lagi. Ditariknya nafas dalam, dan dihembuskannya. Dengan agak gemetar, Gabriel membuka nomor tadi. Ia diam sejenak, tapi lalu menekan tombol dial dengan mata terpejam sesaat. Dinyalakan tombol speaker, dan ditaruhnya hape di hadapannya dengan gitar yang masih ia pangku.
Di dalam kamarnya, Sivia mendecak karena hape itu berdering lagi. Ia mengambilnya, lalu berjalan menuju ranjang sambil membaca nomor tak dikenal yang sepertinya sama dengan nomor tadi. Gadis itu ragu sejenak, tapi kemudian mengangkatnya dan membaringkan tubuh di atas ranjang.
"Halo?"
"......"
"Ck. Kalau nggak ngomong juga aku matiin nih!" ancam Sivia sebal.
"Ehm."
Sivia mendelik mendengar deheman itu, "ini siapa?"
"......"
"Ish. Nyebel-"
Gerutuan gadis itu terhenti. Kala ia mendengar suara petikan gitar. Keningnya berkerut, tapi telinganya jadi menajam. Lalu tak lama, suara berat yang serak melantunkan sebuah lagu asing.

"Hei kau gadis cantik yang di sana
apa yang membuatmu jadi sangat menawan
Ku tak tahu apa yang terjadi
tapi kaki ini melangkah menghampirimu,"

Kening Sivia berkerut, tapi kemudian mengubah posisi jadi terduduk di ranjangnya.

"Maaf ku telah mengganggumu
dan merusak hari indahmu
Tapi izinkanlah kali ini
ku senandungkan lagu cinta untukmu,"

Gabriel berdehem pelan, kemudian menaikkan nada menuju reffrain.

"Hei gadis manis yang di sana
bantu aku tuk pahami
jelaskan apa yang telah terjadi
kenapa aku jadi begini..."

Tanpa sadar pipi Sivia besemu. Walau ia masih tak mengerti siapa pemilik suara merdu ini dan apa maksud ia menyanyikan lagu itu. Untuknya kah?

"Sering ku alami jatuh cinta
Tapi kali ini berbeda
Kau tak sama seperti gadis lainnya
Karenamu aku benar-benar jatuh cinta,"

Sivia tersenyum kecil. Entah mengapa ada percikan bahagia dinyanyikan lagu tersebut. Sementara si penyanyi, Gabriel, mulai merasa rileks bernyanyi tanpa rasa gugup yang tadi. Ia terus memainkan gitarnya dan bersenandung merdu.

"Hei gadis manis yang di sana
bantu aku tuk pahami
jelaskan apa yang telah terjadi
kenapa aku jadi begini..."

Sivia makin penasaran. Tapi suara serak dan agak ngebas itu membuatnya terdiam tanpa kata. Ini... pengagum rahasianya, kah? Aduh. So sweet sekali. Sivia tak pernah punya pengagum rahasia. Bahkan ia tak pernah pacaran. Ya... walau beberapa kali ditembak laki-laki, tapi Sivia tak tergerak untuk mengalami hal itu. Namun kali ini berbeda. Pemuda di telpon ini, beserta lagu syahdunya, mulai meluluhkan hati Sivia perlahan.

"Bantu aku tuk mengerti...
Bantu aku tuk pahami...."

Petikan gitar terdengar lagi, mempermanis dan menutup lagu. Membuat Sivia segera tersadar.
"Ini... siapa?" tanya Sivia agak malu-malu. Nadanyapun berubah menjadi manis.
Di seberang sana, senyum Gabriel merekah seketika. "Cowok yang tangan kirinya lo gigit dan tangan kanannya dijepit pintu mobil lo."
Mata Sivia sontak membelalak. Ha? Cowok kurang ajar itu?
"Kamu?!" Sivia mendadak meninggikan suara membuat Gabriel agak terkejut. "Mau apa nelpon-nelpon?!"
Gabriel menipiskan bibir, mendapat nada itu lagi. Ah. Sia-sia sepertinya.
"Iya, gue. Sorry waktu itu. Dan sorry udah ganggu lo. Bye."
Klik
Sivia melongo, "he! Aku belum selesai ngomong!" protesnya, tapi yang terdengar hanya nada terputus-putus menandakan Gabriel benar-benar menutup sambungan.
Di sana, Gabriel menghembuskan nafas panjang sambil bersandar di kepala ranjang. "Arg bego!" umpatnya menempeleng wajah sendiri. Sekarang ia malah jadi merasa sesak. Menyesal. Tapi ada dua sesal berbeda. Sesal karena sudah menyanyikan lagu untuk gadis yang sepertinya sangat membencinya itu. Tapi juga sesal karena telah memutuskan sambungan begitu saja hanya karena... takut ditolak?
Gabriel terkesiap sendiri. Ah, tidak-tidak. Ini bukan dirinya. Gabriel Stevent adalah sang arjuna smanra yang tak pernah ditolak gadis manapun. Ia selalu percaya diri pada setiap perempuan. Tapi karena nada kesal gadis tadi... kenapa mendadak Gabriel jadi sangat pesimis dan segera pergi? Seakan tak mau mendengar kata penolakan dari gadis itu lagi. Gabriel takut ditolak? Bukankah itu sangat pecundang? Lelakikan memang harus mengalami penolakan berkali-kali untuk jadi lelaki sejati. Dan kali ini, ia malah takut?
Gabriel meneguk ludah. Entah mengapa karena Sivia, ia merasa ciut. Bukan lagi ketua preman yang juga jadi pangerannya sekolah. Tapi hanya pemuda biasa yang juga mendambakan cinta.
Beberapa kilometer dari penyesalan Gabriel, Sivia termangu menatap layar hape. Apa ia sudah keterlaluan ya? Belum juga pemuda itu menjelaskan maksudnya menelpon dan bernyanyi, tapi Sivia sudah berkata ketus begitu. Seperti sebuah penolakan telak. Apa ia keterlaluan?
Sivia mendesah panjang. Padahal tadi pemuda itu sudah menyanyikan sebuah lagu indah. Dan lirik awalnya meminta maaf pada Sivia, pasti tentang kejadian waktu itu. Apa Sivia masih akan membencinya padahal pemuda itu sudah meminta maaf tulus?
Sivia jadi terdiam sendiri. Tapi entah mengapa mendadak sebuah pikiran muncul. Membuat wajahnya merekah seketika. Ia jadi ingat ucapan Ozy kala itu. Bahwa Gabriel adalah ketuanya. Ketua.
Sivia menggigiti bibir. Em... sepertinya memang pada Gabriel Sivia bisa meminta tolong. Tapi kalau ingat betapa kasarnya Sivia pada pemuda itu, apa tak apa ya? Ck. Andai saja awal bertemu pemuda itu tak kurang ajar. Pasti sekarang Sivia bisa melontarkan tujuannya datang ke Jakarta dan meminta bantuan Gabriel langsung. Ia... harus bagaimana sekarang?
^^^
Paginya Gabriel membuka mata perlahan. Gitarnya masih ada di ranjang, dengan kaki kanan yang memeluk gitar tersebut. Mata pemuda itu mengerjap, lalu menatap jam dinding kamar. Sudah jam enam lewat. Ia menghela nafas dan duduk di ranjang. Kemudian meraih hape di samping bantal. Ada banyak pesan masuk di sana. Dibukanya satu persatu.

From: Gita
Udah tidur ya Yel? Semangat hari terakhir bimbelnya ya. Senin depankan try out \^o^/

Gabriel mendesah, lalu membuka pesan berikutnya.

From: Chelsea
Aku udah nyiapin catatan buat kamu. Jadi senin nanti kamu bisa gampang belajar buat try out :)

Gabriel menipiskan bibir. Ah gadis pintar itu. Ia beneran cerdas nggak sih? Kok mau-maunya menyiapkan catatan untuk orang lain.

From: Pricilla
Good night, Iyel. Mimpi indah ya ({})

From: Rani
Malam ganteng ^^ Met bobo ya. Semangat buat besok. Bimbel terakhir di sekolah, kan? Good luck ya buat nanti try outnya :*

Gabriel mengangkat alis. Semalam ia tidur jam berapa sih? Karena kala ia membaca sms-sms selanjutnya, semua isinya tentang ucapan selamat malam dan juga membahas tentang try out tiga hari lagi.
Gabriel geleng-geleng sendiri. Entah mengapa pagi ini tak berminat membalas sms satupun. Tapi kala ia berhenti di satu sms, pemuda sontak menegakkan tubuh dengan mata mengantuk yang mendadak jadi membelalak maksimal.

From: Sivia
Sorry yang tadi. Aku cuma kaget kamu tiba2 nelpon.
Aku mau ketemu langsung sama kamu. Minggu nanti bisa ke rumah Alvin nggak?

Gabriel membeku. Matanya merem melek berkali-kali. Ia mengucek-ngucek matanya, mungkin akibat baru bangun tidur nih. Tapi tetap saja. Di layar itu terpampang jelas nama pengirim dan isi pesan yang tak berubah.
Gabriel tenganga di tempat. Tapi kemudian tak lama jadi tersenyum lebar.
"YES!" teriaknya girang sambil melompat meninju udara. "Terima kasih Tuhan.... Terima kasih," ucapnya berkali-kali dengan penuh seyukur.
Pemuda itu tertawa riang, lalu dengan hati bahagia berjalan memasuki kamar mandinya.

xxxxx

HA-HA -_____________-
Jujur,  part ini sama sekali nggak ada di cerita aslinya. Kemarinkan aku emang bilang bakal 'ganti' part ke part couple selingan gitu. Banyak yang minta siviel. Awalnya aku mau masukkin part 23, pokoknya ada Alvin sama Shilla. Tapi ternyata pas baca ulang agak kurang gimana gitu kalau langsung disambung dari part 19 kemarin. Jadi deh, ide baru muncul dan tring!(?) ada part ini -_-
Jujur nih, awal nama yang sms Gabriel itu maunya Ale, Astri, sama Rani. Huahahaha. Tapi karena saya nggak mau jadi cewek bego begitu, jadi cuma nama terakhir aja yang dimasukkin. Wkwkwk.
Maaf ya kemarin-kemarin ngaret, karena di daerahku lagi sering ujan deras nih. Koneksinya jadi sering labil. Ya maap sekarangkan aku pindah ke pedalaman -_-
Ayo dong dikomen, biar akunya semangat dan usahain bakal cepet ngepost. Oh ya. Sekalian tuh share aja di twit atau fb. Kan ada tombolnya di bawah :p
Pokoknya yang komen dan promote FF ini, ku doain bakal dinyanyiin lagu sama Gabriel!

bbye ^^
@aleastri

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar