Senin, 05 November 2012

Persahabatan Musuh Bebuyutan Part 10


Mereka sadar, tapi masih mengelak. Walau salah seorang peran dari kisah ini sudah mulai menyadari akan kenyataan yang ada. Tapi ia masih berusaha diam menyembunyikan. Sedangkan dua oranglainnya, masih menyangkal dan belum bisa mengerti pada semua hal yang terjadi dengan tak terduga.
Lalu... sampai kapan mereka terus tak mau percaya?

Part 10. Ini yang namanya takdir?

Kalau aku sudah pergi, kau janji akan menjaga Raissa, kan?

Pasti. Diakan adikku satu-satunya

Jangan biarkan Raissa menangis ya. Apalagi menangis karena orang yang di cintainya

Maksudmu?

Kamu sendirikan yang mengatakan, saat jatuh cinta kita bisa menangis karenanya. Aku tidak ingin Raissa menangis seperti yang ada di sinetron-sinetron itu.

Aku juga tidak akan membiarkannya.

Apa nanti Raissa akan jatuh cinta ya?

Pastilah. Diakan nanti juga akan dewasa.

***

Perlahan, Alvin melirik ke arah kirinya. Melihat dari sudut mata, Shilla sedang berbisik-bisik dengan Kekey sambil tersenyum kecil. Alvin menghembuskan nafas pelan sambil bersandar dan menyetir mobilnya dengan santai. Dalam hati ia tersenyum. Ternyata memang benar. Melihat senyuman Shilla saja Alvin sudah merasa tenang dan kegelisahannya terhadap Io mulai berkurang.
Alvin mengarahkan mobilnya ke pinggir jalan. Di samping jalan tersebut, terlihat laut biru yang permukaannya terpantul cahaya mentari senja.
"Kenapa berhenti?" tanya Shilla heran karena memang tujuannya bukan tempat ini.
Alvin menoleh dan tersenyum, "pas banget bisa liat sunset. Liat dulu yuk?" ajak Alvin sambil mematikan mesin, lalu membuka pintu mobil dan keluar.
Shilla tertegun. Tanpa bisa di cegah, sebuah senyuman terukir di wajah cantiknya. Pintu di sampingnya lalu terbuka, membuatnya menoleh. Alvin tersenyum seraya menuntun Kekey keluar. Shilla melepaskan safety belt nya dan ikut keluar dan mengikuti Alvin serta Kekey melangkah menuju pembatas antara laut dan jalanan yang ia pijak.
"Keren ya Key?" tanya Alvin memandang semburat jingga di ujung langit itu.
Kekey mengangguk senang sambil menatap sang mentari yang tersenyum padanya. Shilla mendekat dan berdiri di samping Kekey. Alvin menoleh ke arah gadis itu, yang kini menatap sang surya yang sedang melambai pamit. Wajah cantiknya itu tersorot cahaya senja, membuatnya makin terlihat seperti seorang bidadari yang turun dari langit. Cahaya mentari jingga keemasan itu menerpa sosok Shilla. Sekilas, ia terlihat sangat berkilau.
Merasa di perhatikan, Shilla menoleh ke arah Alvin dan mengangkat sebelah alis.
Alvin sempat tersentak, tapi kemudian tersenyum menatap gadis cantik itu, "cantik..."
Shilla melebarnya mata, lalu tertegun. Perlahan, pipinya mulai bersemu merah, senada dengan warna sinar senja sore ini.
Alvin tersenyum kembali, "sunsetnya cantik, kan?"
Garis wajah Shilla berubah seketika. Shilla langsung mendelik, lalu memajukan bibirnya beberapa senti dengan kesal sambil membuang buka. Tawa Alvin meledak melihat wajah Shilla yang kini manyun.
"Kan gue belum selesai ngomong," sambung Alvin mereda tawa gelinya. Ia berdehem pelan, lalu kembali menatap lurus ke depan. "Sunsetnya cantik, kayak elo..."
Shilla mengangkat alis, lalu menoleh. Namun ia kembali mendelik sebal, "gombal lo!" ucapnya kesal, karena tadi sudah tertipu dengan kalimat Alvin.
Alvin tertawa kembali, "yeee... di bilang cantik nggak mau. Kenyataan kok."
Shilla mengerucutkan bibir, menahan agar tak ada sebuah senyuman terukir di wajah cantiknya. Ia kembali menatap sunset, walau kini dapat di rasakan pipinya membawa kembali.
Alvin tertawa kecil, "pipi lo merah, Shil."
Shilla setengah melotot, lalu segera menoleh ke arah Alvin dengan wajah merenggut, "Ih! Nggak! Ini tuh karena sinar senja tahu! Makanya, keliatan merah," elak Shilla salting.
Tawa Alvin makin geli, "iya deh. Tapi... gue suka liat pipi lo yang merah gitu," goda Alvin membuat Shilla segera menunduk, karena pipinya makin memerah padam.
Kekey yang berada di tengah mereka, menatap keduanya bergantian. "Koko Alvin sama Mba Shilla pacaran ya?" tanya Kekey tiba-tiba dengan suara lucunya itu, membuat Alvin dan Shilla terkejut kompak.
Mereka sama-sama menoleh ke arah Kekey, Keke balas menatap keduanya dengan bola mata bening polosnya.
"Ng... nggak. Kok Kekey ngomong gitu?" tanya Shilla kikuk.
"Mba Shilla sama Koko Alvin kayak orang pacaran sih. Hihihi," jawab Kekey sambil tertawa kecil.
Alvin dan Shilla saling lirik. Namun kala mata mereka bertemu, keduanya segera melempar pandangan ke arah lain, merasa kikuk. Alvin menggaruk lehernya yang tidak gatal sambil mencoba menguasai diri yang entah mengapa jadi salah tingkah.
"Eh... udah gelap nih. Ayo lanjut pergi," kata Shilla mengingatkan, walau sebenarnya ia berusaha mengalihkan perhatian.
Alvin mengangguk setuju, lalu menggandeng Kekey menuju mobilnya.
^^^
Kekey berjalan di tengah-tengah Alvin dan Shilla yang menggandeng tangannya. Mereka terkadang tertawa bersama. Kekey sering kali menyelutuk lucu, membuat Alvin gemas dan sering tak bisa menahan diri untuk mencubit pipi gembulnya. Shilla diam-diam merasa bahagia sekali.
"Mba!" panggil Kekey sembari menggerak-gerakkan tangannya di genggaman Shilla. Membuat Shilla menoleh dengan pandangan bertanya. Kekey menunjuk kecil sebuah stand es krim tak jauh dari tempatnya berada di mal tersebut.
"Mau?" tanya Shilla, Kekey mengangguk.
"Mau rasa apa?" tiba-tiba Alvin bertanya membuat Shilla terkejut sekilas.
"Elo ngikut aja sih vin," protes Shilla. Alvin hanya nyengir.
"Cokelat!" jawab Kekey semangat.
"Yuk!" ajak Alvin lalu menggandeng Kekey menuntunnya menuju stand es krim tersebut.
Shilla melongo. Kok cuma Kekey yang di tawarin? Kok cuma Kekey yang di ajak? Kok cuma Kekey yang di gandeng? Ops. Pertanyaan terakhir di buang jauh-jauh oleh Shilla. Dengan sedikit kesal, Shilla melipat kedua tangan di depan dada, dan bersungut. Memandangi Alvin dan Kekey yang kini sudah sibuk memilih es krim.
Tidak lama kemdudian, Alvin dan Kekey berbalik. Dengan sebuah es krim cokelat di tangan Kekey, dan es krim strawberry di tangan Alvin. Shilla yang masih berdiri di tempat semula, sedikit menganga dan mendelik kesal. Namun lalu menghembuskan nafas kesal. Ia tidak di belikan!
Alvin dan Kekey melangkah riang ke tempat Shilla berdiri.
"Kenapa manyun lo?" tanya Alvin kala sudah di depan Shilla.
Shilla memajukan bibir bawahnya, "nggak papa," jawabnya ketus, lalu beranjak pergi.
"Shil..." panggil Alvin, membuat langkah Shilla terhenti. "Es krim buat lo...."
Shilla mengangkat alis, lalu berbalik menoleh ke arah Alvin yang sedang mengacungkan es krim strawberry di tangannya. Alvin tersenyum, lalu melangkah mendekat bersama Kekey.
"Itu... buat gue?" tanya Shilla menunjuk es krim di tangan Alvin.
Alvin tertawa, lalu menyerahkan es krim tersebut, "nggak mungkinlah gue nggak beliin buat elo."
Shilla menerimanya dengan sedikit malu-malu, "gue pikir... elo lupa sama gue..." ucapnya pelan. "Eh, kenapa elo beliin gue strawberry? Elokan nggak ada nanya sama gue maunya apa," tanya Shilla lalu mulai menyendokkan es krim yang menggiurkan itu ke dalam mulutnya.
Alvin tersenyum kecil, "gue inget waktu pipi elo merah tadi. Kayak strawberry. Manis."
Shilla tersentak, lalu menunduk gugup. Alvin tersenyum tertahan, melihat pipi gadis di depannya ini kembali merona.
"Mba..." panggil Kekey membuat pandangan kedua orang itu mengarah padanya. Kekey menunjuk pipi bulatnya yang sudah belebotan dengan es krim cokelat.
"Aduh Kekey... kotor banget," kata Shilla sambil merogoh tisu di saku kardigan panjangnya, lalu di usapkan ke pipi Kekey, "cepet di makan es krimnya. Nanti cair."
"Elo juga dong. Nanti keburu cair," kata Alvin menunjuk es krim Shilla.
Shilla menurut, "em... elo mau?" tawarnya mengacungkan es krimnya.
Alvin bergumam sejenak, tapi lalu mengangguk dan tersenyum. Shilla menggigit bibir sedikit, merasa ragu. Namun akhirnya ia menyendokkan es krim strawberry itu, lalu menyodorkan pada Alvin. Alvin tersenyum kecil, lalu melahap es krim dari tangan Shilla.
Bumi seakan berhenti berputar selama beberapa saat. Detik membeku. Keduanya terpaku kala dua pasang mata mereka saling bertumbukkan. Shilla masih terdiam, dengan tangan yang belum di turunkan. Alvinpun juga belum bergerak.
Tapi waktu yang kembali berdetak membuat mereka sadar mereka masih ada di dunia yang bukan milik mereka. Keduanya segera menegakkan tubuh dan mengalihkan pandangan gugup. Menyadari bahwa mereka baru saja melakukan menyuapi-disuapi di depan umum, banyak orang. Walaupun sepertinya orang-orang tak terlalu peduli. Kini warna pipi mereka senada, sama dengan warna es krim strawberry yang mereka kecap tadi. Ada perasaan yang juga sama seperti rasa strawberry. Manis.
Shilla melirik sejenak, namun kala melihat ada es krim di sudut bibir Alvin, Shilla segera merogoh tisu kembali, "vin..." panggilnya membuat Alvin menoleh. "Ada es krim," kata Shilla lalu menyeka ujung bibir Alvin dengan tisu di tangannya.
Alvin sedikit terlonjak, namun tak sempat menghindar karena gerakkan Shilla terlalu cepat. Dan getaran yang terasa itupun makin menggila dalam dadanya.
^^^
Langkah Acha tiba-tiba berhenti. Keke dan Nova yang sedang mengobrol asik tak menyadari dan terus melangkah. Acha terdiam, dan mengangkat alis. Menatap tiga orang di dekat stand es krim. Seorang perempuan sedang menyeka mulut laki-laki di depannya. Dan seorang anak perempuan mungil sedang sibuk melahap es krimnya sambil menatap orang-orang di mal tersebut. Acha tertegun. Bukan karena gadis itu dan pemuda tersebut yang terlihat mesra. Atau mereka bertiga yang sudah seperti keluarga kecil bahagia. Acha merasa tertarik untuk menatap mereka karena laki-laki itu. Pemuda berwajah oriental tersebut. Tim basket smanra. Dan perempuan itu, kapten cheers smanra yang tadi juga ada di pertandingan.
Acha terus memerhatikan pemuda oriental tersebut. Ada sesuatu yang bergerak dalam dadanya. Entah apa.
Ini... takdir, kah?
Acha kembali di pertemukan pada pemuda itu. Pemuda yang entah mengapa sepertinya membuat Rio galau sepulang betanding. Dan pemuda yang... ia pikir mirip, dengan seseorang di masa lalunya, walau sepertinya tak mungkin. Lalu kini, secara kebetulan Acha melihatnya lagi. Mereka kembali berada di tempat yang sama. Apakah Tuhan memang sengaja, seakan memberitahu Acha bahwa pemuda itu memang...
"Cha!"
Acha terkejut dan menoleh. Keke dan Nova sudah beberapa langkah di depannya, menatapnya dengan kening berkerut.
"Ngapain diem? Ayo!" kata Nova menggerakkan tangan menyuruh Acha menyusul.
Acha menurut, walau sebelumnya ia melirik ke arah pemuda oriental itu. Kalau memang... kalau memang pemuda itu memanglah Apinnya... betapa mirisnya kisah ini.
^^^
Cakka, Ray, dan Ozy masih tertawa-tawa kala memasuki sebuah restoran. Ketiga sahabat itu malam ini memilih menghabiskan waktu bersama, sebagai pelepas penat juga setelah bertanding basket tadi pagi. Mereka duduk dan memilih minuman masing-masing.
Tanpa sengaja, sembari menunggu pesanan, Ozy menggerakkan kepala keluar jendela restoran yang transparan yang berada tepat di samping mejanya. Bertepatan kala tiga gadis sedang berjalan melewati depan restoran. Mata Ozy segera jatuh pada gadis yang berada di ujung kanan, membuatnya tertegun. Gadis berambut panjang gelombang dengan baju putih garis hitam lengan panjang dan celana putih setengah lutut itu sedang tertawa bersama dua temannya. Gadis itu... gadis yang ada di stadion tadi pagi!
"Bidadari..." gumam Ozy seakan tersihir menatap bayang gadis itu yang menjauh dan masih terlihat.
"Apa Zy?" tanya Cakka yang mendengar samar suara Ozy.
"Ada bidadari di mal..." jawab Ozy masih menatap bayang perempuan itu yang mulai menghilang.
Cakka dan Ray saling pandang, lalu dengan kompak segera mendekat ke arah jendela restoran.
"Mana? Mana bidadari? Cantik, kan? Mana?" tanya  Ray antusias.
"Misi Ray! Gue juga mau liat," kata Cakka sambil mendorong Ray dan menjulurkan leher, mencari 'bidadari' yang di maksud Ozy.
"Mana sih Zy?" tanya Ray sambil celingak-celinguk.
"............"
Tak ada jawaban.
Ray dan Cakka mengangkat alis, lalu menoleh ke arah Ozy. Ozy seakan menerawang, seperti sudah terbang ke langit ketujuh dengan waajah merekah bahagia. Ia sepertinya benar-benar tersihir dengan sosok 'bidadari' itu.
"Ozy!" panggil Ray dan Cakka kompak, membuat Ozy mengerjap dan tersadar.
"Ck ah elo! Ganggu aja," protes Ozy kesal, membuat kening Ray dan Cakka berkerut. "Gue tuh tadi lagi terbang melayang sama bidadari itu," lanjut Ozy lebay sambil menyeringai.
Ray dan Cakka mendelik. Lalu dengan serempak mereka menjitak kepala Ozy, membuat Ozy merintih dan meringis sambil memegangi kepalanya.
^^^
Alvin dan Shilla masih menggandeng Kekey dengan riang keluar dari sebuah restoran. Mereka baru saja makan karena Shilla mengeluh bahwa ia lapar. Dan kini saatnya ke tujuan utama, membeli sepatu untuk Kekey. Namun kala mereka baru saja melangkah menjauh beberapa langkah dari restoran itu...
"Beh. Ada keluarga bahagia nih!"
Alvin dan Shilla terlonjak, sontak menghentikan langkah. Mereka dapat merasakan tubuh mereka membeku karena mengenal suara itu. Sangat kenal. Dan saat menoleh...
Benar saja. Tiga sekawan itu sudah berada di belakang mereka sambil menyeringai lebar. Shilla dan Alvin melongo melihat mereka yang dengan santai melangkah mendekat.
"Anak kalian ya? Cepet amat gedenya," kata Ray tanpa dosa sambil berlutut di depan Kekey yang tersenyum lucu. Shilla dan Alvin masih bengong.
"Ih lucunya," kata Ozy gemas sambil memegang kedua pipi gembul Kekey.
Alvin dan Shilla sama-sama menelan ludah, lalu saling pandang. Di detik yang sama mereka melengos pasrah. Ah. Kenapa sih harus di pertemukan dengan tiga preman pecicilan ini!?
"Hebat ya kalian. Anaknya udah gede. Padahal kawin aja nggak tahu kapan," celetuk Ozy yang sedang bermain kecil dengan Kekey. Alvin segera menjitaknya, membuat Ozy besungut.
"Kayak Alvin ya. Tapi matanya juga kayak Shilla. Jangan-jangan bener anak kalian?" tanya Ray enteng.
"Sekali lagi lo ngomong gitu, bakal gue botakin!" ancam Shilla kesal.
Ray nyengir kuda, "jangan Shil. Rambut gondrong gini. Lama tahu nunggu sampai gondrong gini. Elo main botakin aje," protes Ray, Shilla hanya mengerucutkan bibirnya.
"Jadi ini anak siapa?" tanya Ozy menegakkan tubuh kembali.
"Anak gue," jawab Alvin asal, membuat Shilla mendelik.
"Ngaku-ngaku lo. Anak nyokap gue juga," sahut Shilla. Alvin hanya mencibir kecil.
"Siapa namanya?" tanya Cakka manis kepada Kekey.
"Kekey," jawab Kekey dengan suara lucunya itu yang menggemaskan.
"Key, di antara kakak dua ini, kamu adiknya siapa?" tanya Ozy iseng sambil menunjuk Alvin dan Shilla.
Kekey mengangkat alis, lalu menoleh pada Alvin dan Shilla secara bergantian. Alvin tersenyum, lalu mengedipkan mata menyuruh Kekey memilihnya.
Kekey tersenyum lebar, "koko!!!" jawab Kekey riang sambil memeluk lutut Alvin. Membuat Alvin tertawa.
Shilla tenganga geram, "Kekey!!!"
"Oh... adek elo Vin," kata Cakka, Ray, dan Ozy kompak.
"Adek gue!" sahut Shilla kesal.
"Ngaku-ngaku," kata mereka bertiga kini di tambah Alvin dengan serempak. Membuat Shilla kembali manyun sebal.
"Manyun mulu lo!" ejek Alvin menepuk pelan bibir Shilla.
"Alvin!" geram Shilla sambil memukul-mukul kecil Alvin, membuat Alvin tertawa sembari mencoba membendung pukulan Shilla.
Ray, Cakka, dan Ozy yang melihat itu mengangkat alis sembari saling pandang sejenak, "kalian udah jadian ya?" tanya mereka serempak, membuat Alvin dan Shilla terkejut sambil menoleh.
"Jadian gigi lo gendut," elak Alvin segera.
"Tapi kok... mesra amat. Terus, Minggu malam gini jalan bertiga sama anak," kata Ray, yang di sambut anggukan dari Ozy dan Cakka.
Alvin mendesah kecil, "udah deh nggak usah bahas. Gue mau nemenin Kekey beli sepatu. Sono lo semua!" usir Alvin sambil mengambil tangan Kekey dan menggenggamnya.
Ray, Cakka, dan Ozy saling pandang, dan detik berikutnya....
"Ikut!!!"
Shilla menganga, lalu menggeram kesal. 'Shiittt. Tiga preman penganggu!' gerutunya dalam hati dengan kesal.
^^^
Ray dan Cakka duduk di bangku panjang dekat tempat Alvin dan Shilla yang sedang sibuk mencari sepatu untuk Kekey. Mereka memang terlihat seperti sebuah keluarga muda. Sedangkan Ozy bersandar di salah satu rak sepatu. Mereka berada di tengah-tengah mal tersebut, tempat yang menjajarkan baju-baju, tas, dan juga sepatu yang berada di lantai satu.
Tiba-tiba, tanpa sengaja seseorang menabrak pundak Ozy, membuat Ozy terlonjak, lalu refleks menoleh.
"Eh maaf. Nggak sengaja," kata seorang gadis yang menabrak Ozy itu dengan segera.
Bukannya menjawab, Ozy malah menganga memandang gadis itu. Gadis itu mendongak, baru benar-benar menatap wajah Ozy. Matanya sedikit membelalak melihat siapa yang ia tabrak. Kedua insan itu terpaku. Saling mengunci tatapan masing-masing. Dan sama-sama meyakinkan diri, bahwa yang mereka lihat di depan mereka itu bukanlah khayalan semata.
"Acha! Ayo," seorang teman dari gadis itu menariknya, membuat gadis yang ternyata Acha, terlonjak, tapi hanya pasrah menurut. Walau Acha masih saja memandang ke arah Ozy tak percaya.
Ozy tersadar, tapi kemudian ia mencoba melemparkan senyuman manis ke arah Acha yang mulai menjauh. Acha sempat tersentak, tapi kemudian membalas senyuman itu sebelum menghilang di belokan rak.
^^^
"Nov..." kata Acha menghentikan langkah, membuat Nova menoleh dengan alis terangkat.
"Em... tiba-tiba aku mau beli sepatu! Yuk!" ajak Acha antusias lalu tanpa menunggu jawaban segera menarik tangan Nova.
"Eh, tungguin!" ucap Keke menahan sambil setengah berlari menyusul dua sahabatnya.
^^^
"Eh, gue jadi pengen beli sepatu juga. Gue cari dulu ya," pamit Ozy membuat Ray dan Cakka menoleh.
Ozy lalu berbalik, dan melangkah menjauh. Entahlah. Ia rasanya ingin saja membeli sepatu. Walau sebenarnya diam-diam berharap kembali bertemu pada gadis manis itu. Kala memilih-milih sepatu, Ozy tertawa dalam hati. Merasa geli. Tidakkah ini terlalu drama? Mereka di pertemukan dengan tabrakan tak sengaja, di tengah pertengkaran dua kapten cheers, lalu sekarang saat berada di mal seperti ini. Semua menjadi kebetulan yang benar-benar seperti sudah di atur. Tapi Ozy bersyukur. Berarti doanya terkabulkan. Bahwa ia bisa bertemu lagi dengan gadis itu. Dan kalau nanti di pertemuan selanjutnya ada lagi, Ozy tak akan menyiakan kesempatan itu. Ozy harus mengenal perempuan itu. Harus.
^^^
Keke dan Nova mendelik heran pada Acha yang celingak-celinguk di antara rak sepatu. Ia kembali ke tempat di mana tadi ia bertabrakan dengan Ozy. Ray dan Cakka, dua orang yang tadi sekilas Acha lihat duduk di samping Ozy, masih ada di sana. Namun sosok Ozy malah tak ada.
"Acha.... mau beli sepatu apa sih?" tanya Keke mulai bosan.
Acha menoleh, lalu menatap dua sahabatnya itu sedang memandangnya lelah. Acha nyengir kuda, merasa bersalah juga.
"Kalian kalau mau duduk, duduk aja. Aku cari sendiri," ucap Acha.
Keke dan Nova saling menoleh, lalu menurut dan duduk di bangku panjang yang berada di dekat mereka. Acha mendesah panjang, lalu melangkahkan kaki pelan, menyusuri setiap rak. Matanya terus jeli memandang kesana-kemari. Tapi tetap saja nihil. Achapun putus asa. Mungkin belum saatnya Miss Cupid berpihak padanya.
Gadis itu mengembungkan kedua pipinya, lalu kembali melangkah, entah kemana. Namun tanpa sengaja matanya jatuh pada sebuah sepatu di rak sampingnya.
"Ih lucu," pekik Acha refleks, melihat flatshoes berwarna putih full print pita berwarna hitam. Acha meraih sepatu itu, dan langsung duduk di bangku panjang kosong yang berada di dekat rak sepatu tadi.
Di detik yang sama, seseorang juga duduk di bangku tersebut, namun membelakangi Acha. Acha tidak menyadari dan sibuk mencoba sepatu tersebut. Ia tersenyum kecil melihat sepatu itu terpakai manis di kakinya. Setelah itu ia kembali memakai sepatu punyanya, dan memilih membeli saja flatshoes tersebut. Acha kembali menegakkan tubuh, bersamaan dengan orang yang membelakanginya. Tanpa sengaja punggung Acha terbentur dengan punggung orang itu. Refleks, keduanya saling menoleh.
Mata Acha melebar. Ia tak bisa menahan mulutnya sedikit terbuka. Dan pemuda di depannya itu, Ozy, juga ikut melongo tak percaya. Keduanya saling membeku.
Ya Tuhan.... inikah jawaban di setiap doa yang mereka ucap? Inikah wujud harapan yang mereka rangkai sejak awal bertemu? Benarkah Kau telah merajut tali jodoh keduanya sampai kembali di pertemukan lagi?
Ozy tersadar lebih dulu, lalu mencoba tersenyum gugup. Acha balas tersenyum, dan berusaha sebaik mungkin agar senyumnya tidak terlihat konyol di depan Ozy. Karena entah mengapa jantungnya memompa dahsyat kini.
"Hai," ucap keduanya kompak dengan gugup.
Ozy dan Acha sama-sama tersentak, namun lalu tertawa kecil bersamaan.
"Em... elo... yang tadi pagi, kan?" tanya Ozy sedikit kikuk.
Acha mengangguk, "dan juga yang tadi nggak sengaja nabrak kamu," ucap Acha malu.
Ozy tersenyum, lalu terlihat sedikit grogi. Dan akhirnya ia menjulurkan tangannya, "Gue Ozy."
Acha mengangkat kedua alis, lalu membalas uluran itu, "Acha."
Bagi semua orang, dunia terus berputar pada porosnya, membuat detik terus melaju. Namun bagi dua sejoli itu, seakan semua membeku. Bahkan mereka dapat merasakan, ada suatu aliran dari masing tangan menuju tangan lainnya. Entah apa. Seperti aliran listrik yang sangat menggetarkan. Namun mereka menikmatinya.
Dengan enggan, Acha melepas jabatannya sembari tersenyum.
"Em... eh... kitakan udah beberapa kali ketemu. Em.... gue..." Ozy menggaruk belakang telinganya yang tidak gatal. Walau dalam hati merutuk. Kenapa ia bisa menjadi begitu bodoh begini sih? Bukankah biasanya Ozy terus berceloteh tanpa henti? Lalu kini, untuk pertama kalinya, Ozy kesulitan mencari kata di depan seorang perempuan.
"Gue... boleh minta pin bb lo?"
Acha terdiam, dan tertegun. Rasanya ia ingin sekali berteriak histeris dan meloncat-loncat girang. Tapi dengan sekuat tenaga Acha menahan keingannya itu. Dengan pipi merona, Acha mengangguk. Membuat wajah Ozy berbinar. Ozy segera merogoh blackberrynya dengan cepat, lalu menyodorkan pada Acha. Acha menerimanya, lalu mengetikkan pin miliknya. Tak lama, ia kembali menyerahkannya pada Ozy.
"Thanks. Jangan lupa accept ya," kata Ozy tersenyum.
Acha mengangguk dan tersenyum malu.
"Ozy!!!" teriakan Shilla mulai terdengar.
Ozy merasa terusik. Ah nenek lampir itu. Di mal seperti ini saja berasa hutannya deh. Teriak-teriak sesuka hati.
Namun tak lama Ozy tersadar. Ia bersama murid smanhar! Musuh bebuyutan sekolahnya. Bisa di penggal kalau ketahuan mengobrol dengan salah satu anak smanhar. Dan kasihan juga Acha. Ia sedang sendiri, nanti bagaimana kalau Shilla dan yang lain malah menghakiminya? Atau bahkan melabraknya karena tahu Acha adalah bagian dari musuh mereka.
"Eh, gue duluan ya," pamit Ozy sambil berdiri dengan tangan yang menjinjing sepatu yang tadi ia coba. Acha mengangguk dan tersenyum, walau merasa kecewa.
"Bye Acha," kata Ozy melambai sambil tersenyum manis, lalu melangkah pergi, sebelum ada temannya yang melihat.
Acha balas tersenyum dan melambai. Dan tak lama, ia menghela nafas. "Semoga bakal ketemu lagi ya," gumamnya berharap.
^^^
Ozy terus saja tersenyum tanpa henti. Entah karena apa. Shilla memandangnya ngeri. Ray dan Cakka saling pandang bertanya. Hanya Alvin yang cuek tak peduli sambil menggandeng tangan Kekey melangkah santai dengan tangan satu lagi membawa plastik berisikan kotak sepatu Kekey.
Karena terus menatap Ozy yang aneh, Cakka tak melihat jalan di depan, dan tertabrak seseorang. Dengan sigap Ray menahan tubuh Cakka yang oleng hampir saja jatuh.
Cakka segera menegakkan tubuh kembali, dan terkaget-kaget melihat siapa yang menabraknya. Shilla dan Ray ikut terkejut. Bahkan Ozy yang sebelumnya entah jiwanya berada di mana, ikut tersadar dan terlonjak.
"Oik..." gumam Shilla menyebutkan nama gadis manis di depannya.
Oik mendongak, lalu tersenyum, "Eh Shil. Sorry ya. Gue nggak sengaja."
"Eh, bukan. Elo bukan nabrak gue tadi. Tapi..." kalimat Shilla menggantung, sambil menoleh perlahan ke arah Cakka yang membatu.
Oik mengangkat alis, lalu mengikuti pandangan Shilla. Raut wajahnya berubah seketika. Ia menipiskan bibir sejenak, ".... maaf," katanya datar pada Cakka.
Cakka diam-diam menghela nafas, menelan pil pahit itu sekali lagi. Ia hanya dapat tersenyum tipis.
"Oik? Nih," sebuah suara membuat semua menoleh ke belakang Oik. Seorang laki-laki sebaya dengan kemeja kotak-kotak birunya melangkah mendekat dengan sebuah kantong plastik di tangan.
"Obiet," sapa Shilla ramah, karena dulu pernah sekelas dengan Obiet.
Pemuda itu menoleh, lalu tersenyum, "eh ada kalian," ucapnya, lalu tanpa sengaja menoleh ke arah Kekey. "Siapa ini? Lucu banget," kata Obiet gemas sambil mencubit kecil pipi bulat Kekey, membuat Kekey tersenyum lucu. Oik juga ikut menoleh, dan merasa gemas juga pada anak kecil itu.
"Adek lo Vin?" tanya Oik, karena melihat tangan Alvin yang menggandeng Kekey.
"Adek gue!" jawab Shilla cepat dengan bersungut. Kenapa sih semuanya mengira Kekey adiknya Alvin?
"Bukan. Ini anaknya Shilla sama Alvin," ucap Ozy sambil merangkul Kekey.
Sudah bisa di tebak adegan selanjutnya. Satu jitakan geram dari Shilla mendarat ke kepala Ozy, membuat Ozy lagi-lagi merintih. Oik tertawa kecil melihatnya. Cakka makin membatu mendengar derai tawa Oik. Yang diam-diam sangat ia rindukan.
"Elo berdua ini pacaran ya?" tanya Alvin membuat semuanya tersentak. Ya... Alvinkan siswa baru di smanra. Tentu saja ia tidak tahu menahu tentang masa lalu Oik dan Cakka dulu.
Obiet tersenyum tenang, "nggak kok. Gue cuma temenin Oik beli buku kumpulan soal ujian nanti," jawabnya. Oik mengangguk mengiyakan. Sementara Alvin manggut-manggut.
"Em... kita balik duluan ya," pamit Oik, "Bye semua," pamit Oik ramah sambil tersenyum dan mengangguk kecil.
Cakka menelan ludah, menyadari bola mata Oik tak tergerak ke arahnya. Bahkan sepertinya Oik tak menganggap keberadaan Cakka.
Obiet dan Oik pun pergi meninggalkan mereka. Dan detik yang sama, Shilla, Ray, serta Ozy menggerakkan kepala menoleh ke arah Cakka. Cakka menghembuskan nafas, lalu menunduk.
"Sabar bro," kata Ray sambil menepuk-nepuk pundak Cakka. Cakka mendongak, lalu tersenyum tipis.
"Ayolah... nyantai aja. Elokan playboy tingkat tinggi. Masa' nggak bisa ngelupain dia sih?" tanya Shilla ikut menghibur.
Cakka mendesah, lalu menggeleng pelan, "nggak segampang itu."
Alvin mengerutkan kening tak mengerti, "kenapa sih?" tanyanya membuat yang lain menoleh.
"Oh ya. Elokan baru di sini. Pasti lo nggak tahu. Oik tuh mantannya Cakka," jawab Ozy, membuat Cakka mendesah kembali.
"Gue ke toilet dulu ya," pamit Cakka merasa hilang mood. Ia lalu berbalik, dan berjalan lunglai menjauh.
Ozy, Ray, Shilla, serta Alvin menatap kepergian playboy sekolah itu. Alvin dengan kening berkerut, sementara tiga lainnya dengan tatapan prihatin.
"Elo tahu Cakka kan? Dia itu playboy. Saat itu Cakka nyakitin Oik, dia selingkuh," lanjut Ray mulai bercerita, membuat Alvin menoleh padanya.
"Loh? Oik yang di sakitin? Terus kenapa Cakka..." belum saja kalimat Alvin selesai, Shilla sudah memotong.
"Saat Oik tahu, dia nampar Cakka dan nangis di depan Cakka. Ternyata Cakka baru sadar saat itu, kalau dia udah salah besar khianatin Oik. Dan Cakka bener-bener ngerasa bersalah dan kehilangan saat mereka putus."
Alvin mengangkat alis, sedikit tak menyangka. Karena selama ini, ia tak pernah tahu cerita ini. Ia memang mengenal Oik, itupun hanya mengenal nama saja. Kalau dengan Obiet, Obiet memang anggoa gengstar sekolah. Tentu saja Alvin mengenal.
"Cakka uah pernah minta maaf ke rumah Oik. Tapi saat itu ada Agni, sepupu sekaligus sahabat Oik. Agni itu cewek tomboy si ratu karate. Dan waktu Cakka memohon maaf, dia malah kena gampar Agni. Udah di tampar, di pukul, di tendang, ckckck," sambung Ozy prihatin.
"Cakka nggak ngelawan. Agni itukan cewek. Dan sejak saat itu, Oik selalu ngehindar dari Cakka. Cakka juga hampir setiap hari frustasi karena Oik. Gue sama yang lain sempet pusing harus gimana," lanjut Ray, lalu menghela nafas.
"Ya... walau gimanapun, Cakka tetep gue anggap teman. Gue juga sempet puyeng ngeliat dia yang udah kayak kehilangan semangat hidup. Dan gue sempat nawarin temen-temen gue buat ngedate sama dia," ucap Shilla sedikit lirih, "perlahan dia emang berubah. Udah mulai kembali kayak Cakka biasa, yang jalan sama cewek beda tiap hatinya. Tapi sampat saat ini dia belum bisa ngelupain Oik," Shilla menutup cerita mereka sambil menghela nafas pelan.
Alvin tercengang mendengar penjelasan teman-temannya tentang Cakka. Ternyata playboy akut itu memiliki masa lalu percintaan yang buruk. Dan ternyata, murid smanra memiliki kisah masing-masing yang menarik. Shilla, si nenek lampir yang sedang mencari sosok seperti Ayahnya. Ozy, yang sedang terpesona dengan si 'bidadari' di stadion tadi pagi. Ray, yang memang sering bercerita masih menyimpan rasa pada Olivia, mantannya yang sangat jutek dan galak, apalagi kalau bertemu dengannya. Lalu Cakka, yang belum bisa melupakan sosok Oik. Dan sekarang, Alvin menunggu kisah dari Gabriel yang belum pernah di dengarnya.

xxxxx

Hm.... jujur, saya envy sama Shilla T_____T
tokoh Ozy itu inspirasi dari temen cowokku. yg ga pernah bisa diam dan pecicilan, tapi pas ketemu cwe yg dia suka, malah mendadak gagap. hahaha
Alvin nunggu kisah dari Gabriel tuh. Ada yg mau nunggu juga ga? Bocoran deh, pokoknya nanti Gabriel bakal ketemu cewek kece baik hati dan tidak sombong bernama Astri Maharani. Buahahahaha. Pokoknya tunggu aja 3 part lagi ya :p
Kalau part depan nanti, ada yang falling in love looohhh. ada yang jadian juga *asek (siapin minta peje)
Komennya saya masih tunggu di blog ini (kalian ga perlu punya blog juga, bisa kok follow pake twitter) di fb (facebook.com/mrz.mikas) atau di twitter (@aleastri)
sangkyu ;)



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar